Null Eksistensia

Null Eksistensia
2. Asa sang Jagawana


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi Rangga untuk menjadi buah bibir atas kebodohannya tadi pagi. Video pendek dengan duraksi 15 detik memperlihatkan sosoknya yang terusir dari ruangan kantor eksekutif, sudah ratusan kali diterbitkan ulang pada linimasa hampir semua karyawan yang bekerja pada ketiga kompleks Gedung yang berdampingan itu.


Padahal, ini masih belum pukul 10 pagi. Dyah Pithaloka dari Kantor Akuntan Publik Elsa dan Rekan memang selebrita, tidak hanya bagi penghuni perkantoran in saja, atau rekan bisnis mereka, namun juga pada platform social media.


Bagi semua orang itu, tuan puterinya adalah Bu Dyah yang nyaris bernilai sempurna. Bagi Rangga, ia tetaplah Nina yang cengeng berseragam putih-biru.


Rangga menyerahkan Ponsel milik Ajo, atasannya itu. Sudah 5 menit mereka menghabiskan waktu di Bubungan Atap yang juga disulap menjadi taman terbuka bagi penghuni Gedung untuk sekedar beristirahat.


Keduanya asik duduk merokok di salah satu sudut, cuma mereka yang ada disana.


“Lucu sih lo ini, pake segala berurusan sama Bu Dyah. Karyawan kayak kita ini bro, bisa diganti kapan aja, beda sama mereka yang Pendidikannya tinggi,” Ajo menghembuskan rokoknya. Mata sipitnya melirik tajam kearah Rangga.


“Saya ngga bermaksud apa-apa Bang, cuma anter pesanan dan beresin ruangannya,”


"Yakin Lo, ngga ada apa-apa?"


"Sumpah saya, Bang."


"Terus, ngapain Lo pegang bingkai foto dimejanya?"


 


 


Untuk sesaat Rangga terkesiap, karena dari video yang Ajo tunjukan tadi tidak ada sama sekali bagian soal Rangga yang tertangkap basah dengan bingkai foto itu.


"Madun yang cerita sama gue, sudah gue suruh tutup mulut anak itu, supaya ngga rame ke HR." Ajo mengepulkan rokoknya, menanggapi air muka Rangga yang terkejut.


"Ya, itu sewaktu mau saya rapihkan, abis ngidupin AC kan_"


“Haish, ngga usah banyak alibi deh, lo ini bukan orang pertama yang mabuk kasmaran sama tuan puteri sunda itu.”


Rangga merasa tertohok oleh pernyataan barusan. Ia urunkan niat untuk menyampaikan pembelaannya lebih lanjut.


"Iya Bang Ajo," kata Rangga, singkat.


“Sudah 6 bulan gue kerja bareng lo, tapi baru ini pertama kalinya gue lihat ada cewek yang bikin lo kejebak urusan begini.” Ajo menghisap sisa rokoknya dalam-dalam.


"Sebetulnya gue sempet ngeliat ekspresi muka lo, waktu pertama kali ketemu Bu Dyah, sewaktu ruangannya kita beresin beberapa bulan lalu." Ajo Melanjutkan ceramahnya. "Cuma gue ngga nyangka sih, kalau Lo bakal jatuh cinta pada pandangan pertama dan jadi **** begini,"


“Iya, bang. Saya minta maaf sudah merepotkan abang.” Kata Rangga.


 


 

__ADS_1


Dalam hatinya ia mengkoreksi pernyataan Ajo, ia memang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada tuan Puterinya itu, namun bukan beberapa bulan lalu.


Lebih tepatnya belasan tahun lalu, ditengah lapangan sekolah, dihadapan tiang bendera.


Beberapa bulan lalu, ia hanya terkejut akan takdir yang mempertemukan kembali keduanya.


“Itu video yang rekam anak Bu Mey, semoga aja ngga ada masalah. Sejauh ini sih, gue belum ada suara-suara dari Lantai Keramat,” sambung Ajo.


Rangga awalnya justru malah berpikir kalau si Madun yang iseng mengambil video. Mendengar penuturan atasannya barusan, ia sedikit merasa was-was. Sudah dua kali ia dipanggil menghadap ke Lantai Keramat menemui Bu Meyshinta, Manager HRnya.


Sialnya, urusan antara karyawan begini juga masih dalam koridor kewenangan HR. Rangga berharap ini tidak melebar menjadi serius. Jika dipanggil untuk ketiga kalinya berarti ini Strike Three, Out!


“Saya bertanggung jawab penuh bang, kalau Bu Dyah keberatan saya akan minta maaf lagi secara formal, juga menghadap Bu Mey kalau perlu,” Rangga berusaha meyakinkan atasannya itu.


Ajo mematikan rokoknya dan kembali menatap lurus kearah Rangga, disusul tawa panjang dan ekspresi menggelengkan kepala seolah sedang mendengar cerita tentang mayat yang bangkit dari kematian sewaktu akan disholati.


“Rangga oh Rangga, lo itu kalau mau jatuh cinta sih sah-sah aja, tapi ya jangan Bu Dyah juga. Sama si Raisa misalnya,”


“Kita cuma temen, Bang.” Potong Rangga.


“Ci Jenny dah tuh, Ci Jenny dari kantor sebelah lagi cari suami yang ketiga,” Timpal Ajo.


“Ya Abang aja deh, kan klop itu Janda sama Duda.”


“Atau si Shani tuh, yang centil-centil pirang itu,”


Ajo bangkit dari duduknya sembari terbatuk-batuk diselingi tawa. Rangga yang sudah jauh lebih rileks akhirnya tertawa juga.


“Lo tuh ye, seleranya ngeri. Bu Dyah itu pacarnya yang sekarang aja Pengusaha Muda bos!” Ajo menukas, menunjuk-nunjuk Rangga sembari berkacak pinggang.


“Lo itu satu diantara ratusan ribu kali, liat aja berapa follower Instagramnya. Level kita mah lewat bro!”


“Yah, mengkhayal dikit sih boleh lah bang,” Rangga berusaha tidak kehilangan muka sepenuhnya.


“Iya, lo mengkhayal apa pun juga gue ngga perduli. Lo sendiri juga secara fisik sih bagus, tinggi, ideal, oke lah. Tapi ngga sama Bu Dyah.” Ajo sudah berlagak seperti motivator kini.


Hati Rangga kembali mencelos mendengar pernyataan barusan. Selama belasan tahun menjalani kehidupannya, Rangga sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang tak jarang membuat nurani orang awam bergejolak maupun berontak, namun selalu ia dapat kesampingkan dengan mudah.


Ia sudah belajar membunuh nurani dan emosinya sejak belasan tahun silam, dan ia cukup mahir selama itu.


Setelah dua tahun keluar dari gelap namun sederhananya kehidupan di masa lalu, Rangga mulai belajar beradaptasi kembali pada kompleksitas kehidupan normal yang sudah belasan tahun ia tinggalkan.


Akan tetapi, kali ini ia gagal total membunuh asanya.


“Ya sudah Bang, saya duluan kebawah.” Rangga bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Ajo.

__ADS_1


“Mau kemana lo, ini kan waktunya Coffee Break. Jumaat ini, santai sedikit lah,” kata Ajo.


“Ada yang minta ganti colokan di Lantai 12 tadi, saya barusan ingat.”


Perusahaan mereka memang punya budaya istirahat Coffee Break selama 30 menit pada pukul 10 Pagi. Satu-persatu sudah terlihat keluar memadati sisi lain taman di Bubungan Atap ini.


Hal terakhir yang Rangga perlu lakukan sekarang adalah untuk tidak menambah bumbu dari ulah konyolnya, dengan bertemu Nina bersama kolega kantornya sewaktu Coffee Break. Tidak terbayang betapa canggungnya itu.


“Soal yang tadi, jangan terlalu dimasukin ke hati ya, gue setengahnya guyon kok. Tapi, lo tetep perlu jaga kelakuan lo, gue ngga bisa bantu belain terus.” Seru Ajo.


“Iya Bang, Makasih. Saya maklum kok.” Jawab Rangga, Santai.


Sebetulnya tanpa diucapkan pun Rangga paham segala maksud atasannya itu, lagipula Ajo sudah cukup baik sebagai atasan selama kurun waktu Enam bulan terakhir. Hubungan keduanya bahkan melebihi sekedar partner kerja. Ajo yang usianya terpaut Delapan tahun dari Rangga memang juga sosok abang yang baik bagi bawahannya.


Setelah memutuskan untuk pensiun dari dunianya yang berlumur darah lebih dari Dua tahun lalu, Rangga memulai segalanya dari Nol. Berbagai macam pekerjaan ia lakukan demi hidup yang normal dan bersih. Pernah ia bekerja di Proyek Bangunan dan menyambi profesi Ojek online sewaktu malam hingga pada satu titik, ia mengenal Bu Elsa, pendiri perusahaan ini yang kemudian memperkerjakannya sebagai Sopir cadangan.


Untuk orang yang lama menjalani kehidupan yang Rangga terbiasa jalani dulu, kehidupan normal dan segala kesulitannya untuk sekedar makan adalah suatu hal yang menyiksa. Tidak adalagi kepastian kesejahteraan dan segala akomodasi yang dulu tersedia.


Rangga disisi lain justru merasa berysukur sekarang, paling tidak untuk segala kebaikan yang ada dalam hidupnya sekarang, tidak harus dibayar dengan merenggutnyawa orang lain atau bertaruhnyawanya sendiri.


Kini, sekalipun sering pulang malam karena lembur maupun kelas kuliah malamnya, Rangga bisa tidur nyenyak dan bangun tanpa rasa tertekan keesokan paginya meskipun tinggal di petak kos-kosan murah di perkampungan pinggiran Jakarta.


Dulu, ia selalu dihantui rasa bersalah dan perasaan hampa setiap kali pulang ke rumah akomodasi yang ia tempati. Ia selalu tidur dengan Bayonet dibalik bantalnya.


Rangga yang sekarang memiliki tetangga yang sering ia sapa atau ikut berkumpul untuk sekedar mengobrol di Pos Ronda. Rangga yang dulu selalu berpindah-pindah, tidak pernah menetap, pergi kemana pun tugas memerintahkannya.


Selama belasan tahun orang-orang memanggilnya dengan banyak nama, mengenalnya dengan banyak rupa, tidak ada yang pernah memanggil nama aslinya. Mereka yang menaunginya pun memberikan nama baru untuknya, memaksanya membuang identitas aslinya.


Dua tahun terakhir ini, tetangganya, tukang nasi goreng langganannya, tukang bandrek yang rajin mampir di Gang kosannya, teman-teman kuliah malamnya, dan mereka yang ada di sekelilingnya memanggilnya,


“Rangga! Jangan jalan sambal melamun, nanti jatuh kamu,” seru Bu Meyshinta yang berkacamata tebal itu.


Bu Mey dan beberapa karyawati kantornya berpapasan dengan Rangga di tangga menuju Bubungan Atap, mereka juga akan beristirahat sejenak. Termasuk rombongan kecil dibelakangnya yang terdiri dari Bu Elsa, beberapa staff, dan juga Nina.


Rangga hanya melempar senyum sewaktu melewati mereka semua, tuan puteri berleher jenjangnya justru sedikit melengos. Bu Elsa mencubit lengan Rangga.


“Setelah makan siang, nanti ke ruangan Ibu ya,” kata perempuan paruh baya berwajah ramah dan berpostur gemuk itu.


Rangga mengiyakan saja dan berusaha untuk buru-buru pergi meninggalkan tempat, dengan berlari bahkan seandainya saja tidak terlihat aneh.


“Marahin aja tuh, Bu Elsa. Pagi-pagi gangguin si Mbak Dyah aja itu_” terdengar suara Bu Mey bergema dilorong.


Rangga hanya menghela napas dan melepas senyum kearah pantulan sosok tegapnya dipintu lift yang rapat tertutup.


Kini semua orang memanggilnya Rangga. Iya, Rangga, nama aslinya, nama lahir pemberian mendiang orang tuanya, satu hal terakhir dalam dirinya yang bertaut langsung dengan kenangan akan mereka berdua.

__ADS_1


Rangga Prasadika Wijaya, bukan lagi sang Jagawana.


Memikirkan hal ini mengundang senyum yang lebih lebar di raut wajahnya. Semerbak aroma Plum menyeruak dari pintu Lift yang perlahan membelah terbuka.


__ADS_2