
Shanti dapat arahan dari seorang petugas keamanan. Setelah merasa paham Shanti berjalan menuju ke bagian umum. Disana ia dapati seorang laki-laki berusia empat puluhan.
"Ibu Shanti ya?" tanya orang itu.
"Mari ikuti saya bu ke ruangan dokter Taufiq," sambung orang itu.
Ditengah perjalanan ia perkenalkan dirinya sebagai Pak Ajit. Ia mengaku sebagai orang yang meminta Shanti datang melalui pesan singkat pada Wynne. Juga orang yang ditunjuk Kak Opik memesan bunga papan pada pernikahannya.
Setelah naik lift ke lantai delapan dan berjalan cukup jauh Shanti tiba di ruang kerja Kak Opik.
Tidak ada siapapun disana. Setelah meminta dirinya menunggu dan coba menawarkan minum orang itu pun mohon diri.
Shanti sendirian di ruangan itu. Ia melihat sekeliling dan tertuju pada papan nama yang bertuliskan dr. Taufiqurrahman SGOT MMRs di atas meja kerja. Shanti tidak begitu paham akan gelar di bidang kedokteran. Maka segera ia lakukan proses pencarian pada ponselnya.
Pintu ruangan terbuka, bersamaan selesai Shanti membaca hasil pencariannya. Seorang wanita berjas putih masuk.Tanpa canggung ia hampiri Shanti lalu sodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Anggia Kusumadewi, ujarnya ramah. "Tapi panggil aja Anggi."
"Shanti, saya tetangga Kak Opik di kampung," jawab Shanti.
"Iya, saya sudah tahu dari dr. Taufiq. Suami saya," papar drg. Anggi. "Maaf ya, dr. Taufiq mendadak ada jadwal operasi. Ada korban kecelakaan yang baru masuk."
Shanti telah mengetahui profil drg. Anggi dari hasil pencariannya kemarin. Tak pernah ia duga bahwa putri pemilik rumah sakit terkenal sangat super ramah. Walau terkesan sangat formil.
Syukurlah Kak Opik dapat istri yang begini baik. Tapi kok beda nggak sama dengan yang diceritain Bu Rofiq ke mama ya Mungkin sipek mertua ke mantu aja kali. Orang kenyataannya ramah gini, batin Shanti.
Ada setengah jam mereka bicara. Walau lebih banyak porsi cerita drg. Anggi tentang rumah sakit milik keluarga besarnya. Juga sejarah awal pendirian rumah sakit oleh kakeknya. Menuruni usaha kakeknya, keluarga besar drg. Anggi saat merupakan salah satu pionir bisnis kesehatan di negara ini.
"Udah lama Shanti datang?" tanya Kak Opik ketika ia bergabung dan duduk di samping drg. Anggi.
"Belum kak," jawab Shanti walau pertanyaan itu tidak jelas ditujukan pada siapa.
"Sudah lebih dari setengah jam Fiq, "jawab drg. Anggi. "Ya sudah ya saya pergi dulu ya Shan. Ada kerjaan yang belum selesai. Fiq makan siang bareng ya."
"Ya dokter Anggi, terima kasih." jawab Shanti.
Shanti bingung harus bilang apa. Hanya kata itu saja yang dapat dikeluarkan. Tempo datangnya Kak Opik dirasa terlampau cepat oleh Shanti.
"Wah, udah besar kamu Shan sekarang? kata Kak Opik. "Nggak nyangka bisa ketemu lagi disini."
Shanti bingung dengan pertanyaan yang dirasanya tidak ada jawaban. Atau terlalu panjang jika memang harus dijawab. Shanti putuskan untuk lebih memilih diam atau senyum menyeringai. Belum lagi pertanyaan susulan berikutnya.
Sekarang tinggal dimana? Kerja apa? Gimana kabar orang tua? Kok suaminya nggak diajak? Bisnis apa dia?
Semua pertanyaan itu Shanti jawab dengan sekenanya saja. Terlampau sulit menjawab sesuatu yang ia tidak tahu jawabannya. Ia menyesal mengapa tidak merancang jawaban ketimbang memikirkan tampilan Kak Opik saat ini..
__ADS_1
Lebih banyak diam Shanti pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan. Shanti gunakan alasan khawatir mengganggu rencana makan siang drg. Anggi dan suaminya. Lantas Shanti pun undur diri.
"Padahal jam makan siang masih lama lho," ujar Kak Opik didepan pintu lift.
"Nggak apalah kak. Shan-shan juga masih ada urusan lain." jawab Shanti.
Pintu lift terbuka. Shanti masuk ke dalam lift khusus direksi dan komisaris rumah sakit itu. Pikirannya hanya bagaimana cara dengan cepat sampai apartemen dan melupakan kejadian hari itu.
Shanti tiba di apartemen. Setelah mengambil gelas dan jus guava dari lemari pendingin. Lalu Shanti duduk di teras tempat Widi biasa merokok. Tak lama Wynne menyusul Shanti keruangan kaca itu. Tampak ia membawa gelas kosong.
*Shan, gimana pertemuan lu dengan Kak Opik? tanya Wynne sambil menuang jus ke gelasnya. "Benerkan orangnya?"
"Iya bener Wyn, kagak salah. Hasilnya ya gitu. Udah menikah dia. Tadi juga ketemu ama istrinya," jawab Shanti dengan malas.
Shanti kecewa setelah satu dekade menunggu tidak ada sedikitpun Kak Opik ada perhatian pada dirinya. Ia heran mengapa Kak Opik dulu selalu membela dirinya. Bahkan Mala, adik bungsu Kak Opik tidak selalu dibela seperti dirinya. Shanti sadar semua penilaian berupa obsesi dirinya saja.
Benarlah pendapat Tante Risna, obsesi hanya bisa dilawan diri sendiri atau dialihkan dengan membentuk obsesi yang lain. Dengan sesuatu yang dapat dijangkau. Jika tak bisa mengobati sendiri, orang yang memiliki obsesi dan tidak mampu mengontrol diri sendiri ada baiknya konsultasi dengan ahli psikologi.
...**...
Sejak Liske hamil, Shanti menjadi andalan utama Tante Risna. Hampir setiap minggu Tante Risna mengutus Shanti sebagai fasilitator pertemuan bisnis. Bahkan pernah sampai tiga kali dalam seminggu.
Jadwal kerja yang padat membantu Shanti lupakan kejadian pertemuan kembali dengan Kak Opik. Masalah Mus Topan yang tidak dapat dihubungi. Serta teror ejekan Siti Rukayah yang tidak pernah berhenti.
Siti Rukayah selalu menanyakan keberadaan Mus Topan padanya. Shanti sendiri telah sebulan lebih tidak berhasil menghubungi Mus Topan. Bahkan untuk telepon langsung selalu suara otomatis operator yang terdengar. Shanti tidak mengerti apa yang terjadi pada diri Mus Topan. Termasuk kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya.
...**...
Ponsel Shanti bergetar. Panggilan nomor tak dikenal yang masuk. Shanti tak menghiraukan panggilan itu. Selain Shanti tengah bertugas sebagai pemandu pertemuan bisnis, ia juga tak biasa menerima telepon dari nomor yang tak dikenal.
Shanti menutup pertemuan dan menyerahkan acara selanjutnya pada klien utama sebagai pemakai jasanya. Shanti membuka ponsel, pada dinding awal tertulis : "Sansan boleh abang jemput untuk pulang ke rumah bareng". Bergetar hati Shanti membaca tulisan itu.
Sansan dan Wawa kali Shanti membatin.
Shanti yakin pesan itu dari Mus Topan. Suami yang tak ada kabar berita hampir dua bulan. Suka cita rasa hati Shanti. Ia pun mengirim data lokasi, lalu menuliskan "dalam 30 menit".
Shanti berdiri di depan papan nama hotel. Memang tampak lebih terang dibanding area lain di sekitarnya. Memang Shanti agak takut jika harus menunggu di tempat gelap.
Telah lebih sepuluh menit ia menunggu. Diujung jalan tampak seorang laki-laki berlari ke arahnya. Ya itu memang Mus Topan.
...**...
Mus Topan keluar dari kamar mandi. Rambut ikal panjang itu ia keringkan dengan handuk putih kecil. Shanti melihat rambut Mus Topan jauh lebih panjang dibanding terakhir ia lihat. Begitu juga warna kulitnya lebih gelap dan lebih kurus.
"Bang, habis pakai baju ngopi di ruang tengah ya!" ujar Shanti sambil mengeluarkan pakaian Mus Topan dari tas ransel dan menyusunnya dalam lemari pakaian.
__ADS_1
"Itu pakaian bersih semua Shan," ujar Mus Topan. "Tolong Corduroy coklat sama kaos ya Shan."
"Iya bang, Shan-shan taruh diatas kasur ya," kata Shanti sambil melangkah keluar kamar.
"Nggak ada kopi hitam bubuk Shan," tanya Mus Topan.
"Nggak ada bang. Besok Shan-shan beli. Sekarang yang ada dulu. Ya yang latte-latte. Bang hp abang sudah Shan-shan simpanin nomor kontak dari pesan yang masuk." Shanti menerangkan.
Mus Topan sempat bercerita bahwa ponsel lamanya Mus hilang lebih dari sebulan lalu. Ponsel diperkirakan terjatuh di sungai ketika Mus Topan berada di Kalimantan. Mus Topan telah menjadi pengurus Gapki pusat. Saat ini melakukan tugas pendampingan petani sawit di daerah itu.
Tidak salah Mus Topan terpilih, telah terbukti ia menjadi petani sawit sukses. Juga rasa peduli pada petani sawit kecil telah terbukti. Saat ini Mus Topan mengemban tugas membuat studi kelayakan pabrik sawit teknologi sederhana untuk peningkatan kemakmuran petani sekitar.
Program yang diusung Mus Topan kerjasama dengan kantor konsultan Pak Harris dan Pak Abdi selaku supplier mesin murah dan ramah lingkungan. Mus Topan baru dapat kembali nomor ponsel Shanti setelah bertemu dengan Pak Harris siang tadi.
"Jadi abang selama ini disana? tanya Shanti.
"Iyalah, tiga hari habis pulang dari sini, abang diundang Gapki rapat anggota pengurus baru." jawab Mus Topan. "Nah disitu resmi dilantik. Langsung ditugaskan."
"Mbak Siti tahu abang pergi kemana," tanya Shanti penuh keheranan.
"Ya pasti abang kasih tahu dia. Kalau nggak sudah merepet dia sekarang," jawab Mus Topan. "Hei, ada apa rupanya?"
"Nggak begitu bang. Mbak Siti terus-terusan nanya dimana abang. Kirain Shan-shan, mbak itu ngejek, karena abang nggak pernah kemari," ungkap Shanti.
"Terus menurut kamu abang dimana?" tanya Mus Topan sambil berseloroh.
"Ya sama dialah!" pungkas Shanti "Shan-shan kan nggak tahu abang dimana!"
Mendengar jawaban itu Mus Topan tertawa. Lalu berkata, "Ya sudah jangan marah. Biasa aja."
"Apa belum paham sifat Siti?" ujar Mus Topan lebih lanjut.
Shanti terdiam. Begitu mudah ia diperdaya. Shanti tak menyangka Siti Rukayah memiliki kepandaian lebih dalam membodohi dirinya. Shanti harap tidak akan terjadi lagi kejadian seperti ini pada dirinya. Sekaligus ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan melawan jika Siti Rukayah mengerjainya lagi.
"Shan, abang capek banget. Ingin istirahat," ujar Mus Topan.
"Iya bang, tapi sebentar Shan-shan beresin dulu. Khawatir debu. Abang habisin kopinya aja dulu," pinta Shanti.
Shanti segera masuk kamar. Ia bereskan susunan bantal dan menepuk-nepuk untuk menghilangkan debu. Shanti khawatir akibat lama ia tinggalkan debu akan menempel di ranjang tidurnya. Namun Shanti salah duga, jendela serta lubang angin lainnya tertutup rapat. Sehingga tidak banyak debu yang masuk.
Shanti tenang, tidak ada yang kurang dengan tempat tidurnya. Setelah pastikan semua beres, Shanti segera memasang kain putih seperti waktu lalu. Kemudian ia pun melangkah keluar kamar.
"Mau kemana kamu Shan?" tanya Mus Topan.
"Ini bang mau ngeberesin ruang tengah." jawab Shanti. "Sama mau kasih kabar ke Kak Widi kalau abang datang. Biar dia nggak khawatir."
__ADS_1
Mus Topan segera rebahkan dirinya di atas kasur. Suhu kamar yang sejuk dan keharuman ruangan membuat rileks dirinya. Tak perlu waktu lama Mus Topan pun tertidur pulas.
Shanti bergerak dengan cepat. Bergegas dibawanya turun gelas bekas kopi Mus Topan ke wastafel di lantai dasar. Dimatikan semua lampu di semua lantai setelah memastikan seluruh pintu telah terkunci sebelumnya. Lalu Shanti pun menyusul suaminya berbaring di atas kasur.