Null Eksistensia

Null Eksistensia
10. Arjuna


__ADS_3

Deras hujan musim panas bergemersik merembesi jas hitam yang ia kenakan, tembus ke kemeja putihnya. Garis air turun menyusuri hingga pergelangan tangan, menuju gagang Katana legam itu, mengalir sepanjang lengkung punggung bilah yang jernih keperakan lalu bermuara ke ujung yang hanya beberapa centi menggantung di leher Asano.


"Kini sang Penjagal berpikir dirinya lah Sang Pahlawan...Hahaha" Asano terkulai di aspal yang menggenang, tertawa kecut dengan sinis.


Rangga bergeming dengan Katana terhunus akan tingkah calon korbannya itu, Asano yang puas tertawa kini berbaring pasrah menengadah langit, meresapi rintik hujan yang dingin.


Rangga memuntir posisi mata pedangnya kearah horizontal. Genggamannya erat menegang.


Kerlip reklame neon Distrik Kabukicho berpantulan di sepanjang bilah Katana itu, Rangga melipat siku kanannya, bersiap untuk tebasan penghabisan.


"Kau selamanya adalah Pion...Bukan sang Pahlawan," teriak Asano.


Suara tembakan meletus beberapa kali di dalam Gang, di susul gemerincing selongsong peluru dan bunyi berdebum.


Lalu sunyi.


Gang sempit di sudut Distrik Lampu Merah itu berangsur luntur dan berganti menjadi ruang kelas yang hening. Neon Reklame warna-warni berganti rupa menjadi lampu LED putih susu menggantung di plafon.


Orkestra suara atap yang dirontoki deras hujan melatari suasana hening, berpadu dengan ketukan-ketukan rintik air di kaca jendela serta deru riuhnya guyuran menuju anak air. Suasana hujan memang seolah mengandung magis, ratusan bait puisi telah lahir dari pujangga yang terbius nuansa hujan, pun demikian dengan jutaan lagu cinta sejak permulaan jaman.


Bagi mereka yang seolah sedang dicucuk buluh perindu seperti Rangga, hujan juga identik dengan dera kenangan terhadap orang yang terkasih.


Rangga sedang terhanyut dalam kenangan juga, namun kali ini bukan untuk alasan picisan sebatas kangen. Kata-kata terakhir Asano lebih dari dua tahun silam seperti membekas lekat di benaknya.


Persetan dengan itu, aku tidak pernah dan tidak berniat berlagak pahlawan, seru Rangga dalam hati.


Rangga beranjak dari bangku dan menyerahkan kertas ujiannya ke Dosen, iseng mencolek ujung poni Laras yang mengambang diatas kertas jawaban ketika melewati bangkunya.


Hujan yang terlihat masih belum akan reda memaksa ratusan mahasiswa untuk bergerombol memadati selasar yang kosong, atau tempat makan di sekitaran kampus sekedar untuk menghabiskan waktu, kecuali mereka yang memiliki kendaraan roda empat tentunya.


Rangga sedang khusyuk mengamati papan pengumuman jurusan ketika Laras dan beberapa teman sekelasnya mengajak bergeser ke Kafe di sekitaran kampus.


Jalanan yang melewati sedikit mulai menggenang, tidak terlalu dalam namun cukup untuk memaksa para pejalan kaki menggulung celana setinggi mata kaki.


Pemandangan yang lazim bagi Jakarta acap kali dirundung hujan yang panjang.


Beruntung ia dapat menebeng mobil milik Dino, sehingga tidak perlu basa-basahan menerobos hujan menuju halte Transjakarta. Dari bangku belakang ia mengamati Dino yang sesekali melirik Laras di sampingnya dari balik kemudi, nampak jelas ketertarikan di mata teman sejurusannya ini.


"Kita mau makan di mana nih?" tanya Dino sejurus kemudian.


"Sekitar Ciledug Raya aja," jawab Usman yang duduk di sebelah Rangga. Ia sendiri lupa kalau mereka ini berempat.


"Oke ngga bang?" Dino melirik Rangga dari spion tengah.


"Boleh, ikut aja gue." jawab Rangga.


Ia kembali masyuk terhadap lengangnya jalanan yang basah, menikmati bias-bias lampu jalanan pada lapisan film kaca jendela. Separuh imajinya berusaha menggurat-gurat sketsa jalanan dan hiruk pikuknya di tengah hujan pada lembaran kanvas di benaknya, separuh lagi menguping obrolan Laras dan Dino.


Beberapa belas menit berlalu dan mobil mungil itu merapat di parkiran salah satu Restoran Ayam Goreng di pertigaan Ciledug. Keempatnya terbirit menyebrangi parkiran, Laras berpayung jaket Dino, Usman dengan tasnya, dan Rangga dengan kesepiannya.


"Bang Rangga, soal kerjaan yang abang tanya itu serius?" tanya Usman ketika sudah memasuki Restoran.


"Iya, jaga-jaga aja kalau Senin gue cabut," jawab Rangga sembari menyapu pandang mencari meja kosong untuk mereka. Laras dan Dino di depan mereka menuju konter pesanan.


"Ya udah, nanti gue tanya Kakak gue, masih ada ngga lowongan yang gue bilang,"


"Makasih ya, Nanti gue kabari..."


Selang sepersekian detik Rangga menangkap objek melesat dalam lengkungan sempurna melewati deretan meja dan pengunjung lain tanpa mereka sadari, menuju titik di depan konter tempat Laras berada.


 


 


Usman mengernyit kaget ketika tiba-tiba Rangga sudah menggeser tubuhnya dan berpindah di belakang Dino dan Laras, menepis sebuah objek kecil di udara.


 


 


Rangga menggerus sebatang rokok yang patah itu ke lantai, mencari sosok yang sengaja melontarkannya. Berdasarkan gerak parabolik yang tergambar, jelas sekali ini bukan ketidaksengajaan maupun iseng.


 


 


Rangga dengan mudah mendeduksi dari arah mana rokok tersebut terlempar, pandangannya segara jatuh ke meja di sudut ruangan.


 


 


Sesosok lelaki jangkung dengan blazer coklat bergaris serta kaos V-Neck tampak tersenyum kearahnya. Ia mengenali wajah putih bersih bak bintang film itu kendati kali ini tidak tercoreng-moreng kamuflase seperti biasanya.


 


 


Tampak sedikit dewasa dari kali terakhir mereka berjumpa, meskipun secara usia memang terpaut beberapa tahun lebih muda dari Rangga.


 


 


"Mas Rangga mau pesan apa?" tanya Laras yang kaget menyadari keberadaan Rangga di belakangnya.


 


 


"Terserah, samakan dengan kalian aja," Rangga menjawab tanpa menoleh, lalu menghampiri meja lelaki tersebut.


 


 


Ia sampirkan Jaket lembabnya dan menduduki bangku diseberangnya, si lelaki melipat tangannya di meja dan menyapanya ramah. Ia tidak berubah sama sekali sejak perjumpaan terakhir mereka, 3 tahun silam.


 


 


"Apa kabarmu, Kak. Reflekmu masih luar biasa aja," si lelaki membuka percakapan, ia tersenyum.


 


 


"Alhamdulilah, Baik. Kamu sendiri gimana, Arjuna?" tanya Rangga.


 


 


***


 


 


Ada secercah kecanggungan setelah keduanya bertukar sapa. Rangga sama sekali tidak menduga jika suatu hari akan bertemu Arjuna di tempat seperti ini. Setelah sekian lama keduanya terpisah.


 


 


Muncul banyak tanya di kepalanya.


 


 


Laras dan yang lainnya memilih untuk duduk menyantap pesanan tidak jauh dari Rangga dan Arjuna, kendati mereka segan menegur keduanya yang nampak serius dalam perbincangan.


 


 


"Sudah lama ya sejak terakhir kita ketemu, Juna?" Rangga membuka akhirnya pembicaraan.


 


 


"Iya, hampir tiga tahun berlalu malah, sejak tugas terakhir kita di Jepang," jawab Arjuna.


 


 

__ADS_1


"Iya, tidak terasa."


 


 


Arjuna kemudian berusaha memecah rasa kebuntuan komunikasi mereka dengan meraih bungkus rokoknya, baru kemudian menyadari kalau ruangan mereka bebas asap, maka di matikan segera rokok yang sudah tersulut itu.


 


 


"Kakak ini masih belum banyak berubah, kaku dan serius seperti dulu. Santai dikit lah," protesnya, juga tersenyum frustasi.


 


 


"Masa sih, padahal sudah banyak bersosialisasi lho."


 


 


"Yah.. sedikit sih, mungkin. Ngomong-ngomong, itu teman-teman Kakak?" Arjuna melirik kearah Dino Cs.


 


 


"Iya,"


 


 


"Wah, pantesan saja, kelihatan jauh lebih muda dibanding aku bahkan," kata Arjuna, seolah takjub mengamati Laras dkk.


 


 


"Temen kuliah sih, aku sekarang kerja dan kuliah malam juga." kata Rangga.


 


 


"Kerja...Seriusan Kakak kerja?" Arjuna seolah tak percaya.


 


 


"Iya, aku kerja di KAP di Jakarta Pusat, sebagai Sopir sekaligus bagian umum,"


 


 


"Seriusan. Kerja jadi Sopir di kantor, Sopir biasa begitu?" Arjuna makin mencecar.


 


 


"Ya, buat apa aku bohong juga. Jadi Ojol juga pernah kok," ujar Rangga.


 


 


Untuk satu alasan yang Rangga tidak dapat mengerti, Arjuna tertawa terpingkal di depannya.


 


 


Rangga memilih meraup kentang goreng di meja yang masih belum tersentuh.


 


 


 


 


“Aku kasih tahu, malah kamu tertawa.”


 


 


"Aku ngga bisa bayangkan aja, kamu jadi Driver, Apa ngga mati bosan penumpang yang diantar Kakak?" kata Arjuna setelah tawanya mereda.


 


 


“Wah, ngeremehin kamu. Gini-gini rating bintang lima terus lho. Tutup poin terus malah,” Rangga tanpa canggung memamerkan profil Ojolnya kepada Arjuna.


 


 


Arjuna manggut-manggut setelah melongok layar ponsel Rangga, terlihat masih geli sendiri. Suasana kini mencair diantara keduanya, atmosfir yang sama seperti ketika masih aktif bertugas dulu.


 


 


“Kok berhenti kak?” tanya Arjuna.


“Apaan, Ojol? Itu karena aku dapet kerjaan jadi sopir kantor, lagipula sekarang sistemnya baru, makin sulit,” sahut Rangga, menyelipkan kembali ponselnya ke saku.


 


 


"Oh, begitu. Banyak cerita menarik sepertinya di kehidupan Kakak selama 3 tahun belakangan. Kupikir setelah pensiun dari Biro dengan kekacauan yang kamu tinggalkan dulu, Kakak akan lanjut berkerja jadi—apa gitu, sesuai bidang keahlianmu."


 


 


"Jadi Tentara Bayaran misalnya maksud kamu?" balas Rangga, kalem. Arjuna tidak menjawab.


 


 


"Bukan pensiun dan insaf dong namanya, kalau masih di dunia itu juga." lanjutnya.


 


 


Arjuna kemudian menyela pembicaraan ketika ada pesan masuk di ponsel, ia membalas pesannya dengan singkat lalu meletakan kembali di meja.


 


 


"Aku sekarang bekerja sebagai Paspampres di Istana, masuk melalui koneksi Bapak setelah satuan kita dibubarkan...oleh whistleblowing kamu itu kak." kata Arjuna.


 


 


Rangga menangkap sedikit nada getir pada kalimat terakhir. Ia mampu memaklumi, bagi Arjuna dan Jagawana, Biro sudah seperti rumah mereka sendiri. Ia pun dulu merasakan kegetiran yang sama ketika memutuskan untuk mengungkap keberadaan mereka ke Negara.


 


 


Paspampres adalah pekerjaan yang cocok untuk Arjuna, pikir Rangga. Paling tidak keahliannya terpakai dan negara mengakui pengabdiannya.


 

__ADS_1


 


"Seperti yang aku jelaska pada kalian dulu, aku merasa garis batas yang ada sudah terlalu abu-abu. Kita sudah nyaris bias antara menjalankan kepentingan Negara, atau kepentingan pribadi. Kita adalah Rahasianya Dinas Rahasia. Dan itu, sudah semestinya sejak awal tidak pernah ada." tegas Rangga.


 


 


"Tapi cara mu juga pengecut!...Apa kamu sadar sejauh mana efek pengungkapan publik dan sabotasemu pada Biro. Kamu tahu bagaimana Bapak kita kehilangan muka, lalu rendahnya Stigma masyarakat pada Lembaga Negara, sementara kamu lari begitu saja?" Arjuna juga menaikan intonasinya sedikit meski penyampaiannya tetap artikulatif.


 


 


"Ada harga yang harus di bayar untuk perubahan itu, Juna. Dalam hal ini, terutama untuk kita semua yang ada di pusaran, harus ada yang di korbankan..."


 


 


"Kalau kamu berniat minta maaf, aku ngga butuh Kak," potong Arjuna.


 


 


Rangga mendapati rauh wajah lelaki di depannya ini sedikit mengeras.


 


 


"Kalau kamu mau minta maaf, minta lah pada Bapak dan Agni," lanjutnya.


 


 


Keheningan seketika menyeruak diantara keduanya. Rangga kembali membuka suara.


 


 


"Bapak sudah cukup paham resiko dari segala tindakannya itu, sejak aku mulai mempertanyakan detil penugasan kita, bahkan mungkin sedari awal sewaktu Akar Rumput ia bentuk. Kita ini bukan yang pertama, Juna. Tapi aku merasa kita semestinya menjadi generasi terakhir."


"Kalau pun aku merasa bersalah, itu cuma untuk kamu dan Agni. Semuanya sudah terjadi dan aku ngga bisa merubah fakta atas segala hal yang aku sebabkan, terutama untuk kalian berdua. Penyesalanku cuma itu," tandasnya, menatap tajam kearah Arjuna.


Arjuna tetap membisu dan bergeming kendati tetap mendengarkan. Rangga sebetulnya sudah pernah menyatakan ini 3 tahun silam, sewaktu ia memutuskan untuk mengungkap keberadaan mereka kepada Negara dan Institusi Publik setelah pertimbangan panjang.


Namun tentu saja waktu itu keadaan sangat kacau dan penuh drama. Kendati pemerintah berhasil meredam reaksi publik dan media yang histeris, secara internal segalanya tidak berakhir dengan mulus. Ia harus menjalani banyak sesi testimoni dalam sidang tertutup.


Divisi yang membawahi unitnya dibongkar, unitnya dibubarkan. Segala turbulensi mereda setelah Biro Intelejen mengalami perombakan internal.


Kepala Negara dan bahkan banyak kalangan elit militer sendiri kaget akan keberadaan unit klandestin yang sudah beroprasi beberapa dekade dengan minim sekali pengetahuan soal mereka.


Rangga sudah berpisah dari Arjuna dan Agni ketika sejak segala pengungkapan yang lakukan terjadi, ia sendiri menghilang ketika keputusan akhir pemerintah hampir diketok palu lalu memutuskan untuk mengaburkan jejak keberadaannya.


"Bagaimana kabar si Bungsu?" tanya Rangga kemudian.


"Agni yang paling terpukul karena kepergianmu. Sikapnya makin dingin dan jauh. Sewaktu Bapak mengusulkan identitas baru untuk kami dan bergabung di Paspampres, dia menolak. Agni tetap bertahan dalam Biro yang mengalami pergolakan dan perubahan, aku ngga pernah dengar kabarnya lagi," tutur Arjuna.


Agni berselisih hampir 7 tahun dari usia Rangga, 3 tahun di bawah Arjuna. Ketiganya adalah Alumnus terakhir Program Akar Rumput.


Mereka bertiga yatim-piatu sewaktu direkrut, Arjuna adalah berandalan yang sebelumnya tinggal di panti asuhan.


Sementara Agni, sudah hidup entah berapa lama di jalanan dan mengalami kekerasan baik fisik maupun mental, serta seksual ketika di 'temukan'.


Kotor, kumal, penuh luka dan berbau busuk.


Akan tetapi tidak pernah terbersit rasa takut sedikitpun dari matanya, mungkin rasa takut dalam dirinya sudah lama mati tergerus pahitnya kehidupan menggelandang. Api tekad dan keberingasannya diabadikan dengan nama Agni ketika ia inaugurasi.


Sekalipun mereka berangkat dari latar belakang yang berbeda, keduanya bagi Rangga tidak ubahnya adik kandung sendiri.


"Seberapa pun Kakak membenci tindakan Bapak, beliau masih perduli padamu. Aku rasa Agni pun begitu. Terlepas bagaimana pun asalnya, buatku dan Bungsu, Bapak adalah figur Ayah kami. Kakak tetaplah Kakak bagi kami berdua," tutup Arjuna.


Ingatan Rangga berpaling pada hari di mana pria yang mereka bertiga panggil 'Bapak' itu datang pada hari kematian orang tuanya.


Rangga pun bisa dibilang sudah mati di hari itu, dan dihidupkan kembali oleh Bapak sebagai Jagawana.


Bapak adalah figure militer yang kuat dalam Biro Intelijen, ia yang kemudian mengasuh Rangga dan kedua adiknya dalam program Akar Rumput.


Sekalipun sudah pensiun kini, beliau masih menjadi salah satu figur kuat dalam percaturan politik serta pemilik banyak perusahaan-perusahaan besar.


Kemudian nostalgia itu berubah warna ketika tiba pada hari-hari dimana Rangga mulai mempertanyakannyawa yang mereka renggut dan untuk siapa sebetulnya itu. Seolah menelan pil pahit setelah mengecap manis.


"Siapa nama Kakak sekarang?" tanya Arjuna kemudian.


"Rangga, aku gunakan nama kecil ku." jawab Rangga.


"Aku tetap gunakan Arjuna. Rasanya sulit lepas dengan panggilan itu, lagian...Nama asliku gak keren, kurang modern,"


"Maksudmu?"


"Yah, masak keren gini namanya Slamet, terus aku di panggil Mamet gitu? Met..Met, ngga cocok deh sama profil di Instagram." Arjuna menjelaskan sambil memamerkan laman Instagramnya.


Rangga mengernyitkan keningnya, nampak bingung.


Sedemekian cepatnya Rangga kemudian teringat bagaimana flamboyantnya adik angkatnya ini sejak dulu.


Bahunya sedikit terguncang karena tawa, ia lalu bersandar pada kursi.


Perempuan muda dengan setelan modis yang sejak tadi memperhatikan mereka pun menghampiri meja keduanya. Posturnya sintal berlapis kemeja motif dan jaket kulit berwarna gelap, senada dengan denim ketatnya. Wajahnya tirus dengan bibir berisi.


Ia kemudian berdiri di sebelah Arjuna dan mengulurkan tangannya kepada Rangga.


"Kenalin Kak, Aku Emily, Panggil Mili aja."


"Sama sama, saya Rangga. Mili pacarnya Juna?"


"Bukan Kak, aku Tunangannya," jawab Mili seraya menggenggam tangan Arjuna. Arjuna nyengir kuda.


Rangga perlu beberapa ekstra detik untuk memproses informasi baru ini.


Wait, What!? Tunangan? Secepat itu, sementara Gue masih... Jomblo?


"Sudah selesai ngobrolnya Sayang?" tanya Mili ke Arjuna. Tunangannya itu mengangguk.


"Kami duluan ya Kak, lain kali kita ngobrol sewaktu jatahku cuti."


Arjuna pamit dan menggandeng tangan Mili, gadis itu juga berpamitan kepada Rangga sebelum lanjut menggelayut manja di lengan tunangannya. Keduanya nampak demikian mesra dan serasi di mata Rangga.


Rangga mengamati dengan seksama pasangan sempurna itu. meninggalkan restoran. Ia masih terpikirkan soal keberadaan Agni, namun juga terbersit bahagia melihat Arjuna melanjutkan hidupnya dengan baik.


Dalam hatinya ia bersyukur dan selalu berdoa untuk kebaikan adik-adiknya selayaknya setiap Kakak yang baik, sejak dulu.


 


***


Arjuna menyalakan mobilnya sementara Mili sibuk melipat paying kecil yang pakai, ia selipkan di laci dashboard ketika selesai. Mereka kemudia bergegas meninggalkan restoran sementara deras hujan mereda menjadi gerimis.


"Itu tadi temen kamu, Sayang. Serius banget, sampai aku disuruh nunggu dulu." protes Mili


"Hehe, Maaf Sayang," jawab Arjuna di balik setir.


"Emang ngobrolin apaan sih, Rahasia Negara gitu?"


"Ehm.. Iya sih, Rahasia Negara."


"Hah, seriusan aja. Emang itu siapa?" Mili penasaran dan bergeser menghadap tunangannya.


"Oh. Itu Kakakku,"


Plak!


"Ya kok ngga bilang sih, kalau itu Kakak mu, main ngajak pergi aja...Kan ngga enak" Mili menepuk bahu kekar Arjuna dan lanjut mencubiti lengannya dan pinggangnya.


Arjuna yang sibuk menyetir hanya bisa mengampun-ampun dan berjanji bahwa lain kali ia akan mengenalkan Kakak angkatnya itu dengan lebih resmi.


"Aku pernah cerita kan, punya kakak dan adik dari panti asuhan?"


"Oh, gitu.." Mili manggut-manggut. "Orangnya boleh juga ya, keliatan kalem tapi menarik gitu, kayak Rangga yang di film itu deh,"


"Masa sih, ya udah nanti aku sampaikan ke orangnya deh," kata Arjuna seolah-olah cemburu.


"Cie..Cemburu ya. Kamu lucu kalau lagi cemburu. Masih gantengan kamu kok, Sayang. Jangan kuatir!" Mili bergerak mengecup pipi Arjuna, dan bergelayut gemas di lengannya.


Mobil kecil itu terus melaju membelah jalalan yang tak lagi menggenang.

__ADS_1


__ADS_2