Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 7 Pertandingan Sesungguhnya


__ADS_3

Brakk … terdengar suara pukulan break dari Mus Topan. Terdengar sangat keras memang. Mereka terkejut. Secara bersamaan mereka melihat Mus Topan yang tengah memasang muka penuh senyum. 


Meskipun yang lain kaget. Namun, tidak bagi Shanti. Baginya wajar suara keras pukulan pemecah bola yang dihasilkan Mus Topan. Sangat sesuai jika dibandingkan dengan ukuran tangan Mus Topan yang cukup besar.


"Yak bagus, tuh ada yang masuk tuh!" teriak Gendis sambil mengacungkan jempolnya.


Serempak mereka melihat ke arah Gendis. Dibandingkan bola yang masuk, mereka lebih tertarik pada teriakan Gendis. Ya, mereka tidak menyangka Gendis yang sangat terkenal diam mampu teriak layaknya kenek metromini.


Shanti langsung memperhatikan bola yang masuk. Ternyata bola nomor 3 dan 12. Shanti pun menerangkan pada Mus Topan bahwa ia boleh memilih bola yang memiliki tanda strip atau polos saja warnanya.


"Oh, main bola besar dan bola kecil ya Shan!" ujar Mus Topan.


"Iya bang, kita pilih memasukkan yang ada putihnya atau yang warnanya polos aja," sahut Shanti.


"Sepertinya yang mudah posisinya yang kecil ya Shan?" tanya Mus Topan. "Eh, yang polos."


"Iya bang, hajar bang! Masukin!" teriak Shanti seolah-olah menjadi komandan bagi Mus Topan.


Begitu senang mereka bermain stripes and solids secara berpasangan. Sejenak Shanti melupakan tekanan dan rasa letih. Lebih dari dua minggu setelah ia putuskan menikah secara mendadak. Adapun bagi Mus Topan malam itu sangat menyenangkan. Gembira hatinya dapat mengulangi kenangan bermain pada masa mudanya.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari ketika mereka memutuskan untuk berhenti main. Skor 7 lawan 4 untuk kemenangan pasangan  Widi dan Wynne. Tiga kemenangan tim Shanti didapat ketika Gendis menggantikan salah satu dari Widi dan Wynne. 


Mereka telah selesai membersihkan diri dari sisa bedak dan kapur biliar dari tangan mereka. Bahkan beberapa bagian baju dan celana pun terkena. Sedapat mungkin mereka bersihkan dengan cara menggunakan air atau menepuk-nepuk beberapa kali.


Widi telah memasukkan dua buah stik biliar kedalam tas miliknya. Dengan dibantu Shanti, Mus Topan pun telah mengenakan kembali jasnya Mereka bertiga meninggalkan arena permainan menuju pintu keluar dengan berjalan beriringan.

__ADS_1


Wynne dan Gendis datang menghampiri mereka setelah dari kasir. Mereka baru saja melakukan pembayaran atas sewa meja biliar dan makan minum mereka. Dan sebelumnya Wynne menyempatkan diri untuk melihat jadwal pertandingan selanjutnya.


"Kak, minggu depan kakak main yang keempat!"  berkata Wynne pada Widi dari jarak yang berdekatan.


"Mantap lah kalau begitu biar cepat bisa pulang kita," jawab Widi. "Shan, kamu sama Bang Topan kami antar ya!"


"Oh ya kak, terima kasih," jawab Shanti.


Widi menjawab seperti itu pada Wynne bukan karena kesal. Lolos masuk babak enam belas besar saja sudah menjadi pencapaian besar baginya. Widi main biliar hanya sekedar hobi dan senang-senang dengan temannya. Main biliar juga mengisi kesendirian Widi yang harus pisah dengan Tony dengan alasan pekerjaan.


Memang Widi sangat terkenal dengan sikap tak ambil pusingnya. Karena sikapnya, Widi acap kali bertentangan dengan Tante Risna, dalam hal pekerjaan. Namun, tidak demikian bagi Shanti, Wynne dan Gendis. Widi merupakan sosok kakak yang baik, dan selalu hadir untuk mereka.


...**...


Shanti dan Mus Topan telah sampai kembali di hotel. Mereka diantar oleh geng siap glamor sampai di depan pintu masuk hotel. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada teman-temannya, mereka pun berjalan menuju lobi hotel. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


"Dah lama juga sih bang, adalah dua tahun," jawab Shanti. "Abang jago juga ya?"


"Dulu sering main di biliar kampung, sambil tunggu bongkaran di pabrik. Itu mah sudah lama betul!" jawab Mus Topan.


Mereka telah tiba di depan meja resepsionis. Suasana hotel sangat sepi, termasuk lobi hotel. Hanya terdapat petugas shift jaga malam saja yang ada. Mus Topan meminta kartu akses kamar pada petugas resepsionis. Setelah dapat, mereka pun segera naik lift.


...**...


Setibanya dalam kamar Shanti mengatur suhu kamar. Kemudian ia mengganti baju dengan mengenakan baju tidur kesukaannya. Baju kaos putih dan celana pendek berbahan katun. 

__ADS_1


Setelah menaruh jas pada wardrobe, Mus Topan masuk kamar mandi untuk bebersih diri serta ganti baju. Selesai melakukan rutinitas malam, Mus Topan rebah tepat di kiri Shanti.


"Shan, kenapa ya Wynne tadi panggil Bang Ali? Ali Topan maksudnya gitu?" tanya Mus Topan. "Salah panggil nama artinya dia! Emang kamu nggak kasih nama abang yang bener."


"Mereka itukan panitia bang. Masa iya panitia pernikahan nggak tahu nama pengantin prianya?" jawab Shanti sambil terkekeh. "Wynne itu niatnya ngetawain abang. Dia bilang abang itu Ali sopan anak jahanam,"


"Kok bukan Ali Topan anak jalanan?" tanya Mus Topan penuh tanda tanya.


Shanti pun menjelaskan asal usul nama itu dibuat oleh Tante Risna. Tante Risna kerap salah dengan menyebut nama Ali Topan. Tante Risna kesal bila mendengar nama Mus Topan, ia teringat penyebab Shanti ngotot ingin terus menikah.


Dan setiap ditanya oleh Tante Risna, Shanti selalu menjawab dengan alasan bahwa Mus Topan merupakan orang yang sopan, baik, dan dapat mengayomi. Sedangkan Tante Risna beranggapan sebaliknya. Dan dari sanalah terucap Ali sopan anak jahanam terucap.


"He he, kok agak nggak nyambung ya,"  tutur Mus Topan sambil beringsut hingga dadanya menempel pada punggung Shanti.


"Bang, kalau memang nggak nyambung, besok-besok abang tanya aja sendiri ke Tante Risna!," jawab Shanti dengan nada sengaja ia tinggikan. "Apa abang nggak ngantuk, nanti siang kita check out lho!"


Shanti berpura-pura ingin tidur cepat. Selimut ditarik hingga menutupi kepalanya. Terdengar Mus Topan coba bertanya dan mengajaknya bercakap-cakap. Namun Shanti tetap menutup matanya hingga ia benar-benar tertidur.


...**...


Shanti terbangun. Dilihatnya kamar hotel dalam keadaan kosong, hanya ada dirinya. Shanti ingat bahwa semalam ia berpura-pura marah terkait istilah dari Tante Risna.


Shanti berdiri, lalu berjalan menuju saklar dan menghidupkan lampu besar. Shanti membuka pintu wardrobe, ternyata jas Mus Topan masih tergantung pada hanger. Pintu kamar mandi pun Shanti buka, sama saja tidak ada Mus Topan di sana. Lalu Shanti bersihkan dirinya di dalam kamar mandi, sambil ia mengira-ngira ada di mana gerangan suaminya itu.


Keluar dari kamar mandi Shanti mengambil ponsel dan melihat jam pada ponselnya. Agaknya Shanti telah dapat menebak dimanakah Mus Topan. Maka dengan segera ia menukar celana pendeknya dengan rok panjang bercorak batik.

__ADS_1


Shanti memiliki kulit dan kaki yang indah. Namun, Shanti kerap merasa risih jika harus ditatap secara mendalam oleh orang yang bukan muhrimnya. Setelah memakai sandal hotel, dengan cepat Shanti mencabut kartu akses dan keluar kamar.


...***...


__ADS_2