Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 2 Mendadak pulkam


__ADS_3

"922" berkata Mus Topan pada petugas jaga restoran yang memegang buku panjang berwarna hitam.


Kemudian pintu restoran dibukakan petugas yang lain. Mus Topan langsung mengarah ke meja kopi, sedangkan Shanti menuju box jus jambu biji. Shanti pun mulai mengamati posisi meja-meja yang dianggapnya dapat mendukung upaya untuk mendapatkan tanda tangan Mus Topan dengan cepat.


Akhirnya dipilihnya meja agak di tengah agar terhindar dari panas sinar matahari pagi dan ia men-setting posisi Mus Topan menghadap lobi yang dibatasi kaca agar fokus ke pekerjaan sedangkan Shanti menghadap ke arah chef yang bertugas membuat omelette dan jalur lalu lalang tamu hotel menuju pintu yang dapat mengakses kolam renang dan taman.


Terlihat oleh Shanti, Mus Topan sedang berdiri di depan chef itu dan menoleh ke arahnya sambil menunjuk ke arah meja masak seolah-olah menawarkan pada Shanti. Shanti yang memang pada dasarnya menyukai omelette alias telur dadar gulung terlebih gratis, tanpa ragu menganggukkan kepalanya. Tanda ia menyetujui tawaran dari Mus Topan.


Setelah memesan telur dadar gulung, Mus Topan berjalan menuju lokasi meja yang berlainan dari meja Shanti berada. Melihat Mus Topan malah duduk ditempat yang tidak sesuai keinginannya Shanti pun menjadi terkejut.


Waduh … Cilaka … kok dia malah duduk disana, kalau begini jadi lama dapat tanda tangannya, umpat Shanti dalam hati.


Secara cepat Shanti dapat membayangkan bahwa Mus Topan akan banyak membahas hal-hal lain diluar pekerjaan ketika Mus Topan duduk menghadap keluar arah kolam renang dan terkena cahaya matahari. 


Hu-uh … Pastilah banyak tambahan cerita, batin shanti.


Kemudian terlihat Mus Topan melambaikan tangan untuk membuat Shanti pindah ke tempat yang dipilih oleh Mus Topan. Dengan rasa malas tetapi tidak boleh ditampakan pada klien, Shanti pun pindah dengan membawa tas dan gelas berisi jus jambu biji.


"Enak di sini kan Bu Shanti, bisa lihat air dan kena sinar matahari." Ujar Mus Topan "Lagian saya nggak biasa kalau nggak kena sinar matahari."


Maksud Mus Topan berkata seperti itu ia ingin menyatakan bahwa ia adalah pekerja kasar atau pekerja lapangan.


"Iya, Pak Topan," jawab Shanti dengan coba memasang muka manis.


"Bu Shanti nggak buru-buru kan," tanya Mus Topan sambil mengaduk kopinya setelah ditambahkan krim dan gula.


"Eh, iya, nggak kok Pak Topan," jawab Shanti dengan agak tergagap.


Sebenarnya Shanti memahami perasaan Mus Topan yang pastinya merasa bosan didalam kamar tidak ada teman bicara. Tapi rasa kesal Shanti sangat wajar dikarenakan ia merasa telah melakukan tugasnya dengan baik tadi malam. Bahkan Pak Harris dan Pak Abdi mengakui bahwa tidak ada yang salah dari dirinya.


Kemudian datang seorang pelayan membawa dua porsi telur dadar gulung lengkap dengan saus asam manis yang telah dipesan Mus Topan tadi. Lalu kemudian Mus Topan berdiri untuk mengambil makanan lainnya.


"Saya mau ambil nasi goreng dulu ya, apa Bu Shanti mau juga,"kata Mus Topan. "Lagi pengen nasi, soalnya semalam sudah makan mie," lanjutnya.


Shanti tertawa dalam hati, mie yang di maksud oleh Mus Topan adalah Pad Thai udang. Memang makanan ini mirip dengan kwetiau goreng. Menyadari bahwa pertemuan ini pasti akan lebih lama dari waktu yang diperkirakan maka Shanti memutuskan menjadikan situasi ini menjadi ajang makan gratis.


Shanti berdiri, dan ia pun melangkah menuju bagian pastry. Diambilnya sebuah croissant dan dua potong  roti manis khas Perancis. ia juga mengambil beberapa topping berupa margarin, potongan keju, selai cokelat dan selai strawberry. 


Shanti pun tersenyum ketika mengoles roti dengan selai cokelat, ia teringat Gendis sedang mengolesi roti yang dibeli di minimarket hanya dengan margarin. Sangat berbeda dengan dirinya mengolesi roti dengan banyak pilihan topping.


Ketika Mus Topan kembali Shanti telah menghabiskan satu potong roti manis lengkap dengan margarin, keju, dan selai coklat. Dan untuk menghilangkan rasa manis berlebih di mulutnya Shanti jus jambu biji. 


"Maaf lama, Ady antrian di nasi goreng tadi," ujar Mus Topan sambil duduk kembali. 


"Bagaimana bu Shanti kalau kita mulai saja pembicaraannya, khawatir laporan Bu Shanti sudah ditunggu Pak Abdi." kata Mus Topan. "sambil makan nggak masalah kan?"


"Tidak masalah Pak Topan," jawab Shanti sambil memakan potongan telur dadar gulung yang telah dicelup saus. "Tapi sebenarnya saya tidak bekerja untuk Pak Abdi pak. Saya rekanan Pak Harris sebagai pemandu pada pertemuan semalam." lanjut Shanti setelah menelan potongan telur dadar gulung itu.


"Oh, begitu, saya sebenarnya sudah curiga. Saya pernah ke kantornya Pak Harris di sana saya lihat pegawainya yang wanita cuma yang di depan itu saja," jelas Mus Topan.


"Iya Pak Topan begitulah posisi saya," jawab Shanti sambil harap-harap cemas pandangan Mus Topan berubah padanya.


"Sebentar, rekanan Pak Harris? Saya pernah dengar dari Pak Harris namanya Liske, ya Liske bukan kamu. Setahu saya dia yang rekanan Pak Harris," kata Mus Topan seolah-olah menyakinkan dirinya sendiri.


"Liske itu senior saya Pak Topan, kami satu manajemen. Kalau untuk Pak Harris, saya sendiri telah 2 kali, 3 kali sama semalam  karena saya menggantikan Liske," papar Shanti mencoba menjelaskan secara lengkap.


Suasana hati Shanti sudah mulai tidak enak, benar saja sekarang Mus Topan telah memanggilnya dengan menggunakan kata kamu. Tapi ia yakin bahwa penjelasannya dapat dimengerti oleh Mus Topan.


"Hebat juga ya kamu bisa nyambung bicaranya ke Pak Harris dan Pak Abdi, dan sepertinya kamu cukup paham tentang proposal dari Pak Abdi, hebat," ujar Mus Topan dengan sedikit memuji Shanti.


Kemudian Mus Topan berdiri dan berjalan ke arah sebuah dispenser yang tabung airnya berbahan kaca. Kemudian ia kembali dengan membawa dua gelas air putih, lalu memberikan satu gelas pada Shanti. Bagi Shanti baru kali ini diberi segelas air lebih membuat tenang ketimbang menghilangkan rasa haus.


Kemudian keduanya diam dan tampak mencoba menghabiskan makanannya dengan cepat. Hidangan yang tersisa di atas piring Shanti hanya roti croissant dan selai strawberry. Dibelahnya roti itu dengan menggunakan pisau roti, kemudian diolesi selai strawberry. Roti yang gurih dicampur selai manis sedikit asam merupakan kombinasi yang sempurna bagi Shanti. Roti croissant yang kering membuat Shanti ingin membasahi tenggorokannya.


"Pak Topan mau tambah air minumnya?" tanya Shanti.


"O iya boleh, terima kasih Shan," jawab Mus Topan


Shanti segera beranjak menuju dispenser tempat Mus Topan mengambil minum tadi. Ketika berjalan arah kembali tampak oleh Shanti petugas hotel tengah mengambil beberapa piring kosong. Shanti meletakkan kedua gelas itu di tempat semula, dan kembali duduk.


Tegukkan Mus Topan terakhir dari air minum yang diberikan Shanti tadi menandakan berakhirnya aktivitas sarapan pagi itu. Mus Topan mengambil serbet makan yang merupakan penutup gelas minum yang mereka pakai tadi. 

__ADS_1


"Shan, kamu saya bayar 10 juta perhari mau nggak?" tanya Mus Topan. "Kamu tugasnya menerangkan apa yang kamu tahu tentang proposal bisnis Pak Harris dan Pak Abdi tawarkan pada saya."


Shanti hanya terdiam, ia tak menyangka akan mendapat tawaran seperti ini. Yang ada di benaknya adalah uang 10 juta. 


"Gimana, mau nggak?" tanya Mus Topan lebih lanjut sambil tersenyum.


"Mau lah pak, kalau 10 juta mah," jawab Shanti dengan gaya bicara yang ia upayakan agar terkesan lebih akrab. 


"Tapi gimana dengan tanda tangan kesepakatannya pak?" tanya Shanti dengan nada bicara seolah-olah sudah menjadi karyawan Mus Topan.


"Gampang kalau itu mah, yang penting sekarang kita menyingkir dulu dari tempat ini. Sudah banyak yang butuh meja kita," kata Mus Topan. "Ayo."


Shanti segera menyambar tas yang ia letakkan di bawah kursinya dengan alasan agar tidak mengganggu atau terinjak. Dengan cepat ia menyusul Mus Topan yang berjalan sambil membawa cangkir kopi ke arah pintu kolam renang. Di sana terdapat lobi luar ruangan dengan tenda payung.


Pelayan hotel yang berdiri depan pintu itu segera membukakan pintu. Ia merupakan pelayan yang bertugas mengambil alat makan dan membersihkan meja yang sudah tidak dipakai lagi. Namun, posisi siaganya di depan pintu jalur menuju taman dan kolam renang.


Mata Mus Topan memandang ke arah kolam renang, dan dilihatnya ada pondok berpayung kosong. Kemudian ia mengeluarkan korek api dan kotak rokok yang berukuran kecil. Shanti yang memiliki kecepatan dalam hal analisa mengambil kesimpulan bahwa Mus Topan hendak menuju pondok berpayung itu.


"Pak Topan mau merokok?" tanya Shanti


"Iya, nggak enak kalau habis makan nggak merokok," katanya sambil tertawa kecil.


Sebenarnya Mus Topan bukan perokok berat. Ia hanya merokok jika memiliki waktu senggang. Awal ia mengenal rokok sewaktu bekerja sebagai kernet truk, ketika itu umurnya 16 tahun. Menjadi perokok aktif setelah ia menjadi supir truk sawit setahun kemudian. Dan mulai mengurangi rokok ketika ia mulai sudah tidak aktif lagi membawa mobil truk sekitar tahun 2006.


Shanti mengajak Mus Topan duduk di bangku panjang di antara pepohonan. Di Setiap sisi bangku itu terdapat asbak berdiri yang terbuat dari kayu sebagai tiangnya. Mereka duduk dengan berjauhan di mana setiap lengan bangku panjang itu ditekan oleh kedua punggung mereka.


"Oke, Shan kita mulai," berkata Mus Topan


Setelah berkata demikian ia pun mulai membakar rokoknya. Mendengar aba-aba itu Shanti segera mengeluarkan dua dari map nota kesepakatan itu. Dan salah satunya ia berikan pada Mus Topan. Hal ini ia lakukan agar apa-apa yang akan menjadi penjelasan darinya tidak akan melenceng jauh dari proposal sesungguhnya.


"Oke pak siap," sergah Shanti


"Oke, Shan terangkan sebisa kamu tentang keterangan dalam gambar pabrik yang dikasih Pak Abdi semalam." pinta Mus Topan. 'Perihal substitusi, compatible, sama upgrade."


"Oke pak," jawab Shanti. "Tapi jangan diketawain ya pak kalau salah,"


Mus Topan mengangguk kecil, dan kemudian ia menghisap rokoknya. 


Tapi kalau daya listrik di kampung Pak Topan memadai maka Pak Abdi menyarankan untuk memakai tenaga listrik.


Begitulah Shanti mencoba menerangkan ketiga kata yang terkait proposal Pak Abdi sesuai permintaan Mus Topan sejauh yang ia tahu. Selama menerangkan ia melihat Mus Topan membakar lagi rokoknya yang kecil berwarna coklat itu. Tampak pula rambut panjang Mus Topan berkibar-kibar ketika angin yang berhembus sedikit kencang menerpa mereka.


"Oke, saya mengerti sekarang. Tapi masih banyak yang akan saya tanyakan. Termasuk pandangan pribadi kamu Shan terhadap proyek ini," ujar Mus Topan.


"Kenapa sampai pendapat pribadi saya pak?" tanya Shanti penuh keheranan.


"Sekarang sudah jam 07.53, oke Shan saya mau siap-siap dulu. Saya mau pulang siang ini," kata Mus Topan sambil melihat ponselnya.


"Pesawat jam berapa pak," tanya Shanti.


Mendengar pertanyaan Shanti, Mus Topan pun mengaktifkan ponselnya dan membuka tiket berupa file PDF, seraya memberikan ponselnya pada Shanti, Mus Topan berkata,"coba dilihat Shan, jam berapa jadwalnya."


Shanti menerima ponsel itu lalu membuka file itu dengan aplikasi yang sesuai. "Jam 12.45, pak ini mah bandara dekat rumah saya," ujar Shanti dengan setengah berteriak karena senang. "Tapi bukannya rumah Pak Topan di,"


Belum selesai Shanti bicara Mus Topan langsung memotong," betul, tapi kalau lewat bandara yang dekat rumah kamu itu saya lebih dekat, hampir 3 jam lebih cepat sampai di rumah."


Mendengar jawaban itu, perasaan rindu rumah langsung mendera Shanti. Sejak merantau belum pernah ia pulang. Kalau dulu sebelum memiliki pekerjaan kendala keuangan yang menjadi penyebab. Sedangkan dua tahun terakhir ini adalah pandemi. 


"Pak Topan kok tahu lewat daerah rumah saya bisa lebih cepat hampir tiga jam," tanya Shanti penuh antusias.


"Saya dulu supir truk Shan, dan tinggal di daerah transmigrasi dekat perbatasan propinsi," jawa Mus Topan. "Nah dari perbatasan ke rumah saya ya cuma 30 menit.


Makin girang perasaan Shanti mendengarnya, ia sangat paham daerah itu. Ketika hendak merantau, bus yang dinaikinya melewati daerah transmigran itu. Karena pada lima tahun yang lalu belum ada jalan tol.


"Pak Topan bagaimana tawaran bapak tentang pekerjaan 10 juta tadi pak?" tanya Shanti yang kali ini berlipat rasa antusiasnya.


"Emangnya kamu mau ikut saya ke kampung Shan?" tanya Mus Topan sambil terheran.


"Mau lah pak, lebih-lebih kalau boleh singgah di rumah saya dulu. Lagian pendapat pribadi saya, baru bisa ada kalau saya sudah lihat kondisi real-nya pak," jawab Shanti dengan cepat.


Semakin kagum Mus Topan terhadap Shanti, ia dapat mengingat pembicaraannya tentang permintaan pendapat pribadi itu. Karena pernyataan itu sebenarnya tidak lebih dari omongan yang tidak ada dasarnya. Tapi pada dasarnya Mus Topan memang butuh pendapat bisnis dari kacamata seorang wanita seperti yang dilakukan istrinya pada masa lalu.

__ADS_1


"Tenang saja pak, upah harian saya masih bisa di diskon," ujar Shanti lebih lanjut. "Dan mulai saat ini saya sudah siap bekerja untuk bapak."


Mendengar pernyataan Shanti itu Mus Topan menjadi gusar, kopi yang dibawanya tadi diminumnya sampai habis. Dan kembali ia mengeluarkan rokok kecilnya dan membakarnya. Perasaannya menjadi tidak enak, penyebabnya adalah ia harus jalan bersama perempuan yang jauh lebih muda darinya dan memiliki penampilan yang sangat menarik.


Lalu Mus Topan pun berkata,"oke, saya setuju, tapi dengan catatan ya. Semuanya bisa terjadi kalau kamu bisa dapat tiket pesawat yang jadwalnya sama dengan saya ya."


Girang bukan main perasaan Shanti, dengan cepat diambilnya ponselnya. Dibukanya aplikasi travel khusus untuk transportasi udara.


Ketika ia memasukkan kota asal dan kota tujuan dilihatnya masih ada tiket tersedia untuk waktu penerbangan yang sama. Shanti pun memperlihatkan layar ponselnya pada Mus Topan. 


Mus Topan terlihat mengangguk ketika melihat layar ponsel itu, kemudian ia tersenyum. Entah apa arti senyum Mus Topan kali ini. Sementara itu proses pemesanan tiket di ponsel Shanti telah selesai dan menunggu konfirmasi perintah pembayaran. 


"Oke Shan, saya mau naik ke kamar dulu. Mau siap-siap check out," kata Mus Topan. "Saya mau cari cokelat dulu untuk putri saya."


"Nanti dulu bang, kenapa mau cepat-cepat check out?" tanya Shanti penuh keingintahuan alasan Mus Topan


Entah kenapa panggilan bang itu meluncur dari bibir Shanti. Tapi yang pasti semua itu terjadi karena telah hilangnya kekakuan suatu hubungan atas dasar bisnis. Dan yang timbul saat ini adalah hubungan kedekatan karena mereka merasa kesamaan asal daerah walaupun mereka berdua berasal dari propinsi yang berbeda.


Panggilan abang itu tidak ditolak oleh Mus Topan, cuma ia merasa belum biasa saja mendapatkan panggilan bang selain dari istrinya. Bahkan Siti Rukayah istrinya acap kali memanggilnya dengan sebutan bang haji.


"Kata putri saya, saya harus cari cokelat di bandara kalau mau dapat jenis cokelat yang model seperti batu-batu kerikil" jelas Mus Topan. "Tapi saya nggak tahu harus cari diterminal berapa."


"Bolehkah saya bantu cari cokelat yang model batu-batu begitu?" tanya Shanti. "Kalau tidak salah cokelat yang seperti itu banyak dipakai sebagai oleh-oleh orang pulang naik haji."


"Ya benar, entah kenapa Fatma pinginnya cokelat itu. Saya pernah membelikannya tiga tahun yang lalu," jawab Mus Topan. "Maklumlah tempat kami susah kalau pingin cari yang aneh-aneh kayak gitu."


Shanti pun tertawa, tampaklah oleh Mus Topan gigi gingsul Shanti yang menambah manis wajah Shanti. Namun dengan cepat Shanti menutup mulut dengan tangannya. Sekejap ia lupa bahwa tertawa dengan mulut tidak tertutup oleh sebagian orang dapat dianggap melanggar kepantasan khususnya wanita.


"Selain jenis batu-batu adakah model lain yang ingin abang belikan buat Fatma?" tanya Shanti sambil ia melakukan aktivitas untuk menelepon seseorang. "Berapa umur Fatma bang? Berapa budget yang abang anggarkan?" Lanjut Shanti bertanya.


Mus Topan memberitahukan umur putrinya dan besaran jumlah uangnya dengan suara pelan dikarenakan Shanti telah tersambung dan tengah berbicara dengan Tante Risna. Shanti pun memberi kode bahwa jawaban Mus Topan itu telah dimengerti olehnya dengan membentuk huruf o pada jari tangan kanannya.


Kemudian Mus Topan menunjukkan jari telunjuknya dan menggerak-gerakkannya tanda ia akan menuju ke kamarnya. Shanti pun mengangguk pelan. Kemudian Mus Topan membawa cangkir kopi yang telah kosong dan melangkah ke arah pintu mereka keluar tadi. Shanti tetap bertelepon hingga akhirnya punggung Mus Topan menghilang dari pandangan dikarenakan telah masuk ruangan restoran.


Setelah selesai bertelepon, Shanti segera menyelesaikan pesanan tiketnya dengan mobile-banking atas instruksi yang ia terima melalui SMS. Lama duduk sendiri, Shanti pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke lobi hotel. Kali ini ia memilih kursi yang memiliki sandaran yang berada di pojok kanan hotel berjajar mengikuti kaca jendela. Diletakkan tas dan ponselnya diatas meja.


Lama juga Shanti menunggu di lobi itu, bahkan hampir-hampir ia tertidur. Dua paket cokelat telah pula ia terima dari ojek online. Paket besar untuk Fatma dan paket kecil untuk adiknya, Shinta. 


Telah banyak aktivitas yang dilakukan Shanti dengan menggunakan ponselnya. Bahkan ia  pun sudah bertelepon untuk mengabarkan pada Widi bahwa dia akan pulang kampung bersama Mus Topan. Widi pun mengiyakan tetapi ia meminta nomor telepon Mus Topan untuk memastikan keselamatan Shanti.


Shanti menatap ke arah ujung sepatu ketsnya, ketika Mus Topan menghampirinya. Setelah dari resepsionis untuk penyelesaian pembayaran hotel. Sepertinya Mus Topan tidak berganti baju, hanya menambahkan jas berbahan wol yang dipakainya semalam.


Di tangannya tampak tas selempang kulit ukuran sedang, cukup untuk memuat laptop, beberapa helai baju ataupun kertas kerja. Shanti pun dengan semangat menceritakan bahwa ia telah berhasil mendapatkan pesanan cokelat untuk putri Mus Topan juga tiket elektronik. 


"Bang, Shan-shan pinjam ponsel abang dulu untuk mindahin file PDF tiket abang," pintanya. 


Mus Topan pun memberikan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Shanti merasa ada yang aneh dengan sikap Mus Topan kali ini, mengapa begitu drastis. Apakah karena ia menyebut dirinya Shan-shan.


"Sudah semua," berkata Mus Topan setelah ia menerima ponselnya kembali. "Kalau sudah siap ayo kita berangkat." 


Lalu Mus Topan melangkah menuju pintu keluar. Shanti mengangguk dan segera ia mengemasi dan membawa tas dan bingkisan cokelat itu. Dengan jalan yang dipercepat ia berusaha ia menyusul Mus Topan. 


Sebuah taksi berhenti tepat di depan hotel. Lalu Mus Topan membuka pintu belakang. Lalu masuklah Shanti dan segera bergeser ke arah kanan untuk memberi ruang pada Mus Topan. Namun, yang terjadi Mus Topan lebih memilih untuk duduk di depan.


Taksi pun meluncur dengan cepat menuju ke bandara sesuai dengan arahan Mus Topan. Ketika di atas taksi Shanti sempatkan untuk meminta izin memberikan nomor telepon Mus Topan pada Widi sesuai permintaan Widi padanya. Mus Topan hanya menoleh dan mengangguk sebagai tanda setuju.


Beruntung bagi Shanti pesawat kali ini tepat waktu sehingga tidak perlu lama lagi ia hanya berdiam diri akibat perubahan sikap Mus Topan yang mendadak diam. Sejak turun dari taksi, check in tiket, boarding pass, hingga duduk di ruang tunggu terminal penerbangan dalam negeri yang terucap dari mulut Mus Topan hanya kata-kata ayo, awas, hati-hati.


Demikian pula di dalam pesawat, setelah membantu Shanti meletakkan barang-barang pada laci atas tempat duduk penumpang. Lalu mempersilahkan Shanti untuk duduk pada bagian window dan menempatkan dirinya duduk di tengah hanya tiga kata itu yang terlontar dari Mus Topan.


Shanti amat menikmati posisi window itu, Berbeda dengan Mus Topan, sejak pesawat take off hingga landing, seat belt Mus Topan bahkan tidak pernah terlepas. Sehabis menerima dua kotak makanan kecil dari pramugari Shanti, Shanti melirik ke arah wajah Mus Topan.


Ya, dia hanya pura-pura tidur, batin Shanti.


Shanti menjadi kesal, setelah ia letakkan dua kotak makanan kecil itu ke dalam laci dari bangku yang ada di depannya ia pun langsung memaksakan dirinya untuk tertidur.


Shanti terjaga ketika para pramugari menginstruksikan dan memeriksa seluruh penumpang pemakaian seat belt. Namun hal itu tidak terjadi pada Mus Topan. Mus Topan harus disentuh oleh pramugari, dan memang secara peraturan penumpang harus dalam keadaan terjaga dan memakai seat belt ketika pesawat yang akan landing.


Abang ini pastilah pura-pura tidur, batin Shanti.


^^^bersambung ...^^^

__ADS_1


__ADS_2