
Shanti terbangun. Lampu kamar tidurnya telah menyala. Lalu ia melihat alas putih yang telah dipasang olehnya diatas sprei tadi malam.
Yah … ya ampun nggak ada bekas apa-apa lagi. Ya ampun, pules banget gue tidur semalam. Eh … busyet mana ada bunyi suara air dari shower lagi. Jangan-jangan Bang Topan lagi mandi buat siap-siap pulang? Waduh … dah jadi istri durhaka kah gue? batin Shanti bertanya.
Ingin rasanya Shanti bergabung dalam kamar mandi seperti film-film romantis barat yang sering ditontonnya. Namun, segera ia tepis keinginan itu. Ya, Shanti masih teramat malu untuk melakukan hal itu. Terlebih ia adalah seorang gadis yang masih suci.
Hmmm … emang hidup hanya untuk **** doang? Gue yakin masih banyak cara buat bikin senang hati laki. Maafin Shan-shan ya bang kali ini ujar Shanti dalam hati kecil.
Shanti beranjak dari ranjang dengan cepat. Ditariknya kimono tidur warna hitam yang terselip pada sisi depan ranjang, lantas dikenakannya. Dan segera ia pun keluar dari kamar.
Shanti putuskan untuk membuat sarapan pagi bagi Mus Topan. Dan juga untuk anak-anaknya dan adiknya. Setidaknya ia berharap itu cukup untuk menutupi rasa bersalah karena tidak melayani Mus Topan tadi malam.
Shanti tiba didapur yang berada di lantai bawah. Shanti sadar alat masak miliknya masih sangat terbatas. Akan kesulitan tentunya bila bersikeras membuat sarapan secara umum. Shanti pun memutuskan untuk mengolah spaghetti instan yang dibelinya kemarin.
Dengan mengandalkan alat penanak nasi otomatis, Shanti mengolah spaghetti instan itu. Setelah dirasa pasta itu mengembang, Shanti pun mematikan alat penanak nasi itu. Lalu ia memotong dan mengiris-iris sebatang keju cheddar menggunakan sebuah pisau sampai sekecil mungkin..Harapan Shanti adalah irisan keju sebagai topping dapat menaikkan nilai dan rasa masakannya.
Tak lupa Shanti tambahkan saus bolognese, mayonaise dan sambal botol sebagai pelengkap penyajiannya. Adapun sebagai minum Shanti meminta bantuan Misno untuk mengambil air mineral gelas yang selalu ada dalam mobil mereka. Dan selesailah proses hidangan sarapan pagi darurat itu.
...**...
"Hati-hati dijalan ya bang," ucap Shanti ketika Mus Topan mencium keningnya.
"Kamu juga jaga diri baik-baik," jawab Mus Topan. " Eh, iya Shan. Kalau masih takut tinggal sendiri boleh kok kalau kamu mau tinggal sama kawan-kawan."
__ADS_1
"Nggak lah bang, Shan-shan coba untuk berani dulu. Sekaligus Shan-shan mau minta izin sama abang. Mau minta izin mengundang papa mama buat nginep di sini, bagaimana bang?" tanya Shanti.
"Silahkan saja Shan. Toh ini rumah mereka juga," jawab Mus Topan. "Papa mama kamu juga boleh kok kalau pakai kamar kita ini."
Shanti kagum dengan jawaban Mus Topan. Tidak banyak orang yang berprinsip bahwa harta seorang anak merupakan milik orang tuanya juga. Andai saja Mus Topan masih memiliki orang tua, tentunya Shanti pun akan bersikap sama terhadap mertuanya.
"Kalau nggak ada yang dibicarakan lagi abang berangkat sekarang aja lah ya. Biar sampai di kampung belum sempat ganti hari." ujar Mus Topan sambil tertawa.
Shanti sangat paham arah bicara suaminya itu. Mus Topan bermaksud menepati janji pada Siti Rukayah bahwa ia akan pulang hari ini. Shanti amat kecewa harus berpisah dengan umur pernikahan yang belum cukup tiga hari. Namun, Shanti bangga Mus Topan tidak mempermasalahkan kejadian semalam.
Setelah berhasil menguatkan diri bahwa hari ini ia akan berpisah sementara waktu, maka Shanti pun berkata, "Iyalah bang, sebaiknya abang berangkat sebelum jam tujuh. Belum begitu ramai, kalau sampai pintu tol masih lancar target abang sampai sebelum ganti hari bisa tercapai."
"Iya Shan, kalau gitu abang langsung berangkat ya." jawab Mus Topan. "Minta tolong juga sampaikan permintaan maaf abang ke orang tua kamu belum bisa pamitan kali ini."
"Iya bang, bisa lah nanti Shan-shan sampaikan berikut alasan abang ke papa mama," ujar Shanti.
Shanti tidak mengetahui, dalam hati Mus Topan timbul kekesalan. Lelaki mana yang tidak kecewa menikah dengan seorang wanita cantik dan menarik tapi tidak dapat memiliki seutuhnya. Kedewasaan Mus Topan yang membuat semua jadi berbeda. Namun, siapa yang tahu batasannya?
Setibanya di luar, Shanti melihat Misno telah berada di balik kemudi, dan Rizki duduk di sampingnya. Adapun Fatma dan Shinta tengah asyik bercanda di jalan yang terbuat dari paving blok.
Fatma melihat ke arah Shanti. Secara refleks Shanti melepaskan genggaman tangan Mus Topan. Masih terasa jengah jika harus dilihat oleh putri tirinya itu. Ia berusaha untuk tidak membuat kesalahpahaman sekecil apapun.
Fatma.mencium pipi Shanti dan Shinta secara bergiliran dan segera loncat naik keatas mobil. Kemudian Shanti mengucapkan selamat jalan dengan cara bersalaman pada Misno dan Rizki melalui jendela mobil. Tak selang lama mobil itu pun bergerak perlahan meninggalkan mereka berdua. Shanti menatap sampai mobil itu menghilang dibelokkan pertama kompleks perumahan cluster.
__ADS_1
"Ayo Shin kita masuk ke dalam," ajak Shanti pada adiknya. "Eh nanti papa mama kamu ajak nginap disini ya Shin!"
"Emang nggak apa-apa kak, kalau mama ikut nginap disini? tanya Shinta. "Ntar kalau ribut sama kakak gimana?"
"Ribut gimana maksudnya Shin?" tanya Shanti sambil ia mengunci pintu masuk lantai dasar. "Sepertinya sudah nggak akan ada ribut-ribut lagi deh. Kan kakak sudah direstui untuk merebut suami orang sekarang oleh mama," ujar Shanti sambil tertawa.
"Cerita dong kak kenapa mama akhirnya setuju kakak menikah dengan Bang Topan!" pinta Shinta dengan penuh keingintahuan.
"Mama tuh kesal banget sama kelakuan Mbak Siti ibunya Fatma. Ah, kamu dah tahu semua lah ya. Ngapain diulang lagi ceritanya." jawab Shanti dengan ketus.
"Kak, Ain kepengen jalan-jalan gimana kak?" tanya Shinta dengan menyebut nama kecilnya pada Shanti.
"Setuju kakak sih, ntar kita jemput papa mama ke rumah Mang Uci. Nah dari sana baru kita jalan-jalan berempat." jawab Shanti pada Shinta adik satu-satunya itu.
"Boleh nggak kak, kalau Ain cobain makan malam seperti yang Fatma ceritakan?" tanya Shinta.
Shanti tersadar, agaknya adiknya ini mendapat cerita dari Fatma. Shanti sangat sayang pada adiknya, tak bisa rasanya ia berkata tidak pada permintaan itu. Disisi lain Shanti bersyukur putri tirinya terkesan pengalaman baru yang diberikannya.
Shanti menyadari bahwa kartu kreditnya sudah mendekati limit maksimum. Namun, ia tak tega untuk menolak keinginan Shinta. Kekhawatiran Shanti jika ia tidak menuruti permintaan Shinta, maka akan timbul kesan membeda-bedakan. Selain itu Shanti selalu ingin memberikan kesenangan pada keluarganya. Pastinya Shanti tak akan membuang sia-sia momen ketika seluruh anggota keluarga berada di dekatnya.
Biarlah besok gue pegi ke bank nuker dollar, berabe kalau nyampe over limit berkata Shanti dalam hati.
Sesuai dengan kesepakatan pada sore harinya Shanti dan Shinta berkunjung ke rumah Mang Uci. Walau hubungan keluarga terjadi karena istri Mang Uci merupakan adik kandung mamanya, tapi Shanti lebih dekat pada suami bibinya itu. Shanti sulit melupakan kebaikan yang Mang Uci berikan kepadanya.
__ADS_1
Pada malam harinya, dengan menggunakan taksi online Shanti beserta keluarganya pergi ke tempat makan malam sesuai dengan keinginan Shinta. Namun, tetap sesuai dengan arahan dan masukkan dari Shanti terkait harga dan selera dari keluarga mereka.
Tak seperti kampung halamannya, kehidupan kota selalu tersedia banyak pilihan. Shanti amat bersyukur dapat selalu diberi pilihan. Bukankah hidup itu sendiri merupakan pilihan?