Null Eksistensia

Null Eksistensia
17. Persimpangan Jalan


__ADS_3

Logo besar Swarnadipa terproyeksikan pada layar raksasa yang menggantung dibelakang deretan kursi dan meja panjang di atas panggung. Mengisi deretan kursi tersebut adalah para pemangku jabatan Swarnadipa Bangun Persada, salah satu raksasa bisnis properi di Indonesia.


Lampu ruangan diredupkan selama presentasi paparan proyek terbaru mereka, Magna Carta, sebuah proyek kota baru yang nantinya akan menjadi kota satelit dari Jakarta. Target besar untuk pengisi hunian adalah kalangan menengah kebawah, terutama para pekerja muda.


Magna Carta memperoleh pendanaan lebih dari 250 Triliun Rupiah dari dalam dan luar negeri, selain 55 Triliun yang merupakan modal awal berasal dari kas mereka sendiri.


Olympus Investment termasuk salah satu pemodal besar dari Jepang yang juga menyasar pasar ekspatriat dengan rancangan 1200 hunian bergaya apartemen Jepang.


Selama pemaparan berjalan Rangga memaparkan segalanya dalam alih bahasa kepada ketiga delegasi dari Olympus bersama Fukunishi yang mengisi gap informasi terkait internal perusahaan.


Mereka berempat ditambah satu orang sekertaris perempuan, duduk mengitari satu dari puluhan meja bundar yang disusun rapi di dalam Aula besar ini.


Tidak seperti yang Rangga sebelumnya duga, ketiga delegasi yang ia pandu justru lebih banyak berdiskusi langsung kepada Fukunishi setelah seluruh pemaparan yang panjang dan membosankan itu selesai.


Rangga hanya menterjemahkan sesi tanya jawab apabila mereka meminta, ia cukup mengerti bahwa ada batasan informasi yang tidak dapat ia akses dalam perannya sebagai penterjemah.


Sewaktu itu berlangsung, Rangga melarikan diri dengan mengudapi sajian yang tersedia di meja. Lantas teringat, pesan balasan yang masuk untuk penggalan puisi yang ia kirim semalam.


Ia terkejut sekaligus senang ketika notifikasi-nya masuk semalam, saking senangnya hampir saja salah menggantung Nasi Telor yang ia beli semalam pada stang motor, bukan di tempatnya.


Saking senangnya, ia bingung sekaligus ragu-ragu untuk membalas dengan gaya seperti apa pesan yang masuk. Saking sibuknya memikirkan hal itu, pesan itu masih belum juga ia buka dan tentu saja belum terbalas.


Jatuh Cinta memang seringkali membuat orang yang cerdas menjadi tidak waras, rasionalitas nya mencemooh untuk kesekian kali.


Berisik kau! Umpat Rangga dalam hati.


Dengan sedikit berdebar ia tekan kolom pesan yang dikirim oleh tuan Puteri nya itu, bagan yang sempit meluas sepenuh layar dan menampilkan sepotong kalimat.


Ngga nyangka kamu tahu juga, sering baca buku Sastra? – @realkarendp


Saya biasanya baca komik aja, kebetulan pernah baca kutipan tadi - @not.a.brucewayne


Seandainya ada seseorang yang memutuskan untuk tiba-tiba menyalakan lampu Aula yang temaram itu, pastilah nampak jelas wajah Rangga yang bersemu-merah dan senyum yang berusaha keras dia kulum.


Rasionalitasnya kini ikutan melongok isi balasan yang Nina kirimkan dari balik bahu Rangga, ia mengenakan baju taktis ketat warna hitam seperti yang dulu biasa mereka pakai.


Baru kayak gitu aja sudah salah tingkah, sia-sia kayaknya gue dulu ditempa keluar masuk ‘Neraka’cuma untuk tunduk oleh kepicisan macam begini, ejeknya kepada Rangga.


Rangga menoleh gusar kearahnya yang kini duduk di meja, diantaranya dan Masahiro, salah satu ekspatriat yang ia pandu.


Berisik aja kau, salahkah jika orang ingin merasa bahagia? Balas Rangga.


Si Rasionalitas nya tergelak pendek, lalu tersenyum menyeringai, ditusuknya Risoles di meja menggunakan Bayonet kecil yang digunakan sebagai pengganti garpu. Setelah lahap menyantap ia menujuk Rangga dengan ujung Bayonet.


Kalau definisi bahagia versimu adalah menyusahkan diri sendiri dan bertingkah seperti pecundang yang otaknya dicolok buluh perindu? Tentu saja aku merasa itu salah, Bung!


Rangga yang malas mendengarkan ceramah di kepalanya berusaha mengenyahkan gusar dengan sesapan Teh manis di gelasnya.


Pecundang, katamu? seru Rangga.


Iya, Pecundang!


Hidup normal seperti orang kebanyakan mungkin adalah konsep yang asing buatmu!

__ADS_1


Rangga mendengar suaranya sendiri tergelak panjang menertawainya dari atas meja, kemudian sosok berwujud dirinya di masa lalu itu melompat turun dari meja dan mencengkram bahu kanannya erat.


Ada perbedaan antara Hidup Normal dan Hidup seperti pesakitan yang membohongi diri sendiri, kita berdua sama-sama tahu hal itu bukan? Ingatlah, kita ini Alpha! Tidak pernah ada lawan yang berhasil mengalangi kita.


Lawan, apa maksudmu? Rangga bertanya balik.


Rangga merasa cengkramannya mengendur ketika bayangannya bergeser dari meja mereka dan berjalan ketengah ruangan sembari menjepit bilah Bayonetnya.


Maksudku ini!


Sekuat tenaga Bayonet itu dilemparkan kearah meja pembicara dari Swarnadipa di panggung, bersiul lirih bilahnya berputar kearah Nathan yang sibuk menjawab pertanyaan dari undangan yang hadir, melewati bahunya dengan jarak yang amat tipis sebelum menancap merobek layar presentasi di belakangnya.


Lampu ruangan kemudian dinyalakan seketika, disusul riuh tepuk tangan dari hadirin undangan yang merasa puas pada hasil pemaparan hari ini. Semua orang bangkit dari bangkunya.


Rangga pun reflek bangkit dari bangkunya dan ikut bertepuk-tangan, berusaha membalas komentar dari Masahiro di sebelahnya yang ia tidak terlalu perhatikan, sosoknya yang berbaju taktis pun kini lenyap bersamaan dengan Bayonet imajiner di layar presentasi terpapar riuh lautan undangan yang antusias.


Ia memandang kearah Nathan yang juga bersama anggota Direksi Swarnadipa lainnya ikut berdiri bertepuk tangan membalas hadirin. Tersenyum puas penuh kemenangan.


Ia merasa seperti orang yang tidak waras dengan monolog batin yang terjadi barusan, bagaimana mungkin dari rasa berbunga akan balasan pesan dari orang yang ia sukai berbelok jadi dialog semacam tadi.


Rasanya baru beberapa waktu belakangan ini ia terkadang seperti mengobrol dengan hantu, hantu berwujud sosoknya sendiri dari masa lalu.


Mungkin gue kudu kurang-kurangin minum Bobba Tea, benaknya berusaha mengenyahkan pikiran yang mengganggu.


***


“Rangga-san, malam ini sepulang acara kita akan menjemput CEO Olympus yang datang menyusul belakangan. Kamu tidak masalah bukan?” tanya Fukunishi sewaktu mereka sibuk menyantap jamuan makan yang disediakan.


“Tidak masalah buat saya,” jawab Rangga.


Rangga kemudian kembali mengobrol dengan Masahiro dan Chie, sekertaris mereka tentang tempat-tempat wisata yang bisa mereka kunjungi di akhir pekan sebelum kembali ke Jepang.


Malam ini rencananya mereka akan mampir disalah satu Klub yang populer bagi ekspatriat Jepang di Jakarta.


Budaya minum Sake memang melekat erat dengan dunia kerja masyarakat Jepang, terutama terkait seremoni keberhasilan, terkadang untuk menolak pun perlu kehaati-hatian supaya tidak tersinggung orang yang mengajak.


Selepas acara di Swarnadipa, para delegasi Olympus dan para undangan segera membubarkan diri. Rangga mengantar Masahiro dan kedua delegasi lainnya menuju mobil yang akan mengantar mereka kembali ke Hotel terlebih dahulu.


Ia bertanya kepada Chie apakah perannya masih akan diperlukan, menurutnya semestinya tidak karena mereka akan kesana bersama-sama dan tempat yang mereka kunjungi pun tidak menyulitkan bagi penutur asli Jepang, akan tetapi ia tetap diundang untuk bergabung.


Jawaban ini membingungkan buatnya, Fukunishi berkata ia perlu untuk ikut, Rangga pun akhirnya menjawab dia akan mempertimbangkan untuk hadir jika memungkinkan.


Lebih dari sejam kemudian, ia dan Fukunishi sudah berpacu membelah jalanan masuk Bandara Soekarno-Hatta ditemani alunan orkestra Flight of The Valkyrie yang bergaung dari pemutar musik di dashboard.


Rasanya ia ingin memijak lebih dalam pedal gas, mengikuti tempo yang makin dramatis. Fukunishi terlihat puas terhadap hasil kunjungan tiga hari ini, ia sendiri yang meminta playlist Wagner favoritnya diputar sejak mereka keluar dari parkiran Swarnadipa.


Rasanya ia ingin memijak lebih dalam pedal gas, mengikuti tempo yang makin dramatis. Fukunishi terlihat puas terhadap hasil kunjungan tiga hari ini, ia sendiri yang meminta playlist Wagner favoritnya diputar sejak mereka keluar dari parkiran Swarnadipa.


Sewaktu mereka tiba di Terminal Kedatangan Internasional sudah ada beberapa anggota Yakuza yang lebih dulu bersiaga menanti. Fukunishi pun tidak banyak berbasa-basi seperti tiga hari yang lalu.


Rangga merasa ada sesuatu yang janggal dan insting terlatihnya bersiaga mengendus bahaya yang masih kasat mata. Ia melirik Fukunishi yang gelagatnya berbeda.


Apapun yang mungkin terjadi, ia merasa keramaian Bandara masih akan melindunginya.

__ADS_1


Pengumuman kedatangan penerbangan dari Haneda sudah dua puluh menit berlalu, puluhan orang mulai memadati pintu keluar.


Pertanyaan Rangga terjawab ketika serombongan warga negara Jepang menyeruak dari kerumunan masa. Berpakaian bisnis seperti kebanyakan Yakuza, namun dengan setelan yang lebih mahal.


Ada dua orang perempuan muda diantara selusin anggota rombongan yang menghampiri mereka, Fukunishi dan anggota yang menunggui bergegas menyambut. Mereka membungkuk dalam-dalam kepada sosok necis dengan long-coat berwarna hitam.


Apa bos penjahat di seluruh dunia mesti se-klise ini? Batin Rangga mencibir, sembari mengawasi sosok terdepan yang sejak keluar pintu terus melayangkan pandangan dinginnya.


Pria itu mengacuhkan saja Fukunishi yang berbasa-basi dan membungkuk dalam, justru disampirkan nya long-coat yang ia kenakan pada punggung Fukunishi, melenggang melewati penjemput lainnya menuju Rangga.


Perlu sedikit mendongak baginya untuk beradu pandang dengan Rangga yang jauh lebih tinggi, pun hal itu tidak menyurutkan seringai senyumnya. Ia memberi tangan kearah anak-buahnya yang hendak menegur Rangga yang menurut mereka kurang ajar.


“Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali, setelah sekian lama..” serunya.


“Kau pun nampak tidak seberantakan seperti terakhir kali kita bertemu, Asano!” sahut Rangga.


***


“Sewaktu si Fuku mengirimkan info soal penerjemah pengganti ke Jepang, aku sama sekali tidak menyangka kalau itu adalah orang yang aku kenal,” tutur Asano sewaktu keduanya sudah berada dalam kabin Limosin yang membawa mereka meninggalkan Bandara.


“Kalau kau berpikir aku akan perduli terhadap apapun rencana kalian, kau salah. Aku sudah tidak aktif seperti dulu, terserah kalian saja. Aku cuma orang biasa,” jawab Rangga dengan nada malas.


Asano tertawa dan membuka Champagne yang tersedia, ia menawari Rangga yang menolaknya dengan wajah tidak antusias. Sejak kapan si Yakuza ini punya ide untuk mengakrabi nya, pikir Rangga.


“Kau Pahlawan Nasional, kenapa kau justru berhenti. Apa kau kehilangan sesuatu di Tokyo, tiga tahun lalu?”


“Jadi begini, kalau kau mau balas jasa karena dulu aku menyelamatkan muka dan nyawamu, bayar saja jasaku dan lemburnya dua kali lipat. Kejadian tiga tahun lalu tidak lantas menjadikan kita teman atau sebangsanya, kita bahkan ngga temenan di Facebook, okay?” Rangga makin merasa jenuh dan tidak ingin buang waktu lebih jauh.


“Wah, kau bisa sarkasme sekarang. Sepertinya pensiun bukan ide yang buruk,”


“Yah, terserah kau lah. Pensiun saja atau lanjutkan *****-bengek perkara Yakuza-mu terserah, aku ngga perduli. Bilang sopirmu untuk berhenti setelah keluar pintu Tol.”


Asano menyesap dengan tenang minuman nya, menambah kembali isinya sekaligus es batu yang cair, ia kemudian berkata “Kantor tempatmu bekerja mengurusi proyek yang kami ikut danai, selain kami ada pemain besar juga yang kepentingan nya tidak perlu diganggu. Aku berharap segalanya berjalan tanpa masalah,”


Rangga menoleh dan mengomentari ucapan yang bercabang barusan, “Aku hanya sopir disana, bisa apa aku mencampuri apapun urusan kalian? Lagipula, aku tegaskan lagi. Aku tidak perduli!”


“Yah, sekedar mengingatkan. Mana tahu ada pekerja muda di tempat itu yang terlalu idealis dan mengurusi hal yang tidak semestinya.”


“Apa maksudmu barusan?”


“Bukan apa-apa, cuma sekedar membuang waktumu. Toh, kau tidak perduli bukan?”


“Sejak kapan kau ini jadi Drama Queen begini?”


Mobil kemudian berhenti setelah keluar dari jalur Tol dalam kota, Rangga keluar seketika itu juga. Asano melongok dari dalam mobil dan berseru kepada Rangga,”Besok datanglah ke Hotel tempatku menginap, aku masih ingin mencoba berduel kembali denganmu.”


“Apa?” Rangga mengendikan kedua bahunya seolah tidak percaya.


“Kalau kau tidak datang, Gajimu tidak akan dibayar,” Asano tersenyum menyeringai.


Salah satu pengawal kemudian menutup pintu itu dan mobil kembali melaju meninggalkan Rangga di tepi jalan. Ia berkacak pinggang mengamati seolah tidak percaya kejadian yang barusan alami.


“Chikuso!” umpatnya.

__ADS_1


Di tendangnya keras-keras tong sampah plastik yang ada di dekat situ hingga remuk terlempar dan menghamburkan isinya ke jalanan kosong.


“Ihh, ganteng-ganteng kok jahara deh, Tong nya salah apa, Mas?” tegur suara kemayu lelaki dengan mini-skirt dan tangtop yang sejak tadi berdiri di pinggir jalan.


__ADS_2