
"Mbak Gendis tolong dibantu anak dua ini ya, biar cepat dewasa. Jangan banyak ribut aja," ujar Widi pada Gendis.
Lalu Widi pergi ke teras. Jelas Widi mulai bosan dengan aktivitas memisahkan kado. Mereka bagi hadiah dari tamu sesuai kategori yang mereka terapkan. Shanti telah setuju jika kado yang didapat dibagi untuk mereka saja..
"Oke ya kado yang cocok laki akan dibagi tiga, Bang Topan, Kak Tony dan suami Tante Risna." ujar Wynne. "Kalau kado cewek buat kita berempat plus Tante Risna."
"Gimana Shan, setuju kan cara baginya?" tanya Gendis.
"Iyalah mbak, Shan-shan setuju-setuju aja. Yang penting uang nggak ikut dibagi," jawab Shanti.
Kemudian Gendis pun berkata pada Shanti "Kalau uang sudah dihitung dan disimpan sama Kak Widi."
"O gitu ya mbak. Trims buat infonya." Sambil Shanti melangkah menuju teras.
Shanti tidak bersemangat dalam hal bagi-bagi kado itu. Shanti memikirkan cedera janji Mus Topan. Shanti telah dijanjikan setiap putaran pembayaran pabrik akan bagiannya dikirim setiap hari Senin dan Kamis. Namun tadi ketika ia ke bank tidak ada transfer uang yang masuk, hingga Shanti putuskan untuk jual valas.
Shanti melihat Widi merokok di area ukuran 3x1,5 meter yang rapat tertutup dinding kaca. Hanya lubang angin pada sisi atas sebagai penukar udara. Shanti menghampiri dan duduk di kursi sebelah Widi.
"Ingatkan kakak nanti ya. Uangnya kakak yang simpan," ujar Widi sambil membuang abu rokok ke asbak.
"O, bukan itu kak," potong Shanti
"Kalau masalah yang tadi, kamu cuma bisa nunggu Shan!" jawab Widi. "Tapi nggak semua orang beruntung kayak kamu."
"Maksudnya kak? tanya Shanti.
"Iya, Bang Topan sudah berani menikahi kamu saja sudah nasib baik. Minimal kamu sudah punya atau minimal pernah punya status." papar Widi dengan suara pelan. "Coba kalau Kak Tony, .."
Shanti serasa tercekat lidahnya, ia urungkan bertanya. Ia sudah dapat menduga arah bicara Widi. Shanti berkesimpulan apa yang ia dan Wynne duga terkait hubungan Widi dan Tony adalah benar adanya. Lalu keduanya diam untuk sesaat.
"Pokoknya Shan, kakak akan bantu kamu untuk selesaikan rumah kamu. Yang penting tetap semangat usaha," ujar Widi.
"Iyalah kak, terima kasih," jawab Shanti.
"Buku tamu dan foto-foto pernikahan kamu ada di goodie bag hitam diatas meja tamu," ujar Widi. "Nanti sore kamu kakak antar pulang ya sekalian ke gudang."
Widi mematikan rokok pada asbak, kemudian masuk kedalam. Shanti terdiam sejenak, ia merenungi nasibnya. Lalu ia mengirim pesan pada Mus Topan dengan maksud bertanya keadaan suaminya itu. Namun tak ada tanda bahwa pesan itu telah terkirim. Hanya contreng satu.
........
"Wyn, ada yang janggal nggak dengan foto ini?" tanya Shanti sambil menunjukkan foto dengan gambar bunga papan pada Wynne.
"Nggak, hmm … cuma rumah A. Rofiq ini sama dengan kota lu," jawab Wynne. Eh iya bener, Emang siapa A. Rofiq ini?"
"Lu inget nggak cerita gue soal Kak Opik" tanya Shanti.
"Inget, manusia sempurna itu kan?" Wynne balik bertanya.
"A. Rofiq itu nama bapaknya! !" tegas Shanti.
__ADS_1
"Eh buset, emang dia datang ya Shan ke pesta lu?" tanya Wynne."Atau dia kirim bunga doang. Baiknya lu tanya sama bokap nyokap lu, merasa ngundang nggak?"
"Bener juga, ntar gua tanya. Tapi bisa nggak kita tahu siapa yang ngirim? tanya Shanti.
"Yang ngirim ya florist-nya lah. Eh bisa-bisa kalau kita tanya sama florist-nya! jawab Wynne penuh antusias.
"Ya udah kalau gitu lu catat nomor telepon florist-nya dulu," ujar Shanti sambil menunjukkan foto yang memang ada nomor telepon pada sisi bawah bunga papan itu.
"Jadi lu nyuruh gue cari tahu ya. Enak aja!" teriak Wynne sambil mengambil ponsel dari meja tamu. "Dah sebutin nomernya cepet!"
Shanti beruntung punya teman yang sayang dan selalu siap membantu. Setidaknya geng siap glamor dapat mengerti keputusannya. Termasuk keputusan menikah dan menjadi istri kedua Mus Topan.
Benar saja Shanti tiba di rumah dengan diantar ketiga temannya. Wynne ikut serta karena fitness center milik Tante Risna akan dilalui Widi menuju gudang. Shanti disambut Zhamir, yang kebetulan sedang berada di luar. Papa Shanti itu sedang menyusun kembang agar lebih rapi.
Mereka meninggalkan Shanti setelah selesai menyapa Zhamir. Shanti pun meminta Zhamir masuk rumah bersamanya. Tak lupa Shanti ucapkan terima kasih pada Zhamir yang telah merapikan taman kecil miliknya.
...**...
"Mama ngasih tahu keluarga Pak Rofiq ya ma?" tanya Shanti.
"Ngasih tahu apa," jawab Rosa.
"Ngasih tahu Shan-shan menikah," jawab Shanti.
"Iya kak, mama ngasih tahu Bu Rofiq," potong Shinta.
Shanti sengaja menyuruh Shinta menghitung uang yang dipakai belanja perabot. Shanti ingin menggantinya dengan uang hasil pesta pernikahannya. Juga Shanti hendak mengajar adiknya cara bersikap terhadap orang tua.
"Iya Shan. Mama yang cerita. Pas habis beli beli tiket bis mama pulang. Eh ketemu dia. Nah dia lihat tiket bis. Terus dia nanya. Ya mama bilang mama mau ngunjungin kamu. Dia nanya lagi, ada apa. Ya mama bilang kamu mau nikah, udah gitu aja," jawab Rosa dengan lancar.
"Kok Pak Rofiq bisa kirim bunga ma?" tanya Shanti lebih lanjut.
"Nah pas sehari sebelum kamu nikah dia SMS. Yang pas kita nyobain denah duduknya itu! Dia nanya tempat pesta. Ya mama bilang aja nama restoran tempat pesta, dah gitu aja," jawab Rosa tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Udah nih kak hasil hitungan sama bon nya ," ujar Shinta.
"Oke, kamu mau cash atau transfer?" tanya Shanti.
"Transfer aja kak, biar nggak habis uangnya!" pinta Shinta.
"Ya udah nanti kakak PB, udah sana mandi dulu gih!" suruh Shanti pada Shinta.
Rosa diam sesaat sambil memperhatikan Shinta menjauh, lalu berkata," Si Opik yang kirim kali? Dia kan tinggal di sini juga!"
"Mama tahu dari mana?" tanya Shanti walau ia amat yakin akan jawaban Rosa.
"Bu Rofiq yang bilang. Istrinya kan orang sini. Dokter juga," papar Rosa.
Selepas dapat penjelasan dari Rosa, Shanti mengambil ponsel dan segera mengirim pesan pada Wynne. Ia memberi tahu Wynne bahwa dugaan mereka benar adanya. Dan meminta Wynne untuk menyelidiki bunga papan itu lebih lanjut. Dalam hati Shanti berharap Wynne segera dapat jejak Kak Opik yang selama ini menghilang.
__ADS_1
"Shan, kamu ngapain? Mama lagi bicara juga!" tanya Rosa.
"Eh iya ma, ini lagi kirim uang ke rekening Shinta. Takut lupa!" jawab Shanti tergagap karena tengah melakukan kebohongan pada mamanya.
Rosa menceritakan semua yang ia ketahui dengan gamblang. Tak sedikitpun Rosa curiga pada Shanti. Rosa tak menyadari bahwa putri sulungnya itu memiliki obsesi pada putra tertua keluarga A. Rofiq. Selain mereka tetangga dekat sejak lama. Selisih usia antara Shanti dan Taufiqurrahman amat jauh. Ketika Opik, nama panggilan untuk Taufiqurrahman, merantau untuk melanjutkan sekolah ke fakultas kedokteran, Shanti bahkan belum tamat sekolah dasar.
Sejak kecil bakat kecantikan Shanti telah timbul. Semua orang yang mengenalnya selalu memujinya. Bahkan banyak yang bergurau akan memperistrinya kelak. Adalah kebaikan dan perhatian Kak Opik seorang yang dapat membuat Shanti terobsesi menjadi pasangan hidup dr. Taufiqurrahman, SGOT MMRs.
Untuk cita-cita pun Shanti cocokkan dengan yang dirasa akan sesuai kebutuhan Kak Opik. Sangat sederhana, Shanti ingin menjadi tenaga pencatat pasien sekaligus sebagai asisten dokter di tempat praktek dokter milik Kak Opik.
Adalah Tante Risna yang dapat merubah pemikiran dan obsesi Shanti. Mengubah pola pikir aman menjadi optimal dalam mengolah seluruh kemampuan yang ada. Mengenal tata cara resiko berikut proses pengendaliannya. Mengubah cita-cita tenaga administrasi di belakang meja menjadi profesional yang berani tampil bersaing.
Seketika lamunan Shanti buyar ketika Rosa berkata," Shan, mama udah kepengen pulang. Bagusnya kapan ya?"
Kenapa harus buru-buru pulang ma? tanya Shanti sambil membuka layanan mobile banking untuk melakukan pindah buku saldo tabungannya ke rekening Shinta.
"Mama khawatir kehilangan pelanggan kalau kelamaan di sini, soalnya Bu Retno tetangga belakang udah jualan sarapan pagi juga," tutur Rosa.
"Shan-shan ikut.mama aja. Kapan mama mau pulangnya? tanya Shanti.
"Papa juga setuju kalau kami pulang Jumat pakai bis malam. Sama seperti kami kemari. Bisnya enak." tutur Rosa. "Jadi Sabtu Minggu mama bisa istirahat. Senin jualan lagi."
Kalau semua setuju, Shan-shan pesan tiket bisnya besok," jawab Shanti.
"Wuhuy, udah masuk kak ke rekening Ain. Terima kasih lebihnya." ujar Shinta.
"Oke ma, Shan-shan ke kamar dulu. Eh Shin, itu lebihnya buat makan di jalan oke!" pinta Shanti.
Lalu Shanti masuk ke kamarnya. Sekilas ia mendengar keluhan Shinta yang tidak jadi dapat kelebihan uang. Tapi memang harus begitu, Shanti harus berhemat jika ia tidak ingin kehilangan rumahnya. Sekaligus bersyukur keluarganya memilih bis sebagai transportasi untuk pulang.
Dengan mengalungkan handuk, Shan-shan menjatuhkan dirinya di kasur idamannya. Matanya menerawang jauh menembus plafon gypsum putih bersih kamarnya. Shanti membayangkan keberhasilan Wynne menemukan pengirim bunga papan itu. Lantas ia akan bertemu dengan Kak Opik yang telah lama sekali menghilang dari kehidupannya.
...**...
Shanti keluar hotel setelah memfasilitasi temu bisnis para klien yang diberikan Tante Risna. Sukses kali kedua dalam minggu ini. Shanti ragu pulang ke rumah. Setelah keluarganya pulang, Shanti merasa tidak berani tinggal sendiri di rumah itu.
Akhirnya Shanti tetapkan untuk menginap di apartemen geng siap glamor. Shanti tahu pasti jadwal bertanding Widi malam ini. Maka ia putuskan segera bergabung di rumah biliar yang sama pada minggu lalu. Ketika itu ia datang bersama Mus Topan.
Dengan naik ojek online Shanti tiba di lokasi. Sengaja Shanti tidak memberitahu Widi, Ia bermaksud memberi kejutan dan tidak mau mengganggu konsentrasi bertanding Widi. Sebab lain karena tidak ada kepastian waktu business meeting selesai.
Shanti tiba di arena pertandingan. Widi sedang bertanding di meja nomor 12. Yang jadi lawan Widi adalah peserta yang pernah ia dan Mus Topan lihat. Pebiliar wanita tangguh yang pernah Shanti saksikan performanya bersama Mus Topan.
Pertandingan menggunakan sistem race to three. Dimana peserta berhak lolos ke babak selanjutnya jika berhasil menang tiga kali lebih dulu dalam mengalahkan lawannya. Shanti kecewa karena dukungan dirinya tak mampu membuat Widi jadi pemenang. Namun, tidak bagi Widi kekalahan 3-1 tetap membawa kebanggaan tersendiri baginya.
Sempat bermain sebentar, geng siap glamor putuskan langsung pulang. Semua letih setelah aktivitas seharian. Yang terbayang oleh mereka nikmatnya santai bersama dan senda gurau dihari minggu seperti mereka lakukan pada masa-masa sebelumnya.
Namun, tidak bagi Shanti. Lebih baik ia tinggal bersama teman-temannya dibandingkan harus tinggal sendirian di rumah. Selain itu Shanti ingin menggali lebih dalam isi pesan singkat Wynne siang tadi. Bahwa ia diharapkan datang ke rumah sakit tempat Kak Opik bekerja Senin besok.
...***...
__ADS_1