Null Eksistensia

Null Eksistensia
12. Konspirasi Senin Pagi


__ADS_3

Hari Senin ini dimulai dengan cuaca yang cerah dan waktu baru bergeser sekitar pukul 10 pagi.


Nina yakin sekali, sekalipun jam yang bertengger di meja sebetulnya digital, namun rasanya setiap detik berlalu dengan detak-detak lirih jarum analog berputar sangat lambat sementara menanti reaksi dari atasannya yang masih terpaku pada layar monitor noteboknya sejam 30 menit yang lalu.


Menanti adalah pekerjaan yang paling menyiksa dan paling membosankan untuknya, terlebih apabila yang ditunggu adalah sesuatu yang signifikan. Entah sudah berapa belas menit jari lentiknya itu mengetuk-ngetuk pelan ujung lengan kursi, seperti berusaha membalap gerak jarum jam seolah waktu akan ikut terseret bersamaan, sorot matanya pun nampak makin tidak sabaran.


Elsa melipat kacamata baca dan memijit pelan pelipisnya setelah menyelesaikan sesi bacaan yang sepertinya berat itu. Ia berusaha menemukan kata yang tepat untuk memulai pembicaraan kepada perempuan yang sejak tadi mengawasinya.


Ia dapat merasakan aura ketidaksabaran dari sorot mata dan gerak tubuh yang tersirat, ia juga sudah mengantisipasi argument apa yang keluar dari karyawati mudanya yang kritis, idealis dan cerdas tersebut kendati tetap mempertahankan sikap tenang di hadapannya.


Sosok perempuan yang memikat kekagumannya sejak sesi wawancara dulu kini berbalik seperti penyidik yang menunggu pengakuannya, tenang dan mengancam. Elsa merasa kembali seperti mahasiswi yang akan diceramahi sewaktu bimbingan dan mengaku dosa kalau tesisnya berantakan.


“Pak Dendhy sudah mengirim hasil pertemuan dan Analisa audit yang diampukan oleh Swarnadipa, termasuk segala aliran dana para investor di belakangnya. semuanya terverifikasi dengan baik.” Elsa membuka pembicaraan, perempuan di depannya bereaksi seolah tidak percaya.


“Ibu juga baca email yang saya kirimkan bukan?” tanya Nina.


“Dengar dulu Dyah! Saya juga sudah mempelajari apa yang kamu kirim, tapi jujur saja, bagi saya tuduhan kamu masih sekedar kecurigaan,”


“Itu di atas kertas, Bu.” Nina membantah. “Ibu menyimak juga kan kliping artikel tentang Swarnadipa yang taksiran harga unitnya fantastis, tentang valuasi perusahaan investasi lokal yang mendanai mereka, lalu Perusahaan multinasional dan Bank yang menjadi investor luar mereka pun menggurita dengan aliran dana yang fantastis ke banyak proyek real estate dan rintisan di ASEAN dalam 10 tahun terakhir.”


“Lantas, Apa kesimpulan kamu?” imbuh Elsa.


Elsa sendiri mengerti kemana arah pembicaraan yang berusaha Nina giring dalam opininya.


“Beberapa perusahaan pendanaan mereka sendiri terindikasi perusahaan cangkang, sekalipun inverstor luar yang terdaftar dalam audit adalah Investor besar dan Bank resmi di Korsel, Jepang dan Thailand, itu baru berdasarkan hasil penelusuran saya yang terbatas Bu. Artinya…”


“Artinya diatas kertas segala kecurigaan kamu belum cukup berdasarkan pada fakta yang valid. Ingat Dyah, saya dan kamu bukan Akuntan Forensik, sekalipun Analisa kamu terdengar tajam. Kamu perlu bukti yang kongkrit, kamu perlu Burden of Proof yang dapat disajikan di persidangan kalau memang itu yang sekarang ada di kepala kamu.” sanggah Elsa dengan tegas.


“Bukan itu saja Bu, saya sebut beberapa perusahaan dibalik mereka terindikasi sekedar cangkang bukan, kebanyakan di Karibia…ada yang masuk Panama Paper bahkan, Hanseol Investmen dan Woojin Soft Bank misalnya, nilai investasi mereka ke banyak properti selama 5 tahun ini saja jumlahnya fantastis, pertumbuhannya juga pesat sekali.”


“Itu belum cukup, Dyah. Kamu ada bukti aliran dana yang masuk ke mereka ada indikasi uang kotor?”


“Itu belum saya miliki Bu, tapi kita tahu perusahaan yang ada di Karibia kebanyakan sekedar fiktif, atau cangkang untuk cuci uang bukan? Mereka itu juga terdaftar milik perseorangan yang kemudian mengucurkan dana ke perusahaan tadi melalui akuisisi misalnya, sementara salah satu yang berasal dari Cayman Island hanya terdaftar sebagai Perusahaan Dagang Internasional.”


“Saya tahu soal Tax Heaven di Karibia, Dyah. Tapi segala poin dan analisa kamu hanya akan valid apabila ada buktinya, kamu mau bilang ada penggelembungan dan aliran dana kotor, kamu perlu menunjukan apa dan dari mana itu berasal.”


“Saya tahu Bu, dan saya pun baru bisa telusuri dengan segala keterbatasan akses saya. Tapi dari sana saya menaruh kecurigaan, saya mencium ada praktik pencucian uang melalui proyek ini,” seru Nina.


“Akuntansi Forensik itu bukan sekedar cocoklogi,” potong Elsa. “Tanpa ada bukti, argumentasi kamu diatas kertas ngga lebih dari sekedar teori konspirasi melawan portofolio mereka.”


Nina tidak mampu menyembunyikan raut wajah kecewa terhadap pernyataan atasannya ini, sedikit terpukul dengan kata-kata Akuntan Forensik, baginya hal itu seolah meminggirkan kecakapan dan analisa yang ia kemukakan.


“Saya ditempatkan untuk membantu Pak Dendhy, dengan klien sebesar ini, pun karena Ibu percaya kemampuan saya bukan?” Nina berusaha melawan balik, suara agak sedikit terbata.


“Tentu, dan supaya kamu juga belajar,”


“Kalau begitu tolong dukung saya, Bu! Tolong berusaha untuk percaya, apa yang saya lakukan itu benar.” tukas Nina.


"Saya berusaha untuk membantu kamu, melihat sejauh mana batas yang kamu punya!"


“Kamu tentu sadar beratnya tuduhan yang kamu berusaha sematkan ke Klien kita, terlebih kita diampukan untuk merilis laporan Uji Tuntas Audit Keuangan yang akan digunakan untuk katalis kelanjutan proyek mereka.” lanjut Elsa.

__ADS_1


“Saya mengerti maksud Ibu, saya pun sejak kemarin terpikir apa aja konsekuensi yang mungkin muncul, sejak mereka merilis laporan penuh mereka untuk kita pelajari, dan juga waktu rapat terakhir ketika pertanyaan-pertanyaan saya di mentahkan. Saya pikir Ibu akan lebih mudah mengerti kekhawatiran yang saya sudah sampaikan lewat email.”


“Kamu pikir saya, atau Pak Dendhy tidak bisa meraba hal yang sama?” tukas Elsa. Nina menelan ludahnya menyadari omongannya barusan seperti bermata dua.


"Lantas apa yang kamu berusaha lakukan disini, menghambat pekerjaan kita dengan investigasi yang tidak perlu, membuat laporan tanpa bukti yang cukup, membuat gaduh, mencoreng nama klien dan kantor kita?"


“Saya dan Dendhy sudah lebih dulu bekerja di bidang ini, sebelum kami memutuskan membuka KAP ini. Saya juga mengakui kecakapan, kritis berpikir dan kemampuan kamu. Tapi kamu sombong kalau berpikir kamu bisa terjun ke tengah kegaduhan sebesar ini dan segalanya berakhir baik-baik saja. Ini dunianyata Dyah, segala hal bisa terjadi.”


Nina terlihat berusaha memotong arus sanggahan yang pasang berombak itu, meski kata-katanya seolah tertahan di ujung lidah.


“Kalau kamu berpikir ini akan berakhir seperti film-film. Kamu jadi terkenal karena membongkar kasus pencucian uang multinasional, di elu-elukan sebagai pahlawan, begitu? Kamu terlalu Naif, Dyah!” tandas Elsa, Tegas.


"Saya sama sekali ngga pernah berpikir demikian Bu,"


Nina tertunduk lesu oleh ucapan yang barusan Elsa lontarkan, satu sisi ia merasa tersinggung karena seolah kembali di rendahkan, namun rasionalitasnya membenarkan segala hal yang terlontar.


Juga baru kali ini ia dibentak sekeras itu oleh atasan yang terkenal ramah dan santai ini. Kepercayaan dirinya seolah goyah dan Elsa mampu melihat hal itu.


“Saya bukan bermaksud mengerdilkan kamu, ucapan saya barusan mungkin pedas. Saya hanya murni khawatir kamu gegabah. Kamu berpikir logis lah, kalau memang seandainya sebesar ini praktek kejahatan yang mau kamu bongkar, apa kamu ngga berpikir mereka bisa berbuat apa saja untuk membungkam kamu?”


Nina mengernyitkan kening dan menatap balik raut wajah atasannya yang terlihat janggal, seolah memohonnya untuk menyerah saja. Elsa menatap dalam-dalam raut wajah bingung di depannya.


“Selain itu juga, butuh lebih dari sekedar cocoklogi dan kutipan laman berita untuk sekedar bukti melawan informasi terverifikasi yang mereka berikan ke publik. Semua masih praduga sebelum terbukti, berdasarkan penuturan kamu sendiri deh, coba bayangkan betapa teroganisirnya hal itu jika memang benar.” Elsa menutup layar laptopnya.


“Sudahlah Dyah, saya yang akan selesaikan urusan Swarnadipa bersama Dendhy, kamu mulai hari ini akan mengurusi klien lain seperti sebelumnya. Tolong jangan pernah bahas hal ini lagi, terlebih ke orang lain, selain saya.” lanjutnya, intonasinya kembali tenang.


Nina mengangguk pelan mengiyakan kendati benaknya dipenuhi banyak pertanyaan, serta kekesalan, namun ia sudah enggan untuk melawan lagi meski kecewa tetap ada. Ia untuk kali ini mengaku kalah, namun api semangatnya masih belum padam.


Elsa melirik pada jam tangannya, sudah waktunya Coffee Break, kemudian bangkit dan mengajak Nina keluar untuk mencari udara segar. Ia mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan lain.


Aku juga sengaja ngga membalas kok Bu…


“Saya cari dia sesudah rapat tapi ngga ketemu Bu, terus saya minta Nathan jemput.” jawab Nina dengan tidak antusias, ketika mereka menunggu di depan lift.


“Syukurlah kalau kamu ngga apa-apa, sekantor panik waktu kamu bilang ketinggalan sendirian lalu ngga bisa dihubungi,”


“Iya Bu, maaf membuat khawatir.”


Keduanya melangkah memasuki lift yang kosong. Hening kemudian.


“Oh iya, memang mobilnya rusak Bu?” tanya Nina, ketika keduanya keluar dari lift di lantai 20 dan mulai mendakit tangga menuju atap.


“Iya, Ajo sama Mey kirim fotonya ke saya. Baret-baret gitu. Katanya sih dirusak preman karena Rangga ogah bayar parkir minimarket di dekat kosannya…” jawab Elsa, sedikit terengah membawa badannya menaiki tangga.


“Memang ngga kembali ke kantor Bu, mobilnya?”


“Si Rangga katanya kemalaman dan malas bolak-balik, begitu deh… Bu Mey ngomel aja sejak kemarin di Grup.”


Nina manggut-manggut mendengar penuturan Elsa, sedikit ada rasa tidak enak karena ulahnya malam itu. Taman di atap sudah kosong ketika keduanya tiba, jam memang menunjukan hampir pukul 11 siang, waktu Coffee Break sudah lama usai.


“Menurut kamu, dia gimana orangnya?”tanya Elsa, sekonyong-konyong.

__ADS_1


“Eh, kok ibu tanya saya. Saya kan ngga terlalu akrab,”


“Yah, kalian kan paling ngga sudah kenal belakangan ini, sudah beberapa kali kamu diantar sama Rangga kan?”


“Iya, tapi keseringan sama Pak Misbah. Sekedar tahu aja, orangnya agak aneh.” jawab Nina.


“Aneh?”


“Iya, kelakuannya, unik gitu. Kemarin waktu terakhir antar saya juga begitu,” Nina kemudian menuturkan tingkah konyol Rangga ketika bertemu Pak Sarbini di lampu merah, termasuk beberapa hal lain menurut Nina berdasarkan yang ia pernah lihat.


Elsa tertawa mendengar panjang lebar cerita Nina, ia memang sering mendengar Mey mengomel soal Rangga yang terlambat atau bagaimana sengitnya ia terhadap kelakuan kikuk sopir bawaannya itu.


Tapi ia sengaja bertanya pada Nina karena masih berpikir mungkin akan tetap meminta Rangga khusus menyopirinya, kendati sudah tegas akan memindahkannya dari urusan Swarnadipa, hanya kemudian ia sedikit terkejut atas banyak komentar yang ia dapat dari Nina dengan nada setengah mengomel.


“Oh, begitu ya. Tapi anaknya tuh baik, walaupun kurangnya mungkin banyak” kata Elsa.


“Iya Bu. Kadang aneh aja sih kelakuannya,”


“Aneh yang gimana lagi, Dyah?”


“Kadang dia keliatan sok ceria, atau ramah gitu, sapa sana-sini kayak SPB di Mall. Terus lain waktu mendadak bisa diam, merenung di pojokan, atau hilang ekpresi gitu, kayak psikopat mungkin ya,”


“Perhatian juga kamu ini,” Elsa tertawa menggoda.


“Ya..Bukan perhatian, kebetulan aja Bu.” Nina buru-buru mengkoreksi.


“Itu buktinya, kamu bisa tahu berbagai macam ekspresi Rangga, padahal belum lama kenal. Saya patah hati deh kalau jadi Nathan dan dengar itu,” kata Elsa, masih dengan senyum dan ekspresi menggodai.


“Bu Elsa, bisa aja deh..”


“Nah, panjang umur… Itu dia” potong Elsa.


***


Nina mengamati sosok yang berdiri mematung hening di ujung taman, sementara pandangannya terpaku menyorot langit biru yang cerah, tangan kanannya memantul-mantulkan bolar karet ke lantai dalam tempo jeda yang panjang.


Ia tidak pernah sama sekali luput menangkap pantulan balik, dan tiap kali bola dipantulkan ke lantai pun selalu dalam garis lurus yang sama, itu dilakukan tetap dengan pandangan menerawang jauh ke langit.


Antara terkesan dan merasa konyol, entah sudah berapa belas tahun ia melakukan hingga semahir itu pikir Nina.


“Kamu masih disini, Rangga?” tegur Elsa ketika keduanya dekat.


Rangga menangkap pantulan terakhir dan menoleh, untuk sepersekian detik Nina dapat melihat perubahan ekspresi dingin menjadi senyum di wajahnya. Nina kemudian mengalihkan pandangan kearah lain ketika Rangga melangkah menyambut mereka.


Ia masih menyimpan sedikit kesal karena kejadian Jumat lalu, serta kesal dari pembicaraan dengan Elsa barusan, entah kenapa ia merasa malas menunjukan itu di depan Rangga dan memilih bersikap acuh.


“Saya kebetulan menunggu Ibu, ada yang ingin saya bicarakan.” kata Rangga.


“Boleh, sekalian aja saya dan Dyah mau istirahat. Memangnya ada apa, Rangga?” jawab Elsa.


“Saya mau mengundurkan diri, Bu.” ucap Rangga.

__ADS_1


Angin sepoi menjelajah bangku-bangku dan meja panjang terpayung Kanopi, menyibak pelan setelan Jas Rangga yang tidak terkancing, meniup-niup ujung rambut kecoklatan perempuan semampai di hadapannya.


Baik Nina maupun Elsa saling bertukar pandang, sama-sama terkejut.


__ADS_2