Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole1 Lady Shan-shan


__ADS_3

Baru saja Shanti keluar dari ladies room untuk memastikan tidak ada kekurangan yang berarti dari penampilannya. Shanti merasakan suasana resto tampak lebih sepi dibanding hari biasanya. Hanya beberapa meja yang ada pengunjungnya.


Apakah karena telah masuk long weekend sejak Jumat kemarin? tanya Shanti dalam hati.


Shanti diberi tahu Tante Risna siang tadi untuk menggantikan Liske yang berhalangan. Namun dengan pengalaman yang ia miliki, semua faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan mendapat persetujuan atas bisnis telah mampu ia kuasai.


Berkas nota kesepakatan sebanyak 3 salinan telah Shanti tandai dengan pensil, Nota kesepakatan itu tersusun dan tersimpan dalam masing-masing map folder. Demikian pula dalam hal sajian makan malam telah terkonfirmasi dan dikondisikan oleh butler,  


Jam tangan Shanti menunjukkan pukul 19.53 ketika ia melihat Harris sedang bertelepon dengan seseorang yang Shanti rasa adalah orang yang mereka tunggu. Dengan langkah cepat Shanti bergegas menuju posisi pertemuan.


Dari kejauhan Shanti melihat seorang pria yang diyakininya adalah Mus Topan. Shanti yang telah tiba di sisi meja dapat melihat dengan jelas bahwa lelaki itu berambut ikal, agak panjang dan memakai jas warna coklat berbahan wol.


Tiba di area meja mereka, Mus Topan mengambil posisi yang tersisa, dan ini berarti sesuai rancangan Shanti. Harris berdiri memperkenalkan Mus Topan pada Shanti dan Abdi.


"Ini Pak Abdi, yang akan menyuplai mesin buat kebutuhan Pak Topan," tutur Harris. "Kalau ini Ibu Shanti yang akan membantu kita malam ini."


Setelah perkenalan, Harris mempersilahkan pada mereka semua untuk kembali duduk. Sebenarnya peristiwa perkenalan ini adalah tugas Shanti dalam memandu sebuah perkenalan. Namun, dikarenakan Mus Topan telah mengenal Pak Harris terlebih dahulu maka Shanti pun memutuskan untuk mengikuti alur saja.


Hanya tiga menit saja waktu yang diberikan oleh butler untuk berkenalan dan berbasa basi. Sebagai butler, ia paham jam makan malam terbaik telah lewat maka dengan cepat ia mendatangi Shanti untuk meminta izin menghindangkan. Setelah mendapat izin dari Shanti, maka seorang pramusaji wanita datang untuk membereskan kopi yang telah mereka pesan sebelumnya.


Dikarenakan penyajian bersifat "cook serve method" maka Shanti memiliki waktu menjelaskan bahwa hidangan yang akan dihadirkan berupa makanan Thailand. Dan kesemuanya merupakan jenis makanan halal yang terdiri dari dua appetizer, main course dan dessert.


"Masakan Thailand ya, kok bisa yakin dengan tingkat kehalalannya?" tanya Pak Abdi atas penjelasan Shanti.


Shanti berpikir bahwa pertanyaan itu bisa saja bermaksud menguji kemampuan dirinya atau hanya sekedar bertanya.


"Iya juga ya Pak Abdi, tapi saya percaya baca artikel bisnis kuliner halal terbesar saat ini memang dari Thailand lho Pak Abdi," jawab Shanti merendah.


Sengaja Shanti menjawab pertanyaan Pak Abdi dengan cara sedikit merendah agar dirinya dapat terhindar dari pertanyaan yang lebih tajam. Dan benar saja Pak Abdi tidak melanjutkan pertanyaannya lebih lanjut.


Lucky me, kata Shanti dalam hati.


Setelah selesai makan malam dan sedikit perbincangan maka tibalah waktu bagi Shanti bertindak sebagai pemandu bagi Harris dan Abdi dalam mempresentasikan proposal mereka. Terkadang mereka tampak saling dukung terhadap proposal  yang mereka buat untuk proyek pembangunan pabrik kelapa sawit. Rencananya pabrik itu akan dibangun di kampung halaman Mus Topan.


Shanti amat menikmati penjelasan dari keduanya, baginya semua yang diutarakan merupakan pengetahuan baru baginya. Secara pribadi Shanti memberikan nilai 85 untuk penampilan Pak Harris dan 79 untuk putra mahkota PT. Jaya Abdi Machinery itu. 


Optimisme akan mendapatkan persetujuan dari seorang Mus Topan tampak terpancar dari wajah mereka. 


"Baiklah, sesi pemaparan dan tanya jawab sudah selesai, maka kita memasuki sesi penandatanganan nota kesepakatan," kata Shanti sambil berdiri dengan memegang tiga buah map hitam dan bolpoin gel ukuran 0,7 mm. "Saya akan memulai dari Pak Abdi terlebih dahulu." 


Shanti mulai membuka map pertama dan memberikan bolpoin itu pada Pak Abdi.


"Mohon diberi paraf setiap halamannya pak di dekat coretan pensil ya pak," kata Shanti sambil membantu membalikkan lembaran kertas dan menunjukkan dengan ujung ibu jarinya lokasi yang harus dibubuhi paraf.


"Yang ini ditandatangani di atas materai ya pak," ujar Shanti ketika tiba di halaman terakhir dokumen.


Begitu pula untuk dokumen map kedua dan map ketiga, dengan telaten Shanti selalu menunjukkan hal-hal yang perlu dilakukan oleh Pak Abdi. 


"Oke … selesai, terima kasih Pak Abdi," ujar Shanti ketika Abdi telah membubuhkan tanda tangan pada kolom yang tidak bermaterai.


Shanti menyusun kembali map-map itu sesuai dengan susunan semula. Lalu ia berpindah ke ke arah Mus Topan dan Harris berada. Seperti proses penandatanganan yang dilakukan Abdi, Harris memulai dengan membubuhkan paraf pada setiap halaman. Bedanya adalah pada map kedua lah Pak Harris baru menandatangani map yang telah dibubuhi materai.


"Terima Kasih Pak Harris," kembali Shanti ucapkan itu.


Terlihat wajah Pak Harris tersenyum lebar, terbayang telah terselesaikan lagi satu pekerjaan. Sedangkan bagi Shanti senyuman itu memiliki arti lain yaitu service excellent telah berhasil dilaksanakan olehnya.


Kemudian Shanti bergeser sedikit ke arah Mus Topan. Ketika map pertama yang telah disusun sebelumnya oleh Shanti diletakkan di depan Mus Topan, terdengar suara lembut Mus Topan dengan sedikit bergetar.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Bu Shanti," ujarnya. "Saya belum bisa untuk menandatangani kerjasama ini. Bisa tidak saya diberi waktu satu malam. Untuk berpikir dan mempelajari lagi agar saya benar-benar yakin sepenuhnya terhadap apa-apa yang tercantum dalam perjanjian ini," sambung Mus Topan.


Mendengar hal ini Shanti dengan cepat memutuskan bahwa ia harus segera kembali duduk di posisinya semula. Karena tidak sopan jika ia harus berbicara sambil berdiri. Dari posisi ini ia dapat melihat wajah Pak Abdi dan Pak Harris terlihat mendadak menjadi lebih tegang. 


"Baik pak, kalau boleh tahu pada bagian mana yang bapak belum mengerti terhadap nota kesepakatan ini?" tanya Shanti dengan suara lembut. "Agar Pak Abdi dan Pak Harris dapat menjelaskan lebih detail pada bapak," sambung Shanti.


Mendengar pertanyaan Shanti, Mus Topan pun mencoba menerangkan bahwa pada dasarnya ia dapat menerima segala penjelasan dari Pak Harris dan Pak Abdi. Namun, ia belum bisa menandatangani karena suatu alasan pribadi yang tidak dapat diungkapkan di depan mereka semua. 


"Boleh saya pinjam kertas dan pena Bu Shanti?" tanya Mus Topan. "Begini saja, besok akan saya tandatangani tapi biarkan saya pelajari malam ini," tandasnya.


"Kalau boleh tahu buat apa bapak mau pinjam pulpen saya?" tanya Shanti.


"Saya ingin menuliskan hotel dan nomor kamar saya jadi besok Bu Shanti sebagai sekretaris … mmmh … sekretaris Pak Abdi dapat mengambilnya," paparnya lebih lanjut sambil melihat ke arah Pak Abdi seolah-olah sedang meminta izin.


Mendengar itu Harris dan Abdi sontak memandang ke arah Shanti. Mereka merasa  tidak enak jika Shanti harus menambah jam kerja, terlebih Harris, jika Shanti harus melakukan sesuatu diluar kesepakatan kerja mereka.


Melihat reaksi keduanya, Shanti dengan cepat memberikan pensil mekaniknya pada Mus Topan. Shanti pun menyodorkan map hitam yang memang akan menjadi milik Mus Topan jika telah ditandatangani. Dengan cepat Shanti membuka halaman pertama map itu. 


"Silahkan bapak tuliskan nama hotel dan room berapa pak," pinta Shanti sambil ujung ibu jarinya menunjuk bagian kosong pada bawah halaman nota kesepakatan itu. "Saya upayakan besok pagi saya sudah hadir di sana," lanjut Shanti dengan mantap.


Mus Topan dengan cepat menuliskan hotel berikut nomor kamarnya pada bagian halaman yang diminta oleh Shanti.


"Baiklah pak, bu, terima kasih atas pengertiannya," ucapnya sambil berdiri setelah menggeser sedikit kursi yang didudukinya dengan paha bagian belakang. 


Harris, Abdi dan Shanti pun segera beranjak dari tempat duduk masing-masing dan berdiri dengan sambil menghadap ke arah Mus Topan. Kemudian Mus Topan menyalami mereka secara bergiliran. 


"Baik Bu Shanti saya nantikan kedatangan ibu. Saya permisi dulu, dan minta maaf sekali lagi ya pak … bu," ucapnya. Dengan cepat Mus Topan meninggalkan mereka menuju pintu keluar.


Shanti melihat kearah jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 22.47. Artinya telah lebih dari 10 menit mereka membahas sesuatu yang tidak akan ada jawaban. Bagi diri Shanti tinggal menunggu hari esok untuk mengetahui kelanjutan masalah ini.


"Kalau tidak ada hal lain lagi saya permisi pulang dulu ya pak," ujar Shanti sambil berdiri dan menyalami mereka secara bergantian. Lalu ia mengambil tas tangannya serta ketiga map itu dan ia letakkan agak terjepit di pinggang kanan 


"Tolong diusahakan ya bu ya," ujar Harris "Nanti kalau ada kabar terbaru nanti saya titip pesan lewat Ibu Risna."


"Baik Pak Harris saya tunggu kabar baiknya, jawab Shanti.


...**...


Shanti berjalan menuju pintu keluar gerbang hotel. Ia bermaksud untuk memesan ojek online di luar area hotel untuk pulang. Shanti tidak pernah mementingkan gengsi untuk suatu kendaraan, pakaian atau makanan Shanti selalu mengutamakan kesederhanaan dan kesehatan.


Ia sangat paham bahwa pekerjaan ini bersifat temporer. Maka jika ia bisa berhemat, maka ia akan memiliki peluang untuk memiliki modal. Dan dapat melanjutkan hidupnya menjadi seorang entrepreneur di masa depan. Sampai di luar gerbang Shanti melihat Mus Topan tengah berdiri sambil merokok. Lalu Shanti pun menghampiri Mus Topan.


"Kok masih di sini pak?" tanya Shanti.


"Eh, iya bu ini lagi ngabisin rokok dulu," jawab Mus Topan.


Ehm, rokok 234, begitu Shanti melihat tanda kuning itu, pantes aja lama, batin Shanti. 


Shanti tahu benar jenis rokok ini memang awet seperti yang sering dibilang papanya ketika masih merokok semasa berdinas dulu.


Karena khawatir bahwa kliennya mungkin dapat tersesat maka Shanti pun menawarkan untuk pulang bersama. Ia katakan bahwa arahnya sama dengan hotel Mus Topan menginap, bahkan Mus Topan akan sampai lebih dulu. 


Mus Topan pun segera mengiyakan. Dengan sedikit jentikan jari maka terpental lah rokok itu masuk parit kecil disamping trotoar. Lalu dengan segera ia menyetop taksi. Mus Topan memilih untuk duduk di depan, Shanti pun duduk di kursi belakang tepat Mus Topan. Namun segera ia beringsut ke arah kanan karena khawatir Mus Topan akan berbicara padanya.


"Tolong antarkan ibu ini dulu," ujar Mus Topan.


Kemudian supir taksi itu pun melihat ke arah Shanti melalui spion tengah, "kemana bu?" tanyanya. 

__ADS_1


Shanti yang malas berdebat dengan Mus Topan pun segera menyebutkan nama apartemennya pada supir taksi.


Untung banyak nih tukang taksi, pasti dia lagi senyum-senyum dapat rute tambahan, ada kali 4 kiloan. Tapi nggak apa-apa deh toh gue juga gratis pastinya, Shanti membatin sambil tertawa dalam hati.


Taksi berjalan dengan cepat karena kendaraan di jalan sudah mulai lengang. 


Jam di ponsel Shanti menunjukkan pukul 23.27.  Lalu ia teringat dengan janji akan memberi kabar apabila acara pertemuan selesai. Segera ia ketik," Wyn, tolong sampaikan ke Kak Widi, gue pulang duluan, ngantuk."


Tak lama pesan balasan Wynne pun tiba. Tertulis," Oke, sepertinya masih lama, kami masih main sambil nunggu pengumuman Kak Widi masuk grup yang mana untuk tandingan penyisihan grup minggu depan. Ciao".


"Turun disebelah mana bu,"tanya supir taksi ketika telah sampai di area apartemen.


"Oh, disana pak di depan gerbang keluar aja," jawab Shanti.


Sengaja Shanti minta diturunkan di sana agar ia lebih dekat ke tower selatan. Sekaligus terhindar dari biaya parkir hanya karena melintas dan pastinya akan memperlambat perjalanan Mus Topan. Shanti pun turun taksi dari pintu sebelah kanan. Kemudian diikuti oleh Mus Topan dari sisi kiri depan. Lalu mereka berdua berdiri di atas trotoar. 


Shanti pun berkata, "terima kasih pak sudah mengantar."


"Oh iya bu, sama-sama," jawab Mus Topan.


"Besok pagi saya tunggu ya bu."


"Oke, selamat malam pak," jawab Shanti. 


Shanti menggerak ujung jari-jari tangan kanannya dengan maksud memberi tanda berpamitan pada Mus Topan. Lalu Shanti berjalan melalui jalan kecil khusus pengunjung yang berada di samping palang pintu gerbang keluar. Melihat kebelakang, Shanti melihat Mus Topan membuka pintu taksi bagian belakang. Kemudian taksi yang membawa Mus Topan itu pun berlalu meninggalkan area apartemen.


...**...


Pukul 6.03 pagi Shanti telah tiba di pinggir jalan utama. Hanya butuh waktu 13 menit berjalan kaki dari apartemen menuju lokasinya saat ini. Shanti sangat memahami jalan-jalan kecil menuju jalan utama, karena telah 4 tahun ia tinggal di lingkungan ini.


Dari semalam memang Shanti berencana untuk berjalan menuju hotel tempat Mus Topan menginap dikarenakan jaraknya tanggung kalau hendak dicapai dengan kendaraan umum. Untuk itu Shanti mengenakan busana santai berupa celana kulot warna coklat berbahan denim, atasan blouse V-neck berwarna putih dan dipadukan dengan ikat pinggang kain warna coklat ukuran besar. Setelan ini sengaja ia pilih untuk menunjukkan kesan santai.


Dipunggungnya tergantung tas ransel yang berbahan kanvas. Shanti pakai untuk membawa laptop karena memiliki kelebihan memiliki pelindung terhadap air. Ia pun memasukkan alat-alat kecantikan, charger ponsel, tak lupa ia memasukkan parfum aroma fresh kesayangannya, dan beberapa perlengkapan lain.


Suasana car free day telah semakin ramai. Namun, belum normal jika dibandingkan dengan sebelum pandemi. Shanti melihat ke arah hotel tempat Mus Topan menginap. Hanya berselisih satu jembatan penyeberangan. Dengan semangat olahraga Shanti mulai melangkahkan kakinya.


...**...


Terlihat Shanti sedang berbicara dengan petugas resepsionis, ia meminta agar resepsionis memberi tahu tentang kedatangan dirinya pada tamu hotel.


"Kamar nomor 922 atas nama Mus Topan, dari ibu Shanti," berkata Shanti terhadap petugas resepsionis itu.


"Baik ibu, mohon ditunggu," jawab petugas resepsionis itu lalu ia berjalan menuju telepon yang berada di pojokan tepat di belakangnya.


"Baik ibu, bapak Mus Topan segera turun, ada lagi yang dapat saya bantu?" tanya petugas itu dengan ramah.


"Oke, terima kasih mbak," jawab Shanti.


Shanti memperkirakan waktu yang dibutuhkan Mus Topan cukup lama untuk sampai di lobi hotel. Maka ia memutuskan untuk pergi ke ladies room terlebih dahulu untuk melihat kerapian dirinya. Selesai memastikan penampilannya Shanti memutuskan untuk duduk di lobi dengan menghadap sedikit ke arah lift untuk memastikan kedatangan Mus Topan.


Benar saja tak selang lama seorang lelaki berbaju kaos putih dan bercelana coklat nampak menghampirinya. Rambut tebal, ikal, dan hitam itu tampak lebih panjang dari yang ia lihat semalam. Shanti teringat poster John Stamos yang dulu pernah ia lihat tertempel di balik pintu kamar mamanya di rumah almarhum nenek.


"Ayo kita sarapan, lebih enak ngobrolnya kalau sambil sarapan," kata Mus Topan ketika menghampiri Shanti yang telah menyapanya dengan melakukan gerakan berdiri.


"Oh, baik pak," jawab Shanti yang kemudian mengikuti dari belakang.


^^^...bersambung ......^^^

__ADS_1


__ADS_2