
Semua barang bawaan berikut kursi roda telah Misno naikkan ke atas mobil. Mus Topan duduk di barisan kedua. Adapun Siti Rukayah sibuk lengkapi berkas yang diminta petugas asuransi bagian klaim. Agaknya mereka ingin selesaikan semua hal selagi Mus Topan masih di sini.
Kak Opik baru saja selesaikan aktivitas visit pasien telah hadir pula. Saat ini ia sedan berbicara dengan Mus Topan. Sepertinya Kak Opik sedang memberi masukan pada suami Shanti terkait terapi lanjutan yang harus dilakukan Mus Topan.
Shanti mengamati dari kejauhan. Ia tak ingin Mus Topan memiliki pikiran yang tidak-tidak pada dirinya. Barulah setelah Kak Opik selesai ia mendekat ke arah Mus Topan.
"Shan, nanti kamu yang mengunjungi abang." pinta Mus Topan
"Ya bang, Shan-shan usahakan minimal satu kali setiap bulannya," jawab Shanti.
"Tapi kalau bisa pas operasional pertama pabrik kamu harus datang. Kan kamu karyawan pertamanya." ujar Mus Topan.
"Iya bang," jawab Shanti sambil tertawa.
Shanti tidak menyangka Mus Topan ingat dengan ucapannya. Tepatnya saat proses tanda tangan nota kesepakatan. Mereka lakukan diatas kap mobil hardtop milik almarhum ayah Siti Rukayah. Sayangnya harus berakhir dengan ribut-ribut.
"Shan bisa kita ngobrol sebentar," pinta Siti Rukayah dengan nada sedikit membentak.
"Ya mbak," jawab Shanti. "Sebentar ya bang."
Shanti berjalan sekitar sepuluh meter menuju tempat Siti Rukayah. Tempat Siti Rukayah melakukan proses kelengkapan data bersama petugas klaim asuransi tadi. Shanti merasa ada yang aneh pada sikap Siti Rukayah yang tiba tiba memanggil dirinya.
"Shan, ingat ya kamu saya bolehkan tadi malam karena permintaan bang haji." ujar Siti Rukayah.
"Ya Shan-shan tahu mbak," jawab Shanti.
"Ya, kamu tahu seperti yang saya tahu sekarang ini. Ya kan? tanya Siti Rukayah.
"Maksudnya mbak?" tanya Shanti.
"Seharusnya mulai sekarang kamu kejar suami dokter Anggi saja." Seolah-olah Siti Rukayah memberi perintah pada Shanti.
"Shan-shan nggak ngerti mbak," jawab Shanti penuh kebingungan.
"Dokter Anggi sudah mbak kasih tahu semua. Nah, kalau kamu mau tantangan, target yang bagus ya suami dia," tantang Siti Rukayah.
"Makin nggak ngerti Shan-shan mbak." Kembali Shanti bertanya dengan pura pura bodoh untuk memancing emosi Siti Rukayah.
"Saya sudah tahu kamu ada hubungan sama suaminya. Dan saya sudah kasih tahu sama dokter Anggi kalau kamu itu pelakor." Kata Siti Rukayah pada Shanti.
"Kok mbak ngomong gitu ke dia?" tanya Shanti.
"Ingat ya Shan permintaan bang haji cuma untuk tadi malam saja.," ujar Siti Rukayah sambil menuju ke arah mobil. "Sudah ya. Saya mau berangkat dulu"
__ADS_1
Shanti bingung haruskah ia mengejar Siti Rukayah. Ia khawatir bahwa permintaan Mus Topan hanya berlaku untuk semalam saja. Macam terkena sihir Shanti hanya terpaku berdiam diri.
Shanti melihat kearah mobil Mus Topan, Siti Rukayah telah berada di dalam duduk di sisi kiri Mus Topan. Menutupi pandangan Shanti pada Mus Topan. Lalu mobil itu pun bergerak.
Shanti lambaikan tangannya untuk beri tanda pada Mus Topan. Namun, hanya balasan lambaian tangan Siti Rukayah yang tampak olehnya. Shanti sadar bahwa ia benar-benar terkecoh. Bagaimana tidak, omongan Siti Rukayah yang tidak dapat dimengerti olehnya membuat momen perpisahan dengan Mus Topan hilang begitu saja.
Gontai langkah kaki Shanti melewati pintu gerbang rumah sakit. Sangat menyesal akibat mendengar omongan Siti Rukayah. Shanti merasa kata-kata yang ia dengar lebih mirip hipnotis.
Awas nanti kalau kita ketemu lagi. Tapi sebenarnya salah gue juga yang nggak fokus. Asli dikadalin lagi ini mah. Dasar nenek sihir batin Shanti.
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di sisi kanan Shanti. Lalu kaca jendela terbuka. Ternyata Kak Opik. Dengan sigap Kak Opik membukakan pintu dengan gunakan tangan kirinya.
"Ayo masuk, biar kakak antar," ajak Kak Opik.
"Nggak lah Kak." Shanti menolak.
"Ayolah, belum mandi masa mau naik angkutan umum." Ajak Kak Opik dengan sedikit mendesak.
"Hmm.. ngerepotin kakak nggak?" tanya Shanti
"Ayolah, lama kelamaan kakak dipukuli orang nih. Dituduh mau menculik." Ajak Kak Opik.
Shanti melihat sekeliling. Telah banyak orang yang perhatikan dirinya. Akhirnya Shanti pun memutuskan untuk naik.
"Arah gudang garam kak," jawab Shanti.
Berbeda dengan Mus Topan atau Widi. Kak Opik sangat menyukai jenis sedan berbodi bongsor. Kendaraan jenis ini amat nyaman dikendarai di tengah kota. Sesuai pula dengan prestise seorang dokter.
Kak Opik bertanya, "Shan, kakak mau tanya sama kamu tentang Ibu Siti. Apa benar cerita dokter Anggi. Eh sorry.. Anggi tentang kamu."
"Kak Opik mau tanya tentang Siti atau tentang Shan-shan. Kok kacau gitu?" Shanti balas bertanya.
"Yah begitulah, mungkin kamu lebih ngerti," ujar Kak Opik.
"Begini ya kak, semua yang dibilang sama istri kakak itu betul. Karena dia dapat dari orang yang paling bener sedunia." jawab Shanti dengan nada ejekan.
"Nggak maksud kakak itu, Anggi itu ada rasa cemburu sama kamu," ungkap Kak Opik.
"Baguslah kak itu tandanya dia perhatian sama kakak," jawab Shanti.
Kak Opik berkata, "Oh nggak begitu Shan. Sekarang ini Anggi justru mau jatuhkan kakak dari posisi yang sekarang."
"Kok malah aneh. Kakak kan kesayangan ayahnya dokter Anggi," tanya Shanti penuh keheranan.
__ADS_1
"Oke Shan. Kakak sekarang mau cerita jujur sama kamu." pinta Kak Opik.
Pendapatan rumah sakit setelah pandemi turun drastis. Perusahaan mulai lakukan pemotongan biaya dimana-mana termasuk biaya belanja pegawai. Nah sekarang ini akan ada rencana ganti manajemen.Jika manajemen baru menang maka akan ada penyesuaian karyawan besar-besaran.
"Lantas hubungannya apa." Shanti coba bertanya.
"Dulu Anggi pertahankan kakak. Sekarang setelah dia dapat cerita tentang kamu dia jadi berubah." jawab Kak Opik.
"Kenapa kakak nggak mau diganti?" Shanti coba bertanya.
"Panjang ceritanya. Intinya kalau kakak diganti, nanti tak ada lagi yang bersuara tentang karyawan lagi." Jawab Kak Opik.
Shanti paham sekarang. Inilah hubungan dengan pertanyaan Kak Opik tentang kantor konsultan Pak Harris pada waktu lalu. Rupanya Kak Opik berbeda paham dengan manajemen aktif saat ini. Yang jadi pertanyaan saat ini apa maksud Kak Opik bicara pada Shanti.
"Kakak ingin kamu carikan investor yang mau beli rumah sakit." ujar Kak Opik. "Kata Pak Harris kamu mahir cari investor."
"Nah kalau ada yang mau jadi investor tapi tetap pengurangan karyawan gimana?" tanya Shanti.
Kak Opik terdiam. Sungguh ia tak menyangka akan ada pengandaian oleh Shanti yang tidak bisa ia jawab. Adapun Shanti tertegun ia tak menyangka Kak Opik berpikir sangat sederhana. Jauh dibandingkan dengan orang bisnis yang biasa berkomunikasi dengannya. Memang Tuhan takdirkan berbagai macam keahlian agar manusia bisa saling lengkapi.
"Kak Opik, Shan-shan turun di sini saja, mau belanja dulu," pinta Shanti.
Kak Opik pun memberhentikan mobilnya. Ia mengikuti permintaan Shanti. Tapi ia masih penasaran kelanjutan pembicaraan itu.
"Shan jadi menurut kamu gimana,? tanya Kak Opik.
"Begini kak, Kak Opik cari dulu tujuan akhir serta halangannya. Lebih baik kakak cari tahu ketentuan internal dulu." jawab Shanti.
"Ketentuan internal gimana maksudnya?" tanyanya.
"Ya misalnya akta notaris, anggaran dasar yang kayak-kayak gitu. Pelajari dulu, baru cari orang yang bisa bantu." Shanti coba berikan contoh pada Kak Opik.
"Terus kalau udah dapat gimana," tanya Kak Opik.
" Kakak bisa hubungi Shan-shan, ini no ..
"Kakak sudah punya nomor kamu," potong Kak Opik. "Nanti kakak hubungi."
...**...
Shanti tiba dirumah. Tak ada orang satupun. Apakah geng siap glamor sudah diizinkan kembali ke apartemen. Masih tanda tanya besar. Amat sepi itu yang dirasakan Shanti. Saat ini yang terbaik adalah menunggu menurut pemikiran Shanti.
Menunggu undangan peresmian pabrik agar ia dapat memenuhi keinginan Mus Topan. Menunggu geng siap glamor datang kembali kerumahnya agar ia tak kesepian. Menunggu kesiapan Kak Opik untuk konsultasi lebih lanjut. Tapi Shanti sangat menunggu order dari Tante Risna untuk mengisi rekeningnya.
__ADS_1
...^^^***^^^...