Null Eksistensia

Null Eksistensia
6. Ksatria, Tuan Puteri dan Es Kopi


__ADS_3

Dahulu kala, tersebutlah seorang bocah laki-laki. Dia tinggal di kota yang tidak berpenghuni, di rumah yang tidak lagi dihuni, di tengah keluarga yang sudah tidak ada lagi, di mana segala sesuatu hilang, dan semuanya adalah mungkin.


Suatu ketika, tersebutlah seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah di seberang lapangan, dari seorang gadis yang sudah tidak ada lagi. Mereka mencipta seribu permainan. Baginya dia adalah ratu dan dia adalah raja.


Di bawah mentari musim panas, rambutnya hitamnya berkilau seperti mahkota. Mereka menciptakan dunia dalam kepingan-kepingan kecil, dan ketika langit menjadi gelap, keduanya berpisah dengan bercak tinta di jemari mereka.


 


***


“Mas Rangga, kalau kutipan ini aku pakai di tugas yang kita kerjakan, cocok ndak ya?” Laras bertanya sembari menyodorkan buku besar itu kepada Rangga.


Rangga meraih buku karangan Robert Kiyosaki yang Laras sodorkan itu dan meneliti isi halamannya. Sebetulnya agak sedikit memaksa kutipan yang Laras berusaha gunakan terhadap judul yang ia tulis,


“Kayaknya perlu sedikit paraphrase deh Yas. Tapi masih bisa sepertinya, toh cuma tambahan, dan waktunya mepet,” jawab Rangga.


Sebetulnya Rangga tidak berencana untuk belajar dengan Laras malam ini, namun setelah dipikir-pikir, toh Nina pun setengah mengusirnya sewaktu ia mengecek ke ruangan rapat tadi. Ditambah lagi, tuan Puteri itu sendiri telah bersabda bahwa sang Pangeran lah yang akan menjemputnya malam nanti.


Toh, sedan kantornya pun masih ia parkir di Menara Swarnadipa, seandainya diperlukan ia bisa segera kesana tanpa makan banyak waktu. Berlari pun hanya butuh waktu 5 menit baginya.


Segala kekhawatiran yang ditumpahkan Bu Elsa pasca makan siang tadi seolah jadi paranoia yang berlebihan saja rasanya.


Ternyata setelah dihubungi, Laras bilang kalau rencana mereka batal karena bermacam alasan, tapi ia sudah terlanjur berangkat. Akhirnya Rangga mengusulkan untuk bertemu di tempat ini.


Laras datang dengan mengendarai motor selepas maghrib, berbalut jaket hijau dan jeans biru gelap, serta ransel berisi buku besar juga laptop.


“Kamu ngga kerja, tumben ngga pakai seragam?” tanya Rangga.


“Aku shift pagi, Mas. Jadi selesai jam 2 siang,” jawab Laras.


“Mas Rangga, mau pesan minum apa,” tawar Laras.


“Kopi lagi aja,”


Sesi belajar dimulai setelah pesanan datang. Rangga sebetulnya sama sekali belum menyentuh tugasnya sendiri, ia berharap dengan membantu Laras mengerjakan minimal mendapat gambaran Essay seperti apa yang akan dia tulis untuk kuliah Manajemennya. Paling tidak, esok ia mungkin tidak perlu lembur karena Sabtu hanya setengah hari berkerja.


Setiap beberapa puluh menit, ia menilik jam di handphonenya. Mengecek kalau-kalau saja ada panggilan tugas dari si tuan Puteri.


“Mas Rangga ada janji?” tanya Laras yang mengamati kegelisahan Rangga.


“Sebetulnya ngga sih, cuma tadi kesini sekalian nganter bos, siapa tahu mendadak minta jemput.” kata Rangga.


“Kalau pekerjaan ya ndak apa, aku di tinggal aja, nanti bos marah loh.”


“Kayaknya ngga ada kok, ngga ada pesan tuh.” Rangga memperlihatkan layar ponselnya.


Setelah lewat pukul 1930 petang ia pikir jasanya sudah tidak diperlukan lagi.


Tuan Puteri mungkin sudah dijemput sang Pangeran ber-Lamborghini, sudah melanglang entah ke kelab malam mahal khusus elit mana di satu sudut Jakarta. Ajo memang benar, kasta mereka berdua terlampau berbeda.

__ADS_1


Sudah hampir pukul 2100 malam. Nampan berisi kertas dan gelas kopi kosong itu sudah dipinggirkan sejak lama, buku-buku dan laptop menggusur seluruh ruang di meja. Rangga mengembalikan buku yang laras sodorkan ketika ponselnya bergetar.


Pesan Whatsapp masuk.


Rangga, lo dimn? Bu Dyahnyariin???!!! – Ajo


Saya di deket kantornya bang, lagi cari minum.- Rangga.


Dket mana, bruan dicari Bu Dyah sana, WA guw doi dari tadi! – Ajo


Ok – Rangga.


 


 


“Laras, Mas Rangga kayaknya duluan deh, barusan bosnyariin ini,” ucap Rangga, berpamitan kepada Laras. Pesan Whatsapp baru menyusul masuk.


Rangga, kamu dimana, saya sudah selesai sejak tadi. – Nomor tak dikenal.


Rangga menyentuh bagan foto profilnya dan terkejut, Nina, celaka ini pikir Rangga. Ia mencoba untuk membalas dengan tenang.


Saya masih di dekat situ Bu Dyah, maaf. Bu Elsa minta saya menunggui, tapi saya pikir ibu tidak perlu dijemput pulang. – Rangga.


Pada sudut ruangan yang berseberangan, Nina membuka pesan balasan dari Rangga. Bibirnya mencibir, ia mengetik secepat kilat.


Lantas kenapa kamu masih di dekat sini, Kamu kalau memang mau menunggu saya, ya tunggu di Lobby, jangan menghilang. Kamu bisa kerja ngga sih! – Nina.


Iya Bu Dyah, saya memang menunggui, tapi saya pikir Ibu akan pulang dengan pacar ibu? – Rangga.


 


 


Kata siapa!? – Nina


Ibu yang bilang tadi. – Rangga.


Nina menyedot kencang Es Kopi pesanan yang baru diantarkan pramusaji, lalu segera diraih ponselnya itu ketika bergetar di atas meja. Balasan dari Rangga. Wajahnya kini gusar, diseruputnya isi gelas dengan kencang sedang jemarinya mengetuk layar keras-keras.


Saya bilang kan MuNGKIN!!! Bukan pasti. – Nina.


Celaka dua-belas pekik Rangga dalam hati.


Saya segera kesana Bu Dyah – Rangga


Terserah! – Nina.


“Laras, Mas duluan ya, hati-hati pulang” Rangga berpamitan dan segera keluar dari pintu di dekat meja mereka, tanpa sempat membalas seruan Laras. Gadis itu termangu-mangu sebelum akhirnya membereskan tasnya.

__ADS_1


Secepat kilat Rangga berlari melewati halaman restoran, berzig-zag diantara pejalan kaki di trotoar jalan, dan melesat menuju tangga penyebrangan. Derap langkahnya beragaung keras pada lantai jembatan penyebrangan, ponsel di sakunya kembali bergetar oleh pesan masuk. Rangga setengah melompati anak tangga menurun di jalur seberang sembari membaca isi pesan Bu Elsa yang panjang mengomelinya.


Setengah mengutuki kebodohannya yang kedua hari ini. Rangga tak habis pikir bagaimana segalanya menjadi kusut begini. Bukan kah, Nina sendiri yang bilang akan dijemput oleh pacarnya, atau Rangga yang terlalu emosiona dan salah mengerti maksudnya?


Ia kesampingkan dulu hal itu dan mempercepat larinya. Beberapa menit kemudian ia sudah ada di pelataran Lobby Menara Swarnadipa. Gedung hampir kosong, hanya beberapa lampu di Sebagian lantai yang nampak masih hidup.


“Mas cari siapa?” tanya Sekuriti yang berjaga.


“Rapatnya sudah selesai, Pak?” Rangga berbalik tanya, setengah berteriak.


“Sudah, sudah pulang direkasinya sekitar jam 8 tadi mas,” jawab si Sekuriti.


Jantung Rangga seolah mau copot mendengarnya. Sudah hampir sejam yang lalu.


“Bu Dyah, sudah pulang ya Pak, ada yang jemput?” tanya Rangga.


“Sudah Mas, tapi tadi ngga dijemput, saya lihat tadi jalan kearah sana,” si Sekuriti menunjuk kearah Rangga datang, kearah deretan ruko restoran cepat saji tempat ia dan Laras menghabiskan waktu.


Rangga penasaran apakah mereka berselisih jalan, atau memang Nina sudah pulang naik Taksi. Terlepas yang mana pun, ia perlu mengkonfirmasi langsung.


Ia coba menelpon balik Nina berulang kali, nomornya tidak aktif. Panggilan melalui Whatsapp pun tidak terhubung. Cuma dua hal yang terpikir olehnya, batere ponsel Nina habis, atau nomornya sudah diblokir.


Lututnya terasa sedikit lemas, ia sudah pasrah jika dimaki-maki esok.


Masih bersandar pada bangkunya, Nina tersenyum simpul melihat sosok berkemeja batik itu menghilang di tengah keramaian trotoar beberapa menit yang lalu. Digenggam erat ponselnya di dada. Sekeras apa pun Rangga berusaha, nomornya tidak akan bisa dihubungi.


Ada semacam kepuasan tersendiri atas ulah yang ia lakukan barusan, seolah Rangga berbuat sesuatu yang mengusik suasana hatinya seharian ini dan kini ia mebalasa ulahnya. Ia terkikik dalam hati melihat bagaimana Rangga tercepuk-cepuk berlari meninggalkan pacarnya dengan panik. Sedangkan gadis yang ditinggalkan itu terlihat bingung.


Suasana hatinya sedikit membaik, setelah seharian ini kesal dan makin memburuk setelah rapat sore, tapi kini Nina dapat tertawa lepas dibalik punggung lengan kirinya, kedua bahunya bergetar kecil.


“Kelihatannya seneng banget sih, padahal tadi katanya bete?” suara Nathan yang khas mengagetkan Nina. Tiba-tiba saja kekasihnya itu sudah berada di sana, masih dengan setelan jas kerjanya.


“Ah, ngga kok,” balas Nina, kini sudah menguasai dirinya.


“Mau pulang sekarang, Nona Cantik?” tawar Nathan.


“Yuk!” jawab Nina.


Keduanya keluar dari restoran cepat saji itu menuju parkiran, Lamborghini mewah Nathan menunggu, orang-orang dibuat takjub oleh rupa mobil mahal tersebut, dan kemudian seperti maklum ketika melihat sosok Nina dan Nathan yang mengendarainya. Sepasang sejoli yang rupawan seolah keduanya merupakan karakter drama televisi yang hidup di dunianyata.


Laras melaju pelan dengan motornya melewati mereka ketika Nina setengah mengayun pintu mobil itu, dengan seksama mengawasinya bergabung ke dalam lalu lintas malam.


“Kenalan mu?” tanya Nathan.


“Bukan, salah orang,” jawab Nina, lalu melangkah masuk ke dalam. Bersandar pada jok mewah dannyaman itu sedang pikirannya kembali berlarian kesana-kemari. Pandangannya menengadah dan menerawang langit Jakarta.


Sebuah sedan biru metalik nampak memperlambat lajunya di lajur seberang yang berlawan arah.


Suatu ketika tersebutlah seorang bocah laki-laki yang mencintai seorang gadis, dan tawanya adalah misteri yang ingin dia uraikan sepanjang hayatnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2