
Nina mematut-matut wajahnya pada layar ponselnya, menyapukan riasan ringan sementara menanti kedatangan Friska, sahabatnya. Hari ini ia meminta izin untuk cuti dari rutinitas kantor, selain perlu menyelesaikan beberapa sesi fotografi untuk produk kecantikan yang mensponsorinya, ia juga sengaja meluangkan waktu untuk membahas mengenai temuannya.
Ia kemudian berpindah menggulir laman social medianya dan mengawasi kolom komentar dari unggahan terbaru, asistennya sudah mengunggah materi promosi sesuai kesepakatan.
Ribuan pujian dan beberapa puluh komentar merisak, dulu ia terkadang merasa kesal atau terluka terhadap isi komentar seperti itu. Tapi sekarang itu bukan hal yang ia pernah pusingkan.
Terlebih lagi sekarang, ada hal yang jauh lebih mendesak untuk dipusingkan.
Teman sekolahnya itu tiba tidak lama setelah minuman yang Nina pesan diantarkan, mereka berpelukan, bertukar-kabar, berbasa -basi sedikit mengenai pekerjaan diselingi kopi dan kue.
“Gue ngga nyangka, temen SMP gue sekarang selebritis,” komentar Friska.
“Part-time sales produk kecantikan maksud lo,” koreksi Nina.
“Hmm, ngerendah deh. Sales kecantikan yang sesekali juga ngisi seminar ke kampus-kampus gitu ya, Nin?”
“Begitulah. Eh, ide bagus juga itu kalau gue pakai jadi tagline di bio Twitter kali ya?”
“Dih, bisaan aja deh. Bayar royalti ke gue dong, tagline komersil tuh.” Friska menjulurkan telapak tangan nya.
Nina mencibir dan menepisnya pelan dan keduanya tertawa dengan cangkir kopi di genggaman, “Angger manéh mah ari geus kitu téh, hejo mata,”
“Sing sabar, tong gedé ambek!...Haha, masih bisa bahasa sunda lo?” celetuk Friska.
“Dikit sih, yah namanya juga sempet tiga tahun di Bandung,”
Pelayan kemudian datang kembali dengan cemilan pisang keju dan es krim. Obrolan ringan mulai berganti topik kearah yang agak serius, topik yang jadi alasan mereka bertemu.
“Anak-anak gue sudah semalaman ngecekin data-data dan poin yang lo kirim. Masuk akal sih argument lo, itu perusahaan yang lo mention di email juga jadi kelihatan agak shady gitu prakteknya setelah kita tulusuri dari sudut poin lo. Tapi dengan kayak begitu pun, ini masih cuma bakal jadi sebatas kayak gosip sih,” Friska membuka obrolan sembari mencicipi pisang keju nya.
“Masih belum cukup ya, untuk nyerang mereka?”
“Ngusik sih mungkin iya, tapi kalau efeknya seperti yang lo harapkan, kayaknya ngga deh. Paling banter gue hanya bisa naikin beberapa kali, artikel untuk highlight dari sisi perusahaan yang shady tadi. Ngga bisa lebih dari itu juga karena kita masih baru nyambung-nyambungin, gue juga ada kode etik dan ngga mau jadi malah kayak gosip murahan.” lanjut Friska yang kini memandang lurus kearah Nina, seolah menantikan sesuatu.
Dia memang sudah cukup lama tidak bertemu dengan sahabat SMP nya itu, sejak Nina kembali ke Jakarta dan tidak melanjutkan jenjang SMU di Bandung. Terkadang orang memang berubah seiring berjalan nya waktu, namun demikian ia masih merasa berbicara dengan karakter yang sama seperti lima belas tahun yang silam.
Lalu, diatas segala perasaan sentimentilnya sebagai sahabat, intuisi Jurnalisnya juga merasa ada lebih dari sekedar sambung-menyambung logika yang membuat Nina seberani ini.
“Kayak gitu banget lo, ngeliatin gue nya. Nanti naksir lagi lo,” komentar Nina yang merasa diperhatikan.
“Huh sembarangan, mentang-mentang selebritis lo ini, anak gue sudah dua ekor di rumah, Neng…Udah deh, lo pasti punya lebih dari ini kan. Demi apa deh, Bu Waketum OSIS SMP gue yang judes dan ngeyel itu gak mungkin sekedar ngajak reunian mendadak kalau bukan ada kartu As lain yang dia pegang.”
“Sembarangan nih, kayak sejudes apa sih gue ini Frieska? Tapi memang iya sih. Ada hal lain yang bikin gue yakin untuk terus maju,” jawab Nina dengan santai dan kalem, tanpa menjeda menyendoki Strawberry Sundae-nya.
“Yakin kalau lo juga bucinan selain judes maksud lo?” kata Frieska berseloroh.
“Eh, sembarangan, jangan ngarang cerita ya, Ngana. Mana pernah dong gue bucin,”
“Haha, oke oke…Balik ke mode serius. Jadi, ada hal lain apa?”
“Gue punya pembukuan keuangan mereka selama 5 tahun kebelakang.” jawab Nina dengan santainya.
Friska bisa merasakan keseriusan dari sorot mata wakil ketua OSIS semasa SMP nya dulu itu.
***
Dua hari ini berjalan dengan sangat mulus bagi Rangga, sedikit kekhawatiran soal keharusan mempelajari materi rapat yang berlangsung bilingual dalam waktu singkat ternyata tidak terjadi sama sekali. Ia mampu memandu ketiganya selama rapat, termasuk ketika mereka perlu turun audit atau sekedar melihat lapangan.
Pada hari pertama rapat, presentasi mayoritas presentasi berasal dari pemangku jabatan penting di kantor dalam Bahasa Inggris dengan slide gabungan Inggris-Jepang. Rangga menterjemahkan sebagian besar secara verbal argumentasi kedua belah pihak yang terjadi selama sesi rapat.
Hari kedua lebih banyak interaksi langsung dan sedikit sesi rapat formal.
Kendatipun jabatan ketiganya tinggi, mereka tidak segan turun berkeliling area kantor perusahaan, bertanya langsung kepada manajemen lokal maupun sekedar menyapa para staff. Tidak melulu menerima hasil laporan yang Fukunishi berikan sewaktu rapat begitu saja.
Dedikasi dan gairah keseriusan orang-orang dari negeri matahari terbit selalu membuat Rangga terkagum.
Hari ini Rangga tidak mengenakan Jas kebesaran nya, ia datang dengan kemeja formal lengan panjang dan dasi, serta celana kain.
Dua hari ini kegiatan yang dilakukan murni bersifat internal perusahaan, namun tantangan besar nya adalah esok, rapat gabungan proyek yang mereka lakukan bersama Grup Swarnadipa. Ada kemungkinan kecil ia akan bertemu dengan Elsa atau Dendhy, pikirnya.
Tentu saja ia berharap itu tidak perlu terjadi. Membayangkan kecanggungan yang mungkin terjadi saja rasanya sudah enggan. Belakangan ini kadang ia merasa acapkali terjebak kedalam kerumitan yang seringkali ia rasakan tidak perlu terjadi.
Rangga melambaikan tangan dan membungkuk sedikit ketika mobil yang mengantar para delegasi itu, meninggalkan pelataran kantor Olympus Invesment menuju hotel tempat mereka menginap.
Fukunishi yang juga ikut mengantar kemudian menepuk pundak Rangga dan berkata, “Sudah separuh perjalanan, kerja yang baik Rangga-san,”
__ADS_1
“Terima kasih. Ini berkat bantuan banyak dari staff bapak juga,” jawab Rangga beruaha tetap merendah.
“Besok, pertempuran terakhir kita. Semangat!” Fukunishi mengepalkan telapak kanannya, kedua lengan kemejanya digulung hingga melewati siku.
“Semangat!” balas Rangga.
Fukunishi kemudian meninggalkan nya untuk kembali ke ruangan, sementara Rangga yang sudah selesai pekerjaan di hari kedua pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
Lebih dari satu jam kemudian, ia sudah berjibaku kembali dalam lalu lintas petang Jakarta yang padat, ujung dasi nya yang terjepit rapi berkibar tertiup angin malam. Mendekati lampu merah yang padat, ia memutuskan berhenti di sebelah pengemudi Ojol yang ia kenali sosoknya, Pak Sarbini.
“Lancar Pak?” seru Rangga dari balik visornya, ia melempar senyum ke Sarbini yang tidak menyangka.
“Alhamdulilah, Mas. Si Adek yang bungsu baru masuk SD, lagi banyak butuh biaya,” jawab Sarbini.
“Syukurlah, sehat-sehat terus pak. Salam sama adek-adek ya,”
“Iya, Mas Rangga juga. Main-main kerumah dong, sudah lama nih ga kerumah bapak.”
“Insya allah. Kalau ada waktu, saya pasti main,’ ucap Rangga.
Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, Rangga dan Sarbini berpisah jalan kembali dengan saling membunyikan klakson. Kepadatan di sekitar mereka pun mulai mengurai.
Dari balik kemudi, Nina mengamati keduanya dengan seksama bersama Friska di bangku penumpang.
“Kenalan lo?” tanya Friska.
“Bukan kok, bukan siapa-siapa.” tandas Nina kemudian, ia lalu menggeser perseneling dan perlahan memijak gas.
***
David Bowie bersenandung sendu di dalam kabin City Car berwarna merah itu, suara khasnya mengalun sepanjang perjalanan melintasi jalur luar kota Jakarta. Seperti bertanya kepada keduanya apakah memang benar adanya kehidupan di planet Mars?
“Mungkin aja sih,” celetuk Friska.
“Apanya?” tanya Nina yang sibuk mengemudi.
“Ah, ngga kok, kebetulan gue sambil mikirin lagi omongan lo tadi, Jeng. Apa yang lo temukan bisa jadi hanya puncak gunung es yang selama ini tertutup, dari 5 tahun penyimpangan di pembukaan yang lo temukan aja, sudah ketahuan kan mereka ini nipu pemegang saham dengan profit palsu sejak awal berdiri, buat genjot nilai perusahaan di bursa saham. Duit gede itu kalau kita lihat status Swarnadipa hari ini” jawab Frieska.
"Oh, Panama Pumping itu," sahut Nina.
“Panampa Pumping, sebutannya itu. Gampang nya, lo bohong soal keuntungan asli perusahaan lo sebelum buka penawaran saham, lalu seolah secara sah genjot keuntungan perusahaan dengan uang tadi yang raib dari pembukuan, cara umumnya melalui entitas palsu atau perusahaan fiktif, dilakukan transaksi ke perusahaan yang mau dipompa keuntungan bisnisnya. Padahal itu bukan keuntungan perusahaan, tapi memang uang perusahaan yang digelapkan sebelumnya.” Nina berusaha menjelaskan dengan sederhana.
“Tujuan akhirnya supaya uang itu kembali masuk, lantas apa? Ribet banget jadinya,” tanya Frieska, berusaha mencermati.
“Ya itu tadi, penggelembungan nilai keuntungan perusahaan. Perusahaan yang mau terdaftar di ISHG kayak Swarnadipa sejak 2 tahun lalu, perlu trend profit yang baik supaya tinggi nilai sahamnya di pasar modal, nilai saham yang tinggi berarti dana segar yang besar sewaktu itu ditawarkan ke calon pembeli saham, dan imej bagus juga penting untuk gaet para pemodal lain di proyek mereka.”
“Jadi gampang nya, kalau saham perlembar mereka harganya Rp.100 misalnya, nilai aslinya bisa jadi lebih rendah secara pembukuan riil nya?” tanya Friska kembali.
“Betul, jadi nilai Rp.100 yang lo bilang tadi, itu tuh hasil penilaian pasar modal terhadap pertumbuhan keuangan yang fiktif. Seolah untung padahal aslinya bisnis mereka ngga sebesar itu,” jawab Nina.
"Swarnadipa sendiri berdiri sudah hampir 20 Tahun, tapi baru masuk bursa sejak 2 Tahun lalu. Asalnya mereka pun gabungan perusahaan kontraktor yang lebih kecil. Hmm, mulai nyambung gue," Frieska menyimpulkan.
"Pinter memang Bu Reporter ini," celetuk Nina.
"Huu, Iya dong, Frieska..."
"Hmm, kayak semacam goreng rekening gitu ya. Tapi gue masih belum jelas nih, itukan duit-duit mereka, curangnya gimana sih lebih jelasnya?" lanjut Frieska, kembali bertanya.
Nina menyalakan lampu sein dan merapat ke jalur gerbang keluar Tol, diraihnya Kartu Tol yang memang selalu sedia di dashboardnya.
"Contoh nih, perusahaan Swarnadipa dipompa uang seolah itu keuntungan bisnis, sampe tren 200% misalnya, atau seolah kayak mereka per-tahun bisa jualan 1000 unit properti. Padahal, itu aslinya duit mereka juga dan bisnis mereka cuma bisa laku 200 unit. Lo kalau misalnya beli saham mereka atau nanem duit, berpikir kesehatan perusahaan sesuai nilai palsu tadi dong?" Nina kembali menjelaskan sembari merayap di gerbang Tol.
"Iya,"
"Saham mereka harganya naik, seolah perusahaan berkembang pesat. Padahal ngga, bayangin ambyarnya kalau kemudian itu perusahaan goyang, nilai aslinya ketahuan? Amblas duit lo," lanjut Nina.
“Iya juga. Lantas, sejak awalnya mereka sudah ngemplang pajak dan gak jujur juga dong? Lalu, Panama Pumping itu juga termasuk kejahatan keuangan juga dong ya?”
“Jelas, itu masuknya kejahatan Sekuritas. Salah satu dari masalah yang berpotensi menggurita di dalam Swarnadipa,” Nina menyodorkan Kartu Tol-nya kepada petugas di loket.
“Iya sih kalau ngeliat gimana besarnya Swarnadipa Tbk ini, ada potensi masalah lain ya, pastinya?” gumam Friska.
"Sudah pasti itu. Kebohongan cuma bisa dipertahankan dengan lebih banyak kebohongan," tukas Nina.
“Termasuk yang mungkin terseret pasti’nya orang-orang yang selama ini bekerja sama dan menerima keuntungan, selain kemungkinan juga sindikat kriminal yang mungkin aja mencuci uang lewat jalur investasi mereka dan bisnis properti Swarnadipa, kayak informasi yang gue rangkum di email,” lanjutnya.
__ADS_1
Friska terhenyak di bangku nya, tidak mampu berkomentar lebih jauh. Meski sudah sesorean mereka membahas ini, rasanya bukan makin jelas, namun justru kian menggurita masalah yang Nina terangkan.
City Car itu kini berbelok ke areal pemukiman di daerah Tangerang Selatan.
“Artinya secara ngga langsung, orang terdekat Lo bisa kena seret juga tuh,” Ucapnya kemudian, berusaha mengkiaskan maksudnya.
Nina mampu menangkap maksud yang tersurat, dengan lugas ia menjawab, “KAP gue sudah sejak awal berdiri memang mengurusi audit keuangan mereka, lalu soal keluarga besar Nathan ya mau gimana lagi, biar hukum yang buktikan gimana posisi mereka. Gue sudah siap dengan segala resikonya.”
“Bu Waketum OSIS gue ini emang juara deh, dari bikin rame soal guru 'ngobyek' jualan LKS dulu, sekarang mau ngebom Raksasa Properti sekelas Swarnadipa,” Friska melayangkan pandangan dan bertepuk tangan pelan kearah Nina.
“Masih inget aja Lo,” Nina tersenyum di sudut bibirnya.
Friska kemudian menggenggam erat tangan teman sekolahnya itu, wajahnya terlihat sedikit khawatir menyadari besarnya perkara yang kini terang di benaknya. Jauh melebihi ekspektasi sewaktu Nina pertama kali mengirimkan informasinya melalui email.
“Lo hati-hati Neng, gue cuma bisa bantu secukupnya aja sebagai teman. Jaga diri baik-baik.”
“Serius banget sih, tenang aja kali.”
“Gue ngga lagi bercanda ini lho...”
“Iya gue paham kok, makasih ya. Gue malah yang khawatir ngerepotin Lo.”
Mobil yang Nina kemudikan merapat di depan sebuah rumah dengan pagar teralis dan beberapa pot anggrek di terasnya. Nina mematikan mesin mobilnya. Dua orang anak laki-laki berlari keluar menuju halaman memanggil-manggil Friska.
“Tunggu aba-aba dari gue sebelum menaikkan berita, gue sudah melaporkan temuan gue ke Satgas Kejahatan Keuangan kemarin, supaya momentumnya pas!” Nina berpesan sebelum Friska keluar dari mobilnya.
Friska mengangguk lalu keluar dan menutup pintu mobil, Nina menurunkan kaca jendelanya. Friska spontan menggendong putra bungsu yang melompat kearahnya.
Ketiganya melambaikan tangan ke Nina yang membalas dari balik kemudi.
“Tante cantik, kalau libur main kerumahnya Bagas ya, bawa calon Om.” seru Friska.
Dasar Geblek, Nina bergumam dalam hati.
***
Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana caranya, atau sejak kapan, atau dari mana asalnya. Aku mencintaimu dengan cara sederhana, tanpa ada kepelikan atau kesombongan: Aku mencintaimu seperti ini karena aku tidak memahami cara lain untuk mencintai, di mana tidak ada aku atau kamu, sedemikian intimnya sehingga tanganmu menyatu di dadaku, sedemikian intimnya sehingga ketika aku jatuh terlelap engkau pun menutup mata.
Nina menyelesaikan kutipan Soneta milik Pablo Neruda yang lekat dalam ingatan nya, menambahkan itu sebagai sisipan dari foto yang ia akan unggah pada profil Instagram nya.
Sebuah foto yang mengabadikan punggung telapak kirinya dengan berkas matahari pagi menelusup dari sela-sela jemari lentik yang terbuka lebar.
Ia kemudian segera unggah ketika komposisinya dirasa sudah pas, lalu meletakan ponselnya di meja kafe. Jarang sekali ia melakukan hal ini, umumnya segala unggahan social media diurusi oleh asistennya.
Namun, hari ini untuk sebuah alasan yang ia tidak mengerti, ia ingin mengunggah foto dan kutipan barusan.
Rentetan notifikasi menyerbu masuk dan ponsel itu bergetar terus-menerus sedang si empunya hanya melirik dari tepi cangkir kopi yang disesapnya.
Ia bisa menebak seperti apa mayoritas notifikasi balasan maupun pesan yang bereaksi terhadap unggahannya tanpa perlu melongok ke ponsel. Ratusan ‘Hai’ dan ‘Halo’ serta beberapa lusin gombalan sudah pasti berderet rapi di kolom pesan..
Setelah sempat tenang ponselnya kembali berdenting dan bergetar pelan, notifikasi baru. Nina pikir ada pesan Whatsapp yang masuk dan isinya mungkin penting, ia bergegas meraih ponselnya dan menggulir bagan notifikasi meski yang barusan pun ternyata pesan untuk kotak masuk di Instagramnya, ia hampir mengacuhkan nya kembali seandainya saja melewatkan kutipan balasan yang tertera.
Maka aku ‘kan menanti hadirmu layaknya rumah yang tidak berpenghuni, hingga tiba saat kau melirik dan memutuskan untuk menempatiku. Sebelum hari itu tiba biarlah saja jendelaku berderit pilu.
Jempolnya mengambang ragu-ragu diatas tombol kirim, Rangga menimbang-nimbang apakah ia akan lanjut mengirimkan satu dari sedikit tulisan Neruda yang tersimpan dalam ingatan nya sebagai balasan.
Rangga memang tidak terlalu berminat kepada sastra, akan tetapi ingatan fotografisnya sengaja mengingat seluruh isi halaman buku Neruda yang pernah menggantung beberapa senti dari wajahnya belasan tahun yang silam.
Inget ngga ya dia? dalam hati Rangga bertanya pada rasionalitasnya sendiri.
Kalaupun dia ingat, lantas kenapa? kau pikir dia akan berlari kepelukanmu, sekarang? Rasionalitas menjawab dengan cemoohan.
Tapi kemudian dia berpikir, kalaupun ia kirimkan, sudah barang tentu akan tenggelam dalam lautan pesan yang pasti seperti meluap di kotak DM si tuan Puteri. Jelas tidak mungkin akan pernah terbaca, jadi sepertinya ini tidak masalah.
Ditekan nya tombol kirim lalu diselipkan nya ponsel ke saku kemeja, beralih mengobrol kembali dengan Jamal dan Rudi di parkiran minimarket dekat kosan nya.
Nina tertegun membaca pesan balasan yang berisi kutipan Pablo Neruda dari buku yang sama, 100 Soneta Cinta, sebetulnya beberapa yang iseng ia baca ada juga yang berisi kutipan puisi juga atau karya Neruda dari buku yang lain.
Tapi yang ini seperti ketukan nada yang tidak asing dalam hatinya. Meskipun mungkin saja sentimen yang barusan ikut terbawa dari alunan Band Jazz yang mengaransemen ulang lagu Women in Love nya Streisand untuk menandingi syahdunya nuansa.
Ia kian penasaran dengan si pengirim dan memutuskan mengecek akunnya, sejurus kemudian hatinya berdesir dan pupilnya melebar ketika jemarinya menggulir naik-turun isi unggahan yang hanya beberapa foto tersebut.
__ADS_1