
Selepas shalat shubuh Rangga yang sudah rapi seperti biasanya, mendorong pelan motor matic bututnya keluar parkiran kos-kosan. Panggilan telepon masuk ketika ia baru mulai memanaskan mesin motornya.
Nama Dino muncul pada layarnya. Pagi-pagi sekali, pikir Rangga.
“Halo Bang Rangga, ini Dino. Sibuk ngga, udah mau berangkat ya?” begitu tersambung Dino langsung mencecar.
“Lagi manasin Motor, tumben nelpon pagi-pagi?”
“Iya, kemarin malam waktu balik gue ngganyambung-nyambung nelpon, hape mati ya? Gue denger dari Usman lo katanya perlu gawean sementara, kakak gue ada job, tapi mendadak.” terang Dino.
Rangga memang mematikan hapenya setelah tiba di kosan kemarin malam, baru dinyalakan beberapa menit yang lalu.
“Iya, memang kayaknya mau resign, dan laginyari. Kerjaan gimana, mendadak gimana?” tanya Rangga.
“Kakak gue butuh penerjemah selama tiga hari, Jepang-Indo, kalau ngga salah lo mahir kan, pernah magang kesana kan ceritanya dulu, gimana Bang?”
Rangga teringat memang pernah berdalih pernah bekerja magang ke Jepang, sewaktu kedapatan iseng membaca novel Haruki Murakami asli di kampus.
“Iya sih, harus hari ini ya?”
“Sore ini mereka datang, kerjanya sampai Rabu atau Kamis. Kliennya orang penting, jadi uangnya besar pastinya?”
“Oh, kira-kira berapa per jam?” tanya Rangga antusias.
“Hitungan jam, per jam sekitar 300 ribu. Kurang lebih gitu.”
Rangga menghela napas dan diam sejenak. Ini sudah hampir akhir bulan dan dalam beberapa hari ini memang akan gajian, tapi ada mobil kantor sialan itu yang harus diperbaiki. Seandainya tidak di pecat pun, potongan gajinya tetap saja lumayan untuk standar upah minimum yang ia terima.
Sementara kalau dia diberhentikan pun sama saja, Kamis besok sudah penghujung bulan dan paling lambat Senin dia angkat kaki, paling tidak ada ekstra pegangan dari Job ini yang ia putuskan untuk terima.
Toh, cut-off payroll di tanggal 20. Bolos 4 hari tidak ada bedanya, sama-sama tidak akan dibayar…
“Oke, Jobnya gue ambil ya.” kata Rangga, mengulum senyum dengan mata berbinar.
“Oke, nanti menjelang sore siap-siap ketemu Kakak gue aja di kantornya ya, yang penting rapih aja. Jangan pakai batik Bang, cari jas kalau ada. Kalau Batik keliatan kayak mau kondangan lo, hahaha.” Dino kembali nyerocos diseberang telepon.
“Ya udah, Aman. Kirim lokasi kantor sama kontak Kakak lo ya, selepas makan siang gue kesana. Thanks Dino.” balas Rangga lalu menutup telponnya.
Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana pamit baik-baik dari Ajo dan Bu Elsa yang selama ini sudah menerimanya dengan tangan terbuka.
__ADS_1
Ia matikan kembali mesin motor yang menyala statis dan bergegas kembali menuju kamarnya, ia perlu ganti baju sesuai permintaan Dino. Jelas tidak mungkin memberi kesan pertama yang baik dengan kemeja batik murahnya dan celana denim.
Ia rogoh dompet dan mengecek isinya ketika sudah di kamar kosan, cuma beberapa lembar uang ratusan, puluhan serta belasan lembaran nominal dua ribu kembalian mini market.
Sial, gumamnya.
Jelas tidak mungkin menyewa Jas dengan seadanya uang, atau cari pinjaman mendadak juga sepagi ini. Ia kemudian hendak menghubungi Doni, berpikir untuk meminjam Jas seandainya ada, namun urung setelah ingat Doni posturnya lebih pendek dan lebih kurus darinya.
Satu-satunya setelan Jas yang ia punya tergantung berlapis penutup plastik selama dua tahun lebih. Ragu-ragu diraihnya gantungan berisi setelah itu, dan campakan penutup plastiknya, kemudian digantungkan pada paku di sisi cermin kamarnya yang retak.
Ia masih enggan memakai setelan yang khusus ia pesan tiga tahun silam itu, pandangannya berganti-ganti antara pantulan diri dicermin yang terbelah dan setelan mahal yang bergelantung disebelahnya.
Overkill banget sih ini, tapi masa bodoh lah…
Tetapi kemudian di lepaskannya jeans dan batik yang ia pakai, berganti Jas tiga lapis dengan kemeja putih wol bergaris yang mengepasi lekuk ototnya, Rompi 3-kancing biru gelap, serta Jas luar dan celana dasar berwarna hitam onix senada.
Ujung-ujung jarinya bergetar lirih, telapak kakinya menggeliat menikmati rasanyaman pantopel mahal yang lama dirindukan, mengimbangi hentak-hentak nadi yang berdenyut kian kemari ketika seluruh kancing terselip dan setelan itu membungkus erat posturnya, raut wajah bersemu membingkai mata elang menusuk sosok necisnya sendiri di pantulan cermin.
Deg!
Jemarinya secara alamiah meraih sepasang sarung tangan Kevlar hitam di saku kiri, menyusul satu hentak keras di jantung lalu disusul tatapan panjang.
Alih-alih meninggalkan sarung tangan itu, ia justru menyatukannya dengan dasi berwarna gelap yang menggelung pada saku kanan.
“Rapih banget Bang Rangga, tumben.” tegur sesama penghuni kosannya ketika ia turun.
Rangga berbasa-basi menjawab sembari mendorong motornya keluar gerbang kos-kosan. Sepeda motor itu tak lama kemudian sudah berbaur dengan jalanan Jakarta pada Senin pagi yang ruwet.
Ia tahu hari ini ia akan terlambat lagi, namun kali ini ia tidak perduli sama sekali.
***
Saya segera tiba di kantor. – Rangga.
Rangga membalas omelan Ajo di Whatsapp dan membayar Bobba Tea dan Matcha yang di pesan, terasa sakunya bergetar lagi dan ia cukup yakin itu balasan baru dari Ajo, kemungkinan mereka bermaksud menyidangnya terkait ganti rugi mobil.
Ia memilih untuk membahas segalanya sekalian di kantor saja, mengacuhkan getar pesan susulan yang masuk. Baginya yang terpenting hanyalah untuk bicara dengan Ajo dan Bu Elsa saja.
Terserah dengan yang lain-lain, terlebih Manager HR yang tidak bosan menggunjing telatnya itu, serta fakta bahwa ia dititipkan bekerja oleh Bu Elsa, sepertinya kalau di ingat memang tidak ada bagusnya tindak tanduk ia di depan Manager satu itu.
__ADS_1
Biasanya ia enyahkan saja pikiran itu dari kepala, dan tak mau diambil pusing, ia juga butuh pekerjaan. Namun hari ini, ia merasa kebalikan dari Sabtu kemarin, rasanya ringan.
Sidang ganti rugi yang menunggu dikantor tidak lagi sebuah momok, rasanya seolah sedang menang lotre, dan setelan kebesaran yang ia pakai makin melipatgandakan efek itu.
Persetan dengan denda! Serunya dalam hati, senyumnya tersungging dari sudut ke sudut.
***
Sudah lewat beberapa menit dari pukul 0930 pagi ketika Rangga memindai kartu absennya di gerbang pindai Lobby. Sekuriti yang biasa berjaga dan ia kenal baik geleng-geleng mengamati sosoknya.
Ia segera menuju dapur kantor di sudut lantai 12, melewati Resepsionis yang berhenti setengah kalimat meledek keterlambatannya, melewati sesama sopir kantor dan staff GA lain yang tengah sibuk dengan aktifitasnya.
Madun dan Bude Yati yang sedang mempersiapkan minuman rutin untuk para petinggi perusahaan tak luput di buat takjub.
Rangga seperti kebiasaan salim mencium tangan Bude sebelum kemudian, menitipkan Booba Teanya di kulkas.
“Tumben kamu, Le. Kok siang banget, Necis ganteng lagi, ada apa?” tanya Yati yang berhenti sejenak.
“Saya mau pamit, Bude. Saya mau resign,” jawab Rangga lirih. Yati terkejut dan menutup mulutnya sendiri, lalu mencubit lengan Rangga.
“Seriusan aje Bang, kenape emang? Perkara mobil ye?” kata Madun, penasaran.
“Ngomong sama Pak Ajo dulu to, mungkin bisa dibantu. Jangan buru-buru,” bujuk Yati kepada Rangga.
“Iye Bang, ngomong dulu aje.”
“Bagaimana pun juga bakal perlu diganti, juga gue sudah di tawarin gawean, duitnya lumayan.” terang Rangga kepada keduanya.
Yati masih nampak tidak percaya dan bolak-balik menyayangkan keputusan itu, sedangkan Madun berinisiatif melanjutkan membuat minuman.
Rangga memeriksa beberapa pesan lanjutan dari Ajo dan Manajer HRnya, Meyshinta.
“Ya udah saya, keatas dulu.” Rangga berpamitan sambil menyangking plastik berisi gelas Matcha.
Sosok tegapnya melangkah dengan percaya diri melewati meja Resepsionis lagi dan membelah ruangan lantai 12 yang berisi lusinan kubikal dengan ketukan sepatu pantopelnya. Orang-orang yang menoleh seolah tidak percaya melihat penampilan Rangga yang sama sekali awam bagi mata mereka.
*M*embingungkan, menyesatkan, dan mengejutkan musuh.. Seluruh rahasianya terletak pada membingungkan musuh, sehingga dia tidak bisa memahami maksud kita yang sebenarnya.
Raisa tak kalah bingungnya menerima Matcha dari Rangga yang mengenakan setelan mahal, bukan batik seperti biasanya. Hari ini Ia mengenakan baju perangnya.
__ADS_1
Dan teaterikalisasi serta muslihat adalah senjata yang ampuh bagi mereka yang awam...