Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 16 Suami Ku Oh Suami Ku


__ADS_3

Siti Rukayah tengah bicara dengan dua orang berseragam proyek di teras rumah. Adapun Rizki berdiri disamping ibunya. Sengaja Shanti tidak turun langsung, ia ingin amati dulu apa yang terjadi.


"Dua orang itu dua hari yang lalu sudah pernah datang juga bu," ujar Misno.


"Emangnya ada kepentingan apa pak?" tanya Shanti.


"Katanya nagih blaya tambahan tangki cadangan bu," jawab Misno.


"Bang Topan tahu nggak masalah ini?" tanya Shanti lebih lanjut.


"Ya tahu lah bu, juragan sendiri yang pengen nambah," jawab Misno.


"Bukannya peralatan dikirim dari pusat." Shanti bertanya sekaligus menguji Misno soal perkembangan pembangunan pabrik.


"Wah, kalau itu saya tidak tahu bu. Maaf," jawab Misno cari aman.


Perlahan Shanti berjalan ke arah teras rumah suaminya. Kehadiran Shanti disambut oleh putra tirinya, Rizki. Tak tampak keberadaan Fatma. Agaknya Fatma terlampau takut untuk berada di sekitar dua orang yang melakukan aktivitas penagihan itu.


Rizki berupaya mencegah Shanti mendekat. Ia tidak ingin Shanti terlibat dalam masalah itu. Rizki mengarahkan Shanti untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.


"Nggak apa Ki, siapa tahu tante bisa bantu atau kenal sama bosnya," ujar Shanti.


"Sembarang tante, tapi jangan bilang Kiki yang minta tante maju ya," ujar Rizki coba mencegah.


"Tenang Ki, kalau soal mainan rahasia tante jagonya. Tenang aja." jawab Shanti sambil tersenyum.


...**...


"Mohon maaf bapak-bapak. Boleh saya tahu ada apa ini?" tanya Shanti pada kedua orang itu.


"Ibu siapa?" tanya orang yang lebih besar. "ibu bisa bantu apa?" 


"Saya Shanti, kebetulan saya tahu awal deal-dealan proyek ini," jawab Shanti. "Kalau boleh tahu bapak-bapak ini dari mana."


"Kami dari perusahaan pengerjaan logam yang ditunjuk pengadaan tangki cadangan oleh PT. Jaya Abdi Machinery. 


Jelas bagi Rizki sekarang. Yang dilakukan PT. JAM sesuai amanat Mus Topan. Segala yang dapat diproduksi di daerah mereka sebaiknya dibuat pengusaha lokal. Hasil kesimpulan Rizki langsung ia beri tahu pada Shanti.


Atas info dari Rizki Shanti lalu meminta faktur barang pada petugas itu Dari faktur jelas bahwa harga barang dan biaya pengiriman akan ditanggung PT. JAM. Perusahaan yang mereka wakili adalah sub kontrak dari PT. JAM. Mereka hanya dapat berhubungan dengan pemesan, yaitu. PT. JAM.


Awalnya kedua orang itu tidak percaya dengan penjelasan Shanti. Namun, ketika Shanti minta dihubungkan dengan kantor mereka atau PT. JAM baru mereka percaya. Shanti sampaikan juga bahwa seluruh pembayaran akan melalui SKBDN oleh bank yang disetujui Mus Topan.


...**...


"Bagaimana kabar mbak, sehat saja kan?" tanya Shanti pada Siti Rukayah sesaat mereka telah duduk di ruang keluarga.


"Kabar mbak baik dek Shanti. Kapan sampai?" jawab Siti Rukayah mencoba menunjukkan jiwa besar. 


"Semalam mbak. Terima kasih sudah izinkan Pak Misno jemput Shan-shan," ujar Shanti penuh basa basi.


"Dia disuruh bang haji. Dia juga sudah mulai takut sama kamu." jawab Siti Rukayah.


Shanti menolak pendapat Siti Rukayah tentang Misno. Misno tidaklah takut pada dirinya. Shanti lebih cenderung bahwa Misno telah berubah dan sadar akan kesalahannya. Bahkan Shanti merasa Misno telah menjadi kawan baiknya.


"Apa tujuan kamu kemari?" Siti Rukayah buka percakapan dengan suara bergetar.


"Shan-shan ingin ingetin mbak jangan bantah keinginan Bang Topan," ujar Shanti


"Maksud kamu apa Shan?" tanya Siti Rukayah.


"Mbak.. mbak kan yang melarang kiriman uang ke Shan-shan?" jawab Shanti. "Shan-shan tahu itu!"  


"Kalau iya kenapa!" tantang Siti Rukayah.


"Shan-shan cuma mau ingatkan mbak. Mbak pasti tahu tindakan Bang Topan kalau tahu. Ya kan?" tanya Shanti.


"Kalau begitu tinggal nggak usah dikasih tahu. Gampang kan!" potong Siti Rukayah.


"Kalau Shan-shan bisa mbak, artinya sama saja dengan mbak." jawab Shanti."Melawan perintah suami. Maaf mbak ya!"


Ponsel Shanti bergetar. Mereka berdua pun hening ketika mendengar nada pesan masuk. Ternyata pesan dari Mus Topan. 

__ADS_1


Pesan itu bertuliskan : "Abang pulang hari ini. Upayakan kamu ada diserah terima dengan Sarjono. Terima kasih bantuannya pada Rizki."


Shanti paham bahwa keberadaannya telah diketahui Mus Topan. Shanti yakin Rizki telah mengabarkan pada Mus Topan kejadian tadi. Lalu ia putuskan untuk mempersingkat kunjungannya.


"Ya sudah mbak  Shan-shan nggak mau bahas lagi. Mbak lebih ngerti sifat Bang Topan." ujar Shanti.


"Itu pesan masuk dari bang haji ya?" bertanya Siti Rukayah pada Shanti.


"Iya mbak" jawab Shanti.


"Apa katanya?" tanya Siti Rukayah.


"Shan-shan diminta pulang sekarang!" jawab Shanti.


"Baguslah, apa kamu mau diantar Misno lagi?" tanya Siti Rukayah.


"Mau mbak, kalau boleh? " jawab Shanti coba berbasa basi.


"Ya pasti bolehlah. Kalau nggak kan kamu ngadu lagi." jawab Siti Rukayah.  "Heran jadi orang kok cuma bisa ngadu."


"Kalau memang benar dan sesuai yang diminta Bang Topan, Shan-shan akan cerita semua." ujar Shanti.


"Minimal Shan-shan nggak pernah mau bohongin suami dan bantah omongan suami." Balas Shanti. 'Terserah mbak, Shan-shan nggak peduli dengan omongan mbak."


"Baiklah Shan, mbak minta kamu jangan cerita masalah ini ke bang haji." pintanya. "Semua hak kamu akan saya kirim hari ini paling lambat besok.. Nggak kurang sepeserpun, Oke!"


"Oke mbak, Shan-shan percaya sama mbak. terima kasih juga sudah menjamu." jawab Shanti.


**


Ada yang berbeda dengan perjalanan pulang. Shanti ingin perjalanan yang tidak membuat bosan seperti waktu kedatangannya kemarin yang hanya ditemani lantunan lagu Rhoma Irama. Kali ini Shanti memilih untuk duduk di depan. Posisi ini membuat obrolan mereka jadi mudah. 


Misno cerita hubungan Mus Topan dan dirinya. Sebagian besar cerita sudah Shanti ketahui. Tapi ada dua cerita yang menarik bagi Shanti. Kaitan Misno Siti dan Rukayah, serta Misno menyelamatkan suaminya. Mus Topan terkena hantaman balok kayu ke kepala oleh begal. Tiga orang begal yang coba merebut uang setoran sawit.


"Juragan udah kelenger waktu itu Bu, darah dimana-mana." ujar Misno. "Saya bawa ke rumah saya."


"Terus yang ngobatin siapa?" tanya Shanti.


"Lama Bang Topan dirawatnya," tanya Shanti antusias.


"lumayan Bu ada semingguan lebih," jawab Misno


"Terus.. begitu sembuh Bang Topan ngapain?" tanya Shanti.


Misno berkata, "Kembali kerja ke bosnya bu. Untung saja truk sama uangnya diselamatkan warga. Lalu disimpan di rumah almarhum ayah Siti."


Shanti mengerti setidaknya apa yang terjadi pada suaminya di masa lalu. Sebab suaminya memiliki hutang budi pada Misno. Menikahi Siti Rukayah. Sebab Mus Topan berambut panjang untuk tutupi bekas luka pada bagian belakang kepalanya.


...**...


Shanti tiba dirumah, lampu-lampu telah hidup. Yang berarti Mus Topan telah berada di rumah. Beruntung Shanti sempat beli makan malam untuk suaminya. Shanti sadar dirinya terlalu lelah jika harus menyediakan makan malam.


"Makan apa kita malam ini Shan?" tanya Mus Topan.


"Tadi Shanti beli sate dan gule kambing," jawab Shanti. "Abang bisa makan kan?"


"Kamu pikir saya ini tua bangka apa!" hardik Mus Topan dengan tidak begitu keras.


"Ya nggak gitu bang, kayaknya cocok buat pulihkan stamina. Abang kan baru pulang dari jalan jauh." Shanti coba jelaskan tujuan membeli makanan itu.


"Iya pas pulang istrinya nggak ada!" jawab Mus Topan ketua. "Dapat uang kamu ya dari Siti!"


"Iya bang mbak Siti sudah ngaku salah. Dan dia janji nggak akan ngulangin lagi katanya," ujar Shanti.


Shanti terdiam dan mulai terpikir maksud perkataan Mus Topan padanya. Shanti sadar memang ia terlalu berani menegur langsung dan tanpa ada persetujuan suaminya. Namun, ia lakukan untuk kebaikan Siti Rukayah. 


Shanti tahu janji pada Mus Topan yang akan menceraikan istrinya bila lakukan fitnah dan kecurangan. Terutama dalam hal keuangan. Mus Topan sangat benci pertengkaran yang terjadi dengan dasar uang. Untuk itulah Shanti bersikeras untuk memberi peringatan pada Siti Rukayah secara langsung.


Shanti tidak ingin itu terjadi. Shanti sayang pada keluarga Mus Topan, terutama Fatma. Perceraian Mus Topan dan Siti Rukayah akan membuat hubungan Shanti dan anak-anak mereka jadi buruk.


"Hebat kamu sudah bikin Siti sadar," sindir Mus Topan.

__ADS_1


"Iya Shan-shan khawatir kalau mbak terus begitu abang bisa marah besar ke mbak Siti." jawab Shanti. "Shan-shan nggak mau kalau dituduh ngehasut abang".


"Shan.. saya masih bisa ngatur istri saya!." Bentak Mus Topan. "Kamu ngerti nggak!"


Sontak Shanti sadar bahwa ia terkena jebakan dan diperdaya Siti Rukayah lagi. seharusnya ia telah mengerti atas perubahan sikap dan nada bicara Mus Topan sedari tadi. Tanpa Shanti ketahui, Siti Rukayah telah melaporkan kedatangan Shanti pada Mus Topan. Serta berkata tidak jujur alasan Shanti mendatanginya.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Shanti pasrah jika Mus Topan menilai dirinya sebagai sosok yang lancang dan mata duitan. Shanti malas untuk membela dirinya dengan berdebat. Ia berharap Mus Topan mau mencari kebenaran yang sesungguhnya.


...**...


"Partisi dan interiornya bagus. Shan-shan suka banget, Terima kasih bang." ucap Shanti coba mengalihkan pembicaraan.


"Pastinya, lah Sarjono itu ahlinya kok," jawab Mus Topan. "Tenang saja sudah saya bayar semuanya. "Kamu nikmati saja." 


Shanti terdiam. Ia sangat puas dengan hasil kerja Sarjono. Partisi ruang-ruang, rak dapur, rak tv, wardrobe, semua diatas perkiraannya. Namun, sikap Mus Topan yang membuat Shanti kecewa. 


Makan malam yang membosankan batin Shanti. 


...**...


"Bang, abang yang kasih tahu Sarjono tempat tinggal Mbak Gendis ya," ucap Shanti sedikit emosional.


"Apa pentingnya saya kasih tahu dia tentang Gendis." protes Mus Topan.


"Abang nggak tahu kalau Sarjono itu mantan suami Gendis. Dia itu pelaku kdrt bang!" jawab Shanti dengan nada yang agak tinggi.


"Mana saya tahu mereka ada hubungan." papar Mus Topan.


"Terus darimana dia tahu Gendis!" tanya Shanti penuh kecurigaan.


"Dari album photo kali," jawab Mus Topan enteng.


"Abang jangan asal jawab deh!" pinta Shanti.


"Gimana ceritanya kok abang kamu tuduh ngasih tahu alamat Gendis, aneh.. ?" Protes Mus Topan.


"Nama apartemen kalian aja saya nggak ngerti."protes Mus Topan lebih lanjut.


"Ini bang, lihat!" kata Shanti sambil ia tunjukkan gambar yang ada pada ponselnya. "Shan-shan baru dapat foto ini dari Wynne. Orang ini berusaha naik ke lantai kami. Ini kan kawan abang itu?"


Mus Topan terdiam. Ia tidak mengerti mengapa ia disalahkan Shanti. Ia memang mengenali foto Sarjono dari ponsel Shanti. Namun, ia tak tahu ada hubungan antara Sarjono dan Gendis.


Mus Topan tersulut kemarahannya. Ia tampak begitu kesal. Bagaimana tidak, Baru dua hari lalu ia berhasil menekan Shanti, hingga mengaku salah dan memohon maaf. Sore ini ia balik dituduh dan ditekan oleh istrinya atas perbuatan yang tidak ia lakukan. 


Ya sudah, abang pergi dulu, ucap Mus Topan sambil ia melangkah menuju kamar.


...**...


Shanti mempelajari draft nota kesepakatan pada notepad miliknya. Sesuai skedul ia akan memandu business meeting sesuai arahan dari Tante Risna. Terlampau asyik perhatikan notepad-nya Shanti tidak menyadari Mus Topan telah keluar dari kamar.


"Shan, abang mau keluar dulu," ujar Mus Topan


"Abang mau kemana sore sore begini," tanya Shanti.


"Mau cari si Sarjono," kata Mus Topan singkat


"Sebentar lagi malam lho?" ujar Shanti coba halangi Mus Topan keluar rumah.


"Justru malam abang tahu dia dimana," jawab Mus Topan.


"Sudahlah bang nggak usah, akan diurus Tante Risna kata teman teman," ujar Shanti.


"Nggak lah, lagian nggak enak juga dirumah terus." jawab Mus Topan. "Sekalian cari oleh-oleh buat Fatma."


"Besok saja bang. Biar bisa sama-sama kita belikan sehabis Shan-shan pulang business meeting." pinta Shanti.


"Sudah pergi saja sana meeting. Saya kan nggak pernah larang-larang kamu." Ujar Mus Topan sambil menuruni anak tangga tanpa melihat ke arah Shanti sedikitpun.


Mus Topan telah menggunakan kata saya pada dirinya. Shanti paham ada amarah dalam penggunaan kata itu. Karenanya Shanti hanya diam dan tidak memberi komentar atau menghalanginya. Ingin Shanti menemani suaminya saat itu. Namun, tidak mungkin Shanti membatalkan janji pada para klien.


...***...

__ADS_1


__ADS_2