Null Eksistensia

Null Eksistensia
8. Sebelum Fajar Menjemput


__ADS_3

Dering suara telepon menggema di ruangan yang temaram, hanya berkas cahaya lampu dari luar yang sedikit menembus dari balik tirai yang tidak ditutup sempurna. Lengan atletis itu mengais-ngais dengan malas lantai di sisi kasur busa tipisnya, setelah beberapa kali percobaan, ponsel yang tergeletak itu berhasil dijangkau. Masih setengah terjaga, Rangga mengangkat teleponnya,


 


“Bang Rangga buruan kemari, mobil lu bang…” teriak suara panik di ujung telepon. Rangga membuka mata dan mengamati nama penelpon di layar ponsel, Rudi.


 


Seketika kesadaran Rangga pulih dan melompat bangun dari kasur. Ia mengecek kembali pesan Whatsapp dari Rudi, satu sisipan video pendek, di rekam dari monitor CCTV Minimarket.


 


Mata Rangga membelalak ketika video termuat dan menampilkan sekelompok orang sudah membuka tirai penutup mobil kantornya, dan mulai menggurati pintu sampingnya sedikit, lalu tertawa beramai-ramai.


 


Tanpa pikir panjang ia berlari keluar kamar dan menyusuri balkon tengah sempit yang membelah deretan kamarnya di lantai 3, lalu melompat dan bergantung ke pagar balkon lantai 2 kemudian terjun berguling ke lantai bawah.


 


Dengan mudah ia melompati dan memanjat pagar setinggi dua meter di gerbang, lalu berlari menyusuri jalanan bertelanjang kaki. Ketika makin dekat dengan pos ronda yang bersebelahan dengan Minimarket di ujung jalan, nampak bergerombol manusia mengelilingi mobil kantornya.


 


Seperti yang nampak di video, tirai penutupnya sudah tersingkap dan mereka menggoresi pintu kirinya lebih lanjut. Rangga menghentikan larinya sejenak dan menoleh ke kanan-kiri, keadaan masih cukup lengang, ia jatuhkan pandangan pada besi pendek di pos yang biasa di gunakan sebagai kentongan ronda.


 


Gerombolan preman itu tertawa kesurupan ketika salah satu temannya membuat goresan baru diatas cat biru metalik itu. Rangga menghitung paling tidak ada 8 orang, dua orang bahkan memanggul golok besar, namun ada juga yang bertangan kosong atau sekedar mencekik botol minuman.


 


“Biar mamp*s\, tahu rasa si gobl*k ini. Maen-maen sama gue!” teriak Kodri yang ada di antara mereka\, kini diperban hidungnya kapas dan bibirnya bengkak jontor.


 


“Tambahin, tambahin …” teriak yang lain.


 


Rudi dan kawan-kawannya menonton saja dari dalam Minimarket, mereka sendiri ketakutan ulah anarkis ini akan merembet ke toko mereka. Namun, kemudian matanya menangkap sosok Rangga yang sudah menggenggam batako besar di kedua tangannya.


 


“Gue tambahin bonus bang,” si Preman yang tadi menggurati pintu mobil itu bangkit, lalu berusaha menurunkan celana jeans lusuhnya. Tawa mereka makin menggila.


 


Brak!!


 


Tubuh kurus legam itu ambrukk begitu saja ke pintu mobil, kedua celananya sudah setengah melorot, darah merembes dari rambut gelap yang terbakar matahari, sebagian lagi membercak pada batako putih di sebelahnya.


 


Rudi dan rekan kerjanya secepat kilat menutup dan mengunci pintu gerai Minimarket mereka.


 


Gerombolan itu terperanjat, kemudian batako kedua melayang sama derasnya. Satu orang lagi roboh dengan rahang cair dan gigi rontok. Kodri yang menyadari sosok garang Rangga tak urung merasa ciut juga.


 


Termasuk dengan Kodri, jumlah yang masih berdiri keseluruhannya tersisa delapan orang. Salah satu dari mereka yang berambut kribo dengan spontan melompati parit di antara jalanan, tempat Rangga berada dan pelataran Minimarket.


 


Rangga menatap nanar guratan-guratan kasar di pintu mobil kantornya itu, paling tidak ada lebih dari selusin garis yang terhitung, ditambah coretan cat pilox merah berbentuk ‘burung’ yang mirip lukisan anak-anak.


 


Bayangan pemecatan tergambar di benaknya lagi, belum lagi jika harus bertanggung jawab membersihkan bekas guratan dan vandalisme amatir itu, yang artinya mengganti baru cat mobil sepenuhnya.


 


Uang dari mana lagi untuk membayar ganti rugi ini pikirnya, sembari mencengkram kaki yang melancarkan tendangan kepadanya, dan menyepak balik kaki pijakan penyerangnya.


 


si Kribo itu terjungkir dengan satu kaki menggantung keatas, lalu menjerit sekerasnya ketika Rangga menghujam keras telapak kakinya ke belikat dan mematahkan selangkanya.


 


Rangga menoleh kearah sisa gerombolan yang bergerak kearahnya, menghirup udara dingin pagi, membulatkan niat untuk membuat para preman kampung ini membayar perbuatan mereka.


 


Mereka bertujuh kini dan Rangga sendirian, namunnyalinya sama sekali tidak gentar, jumlah mereka tidak berarti apapun. Terlebih, mereka cuma amatir yang menang jumlah.


 


Ia pernah diuji melawan sepuluh tantara dewasa dan professional, dalam ruang gelap, sewaktu ototnya jauh lebih kecil, posturnya ceking dan tingginya lebih rendah 15cm ketimbang sekarang.


 


Usianya baru enam belas tahun hari itu, dua tahun pasca perekrutannya kedalam Program Akar Rumput. Ujian inagurasinya hari itu adalah bertarung menghabisi kesepuluhnya.

__ADS_1


 


Fokus pada seluruh indera mu, bukan pada seberapa banyak Teknik yang kau kuasai…


 


Suara lantang melalui loudspeaker dalam ruang gelap bergema di benak Rangga. Ia dengan luwes berkelit dan menangkis, mengelak serta menjaga jarak dari ketiga preman yang berusaha mengeroyoknya bersamaan. Tenang dan terukur.


Teguh berpijak seperti Batu Karang….


 


Rangga menangkis dengan kedua pergelangan tangannya yang kokoh, membalas dengan tendangan deras beruntun ke ketiga kepala mereka. Mereka terjengkang, satu bahkan berputar di udara terlebih dahulu, Rangga meraih besi kentongan yang sejak tadi terselip di belakangnya.


Namun bergerak lah seperti Air…Tanpa wujud, tanpa Rupa


 


Laksana air bah Rangga menyerbu keempat yang tersisa, melucuti kedua preman yang bergolok dengan sabetan keras besi ke pergelangan dan sepanjang lengan keduanya dalam satu ritme kombinasi.


Mengisi ruang atau memecahnya...


 


Berpindah langkah meladeni dua orang lagi yang bertangan kosong, menyelinap seperti air menembus bebatuan, dengan langkah kuda-kuda yang ringan. Melancarkan serangan vital bergantian ke rusuk dan lutut mereka, keduanya roboh dan reflek memegangi bagian-bagian itu, seolah hal itu mampu mengurangi dampak hantaman batangan besi di tangan Rangga.


 


Kodri yang awalnya merasa diatas angin, kini cuma bisa melongo melihat ketujuh rekannya dihajar dalam kurun waktu 3 menit. Niat semula untuk ikut membantu kini pupus ciut.


 


Rudi dan ketiga kawan-kawannya kini menonton dan merekam.


 


Preman bergolok yang masih berdiri kembali berusaha mendatangi Rangga, kini dengan tangan kosong saja. Besi kecil di tangan Rangga melesat seketika dan menghantam deras kening salah satunya.


 


Satu orang yang tersisa kini terlihat ragu-ragu ketika pasangannya ambruk dengan kepala bocor bersama gema bergelontang. Rangga menghentak telapak kakinya, si Preman terkesiap.


 


“Lo yang maju, atau gue yang maju, atau lo pulang aja.” perintah Rangga. Matanya tajam menelisik.


Jangan pernah tunjukan belas kasihan…


 


 


Keras kepala, Rangga membatin.


 


Telapak dan siku yang kokoh itu bersinergi layaknya gerak tari yang lembut namun efektif menihilkan serangan yang datang, dengan ruang di sekitar dada yang terbuka, Rangga melancarkan jurus pamungkas.


Tiga puluh tinju jarak dekat berkecepatan tinggi bersarang di dada lawannya itu, menumbuk-numbuk keras bahkan hingga targetnya ambruk rebah di aspal yang dingin. Si lawan nampak tercekat dan kesulitan bernapas, terkulai dibawah Rangga yang dalam posisi mengangkangi siap melepaskan pukulan penghabisan kearah kepala.


 


Belum selesai sebelum lawan mu mati…


 


Teriak suara di loudspeaker itu. Bocah ceking itu kini menjambak dari balik punggung rambut pirang lawan yang nyaris dua kali ukurannya itu, tidak ada rasa benci, atau marah, atau dendam di matanya.


 


Lalu dengan tenang mengiriskan bayonet itu batang tenggorokan si rambut pirang yang terbelalak kaget, dan dicampakan tubuhnya begitu saja. Lawan terakhirnya itu menggeliat sekerat dengan darah membuncah dari tenggorokan yang tersayat.


 


Si bocah ceking mematung menggenggam Bayonet yang berlumur darah, lalu mengelap ujung bilah yang masih menetes dengan kaos putih tipis yang penuh bercak darah. Sepuluh mayat tantara dewasa dengan rambut pirang dan coklat nampak jelas bergelimpangan di penjuru ruangan ketika lampu dinyalakan penuh.


 


Selamat untuk kelulusan mu Jagawana…


 


 


Ucap suara di loudspeaker itu, lalu sunyi kemudian. Si bocah ceking itu berjalan melangkahi buruannya yang berserak menuju pintu di ujung ruangan yang sudah tidak lagi terkunci, dibuangnya dengan pelan Bayonet berlumur darah itu.


 


Ruangan sunyi dan terang itu pudar dan berganti menjadi jalanan dingin menjelang shubuh. Jalanan mulai terisi dengan lalu lintas pagi yang lengang. Suara adzan shubuh berkumandang di speaker masjid.


 


Rangga melangkahi lawannya itu dan berjalan menuju mobil kantornya, ia berusaha menguasai dirinya kembali, mengenyahkan bayangan di benaknya.


 


“Namaku Rangga!” gumamnya.

__ADS_1


 


Kodri yang sejak tadi diujung jalan mematung hanya membisu ketika Rangga gentian meraih kaosnya.


 


“Lo bawa pergi temen-temen lo sekarang, terserah caranya gimana…” kata Rangga sambil melirik ke korbannya yang kebanyakan luka berat.


 


 


“Minimarket sama orang kampung sini ngga ada urusannya. Bilang sama bos lo, atau siapapun komplotan lo, masalah kalian sama gue,” lanjutnya. Kodri pasrah saja hingga Rangga melepas cengkramannya.


Ia kemudian mengecek anggota gerombolannya satu persatu, berusaha membantu yang masih bisa berdiri.


 


 


***


 


 


Rangga mengusap-usap bagian mobil yang ditergurat dalam itu, bayangan soal uang yang perlu dikeluarkan muncul lagi. Belum lagi kewajiban membayar semester depan yang cuma tinggal hitungan minggu.


Ia tersenyum kecut memikirkan nasib kuliahnya. Sebuah angkot kosong melewati jalanan di belakangnya.


Penutup yang setengah tersingkap itu kini dilepas sepenuhnya dan dilipat kembali, dibantu Rudi dan rekannya. Tertinggal bercak darah sedikit pada pintu kiri bagian bawah, Rudi menawari Rangga untuk bantu membersihkan, namun segera ia tolak keras.


“Seandainya yang tadi mati, lo bisa kebawa-bawa. Biarin aja, jadi kalau misalnya Polisi datang dan tanya-tanya, cerita seadanya ada.” perintah Rangga sambil menoleh ke CCTV Minimarket.


 


Mendengar kata Polisi membuat wajah rekan Rudi yang lain berubah kecut.


 


“Jangan takut, ada bukti Video CCTV kalian, urusannya cuma sama gue,” Rangga meyakinkan mereka.


 


“Gue malah bukan takut masalah sama Polisi bang, tapi gerombolan mereka. Gue takut lo kenapa-kenapa, atau sampe geger merekanyariin ke Kampung,” kata Rudi.


 


Apes sekali rasanya akhir minggu ini, batin Rangga. Semoga kekhawatiran Rudi tidak jadi kenyataan. Ia sekarang jadi terpikir masalah yang dapat timbul ke tetangga sekelilingnya.


 


“Tapi mungkin juga kaga lah, Rud. Kayaknye sih, itu gerombolan preman pasar dimari doang, emang kadang suka resehnyari seseran,nyasar ke daerah orang” satu rekan Rudi menyanggah. Ia menyodorkan Kopi panas dengan cangkir ke Rangga.


 


“Iye, itu yang dilempar Batako gue pernah liat markir di pasar,” timpal yang lainnya.


“Nah, iye tuh bocah dua kemane tadi yang bocor?” tanya Rudi.


“Kabur die, yang mulutnya rata itu yang bawa motornye bonceng yang palanya bocor. Udeh setengah sadar itu kayaknye,”


“Lagian lo jago juga Bang, parah..” kata Rudi.


“Iye Bang, kayak di film Ip Man gitu, rata semua,” timpal yang lain.


“Ah, kaga. Biasa aja,” balas Rangga, tersenyum pendek.


“Ngerendah aja lu ini, Bang Rangga, kalo gue mah udah cabut dah,”


“Eh, lu mah emang dasarnye cemen, dikejer gukguk aje kabur lu,” timpal Rudi.


“Ye namanye juga dikejer, kabur lah gue, dikata gue suruh koprol?”


 


Keempatnya tertawa pendek serempak ketika Angkot yang tadi kosong, kini penuh berisi dan berbalik melewati mereka menuju jalan utama. Kodri yang duduk dibangku depan memilih tidak menatap balik Rangga Cs, sementara yang terluka di kabin belakang bertumpuk begitu saja.


Rangga pun baru menyadari bahwa diri sendiri hanyalah berkaos oblong dan bercelana boxer, tanpa alas kaki.


Sebelum orang banyak berlalu lalang, ia memutuskan untuk segera berlari pulang.


"Lah, die kaganyadar dari tadi cuma pakai kolor?" celetuk Rudi.


**Pembaca yang budiman\, mohon komentar dan likenya sebagai dukungan**


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2