
Abang ini pastinya lagi makan pagi, nggak bisa ajak-ajak lagi tah? Emang gue bukan istrinya apa, batin Shanti sambil berjalan cepat di koridor hotel.
Benar saja perkiraan Shanti, tampak Mus Topan sarapan pagi semeja dengan Rizki dan Misno. Adapun Fatma dan Shinta duduk pada meja terpisah. Shanti pun segera mengambil roti manis dan berbagai topping kesukaannya terlebih gratis. Ketika ia berbalik ke arah meja Mus Topan sudah tak tampak lagi Rizki dan Misno disana.
Bagus, menyingkirlah. Sebelum kuusir kalian pikir Shanti sambil tertawa dalam hati.
"Shan, abang ..," kata Mus Topan, tapi terhenti karena Shanti minta agar pembicaraan ditunda dulu..
"Bentar, bentar ya bang. Shan-shan mau ambil jus jeruk dulu ya bang," potong Shanti.
Tak berselang lama Shanti telah tiba kembali di meja Mus Topan. Diletakkan jus jeruk dan roti croissant. Shanti pun segera menanyakan apa yang hendak disampaikan Mus Topan tadi.
"Rizki bilang ibunya ingin kami pulang hari ini," ujar Mus Topan pelan.
"Emangnya ada apa mbak Siti minta abang pulang buru-buru hari ini bang? tanya Shanti lembut.
Sedangkan didalam hatinya Shanti amat jengkel. Shanti pun membatin ada apa lagi nih nenek lampir. Kalau nggak ganggu orang barang sehari ngapa.
"Abang juga nggak ngerti apa alasannya," jawab Mus Topan polos. "Cemburu kali?"
"Abang bilang aja Fatma masih mau liburan. Sebenarnya Shanti pingin ngajak abang pergi beli kasur buat rumah baru kita," ujar Shanti.
Berat rasanya Shanti harus membuka rahasia tentang rumah yang dibelinya. Rencananya siang nanti setelah membeli kasur baru akan ia jelaskan. Shanti ingin sekali membeli kasur besar seperti milik Widi dengan ditemani Mus Topan.
Terbelalak mata Mus Topan mendengar kabar itu. Lalu ia bertanya alasan Shanti membeli sebuah rumah. Shanti menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati.
Tentu saja Mus Topan dapat menerima alasan agar Shanti dapat memiliki aset. Serta alasan lain agar kunjungan Mus Topan dapat dilakukan kapan saja. Tanpa harus ragu adanya tempat untuk menginap. Shanti pun memberi tahu bahwa sebagian uang pesta pernikahan pemberian Mus Topan digunakan sebagai uang muka pembelian.
Mendengar perkataan Shanti terakhir, Mus Topan menjadi semakin yakin, bahwa Shanti telah membeli rumah benar adanya. Sebab ia yakin pesta yang diadakan kemarin jika dibandingkan dengan jumlah uang yang ia berikan pastilah berlebih. Namun Mus Topan tidak ada niatan mempertanyakan hal itu pada Shanti.
Bangga Shanti pada Mus Topan yang tidak memperhitungkan apa-apa yang telah ia keluarkan. Memang begitulah sebaiknya lelaki. Tetap menjaga komitmen setelah menghitung untung rugi suatu keputusan.
__ADS_1
Mus Topan pun memanggil Fatma. Ia ingin langsung menanyai Fatma perihal penundaan kepulangan mereka. Mus Topan sangat yakin hanya Fatma yang bisa mengubah keadaan ini tanpa ada yang terluka.
"Bagaimana Fatma kalau kita tunda sehari pulangnya?" tanya Mus Topan ketika Fatma telah duduk di sampingnya." Ayah mau lihat rumah Tante Shanti dulu. Tante baru saja beli rumah."
Fatma tidak langsung menjawab, ia melihat ke arah Shanti dan berkata," wah, hebat Tante ini. Udah bisa beli rumah, padahal masih muda."
Namun, tidak ada jawaban Fatma atas pertanyaan Mus Topan. Shanti pun putuskan untuk ikut bertanya pada Fatma. Bagaimana pun juga kesediaan Fatma untuk menginap akan menjadi suatu keuntungan tersendiri baginya.
Shanti bertanya dengan suara yang lembut pada Fatma," gimana mau nggak dipending satu hari dan nginap di rumah tante?"
Setelah diber pengertian Fatma akhirnya setuju. Terlebih dengan menyetujui maka akan tambah satu hari lagi untuk bisa bermain dengan Shinta. Dan Fatma pun setuju untuk menginap di rumah baru Shanti.
Setelah memberi pertanggungjawaban uang pemberian Mus Topan, Shanti merasa senang.. Dan rasa senang itu kini bercampur bangga karena Mus Topan dan anak-anaknya bersedia ikut serta membeli perabotan untuk rumahnya. Bahkan mau menginap, walaupun hanya satu malam. Shanti puas telah memberi bukti bahwa la dapat membatalkan pengaruh Siti Rukayah.
Biasanya waktu check out hotel pukul 12.00. Namun, Mus Topan memberi instruksi pada mereka agar keluar dari hotel lebih awal. Mereka sudah harus memasukkan barang bawaan mereka masuk mobil sebelum jamnya.
Menurut rencana mereka akan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan furniture yang diketahui Shanti sangat lengkap. Untuk itu Mus Topan bertindak sebagai supir dan Shanti bertindak sebagai navigator. Sempat Fatma bertanya mengapa mereka harus pergi membeli furniture. Pertanyaan Fatma dijawab dengan sebuah pertanyaan lagi. Bagaimana mereka bisa menginap jika rumahnya belum memiliki kasur.
Shanti membeli tiga buah unit kasur. Satu unit berukuran besar. Inspirasi Shanti adalah kasur yang berada di master bedroom milik Widi. Sedangkan untuk dua unit lagi, Fatma dan Shinta diberi kesempatan untuk memilih. Shanti sengaja melibatkan Fatma dan Shinta agar mereka tidak segan untuk berkunjung kembali ke rumahnya kelak.
Pukul 13.25 mereka pun tiba di rumah baru milik Shanti. Ia membeli rumah cluster bertipe minimalis dua lantai dengan 3 kamar dan 3 kamar mandi. Shinta terkagum, tak pernah ia menyangka bahwa kakaknya mampu membeli rumah di kota besar.
"Abang parkir di sisi jalan aja, biar mobil yang antar perabot parkir di carport," ujar Shanti. " Biar pas mobil antar kasur nggak ganggu. Lebih dekat juga nurunin barang-barang."
Pernyataan Shanti itu disetujui Mus Topan. Atas instruksi Mus Topan maka mereka masuk ke rumah secara bersama-sama. Mereka juga membawa barang belanjaan dan tas pakaian masing-masing sesuai kebutuhan untuk menginap satu malam.
Sore hari petugas pengiriman kasur datang. Fatma dan Shinta sangat senang karena kasur yang mereka pilih tadi sangat cocok dengan warna cat dan lantai kamar. Walaupun sempat dilarang Shanti, Mus Topan tetap meminta agar mereka dapat melakukan bersih-bersih rumah. Akibatnya mereka terlalu letih untuk makan malam di luar. Atas usulan Rizki mereka setuju makan malam menggunakan layanan online.
...**...
"Hebat kamu Shan pilih rumahnya!" Puji Mus Topan. "Berapa angsurannya ini per bulan?" ujar Mus Topan mencoba bertanya lebih lanjut .
__ADS_1
Pertanyaan Mus Topan ini merupakan kali ketiga setelah mereka berdua berada di dalam kamar. Maka Shanti pun menceritakan rumah yang dibelinya dengan cara cash tempo itu. Dan meminta Mus Topan untuk menyetujuinya.
"Ya sudah ntar abang bantu biar bisa cepat lunas dibawah tiga tahun," ujar Mus Topan setelah mengetahui harga rumah itu.
"Terima kasih bang, memang sudah lama Shan-shan pingin punya rumah sendiri," jawab Shanti sambil memasang sprei berwarna putih senada dengan bedcovernya.
"Nanti setiap putaran bayaran dari pabrik, abang upayakan untuk kirim uang ke kamu," ujar Mus Topan sambil bergerak tinggalkan meja baca yang menghadap jendela.
"Nanti dulu bang, sebentar!" teriak Shanti melihat Mus Topan akan naik ke atas ranjang.
Shanti menyelesaikan pemasangan sehelai kain berwarna putih tepat di tengah-tengah ranjang. Setelah selesai Shanti segera melompat ke atas ranjang itu. Mus Topan hanya tersenyum melihat tingkah Shanti yang terlihat seperti anak kecil.
Celana itu. Ya celana pendek jenis mambo warna kuning muda itulah yang dipakai Shanti ketika ia melihat Shanti di wisma pagi itu. Hanya bajunya berbeda, kali ini tanktop putih dengan tali lebar. Mus Topan naik ke atas ranjang dan tidur di sebelah kanan Shanti.
"Shan! Shan! Kamu dah ngantuk? tanya Mus Topan. "Hei, ini celana yang kamu beli di pom bensin itu ya?"
"Berarti lihat ya abang waktu itu ya?" goda Shanti sambil terkekeh..
"Sedikit," jawab Mus Topan sambil tertawa.
"Shan! Shan! Kamu dah ngantuk?" tanya Mus Topan kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan.
Mus Topan melihat mata Shanti telah beberapa kali mengerjap. Namun, tetap saja Mus Topan bertanya apakah dirinya telah mengantuk. Shanti mengetahui dengan jelas niatan yang ingin Mus Topan tuju malam ini.
Andai saja Mus Topan jeli, maka ia seharusnya telah mengerti bahwa Shanti sebenarnya sudah bersiap. Mus Topan memang tidak mengetahui tujuan Shanti memasang kain warna putih ditengah ranjang itu. Ya, kain itu sebagai tradisi bagi sebagian masyarakat adat dalam pelaksanaan malam pertama.
"Shan, kamu capek?" Mus Topan mencoba bertanya sekali lagi.
"Iya bang, sedikit. Maklumlah seharian bersihkan rumah sama anak-anak." jawab Shanti. "Bang tolong matikan lampu bang."
Mus Topan bergerak ke arah saklar lampu. dan mematikannya. Hanya sinar redup dari lampu tidur saja yang tersisa. Mus Topan kembali berjalan ke arah ranjang dengan perlahan.
__ADS_1
Dibenaknya ada perasaan kasihan pada istri mudanya itu, setelah seharian membersihkan dan menata rumah. Dan benar saja ketika Mus Topan kembali berada disamping Shanti. Ia mendapati Shanti telah terlelap. Hanya napas lembut dan teratur Shanti saja yang terdengar oleh Mus Topan.
...***...