
Tubuh jangkung itu meringkuk pada kasur busa tipis yang tidak cukup panjang mengalasinya di lantai, bergelung dalam selimut coklat dan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal. Berusaha memerangkap hawa panas tubuhnya agar tidak lari berbaur dengan dingin ruangan petak tempatnya bernaung.
Pakaian basah kuyup teronggok begitu saja di sudut, merembesi cucian kotor lainnya dalam wadah plastik. Si empunya sedang malas, rencananya akan diserahkan saja ke binatu esok, sesekali berlagak punya uang lebih sepertinya tidak masalah pikirnya.
Gerimis sepertinya tidak kunjung akan beranjak atau mereda, semoga saja tidak sampai esok pagi. Hari Senin pagi bertabir hujan adalah mimpi buruk bagi mereka yang tidak memilik kendaraan roda empat di Jakarta.
Rangga memaksa matanya terpejam lebih keras lagi, membenamkan lebih dalam wajahnya ke bantal. Ia tidak ingin terjaga dengan banyak cabang pikiran, berharap mimpi dapat mengusir gelisah dan membantu melewati malam ini.
Mulanya semua gelap, pekat, lama-kelamaan kegelapan itu menyusut seperti kabut dan menipis. Rangga kini sudah terduduk di bangku SUV Hitam yang terparkir tidak jauh dari pintu gerbang sebuah komplek perumahan kelas atas di luar Jakata.
"Sekarang waktunya kamu membuka lembaran baru, dan menjadi sosok Jagawana sepenuhnya."
Bapak yang duduk berhadapan dengannya kemudian menyodorkan sebuah pistol dan laras peredamnya. Intonasinya rendah, namun karakter suaranya dalam.
Rangga menerima pistol tersebut dan menyarangkan magasin pelurunya, satu dari 3 buah yang ia bawa. Ia simpan laras dan peredamnya itu dibalik jaket parasut biru yang ia kenakan.
"Tugas ini, adalah murni buah jerih payahmu selama dua tahun belakangan. Anggap ini hadiah kecil dari Bapak. Segala informasi yang kamu perlukan sudah ada di kepalamu, berhasil atau tidaknya, itu tergantung kamu. Bapak tunggu kamu di Rumah."
Rangga membuka pintu samping SUV itu untuk berpindah ke mobil pengantar paket yang akan membawanya masuk. Bapak kembali menyeru ketika Rangga akan menutup pintu kembali.
"Ingat selalu pesan Bapak..."
"Jangan ada dendam, Jangan ada benci, Jangan ada emosi." balas Rangga dengan percaya diri dan penuh ketenangan. Bapak mengangguk puas atas sorot mata remaja di hadapannya dan kemudian mobil SUV itu berlalu meninggalkan tempat.
Penjaga pos depan dari rumah megah itu tertegun memeriksa alamat terbubuh pada label kotak pengiriman di depannya. mengusap-usap bulih air yang tampias di permukaan penutup plastiknya. Terbersit sedikit curiga pada kurir belia yang mengantarkan paket selarut ini.
Ia mencoba menanyakan kepada teman jaganya di pos, namun kalimat itu terpotong selamanya.
__ADS_1
Rangga menyeret kedua mayat lelaki berbadan besar itu ke dalam pos. Malam itu juga gerimis sehingga komplek yang memang sunyi itu seolah sepi seperti kuburan.
Kilas-kilas kejadian kemudian membawa Rangga ketika ia menyeberangi halaman dan membunuhi bodyguard yang lengah berjaga, merobohkan dua lagi yang yang berlindung dibalik pilar besar pintu utama. Satu peluru untuk satu kepala, suasana kemudian gaduh ketika Rangga sudah membinasakan mereka yang ada di ruang tamu.
Para pembantu memekik pontang-panting ketakutan meski Rangga memang tidak berniat mengejar mereka, ia kosongkan sisa magasin kedua pada dua orang bodyguard yang berusaha menyergap, juga kening beberapa pasang tamu berbatik sutera di ruang tengah.
Ia mengenali wajah mereka dari foto yang ia peroleh pada brifefing, ditandai sebagai afiliasi target. Mereka juga pantas membayar perbuatannya.
Kemudian ia sudah ada di ruangan bayi pada salah satu kamar besar di lantai dua, melangkahi seseorang yang kini menggelepar diatas kubangan darah dari leher yang tersayat. Karpet warna-warni itu kini didominasi warna merah bermotif belasan cetakan alas sepatu.
Langkahnya terhenti pada peraduan bayi yang bertabur mainan, jemari yang berbalut sarung tangan kulit itu sejenak menyentil bianglala yang tergantung di atasnya, lagi dan lagi. Senyumnya getir.
Kilasan terakhir membawanya pada sebuah ruang tidur besar, ruang tidur utama sasarannya.
Si Tuan besar yang kini bergerombol bersama ketiga anak-anaknya memohon agar diampuni, Istrinya menawar dengan kalung liontin mahal mereka dan berjanji menambah dengan sekotak besar perhiasan dan banyak uang tunai.
Si Tuan Besar kini berlutut menggugu pucat pasi, air mata anak-beranak itu menganak sungai di hadapan malaikat mau berjaket parasut dengan wajah belia yang dingin.
Si Tuan Besar menangis pilu merendahkan kepalanya di lantai sewaktu Rangga menyebut dua nama di hadapannya. Istrinya berusaha menggapai kaki Rangga untuk memohon ampun seandainya laras pistol itu tidak lebih dulu menghentikannya.
Ketiga kakak-beradik itu menjerit dan menangis histeris merubungi Ibu mereka. Bapaknya berusaha memohon pengampunan bagi anak-anaknya, yang bungsu masih berusia beberapa bulan dalam buaian.
Pengampunan, belas kasihan katamu? Lantas dimana belas kasihan untuk adik perempuanku?
Rangga melolong keras dalam batinnya, meski mulutnya tetap membisu, pelupuk matanya sedikit berkabut dan panas.
Letusan tembakan lirih terdengar kembali, laras peredam itu mengepulkan asap tipis. Si Tuan Besar terhuyung dan ambruk dengan kening berlubang, berkubang dalam genangan merah yang bercampur darah istrinya.
__ADS_1
Gemerincing selongsong kosong berpantulan pada lantai marmer yang dingin, melatari jerit tangis adik-beradik yang masih hidup meratapi kedua orang tuanya, si Bayi bungsu menangis sedu-sedan digendongan kakak perempuan yang mungkin sedikit lebih dewasa dari Rangga.
"Ini bukan benci, atau dendam, saya cuma menuntuk hak saya," ucap Rangga pelan.
Si sulung membelalak ngeri dan tercekat, ia seolah berusaha memagari kedua adiknya. Gemeletuk giginya menahan rasa tidak berdaya dan tangis yang kembali pecah. Dipeluknya pasrah adik keduanya dengan satu tangan, sementara yang laih menggendong erat si bayi.
Rangga menyarungkan pistolnya yang kini kosong, lalu mencabut Bayonetnya.
Tubuh jangkung itu meringkuk pada kasur busa tipis yang tidak cukup panjang mengalasi di lantai, selimut coklatnya tersingkap lebar dan sedang wajahnya tenggelam dalam-dalam ke bantal yang basah. Bahunya bergetar, urat tangannya menyembul saat meremas erat seprai alasnya.
Adzan shubuh berkumandan dari speaker mushala. Membangunkannya dari mimpi.
***
Malam itu Rangga sudah resmi mati dan berkalang tanah yang becek kemerahan berdampingan nisan dengan kedua orang tua serta adik perempuan semata wayangnya.
Arwahnya sudah tenang kala pembalasan dendamnya tercapai, kini ia dapat beristirahat dan orang-orang pun akan melupakannya. Seperti halnya orang-orang kebanyakan ketika mereka mati.
Sewaktu matahari menyingsingi pelataran luas sebuah rumah besar di pinggiran Jakarta, sinar emasnya memandikan sesosok tubuh bermandi lumpur dan darah.
Langkahnya tenang kendatipun wajahnya lelah, tidak terhuyung atau sempoyongan, tegap dan mantap. Ia berbelok melalui selasar samping dan membasuh tangan serta kakinya pada curahan air.
Patung Gadis menggendong kendi itu basah dan sedikit berlumut kendati air yang terpancur begitu bening dan segar. Terpatri pada undakan kecil di bawah rindangnya pohon.
"Mandilah dulu, bersihkan badanmu, lalu kita sarapan pagi." seru Bapak dari Pendopo kecil pada sisi lain taman, ia kemudian melipat korannya dan memerintahkan sarapan di sajikan tidak di Pendopo. Pelayan rumah juga kemudian keluar membawa setumpuk pakaian laki-laki.
Rangga menuruti perintah Bapak dan meraih pakaian ganti itu, kemudian melangkah menuju kamar kecil bagi tamu di taman.
__ADS_1
Pagi itu sementara teman-temannya yang sudah melupakan Rangga bersiap akan memulai Tahun Ajaran Baru dan naik kelas tiga, Rangga juga sudah menutup bab akhir kehidupannya.
Pagi itu sang Jagawana telah lahir.