Null Eksistensia

Null Eksistensia
9. Hero of The Story


__ADS_3

“Tuan Muda Rangga, sepuluh tahun telah berlalu. Segala dendam yang membara pupuskan saja lah, Keluarga Besar Wijaya menunggumu.” ujar Suara paruh baya itu.


“Hah?” kata Rangga, cengo.


“Sebagai anak tertua pewaris keluarga, kau berhak mewarisi harta warisan triliunan dollar. Kakekmu juga sudah menjodohkanmu dengan putri termuda konglomerat Real Estate Indonesia,”


“Berapa Triliun?” tanya Rangga.


“Sembilan Ratus Triliun!” tegasnya, disusul suara terbatuk-batuk pelan.


“Banyak juga tuh. Dapet berapa gelas ya, kalau dibelikan Bobba Tea?” Rangga menyeruput Bobba Tea digenggamannya dan menyodorkan Air Mineral ke Raisa.


 


Gadis itu menenggak habis isi botol dan kembali terbatuk, Rangga menepuk-nepuk pelan punggungnya, berusaha menolong. Keduanya sedang menikmati istirahat siang di hari Sabtu, berlindung dari teriknya siang dibawah teduhnya kanopi.


“Bisa ‘nraktir semua kantor yang ada di tiga komplek Gedung deh,” jawab Raisa setelah membasahi kerongkongannya. “Namanya juga mengkhayal, jangan nanggung dong Mas.”


“Mbak Raisa ini sering nonton drama korea ya, khayalannya kayak gitu.” tanya Rangga.


“Panggil Raisa aja sih, ngga usah pakai Mbak. Kalau yang barusan mah dari Novel Online, ceritanya emang agak-agak halu gitu sih, hehehe.” Raisa tertawa pendek memamerkan gigi rapihnya yang berbehel.


“Ini kan di kerjaan lho, saya ngga etis panggil nama. Posisinya kita juga beda level,”


“Hmm, ngga ngaruh kali Mas, saya juga masih junior. Formal banget sih lagian pakai ‘Mbak’, bikin males.” balas Raisa, seolah mengambek.


 


 


Kantor mereka sebetulnya hanya bekerja setengah hari khusus hari Sabtu, kendatipun jam kantor sudah bubar, seperti kebiasaan penghuni Gedung yang lain, mereka sering melewatkan Sabtu siang dengan bercengkrama di taman kecil pada Bubungan Atap.


Keduanya duduk bersebelahan di bangku panjang. Angin teduh berhembus.


“Seandainya saja…” celetuk Rangga.


“Seandainya gimana?”


 


“Seandainya saja uang sebanyak tadi beneran ada, kebayar deh biaya reparasi mobil kantor.” jawab Rangga dengan pandangan menerawang, tersenyum kecut. Teringat kembali sedan kantor yang terpakir penuh luka di parkiran bawah tanah Gedung.


“Yah, jadi serius deh. Padahal yang barusan iseng bercanda lho,”


“Haha… Iya kok, saya paham kalau Mbak Raisa maksudnya bercanda.”


“Huu, masih dipanggil Mbak lagi,” kata Raisa, pura-pura mengambek.


Tak urung dibukanya juga wadah makanan plastik dua tingkat berwarna hijau yang berisi potongan kue Black Forest, dan Nugget ayam pada tingkap bawah yang sejak tadi ia pangku.


“Cobain deh aku yang bikin,” tawarnya pada Rangga, menggelar dua wadah itu pada ruang kosong bangku diantara mereka berdua.


“Tumben ngga bekal nasi,” tanya Rangga sambil mencomot Black Forest itu sepotong dan melahapnya.


“Lagi pengen aja bawa ini,” Raisa tersenyum mengamati Rangga yang lahap mencicipi potongan kedua.


“Enak lho rasanya,” komentar Rangga, Raisa merona tersipu.


“Seriusan nih?” tanya Raisa


 


 


“Iya seriusan kok, ini enak banget rasanya….” timpal Ajo yang tanpa basa-basi mencomot potongan Black Forest di wadah itu dan tanpa segan langsung melahapnya.


Menyusul ekspresi yang sengaja dibuat-buat ketika menikmati potongan terakhir yang ia suap, raut wajah seolah serius mencicipi camilan yang barusan ia serobot. Mondar-mandir seperti pakar kuliner yang kini khusyuk menimbang suguhan yang baru ia nikmati.


“Raisa, saya suka Blackforest yang kamu buat, rasanya enak namun tidak terlampau manis, teksturnya pun lembut. Komposisi yang pas sebagaimana ekspektasi kami untuk level tantangan ini. Kamu lolos ke babak berikutnya!” seru Ajo menujuk kearah Raisa, menirukan komentar juri satu kontes masak popular, lengkap dengan cengkok sumateranya yang khas.


“Ih reseh jasa nih si Bapak. Maen comot-comot aja,” gerutu Raisa. Rangga bertepuk-tangan kecil sementara Ajo terkekeh.


Ajo kemudian mengambil posisi duduk pada bangku di sebelah bangku yang Raisa dan Rangga gunakan, membuka tas kecil berisi wadah bekal plastiknya.


“Boleh dong kita ikut nyicip, masa si Rangga doang yang boleh.” Ajo berujar.


“Ngga boleh pokoknya. Khusus Pak Ajo dilarang nyicip,’


“Giliran saya aja, dilarang. Kalo Rangga aja boleh, curang nih Raisa pilih kasih. Bikin cemburu tau,” celetuk Ajo, sambil tetap fokus pada bekal makan siangnya.


“Waduh, ngga gitu juga lah bos. Gosip lagi nih aki-aki,” protes Raisa, salah tingkah.

__ADS_1


“Gosip apa gosip?…Tuh kan, kok pipinya jadi merah gitu, Sa. Cuaca panas ya?” goda Ajo.


Rangga pura-pura tidak mendengar dan lanjut menyeruput pelan gelas Bobbba Teanya.


Enam bulan adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengenali tabiat atasannya yang hobi iseng ini.


 


 


Ajo tersenyum-senyum simpul mengamati hasil keisengannya, Raisa yang makin salah tingkah dan Rangga mulai menghitung jumlah motif kembang pada teralis kanopi.


Akhirnya ia tak kuasa menahan tawa pada satu suapan dan tersedak lah ia.


Ajo nampak megap-megap seolah sedang tenggelam, wajahnya menegang, ia menunjuk botol minum Raisa tapi si gadis enggan berbagi.


Rangga sigap memberi tumbler minumnya yang langsung di tenggak habis.


“Sukurin tuh, kualat…hihihi” Raisa terkikik.


“Tega nih, Raisa. Kalau saya kenapa-napa nanti siapa coba yang bakal comblangin kamu sama Rangga,” ujar Ajo setelah sesaknya hilang dan wajahnya mengendur lega.


“Terus aja tuh, kualat lagi nanti.”


“Seru banget sih ini kayaknya, ada apa ya, Pak Ajo?” tegur ramah seorang perempuan berpostur mungil, dengan rambut sebahu dan kacamata menggantung di hidung mancungnya.


“Baru makan siang nih, Bu Julie?” sapa Rangga.


“Iya nih, baru sempet Pak Rangga.” jawabnya .


Diantara seratus lebih karyawan di Kantor Elsa dan Rekan, cuma Julie yang memanggil Rangga dengan sebutan ‘Pak’, testimoni betapa professional dan non-biasnya ia menghargai sesama karyawan.


Sekalipun jabatannya disana cukup vital, Manager Akunting yang membawahi belasan staff admin dan nadi keuangan perusahaan yang nilainya cukup fantastis.


Fashion kesehariannya  cenderung sederhana, tidak secerah Bu Elsa atau seglamor Bu Mey.


Pembawaannya tegas dalam bekerja, namun sangat ramah diluar jam kantor.


Rangga sangat menghormati dedikasi dan kerja keras yang ditunjukan ibu dengan satu putra dan putri ini.


“Ini Ci Julie, saya lagi gangguin orang pacaran aja ini, ga sabar bener kayaknya nungguin malam minggu.” kata Ajo sambil sengaja tampak mengedip-ngedip ke arah Julie.


“Oh iya, saya gabung di sini aja,” jawab Julie.


Rangga pindah duduk disebelah Ajo dan mempersilahkan Julie duduk di samping Raisa.


“Kok jadi pindah duduknya, Pak Rangga. Saya jadi ngga enak loh… Maaf ya, Bu Raisa” canda Bu Julie, ikut-ikutan menggodai keduanya.


”Eh, saya jadi ganggu orang pacaran juga nih, Pak Ajo. Kita pindah aja kali ya?”


“Ayo Bu,” Ajo serta-merta seolah kan bangkit mengangkut bekalnya.


“Jangan dong Bu, di sini aja.” Raisa membujuk Julie yang pura-pura akan pindah duduk. Ajo nyengir kuda diujung bangkunya.


Rangga pasrah saja dijadikan bahan guyonan, Julie ikutan geli mengamati reaksi Raisa yang keki.


“Ya udah deh, saya ngga jadi pindah.” kata Julie, kalem.


 


Rangga khusyuk mengamati jadwal kelas terakhir di minggu ini yang tersisip pada grup obrolan Whatsappnya, sementara Ajo, Julie dan Raisa mengobrol masalah-masalah seputar kantor. Kemudian iseng diceknya saldo tabungan di rekening daringnya,


Rp 4.850.000,- tersisa. Kurang sedikit lagi bahkan untuk uang bayaran semester ganjil depan.


Kasus mobil yang perlu diganti catnya juga belum ketahuan bagaimana penyelesaiannya. Besar kemungkinan menunggu putusan hari Senin, mengingat baik Elsa dan Mey tidak hadir hari ini.


Dalam benaknya, Rangga sudah bersiap mencari pekerjaan baru.


Pilihan lainnya mungkin berhenti kuliah atau cuti semester dulu. Kembali ke profesi Ojol adalah opsi termudah yang terpikir olehnya.


Satu hal yang pasti ia enggan berhutang, terlebih ke segelintir kenalan yang ia punya selama ini.


“Cinta hanyalah cinta, hidup dan mati untukmu….” Tiba-tiba Ajo bersenandung lantang.


“Mungkinkah semua tanya…” Raisa bergabung dan jadilah duet.


“…kau yang jawab,”


Rangga tanpa sadar menutup potongan lirik refrain lagu itu, padahal benaknya masih tetap terpaku pada layar ponselnya sembari bersandar pada tiang kanopi. Berulang kali ia menggulir laman internet banking nya tanpa tujuan jelas yang akhirnya cuma memuat ulang nominal yang sama, seolah pada kurun waktu tertentu saldonya akan secara ajaib bertambah.


Ajo, Julie dan Raisa bertepuk tangan riuh, ditambah dua orang lagi yang berjalan berpapasan melewati mereka.

__ADS_1


Ayu si Resepsionis dan Amanda yang adalah wakil langsung Julie di Finance, serta melengkapi keduanya adalah sosok jelita yang selalu berhasil membuat jantung Rangga berpacu, Nina.


Gelombang listrik melecut-lecut setiap sinapsis yang merekam peristiwa kemarin malam di otak Rangga. Disisi lain ia langsung sadar alasan Ajo yang tiba-tiba bernyanyi.


Keduanya belum sempat bertemu atau sekedar bertatap muka sejak pagi, meski hari ini Rangga mampu membalas datar saja sesi singkat bertukar pandang mereka.


Gejolak hati yang biasa hadir terkalahkan oleh rasa sesal terhadap keberingasannya tadi pagi, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk hidup normal tanpa berusaha menyentuh aspek-aspek dari masa lalunya lagi.


Akan tetapi, kemarin malam ia gagal. Emosi sesaat menuntunnya pada kekacauan yang ia harap tidak melebar.


Nina pun hanya sekedar melontarkan senyum kepada Julie dan yang lainnya, ia terlihat acuh seolah Rangga kasat mata di sana. Sosok itu melewatinya begitu saja.


Tentu Rangga sendiri sadar, selama tenur enam bulan dipekerjakan di sini pun, hampir tidak pernah mereka berkomunikasi. Sedikit pikiran kalau Nina akan berkata sesuatu karena kekeliruan semalam pun kini tak lebih dari sekedar asa.


Memang kau ini siapa, Rangga? Batinnya.


“Semalam kayaknya di grup rame banget ya, soal Bu Dyah hilang…Kalian selisih jalan atau gimana sih kejadiannya, Pak?” tanya Julie kepada Rangga.


“Saya juga ngga ngerti Bu. Simpelnya sih, saya lalai.”


Baik Ajo maupun Raisa mengamati dengan seksama perubahan sesaat sikap Rangga.


***


“Pak Ajo ini kompornya luar biasa ya, bisa aja nyari momennya…” celetuk Julie yang sudah selesai dengan makan siangnya.


“Dikit aja kok, Ci. Biar ada bumbu-bumbu asmara dikit kantor kita ini,” Ajo tertawa pendek menyela hembusan asap rokoknya.


“Iya nih Pak Rangga, yang greget dong! Ayok, pepet terus Bu Raisa.” Julie mengepal kedua tangan layaknya sedang menyemangati lomba balap lari.


"Rangga yang ini mah, ngga kayak yang ada di film Ci. Sok cool doang, romantisnya kagak," celetuk Ajo.


"Hahaha, masa sih. Tulisin puisi dong biar melting tuh Bu Raisanya." canda Julie.


"Saya bisa nyoret-nyoret doang Bu, ga puitis kayak yang di film itu" kata Rangga, berusaha menepis serangan.


Raisa yang kini  dibicarakan sedang permisi ke toilet. Rangga serba-salah menanggapi dengan tawanya.


Lagi-lagi dikaitkan dengan film brengsek itu, protes batinnya,


“Saya sekedar berteman loh, Bu. Ngga ada yang lebih,” jawab Rangga, diplomatis.


“Rangga mah, kepincutnya sama si Tuan Puteri bu,” Ajo menempelkan telunjuk ke bibirnya, berlagak sedang mengutarakan misteri besar kepada Julie yang wajib ia jaga kerahasiannya. Rangga menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


“Yah, mulai deh. Jangan saya jadi bahan gosip lagi dong Bang, ngga enak saya sama Bu Dyah.”


“Hmm, si Doi. Yah, wajar sih siapa yang nggak. Tapi kayaknya, saya setuju sama Bu Raisa aja deh…’ ujar Julie.


Rangga sekedar senyum-senyum saja menyikapi rencana percomblangan oleh kedua atasannya ini. Seandainya Raisa ada bersama mereka, tentu suasana akan lebih canggung.


Terlepas dari gosip konyol yang sering muncul di lingkungan kerja, dinamika seperti ini sangat dinikmati oleh Rangga, seandainya harus angkat kaki hari Senin nanti, paling tidak ada kenang-kenangan baginya.


Sebetulnya Rangga sendiri bukannya mati rasa atau sedemikian polosnya tidak mampu membaca sikap, justru membaca gerak tubuh adalah salah satu hal yang ia pelajari semasa aktif bertugas.


Hanya saja, ia tidak terpikir punya ikatan dekat dengan sesiapapun atas pertimbangan masa lalunya. Ia suka memiliki teman dan rekan kerja yang akrab, tapi ada garis batas kasat yang ia gurat antara dunia luar dan dunianya sendiri.


Kalau pun belakangan ini ada sedikit asa untuk membawa orang lain melewati tapal batas itu, asa itu hanya bertaut untuk seseorang saja.


“Bu Dyah mah berat, Pak Rangga. Yah, bukan mau matiin harapan sih, kalau saya sih ngomong apa adanya ya. Tapi ya kalau mau gigih mencoba ya, ngga apa. Asal siap berharap, siap kecewa juga… Toh, ibarat film kan, tokoh utamanya situ,” kali ini Julie melontarkan nasihat pendeknya.


“Iya, terus kita ini cuma figuran ya Ci,” kelakar Ajo.


“Iya, Hahaha…” Julie ikutan tertawa, demikian pula dengan Rangga walaupun di dalam sedikit mencelos atas nasihat tadi.


Pemeran Utama? Batin Rangga.


Kalaupun ia memang pemeran utama, pastinya kini ia sedang berada pada kisah tragedi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Percis pungguk yang merindukan rembulan.


Ia pemeran utama yang sejak awal sudah kalah. Menyerah pasrah. Bahkan sebelum pergulatan dimulai. Ia sudah menerima nasib saja menyoal perasaan hatinya.


I'm the hero of the story, don’t need to be saved It's alright, It's alright, It's alright, It's alright…


Vokal lembut Regina Spektor bersenandung di benak Rangga.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2