
Rangga memarkirkan mobil kantornya pada parkiran swalayan di dekat gang masuk menuju kosannya. Setelah pertimbangan panjang, ia memilih menginapkan mobil itu ketimbang bolak-balik menukar dengan motornya di kantor. Rasanya malas sekali menginjakan kaki di kantor setelah insiden konyol kedua yang barusan ia alami.
Rencananya ia akan berangkat kerja pagi buta pasca shalat subuh esok. Disodorkannya selembar uang 10 ribuan ke kasir minimarket untuk sebotol minuman yang ia beli.
“Rudi, si Jamal ngga giliran markir hari ini?” tanya Rangga ke kasir minimarket pria itu.
“Kagak Bang, kayaknye sakit tuh anak, tumben juga. Emang nye kenape?” Rudi bertanya balik.
“Gue mau nitip parkir mobil itu,” Rangga menunjuk mobil kantor di parkiran.
“Wah, mobil baru nih, Bang?”
“Kagak, Mobilnya kantor itu. Mana kebeli gue, Rud,” jawab Rangga, menerima struk dan kembaliannya.
“ Ah, ngerendah aje lo ini, Bang. Ya udeh tar sering-sering gue liatin, gue sif malem kok Bang. Lu kunci aje yang penting,” kata Rudi.
“Bener ya, makasih loh,”
“Iye, siap Bang,”
Rangga memang mengenal baik orang-orang di lingkungan tinggalnya, termasuk semua karyawan minimarket ini serta para tukang ojek yang pangkalannya tidak jauh dari ujung gang.
Gang menuju kosan Rangga seperti kebanyakan gang di perkampungan pinggiran Jakarta, sempit dan hanya bisa dilalui sepeda motor atau berjalan kaki.
Rangga mengunci semua pintu mobil dan memastikan sudah terparkir dengan aman. Lalu berangsur mememasang penutup mobil yang peranti digunakan ketika diparkir di bawah terik matahari.
“Woi, Rangga. Mobil baru nih, selametan dong!” teriak seseorang dari Pangkalan ojek, sekaligus pos ronda yang remang.
“Kagak, Beh. Mobilnya kantor!” Rangga balas berteriak ke sekumpulan orang itu.
Rangga kemudian melanjutkan aktifitasnya, ketika hampir selesai, seseorang menegurnya kembali,
“Mobilnya nih, Bang?”
“Bukan, kan gue bilang,” Rangga menoleh dan mendapati orang asing dengan berjaket denim dengan tas selempang kecil di dekatnya.
“Mobil kantor.” Setengah mengacuhkannya, Rangga menyelesaikan menutupi sedan kantor tersebut. Ia sendiri paham maksud tujuan orang yang menegurnya ini, namun dengan cuek ia melangkah pergi.
Seketika itu juga lengannya ditarik.
“Lo ngga sopan ye, maen ngeloyor aje. Ini lahan parkir emang punya nenek moyang lo?” hardik si jaket denim. Rangga menepis cengkaraman di lengannya itu, moodnya kini berubah tidak bagus.
“Bukan Nenek Moyangnya gue. Ini lahan Haji Bokir, sampe ujung ruko sana. Biasa si Jamal yang parkir, Abang siapa?” balas Rangga.
“Gue Kodri, gue keamanan disini, lo mau parkir ya lo bayar” seru Kodri.
“Saya ngga kenal, abang bukan orang sini juga,” Rangga sudah akan beranjak menghindari konflik, namun Kodri kini meraih kancing kemejanya.
Rudi dan kedua rekannya mengawasi dengan tegang dari dalam minimarket, Ojek Pangkalan pun berhenti dari kegiatan Gaplenya.
Rangga menatap tajam ke mata Kodri yang memerah, merah seperti warna Lamborghini yang menjemput Nina di parkiran restoran barusan. Kekesalannya meletup
“Kenalan dulu lo, sama Gue!” Kodri melayangkan tinju kanannya.
Rangga menangkis dengan tapak kanannya lalu merubahnya menjadi kepalan yang menghantam keras hidung Kodri, dalam satu gerakan dan dengan satu tangan.
Kodri terjengkang dan cengkraman di kemeja Rangga terlepas bersamaan, hidungnya patah dan berdarah.
__ADS_1
Ranga masih berdiri tegak dengan kepalan kanannya terjulur, telapak kiri dilipat setinggi dada. Kodri yang sebetulnya sedikit limbung berusaha berdiri dan menghunuskan pisaunya, ia menerjang.
Klasik banget sih, Rangga membatin dengan tidak antusias.
Rangga selama bertahun-tahun sudah biasa menghadapi orang yang lebih besar, lebih jago dan bahkan lebih banyak jumlahnya ketimbang preman kampung begini.
Rangga menarik mundur tinjunya dan bergerak hanya setengah langkah menghindari ayunan demi ayunan bilah pisau yang menyasar lehernya.
Satu tendangan rendah di betis mematikan gerak langkah Kodri, Rangga berputar dan mengelakkan tusukan ke rusuknya dengan tendangan melingkar ke leher.
"Lambat, lemah!" tukas Rangga, datar.
Kodri kembali terjerembab keras, pisaunya terlempar, bibirnya bocor mencium paving blok. Rangga berharap Kodri tidak perlu bangun lagi sehingga ia tidak perlu benar-benar menghajarnya.
Namun, Kodri yang sudah gelap mata bangkit untuk percobaan ketiga.
Kali ini Rangga yang kesal tidak mau menunggu lagi, ia berinisiatif mendatangi Kodri yang berusaha menghempaskan Rangga dengan tasnya sebagai senjata.
Rangga mencengkram leher Kodri dengan mudah dan membanting berputarnya ke paving blok dengan gerak sapuan di kaki. Satu pukulan keras pada kening menghakhiri segalanya, Kodri membelalak dan matanya berputar.
Preman kampung itu menggliat pelan dengan darah menganak sungai dari hidungnya yang remuk. Sorak-sorai bergempita dari Tukang Ojek yang menonton.
Rangga pergi meninggalkan begitu saja penyerangnya itu, benaknya bercampur aduk, ia sudah tidak perduli lagi, yang ada di kepalanya hanya keinginan untuk pulang dan mandi.
“Titip mobil ya, Rud!” seru Rangga kearah Rudi dan teman-temannya yang entah sejak kapan berada di luar minimarket.
Gerombolan Tukang Ojek di pangkalan menyambutnya dengan bermacam-macam kuda-kuda beladiri ketika Rangga lewat, selain menawarinya kopi.
Rangga pun menolak tawaran itu kendati mereka setengah memaksa, ia meminta maaf dan beralasan kalau tubuhnya sudah lelah.
Sebetulnya bukan tubuhnya yang lelah, tapi pikirannya. Fisiknya sudah dilatih dan teruji belasan tahun untuk tugas-tugas yang terkadang di luar batasan fisik manusia biasa.
Cuma pekerjaan sehari-hari dan perkelahian barusan bukanlah sesuatu yang berat baginya. Rekan sparring di organisasinya jauh lebih mematikan.
Rangga kini sudah berada di depan gerbang kos-kosannya, sebuah Gedung tiga tingkat berisi puluhan kamar kecil yang disewakan. Ada dua gerobak penjaja makanan yang sedang mangkal disitu.
“Masih kenyang nih, nggak dulu deh,” tolak Rangga.
“Kalau Bajigur, boleh ngga Kang Rangga?” gentian Soleh si tukang Bajigur menawari.
“Ehm, boleh deh boleh, tapi saya mandi dulu ya?” jawab Rangga, setelah menimbang-nimbang rasanya Bajigur bukan tawaran yang buruk.
Rangga kemudian mendaki tangga sempit, menyusuri balkon kecil sebagai menuju kamarnya di lantai tiga. Untuk alasan yang belum terpecahkan, hari terasa ini lebih melelahkan ketimbang hari biasanya.
****
Rangga mereguk Bajigur dalam gelasnya sembari terpaku ke layer ponselnya, bolak-balik membuka tutup bagan-bagan pesan yang sejak sejam lalu membanjiri nomor Whatsappnya.
Grup khusus General Affair sendiri meluap, Rangga memilih untuk tidak merespon riuhnya percakapan yang ada. Biasanya pun begitu.
Ia sudah duduk pada bangku kayu di depan kos, sudah lebih segar dan berganti celana training dan kaos untuk tidur.
Nina sudah membaca pesannya, dua centang biru. Ajo tidak mengomel banyak lagi setelah memberi kabar terakhir. Bu Elsa pun tidak membalas pesan terakhir Rangga, permintaan maaf untuk kelalaiannya.
Rangga menerima fakta kalau dia alpa, tuan Puteri mereka hilang untuk sesaat dan seantero kerajaan sedang membencinya karna meremehkan amanat dari sang Ratu.
Sekali lagi dia pasrah akan nasibnya esok, bahkan sekarang ia sudah berpikir kemungkinan mencari pekerjaan baru.
Hatinya hanya sedikit mencelos kala melihat sang Puteri dijemput mobil mahal itu, kendatipun dia bersyukur tidak terjadi sesuatu padanya.
Meski tersisa tanya bagaimana mereka bisa tidak bertemu sementara menghabiskan petang di tempat yang sama, mungkin kan mereka berselisih jalan?
__ADS_1
“Tumben Kang, pulangnya malam. Sudah ngga narik Ojol lagi bukan?” Soleh membuka obrolan sambil mencuci gelas-gelas.
“Bang Rangga mah sekarang gawe kantoran, dah kaga ngojek lagi, Leh.” kata Rahmat, lalu menyodorkan kantong kresek kecil berisi kerupuk.
Rangga meletakan gelas Bajigur di sebelahnya, mencamili kerupuk setengah lempem.
“Ah, bisa aja. Sama aja kok, kerjanya memang dikantor, tapi kerjaannya tetep kerja kasar,” koreksi Rangga.
“Yah tetep atuh, Kang. Sudah mendingan, seneng saya lihatnya,”
“Tapi kuliah masih kan, Bang?” tanya Rahmat.
“Masih kok, Mat. Lagi jarang masuk aja,”
“Gue juga kepengen sebenernya kuliah, dulu sih Bang. Sekarang mah mikir buat susu anak aja dah,”
“Hehe, iya sih. Anak lo yang bungsu umur berapa?” Rangga kini sudah mengantongi ponselnya, sudah masa bodoh dengan esok.
“18 bulan, Bang,”
Tiga orang mahasiswi keluar dari kosan Rangga dengan piyama tidur mereka, menyerbu gerobak Rahmat.
Rahmat yang semula duduk berbagi bangku tiba-tiba bangkit menuju gerobaknya, bangku seketika terjungkit miring.
Rangga yang terlanjur bergeser ke pinggiran bangku nyaris terjengkang kalau bukan karena reflex meraih tiang listrik di sebelahnya, dan meraih gelas bajigur yang terjungkit ke udara dengan tangan lainnya.
“Wow!” seru ketiga Mahasiswi bersamaan, takjub.
“Sorry Bang!” Rahmat melongokan kepala besarnya dari balik gerobak, tertawa salah tingkah.
“Jurig Sia!” umpat Rangga, lalu membenarkan posisi bangku panjang tersebut sebelum kembali dulu.
“Saya doa’in cepet selesai deh, Kang. Biar cepet sukses.” ucap Soleh, selagi mengelap gelas-gelasnya.
Rangga tersenyum simpul lalu menghabisakan sisa minumannya.
__ADS_1