
Langit Jakarta sudah berubah gelap terbias gemerlap lampu metropolitan yang menyambut malam. Rangga berpacu dengan waktu menuju sebuah Salon di Jakarta Barat, dalam-dalam mencengkram tuas gas motornya serta berkelok-kelok menyalip lalu lintas seperti orang yang mencari maut di persimpangan jalan.
Seketika terdengar bunyi letupan keras menginterupsi raungan mesin yang tersiksa dan ia merasa ekornya kehilangan kendali, dengan sigap ia bermanuver memotong ke kiri jalan memainkan rem depan dan belakang.
Hampir saja sebuah mobil dan pengguna sepeda motor lain menghantamnya kalau saja ia tidak gesit membanting arah. Terdengar klakson motor dan mobil bersahutan panjang.
Ia berhasil melepaskan motornya dan melompat berguling di tepian jalur tanpa terluka kecuali beberapa robekan kecil pada kemejanya. Beberapa orang berusaha membangunkan motornya yang terguling, serta menanyakan keadaannya.
Beberapa orang menonton dan menyumpahinya karena tersalip dengan ganas sebelumnya.
“Makasih Mas. Saya enggak apa-apa.” ucap Rangga kepada mereka, napasnya sedikit tersengal.
Saking kencangnya ia memacu skutermatik tua itu, ban belakangnya meletus karena gesekan liar dengan aspal ketika dibanting dalam manuver liar. Selain itu, Velg belakang ikut penyok entah menghantam apa.
Selesai insiden nyaris celaka barusan, Garuda kembali menghubunginya melalui nomor tak terdaftar.
“Ada perkembangan terbaru?” tanya Rangga, napas nya masih sedikit terengah.
“Wana, lo perlu dengar ini. Rekening Crypto yang tadi lo kasih sudah menghilang. Artinya…”
“Artinya sudah ada yang membayar Kontraknya. Sudah ketahuan siapa mereka?” Rangga setengah berteriak bertanya di tengah kebisingan.
“Sudah. The Roundtables, kelompok pembunuh bayaran asal Eropa Barat yang berusaha meluaskan jaringan di Asia Tenggara,” jawab Garuda.
“Gue juga sedikit menjelajah Dark Web, menelusuri forum terbatas yang isinya kumpulan pembunuh bayaran, penjahat professional, atau orang yang berkepentingan menggunakan jasa mereka. Anggaplah marketplace tapi untuk bisnis menghabisi nyawa orang,” lanjutnya.
Rangga diam mendengarkan dengan seksama.
“Pengelola forum itu secara berkala mengunggah kumpulan Dossier yang kontraknya bisa diambil dengan sistem lelang, biasanya yang nilai uangnya tinggi. Gadismu itu termasuk di dalam daftar, Roundtables yang mendapat kontraknya,”
Rangga terdiam menggelutukan giginya, matanya memejam dalam-dalam meresapi informasi barusan, mencengkram ponselnya erat. Ia hampir setengah menyumpah mendapati segalanya makin kusut tak tentu arah.
Celaka dua belas, Apa yang sebenarnya telah kau lakukan tuan Puteri? pikir Rangga.
“Artinya, gue nggak punya banyak waktu,” kata Rangga.
“Kurang dari 24 jam, sebelum deadline kontraknya wajib dipenuhi!” Garuda menimpali. “Gadismu itu dijanjikan untuk lenyap dalam 1x24 jam, mungkin itu salah satu alasan kontraknya mahal.”
“Kalau gue berhasil menggagalkan mereka dalam 24 jam, kontrak dibatalkan!?” tanya Rangga.
“Roundtables wajib membayar penalti, Bid mereka hangus. Tetapi ada kemungkinan dioper ke kelompok lain. Aturan main dari Pengelola yang gue ketahui dan wajib dipatuhi seluruh ‘pemain’ isinya begitu,”
“Okay. Hal yang utama dulu. Itu soal belakangan,” seru Rangga.
“Gue benci kalau lo sudah bicara begitu, biasanya menyusul keluar ide yang enggak masuk akal,” celetuk Garuda, dalam ruangan gelapnya ia kembali bersandar ke kursi dan menanti.
Rangga berusaha berpikir jernih dan tenang sekaligus menyerap informasi yang sejauh ini diberikan, Ia sekarang yakin kalau malam ini akan jadi malam panjang.
Garuda tidak melanjutkan mini-brifing di telepon dan memilih menunggu, Rangga mengatur napasnya dan melayangkan pandangan ke Reklame raksasa di tengah pembatas jalanan.
Ke arah wajah jelita tuan Puterinya yang terbingkai Reklame raksasa pada iklan kosmetik, dan berderetan dengan Reklame iklan Kota Baru Magna Carta milik Swarnadipa.
Mereka memang masih belum bisa menyimpulkan siapa pihak yang menyanggupi nilai kontraknya Nina, namun yang jelas tuan Puterinya kini terancam bahaya.
Ia seperti berada pada percabangan jalan. Satu yang akan menuntunnya kembali kepada segala hal yang ia berusaha tinggalkan dan kehilangan kehidupan sederhananya kini, sementara apabila ia terus melaju dan mengabaikan maka kemungkinan ia akan kehilangan Nina.
Rangga mengerti dilema yang ia hadapi kini akan menggiringnya mengambil keputusan yang emosional, tapi itu juga keputusan paling logis yang terpikirkan sekarang.
Keputusannya sudah bulat untuk terjun langsung ikut campur dalam kekacauan ini.
“Garuda…Batalkan Protokol Trisula,” ucap Rangga dengan tegas.
Garuda yang masih terdiam membisu, perlahan mencondongkan tubuh kurusnya ke arah mikrofon besar di meja. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Rangga akan sampai mengambil keputusan sejauh ini.
“Lo yakin dengan keputusan ini, Wana?” tanya Garuda.
“Protokol itu kita sendiri yang terapkan lebih dari dua tahun yang lalu untuk mengubur semua jejak masa lalu lo. Pembatalan itu tidak hanya sekedar aktivasi dan pengalihan balik segala aset yang lo punya, tapi juga menyianyiakan upaya dan cita-cita yang jadi alasan dulu itu kita terapkan.”
Garuda terdengar berupaya membujuk Rangga untuk berpikir ulang. Kalimatnya lugas dan suaranya dalam.
“Cepat atau lambat mereka yang berurusan dengan lo di masa lalu pasti akan mengendus juga. Lo yakin ini pertukaran yang ekuivalen untuk semua hal itu?” lanjutnya.
Kali ini Rangga yang ganti terdiam, Trisula adalah nama serangkaian upaya yang ia dan beberapa orang kepercayaannya lakukan untuk mengaburkan identitasnya dulu, serta mengalih kelola segala aset yang ia miliki.
__ADS_1
Simpelnya mereka membunuh Jagawana, dan menghidupkan Rangga yang sama sekali tidak terasosiasi dengan semua hal yang Jagawana punya. Garuda adalah salah satu pihak yang ia percayai mengurusi semua aset sepeninggalnya.
“Iya. Sepertinya ini cuma satu-satunya cara,” tegasnya.
Terdengar suara Garuda yang menghela nafasnya di telepon.
“Gue sih enggak mau berdebat soal statemen terakhir itu, gue hanya mengingatkan selaku pengelola aset lo. Semua resiko pada akhirnya ditanggung penumpang…Oke deh, gue perlu konfirmasi verbal untuk penguat bukti,” kata Garuda.
“Protokol Trisula dianulir!”
“Konfirmasi diterima, segala aset terkelola akan beralih kembali ke identitas lo yang sekarang selambat-lambatnya 1x24 Jam. Akses Safe House juga dipulihkan. Ada hal lain yang lo perlukan?” tanya Garuda.
Rangga yang masih memandangi papan Reklame kemudian teringat sesuatu, ingatan fotografisnya mengulang kejadian kemarin, merefleksikan layar presentasi besar Swarnadipa dan pengumuman acara Jamuan untuk para Kolega Swarnadipa.
“Iya. Tolong kirimkan Cara Package yang biasa. Juga Setelan Jas BEASTCAPE gue yang kalian simpan.”
“BEASTCAPE? Sepertinya, lo memang sudah siap berperang ya?” celetuk Garuda.
BEASTCAPE adalah merk agensi penjahit yang menerima pesanan Setelan Jas Anti-peluru, seperti yang Rangga miliki.
Terdengar suara ketikan keyboard di telepon, Rangga menunggu pesanannya dikonfirmasi.
“Care Package, Ready. HK 45 & HK 416 DMR plus Gagang Vertikal dan teleskop ATPIALc. Tiga magasin kaliber .45 ACP & 5.56mm sebanyak lima buah. Itu aja, Romeo?” tanya Garuda mengkonfirmasi.
“Motor gue rusak. Pinjam mobil,” pinta Rangga.
“Hadeh, emang repot urusan sama Lo ini. Kurir gue sebentar lagi kesana dengan mobil, pastikan waktu Lo balikin ke gue kondisinya masih utuh dan bensin penuh,” jawab Garuda.
“Sementara kita ngobrol, gebetan Lo dijemput pacarnya tuh. Berdasarkan pantauan CCTV mereka menuju Jakarta Utara,” imbuhnya.
“Gue tahu mereka menuju kemana kok,” balas Rangga.
“Baiklah, kalau ada perkembangan terbaru gue bakal hubungi. Ada firasat gue juga mesti siap-siap angkat kaki dan konsolidasi usaha gue,” gerutu Garuda, Rangga hanya merespon dengan tawa.
Sambungan telepon kemudian terputus, dan Rangga kembali termangu menatap Reklame ditengah jalan.
Tunggulah aku tuan Puteri, gumamnya.
Rangga pun sendirian menunggu hingga kurirnya datang. Sudah lewat dari pukul 1900 sekarang, petang sudah berangsur menjadi malam.
***
Nina menyanggul keatas rambutnya yang kemerahan dan biasa tergerai sebahu sehingga mempertontonkan leher jenjangnya yang mulus.
Malam ini ia mengenakan Gaun berwarna cerah keperakan yang berkilau diterpa cahaya lampu dan kilasan kamera.
Tampak anggun dengan riasan wajahnya yang sedikit glamor dan posturnya yang ideal, mengimbangi penampilan Nathan yang mewah.
Statusnya sebagai selebriti media sosial serta popularitas pasangannya sebagai pengusaha, menjadi perhatian awak media ketika keduanya tiba.
Ia tersenyum menawan kepada para wartawan dan antusias menjawab pertanyaan mereka.
Tidak sedikitpun nampak ekspresi lelah maupun enggan ketika tangan Nathan melingkari erat pinggangnya.
“Saya nunggu ada yang serius melamar,” selorohnya yang disambut reaksi beragam dari para wartawan.
Nathan terlihat tersenyum bangga dan bahagia.
Nina yakin seandainya karirnya sebagai akuntan akan kandas, setidaknya ia percaya diri mampu berkarya di bidang akting.
Swarnadipa Tbk sengaja memilih Restoran mewah di pinggir pantai Jakarta ini sebagai tempat berlangsungnya acara.
Ada 500 lebih undangan khusus yang hadir malam ini. Akses ke Restoran ini pun ditutup demi kenyamanan dan keamanan acara.
Keduanya kemudian pamit dari awak media dan bergegas masuk ke dalam, menyusuri karpet merah dan gapura buatan yang indah.
Dengan elegan Nina mengenyahkan tangan Nathan selagi menyapa dan berpelukan dengan tamu perempuan yang ia kenal.
Nathan berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
Ada lebih dari seratus meja dipersiapkan untuk para undangan, dengan pemandangan debur ombak yang tidak jauh dari tempat acara. Beberapa awak media yang memiliki undangan khusus juga terlihat membaur.
Mereka juga membuat semacam panggung dengan Band yang tanpa henti menghibur. Ada gelas yang disusun seperti piramida berisi minuman, bahkan miniatur berputar logo Magna Carta yang terbuat dari pahatan balok es.
Ia menyempatkan mengambil foto bersama beberapa tamu yang ia kenal, untuk unggahan media sosialnya.
Nina menemukan Elsa dan Dendhy membaur dengan para tamu undangan dan keluarganya Nathan.Ada beberapa wajah ekspatriat asing juga diantara hadirin yang hadir.
Tak lama kemudian ia dan Nathan memilih duduk di dekat kumpulan koleganya dari KAP Elsa dan Rekan. Nina bisa melihat Elsa seperti gelisah tidak nyaman dengan keberadaannya, sekalipun asik berbasa-basi dengan Nathan.
Apakah dia sudah tahu, perihal laporan dan pemanggilan hari ini? Ia bertanya dalam hati.
Tapi kemudian ia memilih untuk bersikap normal dan menyikapi sikap atasannya dengan biasa saja. Toh is sudah siap sejak awal dengan segala konsekwensinya.
Band berhenti bernyanyi dan James Surya, ayah Nathan sekaligus pimpinan grup Swarnadipa naik ke panggung menyampaikan sambutan kepada khalayak yang datang. Sosok tambun itu nampak sumringah dan bangga diterpa lampu penerangan sementara sekitar panggung dibuat temaram.
Hadirin nampak antusias dan beberapa kali menghaturkan tepuk tangan riuh.
Nina tidak sibuk mendengarkan sambutan yang James berikan dan lebih memilih memeriksa pesan-pesan WhatsApp yang masuk sejak pagi.
Friska mengabarkan soal materi berita yang siap turun seandainya Laporan terkait Swarnadipa meledak.
Lalu beberapa pesan dari keluarga dan orang tuanya yang menanyakan kabar, selain ratusan pesan yang belum terbaca di grup alumni.
Terakhir satu pesan dari Rangga, menanyakan keberadaannya. Tumben orang ini, apa karena pesan nya dibalas, pikir Nina.
Selama enam bulan mereka kenal di pekerjaan, jarang sekali padahal Rangga mau menegurnya. Ia selalu nampak canggung dan menjaga jarak, serta tidak pernah absen bersikap seperti layaknya bawahan dan atasan sekalipun sejatinya Nina sendiri termasuk orang yang cuek perihal strata jabatan.
Riuh tepuk-tangan hadirin mengembalikan Nina ke tengah acara, Ayahnya Nathan sudah turun panggung dan Band kembali membawakan beberapa lagu Jazz milik Frank Sinatra.
Acara sudah resmi dimulai dan para hadirin mulai saling berbaur, atau menyantap hidangan.
__ADS_1
Nina kemudian menghabiskan waktu mengobrol dengan kedua orang tua Nathan, kendatipun ia sedang dalam fase berusaha mengakhiri hubungan mereka, namun orang tuanya dan orang tua Nathan sudah saling mengenal baik.
Kalaupun hubungan mereka kandas, ia merasa silaturahmi harus tetap terjaga. Lagipula, sejak awal memang ia ingin mengakhiri semuanya dengan baik-baik.
“Sebentar ya, Om dan Tante. Dyah mau permisi ke toilet,” kata Nina.
Ia pun meninggalkan Nathan dan keluarganya serta hingar bingar acara menuju kamar kecil di dalam Restoran.
Besarnya acara yang Swarnadipa lakukan dapat ia lihat dari hiruk-pikuk ratusan puluhan staff yang ber lalu-lalang pada lorong akses Restoran, mengantarkan makanan dan minuman.
Ia bahkan melihat wajah-wajah asing yang berseragam Restoran, mungkin Cheff atau semacam itu pikirnya.
Beberapa troli makanan terlihat bersiaga menunggu diantar, sementara lebih banyak troli berjejer berisi bekas makan yang kotor menunggu dibawa masuk.
Ia kemudian berbelok ke arah toilet khusus tamu yang jauh lebih lengang, tidak menyadari sepasang mata yang membuntuti sejak dari tengah acara.
Cuma ada dirinya di dalam ruangan toilet yang luas dan sunyi.
Suara air keran wastafel yang ia putar bergemerisik menggema, disusul dering panggilan telepon, lagi-lagi dari Rangga.
Setelah sempat mepertimbangan untuk membiarkan saja, ia putuskan untuk menerima telepon pada penghilang kedua.
“Kamu ini enggak ada kerjaan atau gimana, dari pagi nelponin saya. Ada perlu apa?” tanya Nina dengan nada ketus.
Terdengar suara deru mesin lirih teredam dan perseneling dihentak keras lalu suara berdecit lirih, sebelum akhirnya Rangga menjawab.
“Nina, kamu sekarang berada dimana?” Rangga balik bertanya dengan intonasi tegas.
Untuk sesaat jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya.
Nina, bukan Bu Dyah. Sejak kapan dia berani memanggil nama? Tanya Nina, membatin.
“Saya tanya malah balik tanya. Kamu ada perlu apa, Rangga?” seru Nina sambil mematut cerminan sosoknya.
“Apapun yang kamu lakukan sekarang, jangan menjauh dari keramaian! Mengerti? Jangan menjauh dari keramaian!” teriak Rangga dengan suara yang putus-putus.
“Maksud kamu apa sih? Suaranya putus-putus nih,”
Nada panjang terdengar alih-alih jawaban dari Rangga. Nina kemudian memanggil namanya beberapa kali, tetap tidak tidak ada jawaban.
Ia melongok layar ponselnya, mengecek Jaringan Selulernya apakah mengalami gangguan. Ternyata tidak, statusnya sinyal penuh malah, namun panggilan terputus begitu saja.
Ia sejenak kembali menggerutu, dan sewaktu menoleh kembali ke cermin, nyaris saja ia berteriak histeris karena menyadari ada orang lain di belakangnya.
Wajah perempuan itu menatap tajam ke arahnya, berdiri mematung dengan sorot mata tajam penuh kemarahan.
Bu Elsa, kata Nina dalam hati.
Nina melemparkan senyum sekedarnya dan masuk ke salah satu bilik. Elsa tidak bereaksi.
Ia mengunci bilik dan duduk mengecek kembali ponselnya, terdengar suara kunci dari bilik lainnya juga.
Friska baru saja mengirim foto dan pesan, sebuah mobil tampak ringsek terguling di depan jalanan. Friska mengirimkan nama korban, Hasan Abdurrahman.
Deg!
Seketika Nina teringat penyidik senior yang ia temui seharian ini.
Hati-hati Non, Lo ada dimana sekarang? – Friska
Jakarta Utara, Ia bapak Hasan itu penyidik yang gue temui seharian ini. Makasih informasinya Friska. – Nina
Iya, gue kaget waktu dapat informasi dari anak yang turun liput. Gue langsung inget Lo, khawatir banget gue. – Friska
Gue lagi di acara Swarnadipa. Jangan panik, gue juga waspada. – Nina
Nina menutup WhatsApp dan mematikan layar ponselnya, sewaktu keluar dari bilik sudah ada orang lain di depan wastafel.
Bukan Elsa, tapi perempuan berwajah Kaukasia dengan postur langsing melebihi tingginya, rambutnya berwarna emas.
Keduanya bertukar senyum, Ia letakan ponselnya di pinggiran wastafel, bermaksud merapikan riasan.
Sewaktu ia menoleh lagi wanita tadi sudah tidak ada, namun seketika semacam benang yang tipis dan kokoh menjerat lehernya.
Nina terkejut, tercekik dan kesulitan bernapas. Tubuhnya mengejan, tangannya liar menggapai udara dan jeratan di leher. Sekuat tenaga berusaha melawan balik dengan meronta dan mencakar.
Wanita asing tadi sudah berada dibelakangnya, Nina dapat merasakan kedua tangannya bersilang dibalik punggungnya. Berusaha perlahan mengangkatnya bahkan dengan belitan kencenga itu, memanfaatkan posturnya yang lebih tinggi.
Jeratan itu makin pedih mengiris dan erat, Ia sudah hampir kehilangan kesadaran. Ia bahkan tidak mampu mendengar napas beratnya lagi.
Ia pasrah.
Seketika jeratan mengendur dan tubuhnya terjerembab ke lantai keramik. Paru-parunya dengan serakah menghirup udara kembali. Pikirannya masih nanar, namun Nina mendengar suara gaduh.
Ia melihat perempuan Kaukasia tadi terbanting berputar ke ujung ruangan oleh seseorang berpakaian gelap.
Perempuan asing itu segera berbalik dan mencabut pistol kecil dari sarung di paha yang tertutup Gaun untuk melawan penyerangnya, namun kemudian matanya membelalak bulat lebar, keningnya lebih dulu berlubang diterjang peluru dan ambruk berkubang darah.
Nina berusaha merangkak bangun dengan kepala sakit, pandangan buram dan leher perih, namun tumpuannya goyah. Terbatuk-batuk menghirup udara dingin bercampur aroma karbol di lantai toilet.
Ia merasa seseorang meraih tubuhnya yang limbung, memapahnya bangkit dengan satu tangan.
Tangan lainnya mencengkeram pistol dengan Laras panjang yang sedikit mengepulkan asap tipis.
“Kamu enggak apa-apa, bisa berdiri?” tanya suara familiar yang rasanya memberi kelegaan.
Ia menoleh ke arah empunya suara sewaktu pandangannya sudah mulai jernih.
Mendapati wajah Rangga yang tersenyum canggung, dan membantunya bersandar di depan wastafel.
Rangga kemudian terasa melepaskan tangannya yang melingkari pinggang Nina, dan memungut sepatu nya yang terlepas. Tanpa sungkan ia sigap meraih kakinya yang telanjang sebelah dan memakaikan sepatu bertumit tinggi itu, lalu berkata.
__ADS_1
“Kamu pasti sedang bingung atau histeris, tapi jangan panik. Aku akan jelaskan di jalan, tapi sekarang kita harus segera pergi!”