Null Eksistensia

Null Eksistensia
18. Rahayu, JAGAWANA!


__ADS_3

Keduanya saling menatap tajam dengan kedua tangan mencengkeram erat pedang kayu yang bersilangan pada ujungnya, setengah berjongkok saling berhadapan.


Lalu perlahan mereka bangkit berdiri nyaris bersamaan tanpa bergeser posisi sedikitpun. Kebisuan diantara keduanya terasa menyesakkan atmosfer ruangan yang sejatinya luas.


Mereka yang menonton pun tersedot dalam ketegangan yang senyap. Tidak ada suara-suara, semuanya menunggu siapa yang akan mengambil langkah.


Seolah mereka dapat mendengar detik jarum jam bergeser, dan lirih kipas pendingin ruangan.


Rangga melihat Asano yang masih mantap menantangnya berinisiatif membuka serangan.


Satu ayunan vertikal dengan lengkungan besar yang Rangga lepaskan hanya keras menghantam bilah pertahanan Asano, yang seketika menyusutkan jarak serta melancarkan tebasan pendek secepat kilat kearah leher Rangga.


Asano merasa percaya diri bilah pedangnya akan mendarat mulus. Langkah pendeknya berderap mantap, Matanya berkilat. Ayunan pedangnya deras dan keras.


Penonton menahan napas mereka. suara benturan keras kayu menggema memecah hening.


Asano kemudian merasa kecele karena ternyata Rangga sudah setengah badan bergeser ke kanan, ayunan cepat sekuat tenaga yang ia kerahkan justru ditepis Rangga, bilah pedangnya sudah melintang diagonal menepis serangan, sehingga tubuh Asano terhuyung oleh tenaganya sendiri.


Ia lagi-lagi merasa mati langkah, di sudut matanya Rangga sudah beringsut dengan postur serangan balik, aura beringasnya kembali terasa menyeruak.


udara yang terbelah terdengar menderu.


Rangga melepaskan tebasan kedua yang berhenti beberapa centimeter diatas bahu kiri Asano sebelum ia mampu bereaksi.


Rangkaian kejadian ini berlangsung hanya dalam tempo lima detik. Serta, ini sudah ronde ke dua belas.


"Haik!"


Hakim pertandingan yang tidak lain adalah Yakuza anak buah Asano, memberi tanda.


10-2 untuk kemenangan Rangga. Sesuai kesepakatan, Ronde ke dua belas adalah penutup.


Penonton kembali bernapas normal.


Duel yang sakral dan sesekali diselingi perang urat syaraf telah berlangsung selama 90 menit.


Keduanya menyampingkan Pedang dan saling bungkuk memberi hormat. Wajah keduanya bermandi peluh.


Rangga pun merasa peluh sudah mulai menembus kaos oblong dalamannya dan merembesi kimono biru yang ia kenakan.


Pelayan kemudian membawa meja kecil untuk memisahkan keduanya yang saling berhadapan duduk bersila.


Sake dan sekaleng Cola dingin disuguhkan diatasnya.


Rangga dapat melihat raut keheranan Asano melihat sekaleng minuman Cola di depannya. Tapi Asano urung bertanya karena ia lebih dulu membukanya.


"Teknikmu masih bagus, namun sepertinya sedikit lambat dibandingkan dulu."


"Aku sudah hampir tidak pernah berlatih, tidak ada waktu juga," jawab Rangga.


Baik Chie dan Fukunishi hanya berdiri mengawasi mereka sejak tadi, bersama berapa anggota Klan mereka yang lain.


Asano sepertinya menyewa penuh Gym di Hotel mewah ini untuk keperluan Sparring mereka.


Tidak terlihat pengunjung Hotel lainnya yang menggunakan fasilitas sejak pagi.


Rangga atas dasar menghormati, berinisiatif menuangkan Sake.


Asano kemudian melirik kepada Chie, dan sekertaris muda itu kemudian hati-hati mendekati mereka.


Meletakkan Map biru di sebelah meja sebelum kemudian kembali ketempat semula.


"Sewaktu semalam aku menyinggung soal Kantormu, sebetulnya aku tidak sedang bercanda, kurasa perlu kau melihat ini."


Rangga menerima Map biru yang Chie sebelumnya letakkan. Ragu-ragu ia meraih dan berpikir untuk mengecek isinya.


"Ada orang dari kantormu yang berhubungan dengan pihak berwenang lokal, dan berpotensi mengusik kepentingan Proyek Magna Carta," tutur Asano. Rangga mendengarkan saja sambil kembali menuang Sake.


"Aku ingat kau bilang, kau sudah tidak peduli dengan urusan semacam ini lagi. Tapi mungkin saja kau berubah pikiran setelah melihat isinya," imbuhnya. Asano kembali mereguk Sake yang dituangkan untuknya.


Rangga berdebar membuka halaman pertama laporan yang dibundel pada Map itu. Hanya untuk terbelalak mendapati informasi yang tertuang di dalamnya.


Deg! Jantungnya serasa terhenti sedetik.


Map itu berisi biodata dan lampiran foto orang yang sangat ia harapkan tidak ada di sana, tuan Puterinya Nina, berapa jepretan bahkan nampak diambil baru-baru ini, lalu sisanya berisi informasi kendaraan dan serta tempat tinggal. Sekaligus informasi tambahan seperti keluarga dan pekerjaan.


Pikirannya kemudian menyadari fakta yang lebih besar lagi tentang Map yang ia pegang kini, ini adalah Target Dossier.


Semacam kumpulan informasi yang biasa ia dapatkan untuk target yang perlu ia habisi semasa masih aktif bertugas di Biro dulu. Ini juga biasa digunakan oleh pembunuh bayaran atau mereka yang bermaksud melenyapkan seseorang.


"Apa maksudnya ini!" tanya Rangga, tenang namun tegas.


"Kau bertanya, atau kau sekedar bingung? Kau jelas tahu apa yang sedang kau baca."


"Kalian yang membuat kontrak untuk menghabisi gadis ini?"


"Kau mungkin berpikir kami semua ini sekedar penjahat, karena dasarnya kelompok Keluarga Yakuza kami yang ada di belakang Olympus Investment" Asano meletakkan gelas Sake dan menyeka bibirnya. "Tapi perlu kau ketahui, Olympus berbisnis secara legal di negara ini, sehingga kami tidak perlu melakukan hal merepotkan semacam itu. Entahlah kalau pihak 'yang lain'."


" 'Yang Lain'?"


"Pihak-pihak yang berkepentingan lebih dari sekedar bisnis, selain kami tentunya, yang berada di balik layar Proyek Real Estate Swarnadipa. Pihak-pihak yang berpontensi terusik,"


"Kalau bukan kalian, lantas siapa yang mengumpulkan ini?" tanya Rangga kembali, ia masih bisa menguasai dirinya kendatipun sejatinya mulai cemas.


Asano kini mengisi sendiri gelas Sake nya, ia tersenyum kecil kearah Rangga,


"Itu aku sendiri pun tidak tahu, Sepertinya kami cuma di kirimkan Dossier Ini dan ditawari kontrak untuk pelenyapan target, asal bersedia membayar sejumlah uang,"


"Kami? Maksudmu mereka yang berpotensi kepentingannya terusik?"

__ADS_1


"Tepat. Para petinggi Investor dari Proyek Magna Carta nya Swarnadipa, terutama orang dunia hitam yang bermain dan berpotensi terganggu operasionalnya, karena ulah gadis itu. Mereka yang mencari dan mencuci uang dari jalur haram. Gadis itu sedang menggoyang celengan ayam para Mafia," terang Asano.


"Jadi satu dari mereka kemungkinan menyanggupi penawaran itu, tapi bukan kalian? Bagaimana aku bisa yakin kau memberi tahu ini tanpa ada motif lain?" cecar balik Rangga, dengan sejumput sarkasme.


"Anggaplah aku ada motif lain, tapi yang jelas kami tidak mengambil penawaran itu."


Asano kembali mereguk Sake-nya dan meletakan dengan keras gelasnya ke meja. Raut wajahnya tegas menatap Rangga.


Sementara itu di dalam kepala Rangga, kecemasan dan cabang pikiran mulai terbentuk. Ia memikirkan semua kemungkinan terburuk berdasarkan informasi Asano barusan.


Asano memang Yakuza dan jelas bukan orang baik apalagi martir, namun Rangga pun bisa membedakan ceritanya aapakah sekedar bualan atau bukan.


Ia juga kini mengkhawatirkan keselamatan Nina, Target Dossier dalam dunia kejahatan hampir seperti vonis kematian bagi sasarannya. Cuma masalah cepat atau lambatnya saja hal itu dijalankan.


Mereka yang merangkum dan menawarkan ini sudah tentu melihat potensi besaran uang yang bisa diperoleh, dan paham krusialnya dampak bagi klien yang mereka tawarkan. Terlepas siapapun mereka yang Rangga sendiri belum jelas.


Ini juga berarti siapapun mereka, besar kemungkinan kelompok pembunuh bayaran profesional. Target Dossier yang mereka susun untuk Nina sedemikian komprehensif nya, ini sesuatu yang serius.


"Olympus berbisnis secara sah di Indonesia, masih ada jaminan hukum untuk investasi yang masuk seandainya temanmu 'bernyanyi' dan Swarnadipa melakukan Wanprestasi karena segalanya kacau balau. Akan tetapi, berbeda cerita untuk sindikat kejahatan yang menumpang beroperasi melalui proyek Magna Carta, mereka tidak segan menghabisi akuntan muda yang super idealis seperti itu," lanjut Asano.


Rangga benci mengakuinya namun sejauh ini penuturan Asano masuk akal, yang artinya pada tiap menit waktu yang berlalu apapun bisa terjadi.


Rangga tidak mau membuang waktu lagi dan bangkit dari duduknya lalu permisi undur diri. Ia tengah berjalan keluar pintu Gym ketika Asano berseru,


"Apapun yang ada di kepalamu sekarang, sebaiknya kau pikir matang-matang. Sebelum kau mengacak seisi Jakarta cuma demi gadis itu, ingatlah bahwa tidak ada jalan keluar mudah dari masalah sebesar ini!"


"Aku tahu," Rangga terhenti dan menoleh balik.


"Terimakasih untuk jamuan pagi ini," Rangga membungkuk memberi hormat kembali dan melangkah pergi.


Asano mengawasi sosoknya menghilang dari ruangan.


***


Selesai membersihkan diri, Rangga bergegas untuk segera meninggalkan Hotel tempat Asano menginap.


Ketika keluar dari Lobby, Chie mencegatnya.


"Oyakata-sama memintaku menyerahkan ini," ucapnya, seraya menyerahkan amplop coklat tebal.


Rangga menerima amplop tersebut dan mengintip isinya, setumpuk kecil uang.


Bayaran tiga hari kerjaannya, pikir Rangga.


"Sampaikan terima kasih kepada Asano-san."


Notifikasi handphonenya menyusul berbunyi, Rangga meraihnya dan mengecek sederet angka dan alfabet yang masuk berasal nomor tidak dikenal.


Alamat Cryptocurrency.


"Ia juga memintaku menyampaikan itu," sambung Chie.


Rangga mengangguk dan kemudian berpamitan, dalam perjalanan menuju parkiran ia mencoba menelpon Nina.


Satu sisi ia berpikir mungkin saja tuan Puteri nya sedang sibuk atau tidak bisa diganggu, pada sisi lain ia cemas sesuatu yang buruk akan menimpanya.


Rangga mendengkus, ia kemudian menggulir kontak ponselnya dan setelah sempat ragu, ia melakukan panggilan.


Setelah beberapa siklus dering, telepon tersambung ke meja Resepsionis kantornya. Rangga menanyakan keberadaan Nina kepada Ayu si Resepsionis, namun ternyata Nina tidak hadir hari ini karena tidak enak badan.


Setelah sedikit membujuk akhirnya Ayu memberikan alamat rumah Nina kepada Rangga. Satu pesan masuk berisi koordinat, Rangga mengetuknya dan peta digital terbuka. Sejurus kemudian, ia sudah melaju sekencang-kencangnya di jalanan Jakarta.


Satu pesan masuk berisi berbagi lokasi dari Ayu, Rangga mengetuknya dan peta digital terbuka. Sejurus kemudian, ia sudah melaju sekencang-kencangnya di jalanan Jakarta.


***


Sudah sejak pagi Nina hadir memenuhi panggilan  Satgas Pelaporan dan Analisa Kejahata Keuangan, ia diminta memberi keterangan lanjutan atas pelaporan dan bukti yang sebelumnya ia berikan.


Ia sendirian saja menghadapi pertanyaan dan penyelidikan dari penyidik yang jumlahnya tiga orang itu, pertanyaan bergulir mulai dari hal yang simpel terkait latar belakangnya hingga menjelang siang beralih pada yang bobotnya lebih berat, seperti kronologi temuan serta berang bukti yang ia suguhkan.


Setelah tujuh lebih menjawab serangkaian pertanyaan yang diajukan, Nina mulai merasa kelelahan dan sedikit lapar. Penyidik yang salah satunya perempuan menawari untuk istirahat sejenak, namun Nina menolak dan memilih untuk melanjutkan prosesi supaya tidak banyak membuang waktu.


“Saya ingin pemanggilan saya selesai sore ini juga,” ucapnya kepada si Penyidik.


Hari ini ia kembali izin tidak masuk kerja dengan beralasan kurang enak badan, sehingga sewaktu ponselnya bergetar terus-menerus ia pikir itu telepon penting dari kantor.


“Silahkan diangkat sekiranya penting,” tawar salah satu Penyidik pria yang paling senior.


“Maaf,” balas Nina yang kemudian merogoh isi tas.


Ia kemudian terheran dengan nama penelpon yang masuk, Rangga. Ada puluhan pesan Whataspp yang juga belum terbalas termasuk dari Friska dan Nathan. Tumben sekali pikirnya Rangga menelpon sesorean ini, terlebih dia sendiri sedang menjalani skorsing seminggu.


Rangga kembali menelpon dan kali ini ia putuskan untuk menolak dan mematikan ponselnya. Ia memilih untuk fokus menyelesaikan pengambilan keterangan oleh penyidik.


“Tinggal beberapa pertanyaan terakhir, Bu Dyah. Apa bisa kita lanjut?” tanya mereka.


“Baik, kita lanjutkan!” jawab Nina.


Sudah lewat pukul 16.00 ketika seluruh prosesi selesai, Nina merasakan kepenatan luar biasa di sekujur badan, termasuk capek pikiran dan lapar.


Para Penyidik mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang ia berikan, serta keterangan dan bukti yang sedang mereka kembangkan. Melihat besarnya entitas yang terlaporkan, mereka bilang akan butuh waktu sedikit lama untuk pengembangan dan penindakan awal.


Para Penyidik juga menjanjikan kerahasiaan identitasnya demi keselamatan dan perlindungan hukum jika memang kemudian dirasa perlu.


Setelah selesai berbasa-basi ia berpamitan pulang. Lebih banyak pesan masuk ketika ponselnya kembali dinyalakan di parkiran, dan ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Nathan.


Ia teringat janji menghadiri acara peresmian proyek Magna Carta bersama Nathan hari ini, antara rasa lelah dan namun sudah terlanjur berjanji, Nina menghubungi kekasihnya itu.


“Kamu kenapa, aku telpon kantor katanya sakit. Tapi aku cari kerumah juga nggak ada, kamu sekarang ada dimana?” Nathan mencecar seketika panggilan tersambung.

__ADS_1


“Aku keluar ada perlu, kamu tolong jemput di Salon nya Stefi ya?” balas Nina selagi memasang sabuk pengaman nya.


“Okay, aku jemput sekitar jam tujuh malam. Kamu yakin mau pergi? Kalau memang capek ya istirahat aja,”


“Tenang aja. Aku baik-baik aja kok,” jawab Nina meyakinkan.


Senja kian merapat ketika mobil mungil itu melaju keluar lahan parkir dan berbelok menuju jalan raya.


***


Seperti pembalap kesetanan Rangga memacu skuternya menyelisihi lalu lintas sore, meliuk diantara celah-celah kecil barisan mobil yang merayap, sering kali bermanuver nekat dengan jarak tipis.


Beruntung skutermatiknya ramping dan mungil sehingga gesit bergerak dari ruang ke ruang kecil pada kepadatan lalu lintas.


Pikiran yang menggantung di benaknya sekarang hanya bagaimana secepat mungkin mencapai tempat tinggal Nina di Jakarta Selatan sementara jalanan semakin lama semakin padat.


Setiap menit adalah waktu yang tidak boleh tersia-siakan.


Ia acuhkan saja klakson protes maupun makian pengemudi lain yang terganggu akan aksi ugal-ugalan nya. Juga kemungkinan besar bahwa kali ini, dia harus kembali menjadi dirinya yang dulu.


Sebesar apapun ia benci mengakuinya, namun saat ini segala sumber daya dan kecakapan nya sewaktu aktif bertugas dulu akan sangat membantu. Namun itu perkara nanti, sekarang soal bagaimana memastikan keselamatan tuan Puteri nya.


Rangga memelintir gas lebih dalam lagi menghadapi ruang yang sedikit lengang di jalanan depan nya, skutermatik itu melejit dengan raungan kasar.


Sementara di pelataran parkir Gedung Satgas Pelaporan dan Analisa Kejahata Keuangan, Penyidik Hasan bermaksud pulang lebih dulu setelah hampir seharian menghimpun keterangan pelapor untuk kasus Swarnadipa yang ia terima.


Sebagai penyidik senior dari segi pengalaman dan usia, ia menyerahkan proses pasca penghimpunan keterangan ini kepada kedua seniornya. Untuk sesaat ia terhenti sebelum masuk ke mobilnya, merasa ada yang mengawasi.


Akan tetapi parkiran menjelang petang ini sangat lengang, tidak ada seseorang pun selain dia. Setelah menyingkirkan paranoia nya, Hasan masuk kedalam mobil nya.


Mobil tua keluaran tahun 2010 itu bergerak perlahan meninggalkan lahan parkiran dan berbelok untuk bergabung ke jalan raya.


tiba-tiba ada kilasan lampu terang beberapa kali dari sisi kananya.


Hasan hanya mampu mencengkram erat setirnya dan pasrah ketika dari arah kanan datang sebuah mobil Tangki berkecepatan tinggi. Klakson nya menyalak nyaring memekakkan petang.


Benturan keras dan suara decitan nyaring bergejolak di sela adzan magrib.


Mobil tua itu remuk terhempas dan terguling beberapa kali berderit di aspal. Lalu segalanya menghitam.


***


Rangga kini sudah tiba di depan rumah kecil yang Ayu informasikan. Tidak ada mobil Nina terlihat di halaman dan tidak ada tanda-tanda orang di rumah.


Rangga berusaha memastikan dengan menggedor-gedor pagar akan tetapi tetap tidak aja jawaban. Ia mencoba menelepon Nina kembali, panggilan tersambung namun tetap tidak di angkat.


Dalam keputusasaan ia mengakses daftar kontak pada ponselnya, menggulir ke sebuah nama, Laundry Sinar Jaya.


Ragu-ragu ia mempertimbangkan akan menghubungi nomor itu atau tidak, tapi keadaan kini mendesak. Rangga memutuskan untuk menelpon.


"Layanan Binatu Sinar Jaya, ada yang bisa dibantu?" terdengar jawaban dari seorang perempuan di seberang telepon.


"Kode Pelanggan, 555-913!" balas Rangga.


"Kode Diterima. Request Order?"


"Aku ingin pelacakan untuk nomor +62118821007. Kirim detil penelusuran, serta update setiap kali ada pergerakan. Payment by the House," seru Rangga seraya menyalakan sepeda motornya kembali.


"Silahkan tunggu... Detil sudah dikirim, terima kasih." Panggilan telepon terputus.


Satu pesan tidak bernomor masuk berisi koordinat terakhir pelacakan nomor yang dia minta. Rangga mengintegrasikan hal itu pada layanan peta di ponselnya dan mengatur rute terdekat.


Sebelum ia melajukan kembali motornya, sebuah panggilan tanpa nomor masuk ke ponselnya. Rangga tanpa ragu mengangkat telepon dan suara laki-laki menyambutnya di seberang. Ia tahu jelas siapa yang kini mengubunginya.


“Sudah lama lo ngga hubungi gue, kabar baik bro?”


“Sayangnya ngga. Malam ini gue mungkin perlu bantuan,” jawab Rangga.


“Semua bisa gue bantu, asal harganya cocok aja!”


“Baguslah, Bisnis kayak biasanya berarti. Pelacakan yang barusan gue anggap lo bayar hutang, gue akan kirim nomor rekening Cryptocurrency dan gue perlu tahu informasi yang berhubungan dengan itu.”


Rangga memerintah sekaligus meneruskan pesan yang Chie kirimkan kepadanya.


“Sabar dong Mr. Bond. Jasa begini repotnya, lo tentu sadar kalau gue ngga akan segan kutip harga mahal 'kan, Gimana?” tawar suara di seberang telepon.


“Deal! Lo sekarang adalah mata dan telinga gue lagi di udara, Garuda. Gue perlu tahu keberadaan target yang dilacak, kalau perlu kemana dia menuju. Pembaharuan ke gue berkala tergantung prioritas!”


“Walah-walah, kok masih inget aja lo sama Callsign lama gue. Jadi bikin kangen masa lalu ngga sih ini?” Garuda berseloroh di telpon.


“Okay, selama handphonenya masih ada baterai, dalam kondisi mati sekalipun masih bisa gue triangulasi melalui log Menara BTS. Rekening Crypto yang lo kirim masih gue akan ditelusuri lebih jauh. Pastinya, sebentar aja gue bisa tahu itu terkait Target Dossier dari cewek yang lo minta lacak ini bukan?”


Rangga memutar balik skutermatiknya, menyambungkan earpiece ke ponselnya. Ia melirik jam digital di sudut layar, pukul 18.30 petang.


“Bagus, terus telusuri. Gue perlu tahu siapa dibalik Dossier tersebut,” tukas Rangga.


“Siapa pun mereka, jelas bukan kelompok receh-receh. Lo perlu tetap berhati-hati, ya gue tahu kok lo ini jago tapi seringkali orang bucin mikirnya pendek,” ledek Garuda.


“Bucin kepalamu,” balas Rangga memprotes, sementara Garuda tertawa puas di telepon.


"Haha. Lima tahun lho gue ini bertugas lapangan sama lo, Wana. Baru ini gue denger intonasi lo tidak kalem kayak biasanya, dan karena cewek juga. Ajaib banget ngga sih?"


Rangga tidak menjawab dan menggeber motornya kembali meninggalkan komplek perumahaan tersebut.


“Anyway, Rahayu Jagawana!” kata Garuda kemudian. Intonasinya berubah serius kali ini.


Panggilan telepon ditutup. Garuda menyandarkan postur kurusnya pada kursi Gaming yang ia duduki, di hadapan enam belas layar LED yang tersusun 4x4 dan tersekat layar hijau besar belakang kursinya.


Ruangan itu redup, hanya berpenerangan lampu warna-warni sepasang keyboard, headset besar dan kesing komputer yang berpendar di lensa kacamata ramping nya.. Satu neon besar bertuliskan SJ Gaming menempel di dinding kamar.

__ADS_1


Jempol kakinya menekan tombol pada kesing komputer ketiga untuk menyalakan nya, monitor lebar melengkung yang ada di meja menyala dengan baris-baris perintah program berlarian tergulir pada jendela aplikasi berwarna hitam.


Garuda meregangkan bahu dan jemarinya, wajahnya nampak antusias meski dihiasi kantung tebal pada kedua mata sipitnya. Jendela program lenyap dan berganti logo timbul bertuliskan DSMK Surveilance System.


__ADS_2