Null Eksistensia

Null Eksistensia
20. Fast and Furious


__ADS_3

Rangga terduduk pada bangku kayu di muka bengkel sepeda motor yang ia temukan masih beroprasi setelah lebih dari 15 menit mendorong motornya, ia memutuskan untuk menitipkan motor yang ringsek itu untuk menginap diperbaiki.


Baterai ponselnya hanya tinggal 25 persen, beberapa bagian layarnya kini tergurat retakan dan terkadang kurang responsif. Pemilik bengkel dan mekaniknya sedang berproses menutup ruko besar tersebut.


Rangga sedang mengujam sedotan plastik ke lubang teh kotakan yang ia beli ketika sebuah sedan menepi kearahnya. Pengemudinya mengkilaskan lampu depan sebanyak dua kali sebelum mematikan mesin.


Sebuah Mazda-RX8 berwarna hitam pearlescent dengan modifikasi balap dan spoiler karbon. Seorang perempuan muda keluar dan menghampiri Rangga, ia tersenyum sopan, Rangga sudah bisa menduga kalau ia bekerja untuk Garuda.


“Pesanan yang Kakak minta semuanya ada di dalam mobil, Ini kuncinya,” Ujarnya, seraya menyodorkan kunci mobil tersebut dengan intonasi yang ramah sekali.


Rangga merasa seperti berhadapan dengan SPG dan sedang ditawari untuk membeli ponsel terbaru di pusat perbelanjaan. Ia mengamati perawakan perempuan belia tersebut, usianya jika ditaksir mungkin sepantar dengan Laras, parasnya elok dan matanya sipit.


Garuda rupanya cukup jeli memilih asisten, pikir Rangga.


“Terima kasih, kamu sendiri pulang naik apa?” tanya Rangga


“Saya sudah pesan Taksi online, Kak” jawabnya.


Perempuan belia itu melambaikan tangannya ketika Rangga pamit dan melaju dengan sedan pinjaman yang Garuda berikan.


Setelah sempat mampir di SPBU sejenak untuk berganti setelan, Rangga kini sudah kembali memacu sedan balap itu menuju ke tempat dimana acara Swarnadipa berlangsung.


Ia berusaha mengkompensasi waktu yang terbuang dengan menyetir agresif di tengah lalu lintas yang tidak terlalu lengang, beruntung sedan yang ia kendarai mampu merespon manuver yang ia lakukan dengan lincah.


Ponselnya kembali berdering, nomor tak dikenal memanggil.


“Baterai ponsel gue sekarat, lo ngga punya charger atau powerbank di mobil ini?” tanya Rangga ketika panggilan tersambung.


“Powerbank, Lo pikir ini Taksi Online? Anyway, gue sudah mendapatkan kontrol CCTV dari Restoran tempat acara berlangsung, sejauh ini sepertinya kondusif. Lalu, rencana yang mau lo jalankan ini sebenarnya gimana, Wana?” kata Garuda.


“Secure Target, bawa ke Safe House sampai besok sore, Search dan Destroy. Sisanya disusun dari sana, akan lebih baik kalau ada informasi tambahan dari Lo,” Jawab Rangga sembari tetap fokus menyentir.


“Amsyong dah, sudah gue duga. Lo ngga punya rencana kongkrit sama sekali. Konsekuensi dari tindakan tanpa perhitungan matang dan murni berdasarkan emosi, adalah rentetan masalah yang lebih banyak, lo inget itu bukan?”


“Sejak kapan lo hobi mengutip petuah Bapak?” Rangga bertanya.


“Gue ngga sedang mengutip Bapak. Gue mengutip omongan lo dulu,” Garuda menjawab.


Rangga memilih untuk tidak menanggapi kali ini. Kehilangan argumentasi. Ia benci mengakui jika apa yang Garuda ucapkan adalah sesuatu yang logis. Mantra yang selalu ia pegang dan tegas diterapkan kepada regu yang ia pimpin selama karirnya.


Sesuatu yang ia langar dengan mudahnya kali ini.


Rangga menggeser naik tuas perseneling, terasa gelegak mesin berpindah gigi dibawah kap depan yang disambut letupan di knalpot belakang, lalu dipijak nya pedal gas dalam-dalam.


Raungan keras mesin rotary-ganda itu membungkam riuhnya lalu lintas malam.


Garuda memahami diam nya Rangga, ia mengerti dengan jelas sikap bisu dari mantan pemimpin regunya itu dan memutuskan untuk mengalah serta mengakhiri panggilan.


“Gue akan update kalau ada informasi terbaru. Tolong pastikan mobil kesayangan gue kembali dalam keadaan utuh.”


***


Rangga kembali menghubungi ponsel Nina sembari menyetir, ia sudah hampir tiba di tujuan. Panggilan tersambung namun tidak diangkat hingga terputus dengan sendirinya.


“Ayolah! tolong diangkat,” seru Rangga, kesal dan menelpon kembali. panggilan telepon kedua tersambung.


“Kamu ini enggak ada kerjaan atau gimana, dari pagi nelponin saya. Ada perlu apa?” tanya Nina dengan nada ketus.


Sembari membanting setir dan berputar balik melingkari celah pembatas jalur, Rangga berseru pada ponselnya yang tergeletak.


“Nina, kamu sekarang berada dimana?” Rangga balik bertanya, dipijaknya pedal sedalam mungkin.


“Saya tanya malah balik tanya. Kamu ada perlu apa, Rangga?” sahut Nina.


“Apapun yang kamu lakukan sekarang, jangan menjauh dari keramaian! Mengerti? Jangan menjauh dari keramaian!” teriak Rangga yang ponselnya melompat dari dashboard ke Jok penumpang depan.


Ia sudah tiba pada gerbang masuk area Restoran yang ramai, dan mengurangi drastis kecepatan supaya tidak memancing perhatian.


Tidak ada jawaban dari Nina, sewaktu ia lirik, ponselnya sedang dalam fase berhenti berfungsi karena kehabisan baterai.


Kepalan tangannya keras menumbuk setir karena jengkel.


Pijar gemerlap lampu Restoran pinggir pantai itu menggetarkan batin Rangga yang cemas. Ia dengan lugas menyetir masuk ke pelataran parkir, bersikap tenang sewaktu sekuriti menyusuri kolong dan jok belakang dengan metal detector kendati persenjataan yang ia bawa pastinya akan membuat semua orang panik manakala ditemukan.

__ADS_1


Akan tetapi, Ia sudah melakukan ini entah berapa ratus kali sepanjang karirnya. Rangga juga percaya Garuda sudah mendesain kompartemen rahasia dibawah jok belakang untuk dapat luput dari pemeriksaan semacam ini.


Mereka sudah sering menyusup ke penjagaan yang jauh lebih ketat, sehingga sekedar acara perusahaan semacam ini hanyalah perkara remeh.


Selesai berbasa-basi, Rangga segera parkir dan bersiap. Hingar bingar acara yang digelar menelusup lirih kedalam kabin sedan itu sementara Rangga memeriksa sepucuk pistol dan peredam yang tersembunyi pada kompartemen kecil dibawah jok penumpang depan.


Ia memisah dan menyelipkan peredam serta magasin kebalik setelan yang ia kenakan. Band semakin keras terdengar ketika Rangga keluar dari mobil dan bergegas bergabung ketengah para undangan.


Campuran bahan polimer dan keramik yang membentuk pistol dan peredam yang ia gunakan membuatnya mampu melenggang melalui gerbang metal detector tanpa kesulitan. Ia hanya sekedar menunjukan QR Code yang Garuda kirimkan yang mana adalah undangan acara palsu ke gerbang pindai.


Deretan meja-meja dan panggung acara semakin dekat dipandangan. Band sedang menyuguhkan suasana syahdu melalui tembang milik Sinatra yang mereka bawakan.


Dimanakah tuan Puterinya kini, seperti apakah rupa perempuan terkasihnya malam ini? Seperti apapun itu pastinya jelita sebagaimana biasa. Ada sekelumit buncah bahagia membayangkan pertemuan dengan nya, rasa yang sejenak menyelisihi khawatir yang menggantung sejak tadi sore.


Sempat-sempatnya ia merasa rindu ditengah kegentingan ini, hardiknya dalam hati. Ah, ternyata rasa rindu jauh lebih besar daripada kekhawatirannya. Pantas saja Garuda seperti tidak percaya akan keputusan yang ia ambil malam ini.


Sial, pikiranku harus fokus. Umpatnya ke diri sendiri.


Gempita acara hiruk pikuk di malam hari. Para undangan dan pelayan yang berlalu lalang membawa troli-troli. Mereka berbicara dengan suara sedang ditengah alunan musik. Kadang samar antara gurauan dan sapaan, terdengar bersahutan dari mulut mereka.


Rangga pun kini kembali menjadi Jagawana yang tenang menyusup diantara khalayak ramai seolah dirinya adalah sosok yang kasat mata. Dalam keadaan demikian, nyaris tidak ada seorangpun menyadari sosoknya yang menyapu sudut-sudut ruang yang ia jelajahi.


Tamu yang hadir tidak hanya berasal dari Indonesia, tidak sedikit wajah orang asing. Beberapa pelayan dan chef yang nampak pun ada yang berwajah Eropa. Sesuatu yang lumrah apabila menilik kaliber penyelenggara acara dan Restoran ini, yang artinya juga celah bagi siapapun yang berusaha menyusup dan mencelakai Nina.


Omong-omong soal Nina, Rangga masih belum menemukan keberadaannya. Justru ia menemukan sosok gempal pendek dan bergaun cerah, Elsa, atasannya. Elsa nampak bergegas masuk ke dalam area Restoran menuju sebuah lorong, meninggalkan keramaian acara di luar.


Secara insting Rangga mengikutinya menuju lorong kamar kecil bagi tamu yang lengang, Elsa sepertinya tidak menyadari sedang dikuntiti.


Selain Rangga, ada satu orang tamu perempuan tinggi semampai bergaun merah berjalan di belakang Elsa, serta sepasang pelayan restoran yang salah satunya mendorong troli dan nampak jelas menjaga jarak terhadap si gaun merah.


Rangga mengikuti mereka masuk terus ke dalam sementara keduanya tidak sadar sedang diawasi, Elsa dan si gaun merah melewati pintu toilet pria dan masuk ke toilet khusus wanita.


Sepasang pelayan tadi berhenti, yang mendorong troli kemudian berjongkok dan merogoh kedalam tingkat terbawah kebalik tirai trolinya, meraih sesuatu.


Sementar yang satu lagi terkesiap kaget ketika Rangga menepuk bahunya dan bertanya. “Toilet laki-laki yang ada di sebelah sini bukan, Mas?”


Kedua pelayan saling bertukar pandang dan Rangga seperti dapat membaca niat yang melintasi pikiran keduanya, sehingga berinisiaitif  menyerang.


Troli terguling berkerompyang tertimpa tubuhnya yang terjengkang keras.


Rangga berkelit menghindari tinju liar pelayan yang ia lumpuhkan lebih dulu tadi serta mencuri pena di sakunya, ia lontarkan tutupnya, lalu dihujamkannya berkali-kali ke leher si pelayan setelah menangkis tinju susulan yang datang.


Rangga menjambak kerah si pelayan yang melolong histeris ketika mata pena disorong lebih dalam, lalu menjadi dengkuran serak seketika darah terpompa keluar.


Secara insting, Rangga meraih tubuh pelayan tadi dan bertukar posisi, ia menggunakan tubuhnya yang menggelepar sebagai tameng hidup ketika rekan si pelayan sudah berhasil meraih pistol berperedam dari troli yang berserak.


Ia mendorong sembari merunduk perisai hidupnya, yang tanpa ampun menerima bertubi-tubi timah panas dipunggung. Lalu dicampakannya kearah si penembak yang reflek menepis tubuh rekannya yang kini lebih mirip galon air bocor.


Ini memberi Rangga jeda waktu sepersekian detik, waktu yang cukup baginya untuk melucuti dan merebut pistol si penyerang. Tubuh kurus pelayan yang terlucuti itu kembali terhempas ke karpet ketika Rangga menerjang dadanya.


“Berapa banyak jumlah kalian? FOB kalian di mana?” tanya Rangga dengan pistol teracung, sarung tangan hitam dan sebagian pakaiannya sudah terpapar bercak darah.


Napas si pelayan tadi terengah, rautnya tegang lalu pandangannya menajam.


Klise banget, gumam Rangga dalam hati.


Seraya mengelakkan pisau daging yang pelayan itu raih dari serakan isi troli di sebelahnya lalu dilempar kearah kepala Rangga. Ia hentikan sergapan yang pelayan itu berusaha lakukan dengan dua butir peluru untuk masing-masing lutut.


Rangga masih bisa mendengar samar dengung musik bergaung pada dinding koridor yang lengang, juga teriak histeris pelayan tadi yang ambruk dengan kedua lutut tertembak.


“Berapa banyak jumlah kalian? FOB kalian di mana?” tanya Rangga, mengulangi. Seseorang keluar dari toilet.


Elsa terperanjat mendapati situasi yang ada di hadapannya ketika keluar dari toilet, ia bertukar pandang dengan Rangga yang membalas dengan cengiran.


Rangga dapat melihat bagaimana Elsa bergetar lututnya serta tidak menjawab dan berusaha kabur terbirit-birit ketakutan seperti melihat hantu, reaksi yang masuk akal pikir Rangga, semua orang pasti akan kabur melihat ini.


Rangga kini mengalihkan pistolnya menuju Elsa yang ketakutan mematung, lalu memerintahkan untuk menganggkat tangan dan berbalik jongkok menghadap tembok.


Elsa dengan patuh dan penuh ketakutan mematuhi, ia mencicit ketika Rangga membebat mulutnya menggunakan celemek pelayan yang ia rampas, dan mengikat kedua kakinya dengan tali tas yang ia kenakan.


“Maaf Bu, Tas Gucci-nya rusak. Tetap disini dan jangan kemana mana,” perintah Rangga.


Lalu, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Pelayan yang masih hidup tadi berteriak sekerasnya dengan logat Indonesia yang tebal.

__ADS_1


“Yelenova, Kill Her!”


Yelenova? Batin Rangga.


Rangga seketika teringat ada satu orang lagi yang masuk bersama Elsa ke dalam toilet, perempuan asing bergaun merah, Perempuan Rusia, ia seketika bangkit mendengkus geram.


Langkahnya memburu kearah toilet perempuan, setelah sebelumnya ia menembakkan timah panas ke pelipis si pelayan tadi, menghabisi nyawanya.


Bayangan Rangga mengendap di lorong kecil menuju bilik toilet, kosong dan aman, namun kemudian terdengar suara pergulatan dan orang terkecik.


Nina! Teriak batinnya.


Ia berlari masuk dan mendapati perempuan bergaun merah tadi sedang mencekik leher Nina dengan semacam Garrote di depan wastafel, Nina sudah lemas tanpa perlawanan.


Ia seketika memantik amarahnya.


Rangga mencabut mesin pengering tangan di tembok dan berusaha dihempaskan ke kepala perempuan Rusia itu, menembaknya dalam posisi sedemikian dekat dengan Nina adalah resiko tinggi.


Brak!


Kotak itu hancur berantakan.


Perempuan itu ternyata melihat kelebatan Rangga dari pantulan cermin dan melepas kuncian Garrote-nya dari leher Nina, untuk memblokade serangan Rangga. Ia bahkan mampu menepis pistol yang Rangga genggam dengan ujung tumit lancipnya.


Keduanya segera bertukar serangan dalam pertarungan jarak dekat yang cepat dan intens, si Rusia sangat mahir Krav Maga dan menggabungkan itu dengan Teknik kuncian menggunakan Garrote-nya.


Berulang kali Rangga mampu melepaskan diri dari jerat kawat baja tipis elastis yang berusaha mengunci gerak dan mengontrol serangannya. Bebatannya sangat licin dan kencang, kalau saja tidak mengenakan setelan BEASTSPOKE, pergelangannya mungkin sudah memar dan berdarah akibat terjerat.


Perempuan ini sangat professional dan spesialisasinya jelas pertarungan jarak dekat pada ruangan sempit, batin Rangga.


Rangga berhasil menyarangkan satu pukulan di rusuk, namun sepertinya itu yang si gaun merah ini harapkan, kendati sempat terbatuk, ia berhasil membebat pergelangan tangan Rangga kembali dan kali melilitkannya menyilang kearah leher.


Garrote itu dapat memanjang hingga satu meter manakala diperlukan untuk menghindar, atau menambah simpul belitan seperti yang ia lakukan pada leher Rangga.


Rangga melawan upaya untuk menggoyahkan pijakan kakinya, ia tahu jelas apabila ambruk maka belitan ini dapat menghabisnya.


Ia berusaha membalik posisi untuk membebaskan belitan, namun si Rusia kembali mengulur Garrote-nya dan kali ini menyelinap ke dalam sambil mempertahankan lilitan tangan dan leher Rangga, mengubah posisi ke sisi atau belakang dan dia kemudian melakukan cengkeraman dua kaki serta bertengger di lehernya.


Rangga tercekik dan terbebani secara bersamaan, jatuh berlutut pada sebelah kakinya, upaya melepaskan pukulan ke balik punggung justru berakhir dengan kedua tanganya terbebat.


Ia berusaha bangkit melawan dengan sekuat tenaga, bergerak mundur menghantamkan tubuh si Rusia yang bertengger kearah dinding sekerasnya.


Setelah berhasil melakukannya untuk kedua kali, Rangga merasa cekikan Garrote dan kaki jenjang di lehernya sontak mengendur tapi juga merasa tubuh perempuan itu berayun melingkar turun kedepan, ia tahu apa yang akan terjadi.


Rangga menjulurkan setengah badannya menutupi segera setelah si Rusia berpijak turun di depannya dan  membalik gerak bantingan Judo yang berusaha ia lakukan memanfaatkan momentumnya sendiri, melemparkannya keujung ruangan toilet.


Si Rusia tidak membuang waktu untuk kesakitan dan berguling bangkit mencabut pistol kecil dari balik gaun. Rangga pun meluncur meraih pistolnya yang tergeletak di lantai.


Btas!


Klik! Klik!


Mata hijau yang besar itu membulat ketika peluru menembus tepat diantara keduanya sebelum akhirnya ambruk. Beruntung tembakan pertama Rangga tepat mengenai sasaran karena ternyata magasin sudah kosong.


Kali ini ia merasa keberuntungan sedang berpihak padanya, dan semoga terus begitu karena sepertinya ia akan butuh banyak hal itu untuk melewati semua ini.


Perhatiannya kini beralih kearah Nina yang setengah mati berusaha untuk bangkit, dan tepat waktu menangkap tubuhnya yang limbung dan memapahnya.


“Kamu enggak apa-apa, bisa berdiri?” tanya Rangga, kendati ia bisa melihat Nina yang samar-samar berusaha mengenalinya.


Rangga memapahnya untuk bersandar pada meja deretan wastafel marmer, tangannya melingkar pada pinggang Nina, wajah mereka sangat dekat, ia berusaha tidak canggung dengan tersenyum.


Tidak berhasil, alih-alih Rangga memungut sepatu Nina yang terlepas dan berusaha bersikap normal sewaktu memakaikannya. Setengah berharap seandainya saja momen ini terjadi dalam situasi segenting ini.


Namun mereka tidak punya waktu untuk itu, mereka harus segera pergi dari sini. Ia bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Nina.


“Kamu pasti sedang bingung atau histeris, tapi jangan panik. Aku akan jelaskan di jalan, tapi sekarang kita harus segera pergi!”


Nina yang sebetulnya memang masih bingung dan lemah menatapnya untuk sesaat, lalu kemudian mengangguk setuju. Ia meraih uluran tangan Rangga yang berbalut sarung tangan hitam. Mata dan mata saling bertemu, seolah berusaha mencari satu sama lain dan saling meyakinkan.


Keduanya bergandengan erat berjalan keluar dari ruangan. Rangga seperti merasakan semacam kekuatan super kini mengaliri nadinya tatkala tangan mereka saling mengunci. Percaya dirinya makin meroket ke bulan, ia bahkan berjanji pada diri sendiri untuk melindungi tuan Puterinya apapun resikonya.


Rentetan tembakan menyambut keduanya ketika melangkah keluar dari ruangan Toilet.

__ADS_1


__ADS_2