Null Eksistensia

Null Eksistensia
14. Pertanda Dua


__ADS_3

Terakhir kali ia mengenakan setelan itu, ia sedang berkerjaran di jalan raya dengan belasan orang bersenjata dan meladeni mereka dengan baku tembak.


Setelan tiga lapis yang ia kenakan memang sengaja dipesan khusus sesuai pemakai, posisi kancing rendah yang berada di bagian tersempit dari garis pinggang, membantu memanjangkan postur alaminya.


Celana bertingkat tinggi berpotongan rapi memberikan garis kaki yang lebih panjang dan lebih elegan.


Bahan Jas yang dipatenkan jauh lebih tipis dan fleksibel, lima puluh persen lebih ringan dari Kevlar (bahan yang biasa digunakan pada rompi anti peluru) biasa.


Keseluruh setelan berfungsi layaknya perisai, dengan pengerasan nanotube karbon pada bahan kain untuk meredam penetrasi dari luar.


Material juga didesain mampu menahan suhu permukaan yang cukup drastis, serta melindungi pemakai dari serangan senjata tajam ringan dan bahkan peluru 9mm di beberapa titik.


Gambaran sederhananya seperti setelan modern keluaran Armani tapi dengan perlindungan taktis sekelas militer.


Kini ia kenakan kembali baju zirahnya itu untuk menyambut medan laga pertama setelah sekian lama terabaikan, Ruang Manajer HRD.


Sewaktu ia berbelok dibarisan sofa pada lantai 13, ia melihat samar sosok Elsa dan Nina sedang berbincang di ruangan kantornya. Kebetulan, pikirnya. Ia sekalian akan pamit langsung.


Tapi itu nanti, sekarang ia bergegas menuju ruangan lain di sebelah kanan, pintunya kemudian terbuka dan sesosok perempuan mungil keluar dengan setumpuk berkas besar.


Rangga melempar senyum kearah Julie yang sedikit kaget melihat penampilannya. kemudian melangkah masuk ke dalam Ruang Manajer HRD meski Ajo dan Mey nampak sama keheranannya.


***


“Sekarang lo kasih tahu gue, lo sudah keterima kerja dimana, datang kesiangan terus nyelonong ngomong mau resign!” hardik Ajo, ketika keduanya sudah keluar dari Ruangan HRD dan berdebat di Bubungan atap.


“Belum kerja, kan sudah gue bilang tadi. Tapi hari ini ada kerjaan, toh dia skorsing gue juga kan, sampai gajian Senin depan?” balas Rangga.


“Salut gue, baru hari ini gue lihat lo nyolot di depan si Mey.”


“Ya bukan saya nyolot, Bang. Abang tahu dia dari awal emang gak suka sama saya kan, ya terlanjur basah kayak gini, ya saya jawab apa adanya.”


“Jangan jadi ngga professional dong, aura kalem lo yang biasanya kemana?”


“Salah bantal kayaknya semalam saya, efek bolak balik di WA sama dia sejak Sabtu soal denda mobil.” jawab Rangga dengan nada sarkastik.


“Soal mobil itu kan memang peraturan kantor, soal telat lo juga! Tapi ngga malah lo tahu-tahu resign kayak cuci tangan, lo mikirin muka gue juga dong!” Ajo kembali naik pitam dan menunjuk-nunjuk Rangga.


“Cuci tangan gimana? Saya potong gaji kan, itu sudah jelas. Saya cabut juga biar Abang ga keseret terus, dia memang ada masalah pribadi kayaknya karena saya diperkejakan Bu Elsa gantikan saudara dia yang kalian berhentikan.”


Rangga menghujam gelas plastik Bobba Tea dengan pipet runcing peranti minum dan menenggak seperempatnya.


“Tapi lo juga ngga nyelonong begitu aja dong dengan resign. Jangan ambil keputusian emosional, walapun lo eneg sama dia.”


“Ini bukan sepenuhnya emosi, saya juga realistis.” jawab Rangga, singkat.


Dilepasnya kancing kemeja di leher untuk mengusir gerah.


Ajo menghela panjang dan berusaha mengontrol emosinya, selain mereka berdua ada karyawan kantor lain dan sesama karyawan Elsa dan Rekan yang sedang menghabiskan masa Coffee Break.


Kendati semuanya menghindar dari sudut tempat ia dan Rangga berdebat.


Ia kemudian menyalakan Rokoknya dan duduk di sebelah Rangga.


“Gaji gue itu sisa berapa Bang, dipotong sebanyak itu? Sekalipun gue cicil perbulan dan tetap kerja juga masih kurang. Hari ini gue dapat tawaran kerjaan, memang sementara tapi uangnya besar, jadi gue bisa pergi dari sini dan bayar tuh reparasi mobil.” Rangga berusaha menjelaskan kemudian, sewaktu tensi diantara keduanya mengendur.


“Lo kalau butuh duit, bisa pinjem gue dulu, Rangga!” seru Ajo, lalu mengembuskan rokoknya,


“Makasih Bang. Tapi tetep aja, saya utang.”

__ADS_1


“Ya kan lo utang sama gue, lo pikir bakal gue kasih bunga kayak rentenir.”


“Tetap aja saya bakal di Skors, di potong gaji, Abang ikutan di sindir-sindir sama Nenek Sihir itu. Sekalian aja kayak begini kan?”


“Jarang-jarang gue ini dengerin lo ngeyel begini. Terserah deh, buat gue intinya lo masih di skorsing, gak ada resign-resign.” tegas Ajo.


“Ya jangan begitulah Bang, saya makin ngga enak nanti sama yang lain.” tolak Rangga.


“Ya memang terserah gue, GA kan gue atasannya, sama kayak waktu gue pecat saudara dia. si Mey itu cuma Manajer Personalia, ngga ada urusan gue. Kecuali Bu Elsa yang ngomong,”


Rangga menepis asap rokok yang mengapung kearahnya dan lanjut menyedot bola-bola hitam dalam minumannya satu-persatu menggunakan pipet plastik.


Ajo melirik mengamati kelakuannya dan memutar bola matanya.


“Selepas makan siang, saya pamit pergi Bang. Tapi saya akan pamit juga dengan Bu Elsa dulu,” kata Rangga, pelan.


Ajo tidak menjawab, sesekali ia mendengus, wajahnya masih masam.


Kemudian ia terus mengepul rokoknya hingga nyaris setengah batang sebelum mematikan sisanya dan beranjak pergi tanpa bicara apapun lagi, bergabung dengan kumpulan staff perempuan untuk kegiatan merumpi rutin semasa Coffee Break.


Rangga sudah menduga kalau bosnya ini akan bereaksi demikian, ia sendiri juga dapat melihat keperduliannya yang terselubung oleh emosi. Tapi ia juga sudah mantap dan tidak ingin merepotkan Ajo lebih jauh.


Kini tinggal menyerahkan amplop surat pengunduran diri resmi ke Bu Elsa, berhubung Ajo mentah-mentah menolaknya di ruangan HRD tadi.


Rangga melempar senyum pada Raisa di tengah kerumunan penggosip yang kini disusupi Ajo lalu kembali melanjutkan kegiatannya semula, menyedoti bola-bola hitam dalam gelasnya satu-persatu lewat pipet.


“Saya juga ngga mau terima deh, kalau Ajo ngga setuju.” Elsa menyorongkan kembali amplop berisi pengunduran diri Rangga sambil tetap menggayemi camilannya.


Rangga menghela napas perlahan dan tertawa garing.


Ia tidak menduga sama sekali Elsa akan segampang itu menolak permintaannya.


Rangga salah tingkah meladeni pertanyaan susulan itu, ia mungkin bisa lebih terbuka bicara dengan Ajo untuk urusan sensitive macam ini, alasannya karena sesama lelaki.


Akan tetapi Elsa selain atasan tertinggi di perusahaan ini, ia juga orang yang berbaik hati menerimanya bekerja dulu, rasanya kurang aja bagi Rangga kalau menjawab dengan pernyataan yang sama seperti kepada Ajo.


“Soal mobil yang rusak sewaktu saya bawa kemarin…”


“Coba-coba bohongin saya kamu ini, kamu serapih itu pasti karena ada kerjaan baru bukan?” potong Elsa yang sejak tadi juga mengamati pakaian yang Rangga kenakan.


“Saya ngga bermaksud demikian, Bu Elsa.”


Rangga sejenak mengalihkan pandangan kearah Nina yang duduk berseberangan dengannya di sebelah Elsa, berusaha menghindari sorot mata bos tertinggi dikantor yang kini berlaku layaknya seorang ibu sedang menginterogasi anaknya yang ketahuan membolos sekolah.


Pupil mata Nina sedikit melebar terhadap sorot mata yang tajam itu, nadinya berdesir lirih, belum pernah mereka bertatapan sedekat dan selama ini kendati beberapa berada dalam tempat yang sama.


Keduanya seperti objek tak bergerak yang terjebak dalam singularitas, dimana besarnya gravitasi yang memaku mereka, juga membengkokan jauh dimensi ruang dan waktu terhadap mereka yang mengamati diluar lingkaran efek.


Sangat singkat bagi Nina dan Rangga, namun sangat lama bagi Bu Elsa.


Astrofisikawan seperti Einstein atau Hawking menyebut ini sebagai Pemelaran Waktu, sementara penggubah lagu Dangdut seperti Haji Rhoma menamai fenomena ini sebagai,


“Dunia Milik Berdua deh! Saya ngomong sama kamu, kamunya ngeliatin ke Dyah. Cemburu saya,” celetuk Elsa pura-pura kesal, menyadarkan keduanya dari efek sihir yang barusan.


“Saya terima tawaran pekerjaan sementara dari kenalan, karena saya berpikir saya akan dipecat atau paling tidak di skors seminggu. Jadi tadi pagi saya putuskan untuk sekalian resign.” Rangga buru-buru menjawab.


Nina tanpa mereka sadari berpaling untuk menutupi senyum yang dikulum dan pipi yang bersemu, berusaha tidak terlihat salah tingkah.


Elsa mendorong sedikit wadah cemilan yang ia dan Nina bawa, menawari Rangga.

__ADS_1


“Cicipin deh, ini Brownies Dyah sendiri yang bikin, percaya ngga kalau rasanya enak?” kata Elsa.


Baik Nina dan Rangga dibuat bingung dengan hal ini.


“Lalu, soal saya bagaimana?” tanya Rangga.


“Ya ngga gimana-gimana, kan sudah jelas. SP2 dan skorsing seminggu, jadi Senin depan kamu masuk lagi. Tapi ingat, tepat waktu!”


Rangga akhirnya menerima saja keputusan akhir dari Elsa, ia sebetulnya bisa saja pergi tanpa pamit sesuai rencana semula, toh skorsing seminggu atau pemecatan tidak terlampau berbeda dari sudut pandang saldo rekeningnnya. Namun ia tidak ingin membalas kebaikan yang diterima dari Elsa dengan kekurangajaran.


“Terima kasih Bu Elsa.” Rangga sedikit membungkuk seraya berterima kasih.


“Ngomong-ngomong, setelan yang yang kamu pakai harganya berapa puluh juta itu?”


“Eh, Saya pinjam Bu, saya diminta berpakaian begini untuk kerjaan yang tadi saya ceritakan.” Rangga mencoba berkilah, menyadari kedua perempuan di hadapannya mengamati zirah yang ia kenakan.


“Temen kamu baik ya, setelan puluhan juta dipinjemin begitu aja,” sindir Elsa.


Lebih tepatnya USD 32000 sewaktu kupesan dulu.


Rangga dan tuan Puteri kembali bertukar pandang. Lalu tanpa sungkan ia mengambil sepotong brownies dari wadah plastik merah muda itu, dan langsung melahapnya. Lalu tambah dua lagi.


Lumayan enak juga rasanya, pikir Rangga.


Enak apa laper sih, batin Nina.


Elsa tersenyum kecil memperhatikan dinamika kecil di depannya, Rangga yang kini tidak terlalu canggung lagi dan Nina yang sudah berkurang acuhnya.


Terlebih sewaktu Rangga yang mengelapi tepian mulutnya dengan punggung tangan dan Nina dengan seksama mengamati perilaku tersebut.


***


Rangga kemudian mohon diri dan pergi meninggalkan keduanya, Nina membalas sekedarnya saja. Sosoknya menghilang dibalik pintu lorong tangga menuju lantai di bawah Bubungan atap.


“Ada benarnya juga ucapan kamu tadi,” kata Elsa ketika tinggal mereka berdua.


“Yang mana, Bu?”


“Soal dia yang kepribadiannya berbeda-beda.”


“Oh, Rangga…” balas Nina.


“Iya, yang barusan sebagian kita lihat dan kamu bilang distant itu, mirip Rangga yang sama sewaktu menolong saya dulu. Topengnya kayaknya banyak, tapi saya tahu dia orang baik. Saya bisa rasakan sih,”


“Saya pikir juga begitu.”


“Ngomong-ngomong kamu sendiri gimana, Dyah. Kapan kasih saya undangan Nikah, Mama-Papa kamu pasti sudah ribut kan?” Elsa tiba-tiba membelokan arah pembicaraan.


Nina tidak menyangka topik akan berubah haluan,“Bukan ribut lagi Bu, uring-uringan malah kalau saya kerja atau megang laptop di rumah.”


“Yah, kamu sudah cukup dewasa. Saya juga maklum. Pacarmu gimana?”


“Nathan dan Papanya juga sudah bolak-balik ingin segera kami menikah, saya juga awalnya antusias. Namun beberapa kali ada masalah diantara kami yang buat saya seperti mempertimbangkan terus-menerus dan akhirnya sampai sekarang, maaf jadi curhat Bu.” terang Nina, kedekatan keduanya memang tidak jarang membuat Nina bercerita tanpa segan terkait masalah pribadinya.


“Saya ngga punya kutipan bagus buat nasehat, tapi ya paling ngga yakin kan diri dulu sebelum melangkah. Kalau ngga yakin ya jangan gegabah, Nathan anaknya kelihatan baik dan pastinya bisa bertanggung jawab kalau sekedar materi. Tapi, ngga sedikit orang yang cukup materi namun ngga cukup bahagia.”


“Iya Bu, makasih wejangannya,” Nina tersenyum berbinar.


“Apalagi kalau cuma materi, kamu ‘kan ngga kekurangan lho, endorsement kamu aja jauh lebih banyak nilainya ketimbang gaji dari saya,” ledek Elsa kemudian. Nina tertawa dibalik tangkupan telapak tangannya.

__ADS_1


“Seriusan lho, Dyah. Saya dan almarhum suami dulu juga tinggal dikosan sewaktu baru menikah dan sama-sama kuliah. Rasanya sewaktu bisa nyicil rumah pertama itu bahagia sekali, padahal kecil. Ternyata setelah beliau ngga ada, saya sadar materi aja ngga cukup, sendiri dirumah besar tidak sebahagia sewaktu berdua di petak sempit kami sewaktu dia masih ada.” Lanjutnya.


__ADS_2