
Pagi hari rumah Shanti sudah terdengar suara ribut. Rosa, mama Shanti protes akibat tidak adanya peralatan memasak. Sehingga ia tidak bisa menyajikan sarapan pagi bagi suaminya.
"Shan, gimana sih kamu ini! Rumah bagus kok nggak punya alat dapur! Kayak nggak pernah diajarin aja! teriak Rosa pada Shanti yang baru saja turun tangga akibat suara ribut di dapur.
"Udah sih ma, nggak usah teriak-teriak," berkata Zhamir pada istrinya itu."Malu sama tetangga."
Shanti sangat maklum dengan sifat ibunya dan selalu ia anggap sebagai masukan orang tua pada anaknya. Walaupun mereka sudah pisah hampir lima tahun dan baru bertemu kembali dua minggu yang lalu. Shanti bersyukur bahwa ibunya, Rosa tidak pernah merasa bahwa ia telah pergi selama itu. Hal ini tergambar dari perkataan Rosa, bahwa Ia tetap merasa selalu mengajari Shanti, walau ia telah lima tahun berpisah dari putrinya itu
"Tetangga yang mana, semua masih kosong gitu kok! teriak Rosa tak mau kalah dinasehati suaminya.
Memang kondisi komplek cluster perumahan ini masih sepi. Pandemi mengakibatkan minat pembeli turun. Namun, hal ini dimanfaatkan Shanti untuk mendapat harga spesial serta kemudahan waktu bayar. Shanti mendapatkan info cluster ini dari Gendis. Pengembang proyek perumahan ini merupakan klien dari kantor notaris tempat temannya itu bekerja.
"Iya, ma sebenarnya sih Shan-shan pengen banget ngelengkapin alat masaknya, tapi Shan-shan banyak nggak tahunya!" jawab Shanti dengan pelan. "Gimana kalau mama sama Bi Oshe aja yang bantu beliin?"
Reda seketika kemarahan Rosa mendengar perkataan Shanti. Memang ia sedikit kesal akibat terganggunya reuni dengan adiknya. Karena Rosa diminta menginap di rumah putrinya. Dan bagi Rosa kesempatan belanja alat dapur ini akan ia manfaatkan untuk pamer keberhasilan putri sulungnya pada adiknya.
Shanti sengaja mengiyakan keinginan Rosa. Walaupun ia sangat menyadari over.limit pemakaian kartu kredit akan besar sekali dendanya. Dengan cepat ia memberi kode mata pada Shinta, sambil berharap adiknya itu mengerti apa yang diinginkannya.
"Nah begitu Shan, mama setuju tuh!" ujar Rosa dengan penuh semangat. "Tapi gimana caranya Shan biar mama bisa pergi sama tante kamu?"
"Mudah itu ma, sembarang Tante Oshe saja maunya gimana. Apa mau kumpul disini atau langsung ke pasar tempat langganan dia." ujar Shanti. 'Kalau untuk uangnya mama bisa minta Shinta dulu."
"Emangnya kamu ada uangnya ya Shin? tanya Rosa pada Shinta yang sedang membongkar bungkusan belanja makanan tadi malam.
"Eh … Ya adalah ma, uang kiriman Kak Shanti tiap bulan kan masuk rekening Ain. ujar Shinta sembari mendadak paham kode mata Shanti tadi. "Kalau nggak punya rekening bagaimana mama bisa simpan uang titipan Ibu Siti di rekening Ain?"
__ADS_1
"O, begitu ya," jawab Rosa, lalu ia memandang
Ke arah putri sulungnya itu.
Senang rasanya Shanti dipeluk serta diusap bahunya oleh Rosa seperti dulu. Namun, Shanti tak ingin lama terlarut dengan hal-hal yang dapat dianggap cengeng seperti ini. Kehidupan keras dan stigma buruk yang kerap ditujukan pada diri dan profesinya telah mengubah Shanti menjadi sosok wanita yang tangguh. Shanti pun segera menggeliat, tanda ia ingin segera menyudahi adegan itu.
Sebaliknya Rosa yang awalnya sempat marah akibat hanya dirinya tidak diberitahu. Bahwa selama ini Shanti selalu mengirim uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Semakin bertambah bangga Rosa setelah mengetahui Shanti mengirim uang bulanan sekaligus untuk menabung biaya Shinta kuliah.
"Pa, hari ini kopi kotak aja dulu ya pa? ujar Shinta seolah minta ayahnya maklum kondisi kakaknya yang belum siap menerima mereka.
Zhamir mengiyakan, lalu ia menggeser sebuah kursi agar Rosa duduk disampingnya. Mereka pun sarapan dengan makanan dan minuman instan. Saat ini sarapan menggunakan produk instan sudah lumrah. Bahkan tidak sedikit orang mulai menyukainya, karena dirasa lebih praktis. Tapi bagi Rosa yang terbiasa masak serta menjual sarapan pagi sungguh bukan hal mudah untuk diterima.
"Shan, mama nanti hubungi bibi Oshe biar datang kesini ya!" teriak Rosa ketika Shanti telah berada di atas anak tangga.
...**...
Shanti tiba dikamarnya. Jarang sekali ia bangun pagi tanpa melihat ponselnya terlebih dahulu. Ada beberapa pesan yang masuk.
Tentu saja pesan yang pertama Shanti buka adalah pesan dari Mus Topan. Pesan itu berbunyi bahwa ia dan anak-anak telah sampai pukul 23,15 dengan selamat. Pesan itu diterima ponsel Shanti pukul 05.30.
Artinya pesan itu telah tiba hampir satu jam yang lalu. Segera pesan percakapan itu ia balas dengan ucapan syukur. Tak ia lupa memberi tahu Mus Topan bahwa kedua orang tuanya telah berada di rumah.
Sebenarnya masih ada pesan masuk yang lebih awal. Namun, begitu Shanti mengetahui pengirimnya adalah Siti Rukayah, ia batalkan untuk membukanya. Akhirnya Shanti putuskan untuk melihat dari layar pemberitahuan saja. Mudah bagi Shanti menduga isi dan arah pesan itu.
Pesan lainnya berasal dari Wynne dan Tante Risna. Wynne menanyakan kapan Shanti akan ke apartemen untuk mengambil hadiah dari para tetamu undangan. Sedangkan Tante Risna menanyakan kapan Shanti bersedia bekerja kembali.
__ADS_1
Shanti sangat menghargai bantuan geng siap glamor untuk kepanitiaan mereka. Dengan cepat Shanti menjawab ia akan kesana hari ini. Ya, Shanti rindu pada teman-temannya serta kehidupan lamanya di apartemen. Walau baru tiga hari Shanti menikah.
Shanti ingin segera memulihkan rasa percaya Tante Risna pada dirinya. Juga sebagai wujud terima kasih atas bantuan Tante Risna berikan dalam pernikahannya, Shanti menjawab siap untuk bekerja kembali. Benar saja respon Tante Risna yang cepat dan positif segera didapatkannya. Order pekerjaan minggu ini telah ada dua kegiatan. Begitu info yang Shanti dapatkan dari Tante Risna.
Shanti antusias mendapat berita ini. Ia puu memprediksi krisis keuangan akibat beban belanja tinggi akhir-akhir ini akan segera pulih. Kembali Shanti sangat bersyukur memiliki teman-teman yang baik serta mentor yang sangat peduli.
...**...
"Pak, saya bisa turun disini saja!" terdengar suara Shanti berkata pada supir taksi online.
"Eh iya neng, saya cari tempat berhenti dekat pintu JPO ya neng?" jawab supir itu.
"Oke pak, terima kasih pak!" kata Shanti pada driver mobil online itu, sebab jarang ada supir online ikhlas tanpa komplain jika ada sebagian penumpang yang ingin turun di jalan.
"Bi Oshe terima kasih ya sudah mau nolong temani mama belanja." ujar Shanti ketika ia turun dari mobil tersebut.
O iya nggak apa-apa kok Shan, Bi Oshe juga senang bisa bantu," jawab Rose sambil menepuk bahu kanan Shanti.
Setelah ucapkan salam pada mama, bibi dan adiknya, Shanti pun turun dari taksi online itu Mereka melanjutkan perjalanan sesuai dengan tempat tujuan awal. Menuju pasar tempat agen besar menjual alat-alat rumah tangga sesuai arahan Rose. Sedangkan Shanti menuju halte busway dengan menaiki JPO.
Tanpa memakan waktu yang lama Shanti telah berada dalam busway. Tidak ada antrian yang berarti. Karena waktu menunjukkan pukul10.17 dimana jam sibuk kantor telah berakhir.
Busway yang ia naiki berjalan dan berhenti sesuai halte yang ada pada rute koridor. Dan kali ini berhenti tepat di halte dan JPO depan hotel tempat ia dan Mus Topan sarapan pagi untuk pertama kalinya. Berarti tinggal dua halte lagi ia akan sampai pada bank yang ia tuju.
__ADS_1