
Rangga merapihkan simpul dasi yang ia kenakan sementara lift membawa mereka naik dua puluh lantai keatas. Ia sudah melicinkan rambut nya sewaktu di parkiran tadi, pembawaan nya kini rapi jail.
Untung aja ini setelan belum ku jual karena butuh uang, batin nya berucap ketika mendapati pantulan sosoknya di kabin lift.
Ia memang sempat berpikir menjual pakaian mahal nya ini sewaktu keluar dari Biro dan memulai kehidupan baru, tapi kemudian ia urungkan karena sudah barang tentu tidak akan semudah menjual celana bekas di Marketplace, selain juga faktor kenang-kenangan yang memberatkan.
“Saya ngga nyangka, Mas Rangga bakal serapih ini. Saya memang minta Dino pesan untuk berpakaian formal, tapi ini sih kayak saya nganterin Direksi, bukan Interpreter.” celetuk lelaki di sebelahnya.
“Berlebihan ya, Mas?” sahut Rangga, ramah.
“Ngga juga sih, santai aja.” jawab lelaki tersebut.
Bunyi berdenting terdengar dan pintu lift terbuka. Suasana iruk-pikuk kantor menyambut kedua nya ketika melangkah keluar dari kabin.
Geri, kakak nya Dino yang menjemput Rangga di Lobby mengarahkan mereka menyusuri deretan meja menuju sebuah ruangan besar di seberang keramaian itu. orang-orang yang mereka lalui tak luput mengamati pakaian yang ia kenakan.
Fukunishi Satoshi, Rangga dapat membaca dari kejauhan nama yang tercetak pada plat dalam aksara Kanji pada pintu, di bawah plat lain yang bertuliskan Direktur.
Ia menunggu sejenak di pintu ketika Geri mengetuk dan memohon izin masuk, sebelum akhirnya Geri memberi kode untuk mengikuti masuk nya.
Hal yang pertama ia lakukan adalah memperkenal diri dalam bahasa Jepang, “Selamat Pagi, perkenalkan saya Rangga, senang bertemu dengan anda hari ini.”
“Salam kenal, saya Fukunishi. Silahkan duduk” Fukunishi mengangguk membalas bungkukan Rangga.
“Mr. Fukunishi saya pamit.” ucap Geri, sebelum meninggalkan keduanya.
“Saya lihat anda cukup berpengalaman bekerja di luar Indonesia, boleh cerita sedikit?” tanya Fukunishi sembari membolak-balik resume Rangga yang terbundel di meja nya.
“Saya pernah bekerja magang di Jepang melalui Program Magang, juga sewaktu menjalani Studi Hubungan Intenasional di Kedutaaan Besar Indonesia, terlibat dalam beberapa proyek kebudayaan di Osaka juga.”
“Oh, Osaka! Kebetulan Delegasi yang akan tiba nanti malam ada yang berasal dari sana,” gumam Fukunishi yang masih meneliti kertas di hadapan nya.
Kacamata ramping nya sedikit melorot dan hidung lebar nya yang terbenam, mata nya sedikit memicing sembari komat-kamit membaca, Rangga duduk diam menanti.
“Jujur saja sebetulnya, saya lebih suka kandidat yang punya level sertifikasi normal, JLPT N1 misalnya, sertifikat lama yang anda lampirkan selain sudah kadaluarsa, level nya juga dibawah persyaratan yang lazim untuk seorang Interpreter Bisnis.”
Fukunishi menilai seksama sosok Rangga yang nampak tenang di hadapan nya, ia kemudian melipat kacamata nya dan bersandar di kursi nampak sedikit menimbang-nimbang sesuatu di kepala nya.
“Orang yang akan kamu pandu, adalah para pemimpin grup perusahaan ini. Yakin kan saya, kenapa saya harus bertaruh reputasi kepada mu dan bukan kandidat lain, Rangga-san?” tantang nya kemudian, mata sipit nya menatap lurus kearah Rangga.
“Tanpa bermasuksud meninggi, dalam kurun enam jam kedepan kalian akan kesulitan menemukan kandidat lain yang punya pengalaman kerja ekstensif dalam multibidang bersama penutur asli Jepang, yang terbiasa berinteraksi dengan figur segala lapisan strata hingga ke manajemen tertinggi, mengerti mengenai manajemen bisnis dan dengan kemampuan komunikasi paling tidak selevel JLPT N2 sekalipun nir-sertifikat. Selain itu saya juga tahu tempat jalan-jalan yang asyik di Jakata, demikian pendapat saya Pak Direktur Fukunishi.” jawab Rangga, singkat, padat dan percaya diri.
Selain itu juga bayaran gue masih sedikit dibawah standar untuk level kerjaan sebesar ini, batin nya.
“Anda sangat percaya diri, untuk orang yang tidak menyelesaikan studi formal dan berijazah resmi.” tukas Fukunishi sembari melipat tangan nya.
“Saya percaya dengan kecakapan saya, dan saya percaya figur seperti anda lebih menghargai kinerja dan kecakapan di bandingkan secarik kertas.” balas Rangga.
Fukunishi manggut-manggut meresapi jawaban Rangga, wajah serius nya mengendur dan kini merekah senyum.
“Gue suka gaya elo,” ucap Fukunishi dalam bahasa Indonesia bercampur logat medok.
“Terima kasih, Pak Fukunishi.” balas Rangga, juga dalam bahasa Indonesia.
Ia merasa puas memenangkan tantangan barusan namun cukup di dalam hati saja teriak gempita nya.
Suasana perlahan-lahan mencair dan Fukunishi mulai panjang lebar menuturkan sedikit latar belakang para petinggi yang akan datang dan agenda mereka, termasuk membahas tempat rekreasi yang kemungkinan mereka kunjungi selama seminggu.
Ia berharap memberikan pelayanan terbaik untuk mereka dan meminta Rangga menyukseskan hal ini. Ia juga sudah menyusun detail itinerary bersama beberapa staff nya, Rangga akan terlibat juga, terlihat sekali Fukunishi ingin memenangkan hati mereka.
“Ayo kita diskusi sembari saya makan siang, anda bisa menyetir?” ajak Fukunishi seraya bangkit meraih Jas nya yang tersampir.
“Bisa Pak Fukunishi.”
Fukunishi mengoper kunci bergantungan BMW kepada Rangga sebelum keduanya meninggalkan ruangan Direktur. Karyawan sedikit membungkuk ketika berpapasan dengan mereka, Geri memberi jempol kepada Rangga dari balik meja nya.
Sementara di dalam benaknya Rangga menghitung potensi pundi-pundi uang yang ia akan dapatkan sepekan ini.
***
__ADS_1
Sementara Rangga menghabiskan waktu makan siang bersama Fukunishi di salah satu restoran Jepang di bilangan Kemang, Nini sudah satu jam lebih memelototi ribuan baris laporan transaksi keuangan dari belasan file spreadsheet di Laptop nya hinga terasa perih.
Ia memalingkan wajah sejenak dari layar monitor meski pikiran nya masih bercabang liar, terhenyak pada sandaran bangku nya menengadah langit-langit.
Intuisi nya berkata ada sesuatu di balik rapih dan sempurna nya laporan-laporan hasil audit Elsa dan Dendhy untuk Swarnadipa, termasuk dokumen-dokumen sensitive dari pemodal baik dalam dan luar negeri mega proyek ini.
Rasa nya seperti ada di pelupuk mata namun realita nya masih ada di seberang lautan, untuk sesaat dia mulai mempertanyakan apakah kecurigaan nya berdasar atau hanya efek dari sekedar antusiasme belaka.
Apakah dia memang terlalu tinggi menilai diri nya sendiri seperti yang Elsa kemukakan? Batin nya mulai meragu.
Ponsel nya berdenting ketika benak nya mulai berkabut, satu pesan masuk dari Nathan.
Sudah lama kita ngga makan malam, nanti aku jemput ya? – Nathan
Oke. – Nina
Nina menyorongkan dengan malas ponsel nya ke meja, lalu kembali menyusuri Laptop nya. ia memutuskan berselancar di Youtube dan forum luar negeri yang populer dengan pelbagai jenis topik.
Menggulir topik tentang investasi dan bisnis, serta bahasan mengenai penyelidikan forensik dan sub-forum whistleblower diantara rekomendasi cerita gosip selebritis yang baginya menyampahi beranda video.
Ponsel nya berdenting-denting kembali, beberapa baris pesan masuk beruntun pada Grup Alumni SMP nya. Ia tertawa membaca pesan-pesan konyol yang ada, lalu menggulir keatas menyusuri lini masa yang terlewat.
Salah satu teman sekelas nya memposting foto tengah bertugas meliput rapat di Gedung MPR, tampak bahagia berpose bersama kru-kru reporter junior nya.
Mata lentik nya kemudian berbinar ketika satu gagasan terbersit di kepalanya, ia mengetuk nama tersebut dan segera menelepon nya.
***
Hubungan mereka memang sudah hambar sejak beberapa bulan belakangan, sejak ia mengetahui Nathan sempat kembali dekat dengan mantan kekasihnya enam bulan lalu.
Sekalipun pria itu sudah berusaha menjelaskan dan meminta maaf, yang ia sendiri ragu-ragu untuk terima, pada akhirnya ia merasa antusiasme untuk hubungan mereka kian surut.
Ia berusaha memberikan waktu dengan harapan segala nya akan kembali seperti semula, karena selama tiga tahun lebih berpacaran ini bukanlah satu-satunya kejadian yang memicu mereka bertengkar dan bahkan berpisah, namun kali ini ia ingin menyudahi saja semuanya.
Tidak ada rasa marah atau benci, namun juga tidak rasa cinta yang sama seperti tiga tahun lalu sewaktu Nathan meyakinkan nya.
Sudah belasan kali ia aduk-aduk minumannya dan berulang kali pula mencoba menghabiskan steak yang ia pesan.
Dulu ia selalu antusias mendengar Nathan bercerita soal pekerjaan dan bisnis keluarga yang ia kelola. Kini rasanya semua itu benar-benar tidak menarik dan membosankan.
Ia hanya sesekali membalas dengan senyuman sewaktu topik berpindah ke kontrak yang Nathan dapatkan dalam mega proyek Swarnadipa. Oh, mungkin itu juga faktor yang membuat suasana hatinya memburuk, batinnya.
Dalam kecamuk pikiran nya ia menyenggol garpu dan pisau dari atas meja. Pelayan restoran buru-buru menawarkan pengganti untuknya namun Nina menolak, ia berkata kalau itu tidak perlu dan ia sudah selesai bersantap.
Nathan berpura-pura tidak melihat aura kejemuan yang tersirat dari raut wajah kekasihnya dan menyambung oborlan.
Sepanjang perjalanan pulang pun keduanya hampir tidak berbicara, Nina berbasa-basi kalau rasanya sedang tidak enak badan dan selain itu ia baik-baik saja.
Ia menarik napas panjang sewaktu Lambroghini merah itu menepi di depan gerbang rumahnya, ia merasa inilah saat yang tepat untuk mengutarakan semuanya.
“Aku perlu ngomong sesuatu,” ucapnya membuka pembicaraan, Nathan mematikan mesin mobil dan tinggalah hening.
“Aku tahu enam bulan ini segalanya berbeda, aku pikir itu karena kita sama-sama sibuk bekerja dan aku sudah kamu maafkan. Tapi sepertinya aku salah,” Nathan seolah bisa membaca situasi.
“Aku ngga mau kita putusan, tolong beri sedikit waktu. I promise you, I’ll pay my due.” lanjutnya.
“ But what if its doesn’t work?” Nina bertanya dengan tawa getir.
Nathan terdiam saja kali ini, tenggelam kedalam jok kulit mobilnya yang mahal. Ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan barusan, juga pertanyaan yang akan muncul dari keluarganya yang tidak mengetahui retaknya hubungan mereka dan selalu menanyakan kapan ia akan melamar.
Nina memutuskan untuk keluarga dari kebuntuan ini dan melepas sabuk pengamannya.
__ADS_1
“Lusa akan ada seremonial untuk peresmian Swarndipa, semua rekanan diundang, kantormu juga. Mama-Papa pasti juga hadir, aku berharap kita masih bisa pergi bersama.” ujar Nathan lirih, sorot matanya terlihat memelas.
“Baiklah,” jawab Nina.
Ia urung melaksanakan niatnya, meski sepertinya ia dan Nathan sudah tahu kemana arah hubungan mereka akan berlabuh. Ia ucapkan selemat malam sebelum menutup pintu mobil dan memasuki gerbang rumahnya tanpa menoleh.
Satu panggilan masuk tak lama setelah mobil Nathan beranjak.
“Halo Friska,”
“Hei, Nin. Sorry nih ganggu ya,” jawab Friska di seberang telepon.
“Ngga juga kok, gimana jadi?”
“Sudah gue baca email dan materi yang lo kirim, anak-anak gue juga lagi riset balik materi referensi nya. Ini kayaknya besar nih, lo yakin mau nge-blow semua ini ke publik?”
“Iya. Gue sudah yakin.” jawab Nina, mantap.
“Ketika ketemuan aja deh, nanti gue hubungi lagi kapan dan dimananya, okay?”
“Okay, makasih.” Nina menutup panggilan telepon dan menggenggam erat ponselnya.
Ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, batinnya memantapkan diri.
***
Rangga dan Fukunishi serta beberapa staff berjaga di aula kedatangan internasional Bandara Soetta. Beberapa menit yang lalu pengumuman pendaratan pesawat Singapore Airlines yang membawa tamu kehormatan mereka berkumandang.
Mobil-mobil carteran sudah bersiaga menunggu.
Tak lama berselang sekumpulan ekspatriat berkebangsaan Jepang dan Korea nampak memadati pintu masuk kedatangan.
“Itu mereka.” Fukunishi berseru, ia dan Rangga kemudian bergegas menyambut.
Rangga memperkenalkan diri sekaligus meneliti tamu kehormatan mereka ini dalam benaknya. Tiga orang eksekutif berusia diatas enam puluhan, dua orang staff wanita, beberapa orang pengawal dan pembawa koper mereka yang berpotongan seperti Yakuza.
Fukunishi segera beramah-taman terhadap mereka yang nampak sudah diatas usia enam puluh tahun, mereka hanya bertiga dan ekspresi mereka gabungan dari muka lelah, acuh senioritas dan karakter kaku budaya mereka.
Terlihat dari gerak tubuhnya yang bolak balik membungkuk dan tertawa ekspresif, mereka pasti para bos yang tadi siang diceritakan, sementara mereka yang berbadan tegap dan menyereti tas koper sudah barang tentu pengawal rombongan ini.
Ia mengenali tato topeng Oni (Iblis dalam mitologi Jepang) menggigit Wakizashi (Belati khas Jepang) yang terpatri kecil pada punggung telapak tangan beberapa orang dari mereka. Ia melemparkan senyum kepada seluruh rombongan setelah diperkenalkan oleh Fukunishi sebagai Interpreter.
Para ekspat senior menyambut dengan ramah, sementara para pengawalnya terlihat kaku dan acuh. Ia mengenali salah satunya yang mencolok dengan kepala besar plontos dan mata kanan tersayat oleh luka hingga ke pipi bawah.
Rangga yang membubuhkan luka itu di wajahnya tiga tahun lalu. Kini, ia sedang menahan senyum di wajahnya demi menertawai akan apa yang takdir pertemukan kembali padanya.
Oni wa Soto*, serunya dalam hati.
TL Note :
Diambil dari ungkapan pada Tradisi Setsubun, Setsubun (節分, pembagian musim) adalah nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim.
Perpaduan upacara mengusir arwah jahat di rumah dengan Mamemaki (melempar kacang), Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucapkan mantra "Oni wa soto, fuku wa uchi" (Setan ke luar, Keberuntungan ke dalam)
__ADS_1