Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 11 Membayar Hutang


__ADS_3

Shanti menaruh bungkusan warna merah ke dalam safe deposit box. Bungkusan itu berisi lima gelang keroncong hasil pemberian suaminya sebagai hadiah pernikahan mereka. Shanti memilih safe deposit box sebagai tempat menyimpan barang berharga miliknya. Ijazah, dokumen penting, atau uang asing ia simpan di dalamnya.


Kecenderungan memilih safe deposit box lebih pada faktor keamanan, Terlebih Shanti belum memiliki tempat tinggal permanen. Lagi pula gelang ukuran besar itu tidak akan pernah jadi pilihan perhiasan yang dipakai Shanti dalam jangka waktu dekat.


Shanti mengambil amplop coklat berisi mata uang asing. Hanya mata uang dollar dan euro yang akan ditukar Shanti kali ini. Meskipun masih ada jenis mata uang asing lain, tetapi hanya beberapa lembar saja. Banyak dari uang itu Shanti dapat dari klien bisnis sebagai bonus. Terutama dari klien yang memiliki bisnis atau produk luar negeri.


Setelah pastikan safe deposit box berikut laci penyimpanan telah terkunci sempurna, Shanti keluar dari ruang penyimpanan. Lalu ia berikan kunci laci pada seorang petugas jaga. Adapun petugas lainnya memeriksa serta memastikan ruang penyimpanan dalam keadaan aman. Setelah pengecekan selesai, Shanti diminta untuk mengisi formulir bukti kunjungan.


Shanti menyerahkan berkas yang telah ia isi pada customer service. Berupa formulir bank notes jenis dan besaran valuta asing yang akan ditukarkan. Berikut instruksi pembayaran kartu kredit miliknya. 


Semua lancar, nyaris tidak ada antrian. Dampak pandemi membuat nasabah lebih memilih transaksi daring dibanding transaksi tatap muka. Harus diakui layanan online bank sangat berkembang pesat dan tanpa banyak kendala.


"Ada lagi yang bisa saya bantu Ibu Shanti?" tanya customer service setelah berkas Shanti telah ia serahkan pada bagian operasional.


"Tidak ada mbak. Kira-kira berapa lama lagi ya mbak?" tanya Shanti.


"Tidak lama Bu Shanti. Tadi sudah saya tanya bagian treasury, semua sudah oke. Ibu bisa tunggu sampai dipanggil petugas teller kami. Ada lagi yang bisa saya bantu Ibu Shanti?" tanya customer service itu lebih lanjut.


"Tidak ada, terima kasih," ujar Shanti sambil berdiri.


Terlihat customer service itu menyertai Shanti  berdiri. Ia menempelkan dua telapak tangan di depan dadanya. Lalu mengucapkan salam pada Shanti, Senyumnya bertambah lebar tanda satu tugas telah ia telah selesaikan.


Shanti berjalan menuju kursi tunggu di depan loket teller. Namun, belum sempat duduk, Shanti telah dipersilahkan mengambil antrian yang diberikan oleh petugas security. Benar saja tanpa menunggu lama nomor yang baru ia dapat telah disebut mesin antrian.


Shanti lega telah membayar pokok hutang kartu kreditnya. Terbebas dari beban bunga tagihan bulan depan. Akhir-akhir ini harus diakui pemakaian kartu kredit Shanti memang sangat besar. Mulai dari biaya persiapan nikah, biaya makan malam, membeli perabot dan keperluan lainnya. Shanti memegang prinsip kehati-hatian dalam mengatur keuangan. Shanti amat menjauhi prinsip besar pasak daripada tiang. 


Shanti berjalan menuju apartemen tempat tinggal lamanya. Memang tidak dekat. Butuh waktu 15 menit untuk tiba di sana. Namun, jika dibandingkan dengan naik angkutan umum, jalan kaki lebih praktis. Disamping itu Shanti sudah terbiasa berjalan melalui JPO dan jalan-jalan kecil di daerah itu.


Shanti sempatkan membeli bahan lengkap masakan rendang fresh market yang ia lewati. Ya, hari ini ia akan memasak rendang bagi para sahabatnya. Selain sebagai pemenuhan janji, juga sebagai ungkapan terima kasih atas kesediaan telah menjadi panitia pada pesta pernikahannya. 

__ADS_1


Tetapi misi Shanti sebenarnya minta tolong Widi terkait kendala keuangan. Shanti ragu bisa menyelesaikan pembayaran rumah jika hanya mengandalkan pendapatan sebagai lady escort. Juga pendapat tentang Mus Topan yang berubah drastis. Shanti ingin dapat pandangan atau petunjuk terkait perubahan sikap Mus Topan. Apakah terkait hubungan suami-istri, yang hingga saat ini Mus Topan belum mendapatkan keinginan atas dirinya. Ataukah uang yang tanpa izin Mus Topan Shanti gunakan untuk kepentingan lain.


Pintu lift di depan foyer terbuka. Shanti masuk apartemen dengan sangat mudah. Karena ia memegang kartu akses. Biasanya kartu akses diberikan pengelola gedung sesuai jumlah kamar. Apartemen mereka tempati terdiri dari tiga kamar dengan luas 195 meter persegi.


"Nah ini dia orangnya udah nongol," berkata Wynne dengan ringan pada Shanti. "Bawa apa neh nganten baru?"


"Bawa janji gue Wyn. Mau masak rendang sesuai permintaan Kak Widi," jawab Shanti. "Pada kemana ya, kok sepi. Apa Kak Widi lagi di workshop?"


"Hore … !" teriak Widi dengan nada yang dibuat-buat. "Biasa pada keluar. Katanya sih mau ke tempat klien trus langsung ke gudang."


"Wyn, lu bantuin gue masak sekalian belajar mau nggak?" tanya Shanti.


"Siap, 86 ndan," jawab Wynne.


Wynne telah dua kali membantu Shanti dalam mengolah rendang. Kali ini Shanti membuat rendang jenis modern, tapi masih memiliki rasa original. Bumbu pemasak yang didapat dari Bibinya lah yang membuat rasa original masih melekat. Sehingga rendang Shanti amat disukai oleh teman-temannya. 


Ketika proses memasak berlangsung dua kali ponsel Shant berbunyi. Menandakan ada dua pesan baru masuk. Shanti membuka kunci layar ponselnya. Dan benar saja, sesuai dengan dugaan Shanti. Pesan itu dari Siti Rukayah istri pertama Mus Topan. 


"Wyn, rendang terus aja diaduk pelan ya dengan api kecil. Gue mau beresin dulu nih nenek sihir!" ujar Shanti sambil ia menekan nada panggil pada ponselnya.


"Oke, tapi cepet ya," jawab Wynne


Shanti menjuluki Siti Rukayah dengan sebutan nenek sihir. Shanti terinspirasi dari mimpinya yang lalu, Dimana Siti Rukayah mengancam dirinya dengan menggunakan sapu lidi. Shanti selalu tersenyum sendiri jika mengingat mimpi itu. 


Nada sambung terdengar. Shanti segera berjalan menuju kamar tidur lamanya. Dengan harapan obrolannya tak dapat didengar Wynne. Bersamaan Shanti sampai di kamar lamanya, terdengar suara Siti Rukayah menyapa.


"Halo …," ujar Siti Rukayah


Terdengar oleh Shanti suara itu agak bergetar, lalu Shanti menjawab," halo mbak, gimana mbak?"

__ADS_1


"Baru tahu rasa ya! Gimana hidup sendiri! Ditinggal, mampus kamu nggak diladeni bang haji! Kamu nggak kenal sifat bang haji sih? Rasain aja lah ya. Berani-beraninya, baru juga kenal sehari dua hari kok udah minta dikawin,  huh … murahan!" ujar Siti Rukayah dengan nada yang sangat cepat.


Shanti mendengarkan perkataan yang keluar dari Siti Rukayah. Tak lebih dari marah-marah tanpa maksud yang jelas baginya. Shanti putuskan bahwa akan bereaksi secara negatif untuk setiap pernyataan Siti Rukayah tujukan padanya.


"Oh …, jadi mbak mau kasih tahu sifat Bang Topan?"  tanya Shanti. 


"Oh, jadi kamu nggak ngerti sifat bang haji. Dia lebih mentingin kerjaan daripada kamu, tahu! jawab Siti Rukayah.


"Baru juga pisah sehari Shan-shan mbak, belum bisa jadi patokan. Lagian Bang Topan pasti masih sibuk ngurus lapak, kebun, pabrik baru." ujar Shanti sambil menenangkan hati.


"Pegang sama kamu ya. Kata-kata saya ini. Nggak akan bang haji kunjungi kamu lagi. Catat itu," ujar Siti Rukayah.


"Nggak mungkin lah mbak. Shan-shan yakin dengan lelaki tipe Bang Topan," bantah Shanti.


"Heh! Jangan sok tahu ya! Lagian ngapain kamu telpon-telpon saya." Kembali terdengar suara penuh emosi Siti Rukayah. "Hei! Kamu jangan cerita macam macam-macam buat pengaruhi anak saya ya!"


Shanti mengikuti setiap kata lawan bicaranya secara detail. Terutama kalimat yang terakhir.  Ia sangat terbiasa bicara siasat bisnis calon klien. Cepat ia simpulkan bahwa anak-anak Mus Topan bercerita hal positif tentang dirinya. Lalu ia menganggap bahwa percakapan ini tidak perlu diteruskan.


"Ya sudah mbak terima kasih infonya. Nanti kalau ada kesempatan saya kunjungi mbak," ujar Shanti ingin mengakhiri percakapan.


"Kamu jangan pernah datangi saya ya! Saya tidak butuh kunjungan mu! jawab Siti Rukayah.


Shanti ingin membalas ucapan Siti Rukayah, akan tetapi ponselnya sudah tidak tersambung lagi. Agaknya Siti Rukayah saat akhir bicara telah mematikan ponselnya. Hanya nada putus yang  Shanti dengar.


Shanti puas atas percakapan siang hari itu. Ia merasa menang karena si tukang teror telah melarikan diri. Shanti merasa senang, terlebih ia telah dapat mengukur kapasitas pesaingnya. Paling tidak ia akan mengulang trik yang sama jika Siti Rukayah kembali mengganggunya.


"Wyn gimana udah mateng belum?" tanya Shanti.


"Udah lah, tadi ada panas tambahan dari arah kamar," jawab Wynne sambil bercanda.

__ADS_1


Shanti tak mau menanggapi gurauan Wynne, ia pun berkata,"kalau begitu kita hanya tinggal menyiapkan menu pendampingnya saja.


Lalu mereka berdua pun merebus kentang dan membuat tumis kacang panjang. Tak lupa membuat sambal hijau sebagai menu pelengkap. Tak sabar Wynne menanti kepulangan Widi dan Gendis agar mereka dapat segera makan siang bersama.


__ADS_2