
Mus Topan baru selesai bersihkan badan. Ketika keluar kamar mandi ia melihat kamar dalam keadaan kosong dan lampu besar telah menyala. Ingin ia mencari tahu keberadaan istrinya segera. Namun, ia pilih melakukan rutinitas pagi lebih dahulu.
Sepuluh menit berlalu tanpa ada tanda-tanda keberadaan Shanti. Mus Topan putuskan mencari di lantai bawah. Baru saja ia menapak anak tangga ketiga, terdengar suara dari arah kamar mandi bawah. Ia batalkan niat untuk mencari Shanti, lalu kembali ke dalam kamar.
Mus Topan merasa ada yang berbeda pada ranjangnya. Tak terlihat kain panjang putih itu lagi. Yang terlihat hanya bercak kecil warna merah kecoklatan pada sprei, lalu ia tutupi dengan bantal guling.
Perlahan Shanti menaiki anak tangga, lalu menuju kamar. Adapun Mus Topan duduk di ruang tengah. Ia tengah asyik membuka-buka album foto pernikahan mereka.
"Oh iya bang itu foto pernikahan kita, lengkap dengan buku daftar tamu rekapan kado." ujar Shanti sambil berdiri dan tampak lemas. "Kalau kado buat abang ada dalam lemari."
"Iya, abang lagi lihat-lihat. Kalau yang ini apa ya? tanya Mus Topan sambil menunjukkan sebuah kartu.
"Itu kartu akses apartemen bang, keselip ya di album? Kebawa lagi kayaknya," ujar Shanti sambil bersandar di dinding. "Tolong bang masukkan dalam dompet. Mau dibalikin kalau ke sana lagi."
"Kamu kenapa Shan?" tanya Mus Topan.
Nggak tahu bang, agak nyeri di perut," ujar Shanti sedikit menyeringai.
Mus Topan bertanya pada Shanti saat berjalan memapahnya. "Shan siapa saja saudara kamu yang hadir di album foto itu."
"Nanti ya bang, Shan-shan mau istirahat dulu," jawab Shanti.
Dengan bantuan Mus Topan Shanti rebah di sisi kanan ranjang Mus Topan heran terhadap penurunan secara drastis fisik istrinya. Lalu disentuhkan telapak tangannya pada kening Shanti.
Hmm, … Agak panas, sepertinya demam, ujar Mus Topan dalam hati. Tapi kok mendadak sekali. Jangan-jangan karena …, ya ampun benar sepertinya. Akibat saya ganggu dia dini hari tadi gumam Mus Topan.
Mus Topan teringat minimarket yang ada di depan komplek perumahan. Minimarket yang cukup besar dan lengkap. Yang dirasa akan ada suatu jenis barang yang dapat membuat Shanti cepat pulih dari sakitnya.
"Shan, abang pergi ke depan dulu ya. Cari obat demam buat kamu!" ujar Mus Topan.
"Nggak usah bang, sebentar juga sembuh sendiri kok," jawab Shanti lirih.
"Sekalian abang beli kopi bubuk dan roti buat sarapan?" pinta Mus Topan seolah ia meminta persetujuan.
Setelah melihat anggukan Shanti, Mus Topan bergegas turun ke lantai satu. Sebelum pergi, ia ingin pastikan pintu belakang arah taman belakang terkunci. Terlibat oleh Mus Topan kain putih itu tergantung pada tiang kompresor AC.
Rasa ingin tahu yang amat besar membuat Mus Topan putuskan untuk melihat kain itu. Bercak yang sama seperti ia lihat pada sprei. Namun, telah memudar akibat basah terkena air. Agaknya Shanti malu dan ingin sembunyikan bukti. Lalu sambil tersenyum puas Mus Topan segera beralih dari tempat itu.
...**...
Senyum Mus Topan tampak jelas di wajahnya. Dengan lembut ia minta Shanti meminum susu kaleng yang ia beli di minimarket tadi. Adapun Mus Topan tengah menikmati kopi hitam hasil buatan sendiri.
"Udah enak sekarang ya Shan, sudah ada alat masaknya," ujar Mus Topan.
"Abang masak air pakai kompor," tanya Shanti dengan sedikit cemas.
"Ya nggak lah. Abang pakai teko listrik. Nggak tahu cara pakai kompor gas." jawab Mus Topan.
Mus Topan meminta Shanti tidak beraktivitas. Ia mengingatkan kondisi Shanti.Terlebih hari itu merupakan hari libur. Tidak ada salahnya jika hanya bersantai untuk beberapa saat. Mereka berdua setuju untuk tetap di rumah saja sepanjang hari.
Pendapat Mus Topan sangat didukung Shanti. Selain kondisinya kurang baik, Shanti juga tidak begitu senang aktivitas rumah tangga. Walaupun dalam memasak selalu dapat pujian oleh keluarga dan teman-temannya.
Baru hari keempat mereka keluar rumah. Tiga hari penuh sepertinya mereka lakukan untuk bulan madu. Seluruh keperluan makan, minum dan kebutuhan lainnya mereka lakukan hanya melalui layanan daring.
Selama tiga hari Mus Topan cerita banyak hal. Pembangunan pabrik, panen dan harga jual sawit, dan situasi bisnisnya. Semua berjalan baik. Namun, karena ada proyek baru maka seluruh keuangan Mus Topan terkuras untuk pembangunan pabrik rakyat di daerah Kalimantan.
Tiga hari dirasa cukup, mereka putuskan untuk aktif kembali. Agenda Mus Topan adalah melapor hasil kerjanya ke kantor sekretariat Gapki. Adapun Shanti hendak ambil bonus yang diberikan klien dan juga ke bank untuk menyimpan kain putih itu ke dalam safe deposit box. Mereka sepakat pisah ditengah jalan.
Karena menjenguk Liske lebih dulu, Shanti jadi telat tiba di rumah. Shanti pergi ke rumah sakit bersama geng siap glamor. Liske dirawat di rumah sakit sebab ada gangguan pada calon bayinya. Liske diminta bedrest oleh tim dokter. Adapun Mus Topan yang membawa kunci cadangan telah duduk di teras belakang bersama seorang laki-laki
__ADS_1
Mus Topan memperkenalkan Sarjono sebagai ahli interior. Mus Topan dapat referensi dari Pak Mangapul, salah satu pengurus pusat Gapki. Sarjono sedang mengerjakan renovasi ruang rapat gabungan petani kelapa sawit Indonesia. Mus Topan ingin menggunakan jasa Sarjono dalam mengatur tata ruang dan keamanan rumah Shanti. Mus Topan ingin agar istrinya tidak takut lagi jika tinggal sendiri.
Setelah berkenalan Shanti segera masuk ke dalam rumah. Ia hidupkan seluruh lampu yang dianggap perlu. Lalu ia membuat sajian untuk suami dan tamunya.
"Bang tolong album fotonya dipinggirkan dulu," ujar Shanti ketika hendak meletakkan kopi berikut biskuit keatas meja.
"Oh iya maaf. Terima kasih shan." jawab Mus Topan sambil membereskan segala sesuatu diatas meja dengan dibantu Sarjono.
"Tuh ya abang mah. Udah Shan-shan bilang. Tolong dimasukkan kedalam dompet. Jadi aja nggak kebawa lagi." protes Shanti ketika ia melihat kartu akses apartemen miliknya ada di atas album foto pernikahan mereka.
Sarjono yang diam saja dari tadi mengambil kartu yang lebih dekat pada dirinya. Lalu ia coba berikan pada Shanti. Namun, diambil oleh Mus Topan untuk dilanjutkan pada Shanti.
Terlihat raut tanda bersalah pada wajah Mus Topan ketika memberikan kartu itu. Shanti mengetahui perasaan hati Mus Topan. Segera ia ucapkan terima kasih untuk meringankan perasaan hati suaminya.
Sarjono menerangkan konsep yang akan ia terapkan pada rumah Shanti. Sesekali Shanti bertanya pada Sarjono. Tapi pertanyaan Shanti itu selalu ia jawab dengan ciptakan kesan seolah-olah pertanyaan itu berasal dari Mus Topan.
"Saya senang konsep Pak Sarjono. Apa tadi namanya? tanya Mus Topan.
"Murah tapi nggak murahan. Kayak iklan aja pak!" jawab Sarjono.
Setelah ungkapan itu mereka berdua pun tertawa. Shanti simpulkan bahwa Sarjono cukup tertutup terhadap wanita, Shanti dapat rasakan itu. Entah mengapa Shanti tidak merasa nyaman berbicara dengan Sarjono.
...**...
Pokoknya Shan mulai minggu ini setiap putaran kamu pasti dapat kiriman. Investor yang beli sudah masuk uangnya. ujar Mus Topan sambil memasang tali sepatunya.
"Jadi yang Kalimantan abang lepas?" tanya Shanti.
"Iyalah, investor udah bayar. Sebagian udah abang bayar ke Sarjono." jawab Mus Topan sambil berdiri. "Sebagian udah masuk rekening kamu. Terus apa lagi?"
"Eh iya," jawab Shanti tersipu malu.
Shanti tidak mengerti maksud suaminya. Ia pun hanya berkata, "iya bang."
"Bang, pas renovasi boleh nggak Shan-shan gabung teman-teman?" pinta Shanti.
Mus Topan menjawab pertanyaan dari istri mudanya itu. "Boleh saja, tapi pas serah terima kamu harus ada."
"Kan mulainya minggu depan. Pas selesai kan abang sudah ada lagi." ujar Shanti.
"Kita lihat saja nanti," jawab Mus Topan singkat. "Kalau tidak ada lagi abang berangkat sekarang ya?"
Menurut rencana Mus Topan pergi selama dua minggu. Ia akan menyelesaikan proyek sampai tuntas. Kemungkinan sekaligus serah terima dengan investor baru.
...**...
Sambil menahan panas dan marah Shanti membuka aplikasi tiket pesawat online. Ia berencana akan mengunjungi Siti Rukayah. Shanti ingin menanyakan langsung mengapa ia telah tiga kali tidak menerima lagi uang putaran.
Nggak panas Shan, udah dari tadi lu duduk di sini, tanya Wynne sambil duduk lalu menuju jus guava ke dalam gelas yang ia bawa.
"Ya mulai panas lah, nah lu ngapain kesini juga?" tanya Shanti.
"Mau minum ini," sahut Wynne sambil menunjukkan gelasnya. "Lagian duduk di dalam terus bosan. Sesekali duduk di teras lah ya."
"Beli whoi!" bentak Shanti dengan maksud bercanda terhadap Wynne.
"Wuih galak banget sih nih randa bengsrat gagal," balas Wynne.
Shanti hanya tertawa mendengar ejekan dari Wynne. Ia teringat ketika ia bimbang terhadap kondisinya bulan lalu. Namun, keadaan telah berubah, semua sudah menjadi jelas. Bahkan tak ada lagi ragu dalam pelunasan rumah miliknya.
__ADS_1
"Shan, lu mau kemana buka-buka aplikasi? tanya Wynne.
"Gua mau ngelabrak si Siti Rukayah …!" teriak Shanti.
"Eh udah gila lu ya!" potong Wynne.
"Nggak lah, justru gua mau nyelamatin dia dari kesalahan fatal, ngerti nggak lu?" tanya Shanti.
"Nggak, nggak ngerti gue. Tapi yang pasti makin jagoan nih si juragan nyonya," jawab Wynne.
Shanti terhenyak mendengar kata juragan nyonya dari Wynne. Spontan ia langsung teringat pada Misno, supir Mus Topan. Dengan penuh keyakinan Shanti menekan tombol "ya" pada aplikasi tersebut.
...**...
"Panggil saya ibu," ujar Shanti dengan nada sedikit membentak.
Sengaja Shanti bicara seperti itu pada Misno. Shanti tidak mendendam secara pribadi pada Misno. Shanti hanya ingin Misno menghargai dirinya dengan sopan tanpa dibuat-buat.
"Baik bu," jawab Misno.sambil memasukkan tas milik Shanti ke dalam mobil.
"Bu Shanti mau mampir ke rumah dulu atau langsung ke kampung?" tanya Misno.
"Kalau mampir, kemalaman nggak kita?" tanya Shanti.
"Kalau Bu Shanti cuma singgah sebentar, kita nggak akan kemalaman kok Bu." jawab Misno.
Karena Misno setuju Shanti putuskan mampir memberikan oleh-oleh pada keluarganya. Lalu mereka lanjutkan kembali perjalanan. Sempat beberapa kali Misno ditawarkan Shanti untuk istirahat dan makan. Namun, Misno selalu menolak dengan alasan masih kenyang dan telah istirahat ketika menunggu Shanti di bandara.
...**...
Keadaan wisma masih sama ketika Shanti tiba. Yang berbeda adalah dirinya yang kini telah menjadi salah satu majikan bagi Bapak dan Ibu Renggo. Namun, sambutan pasangan suami istri itu masih tetap sama. Shanti sangat menghargai sikap mereka.
"Pak Misno tolong besok jemput saya pagi ya. Kalau bisa sore saya sudah kembali lagi." perintah Shanti sambil masuk ke dalam pondokan.
Shanti ingin menikmati suasana malam di luar lebih dahulu. Karenanya Shanti memilih duduk di balai-balai paviliun pasangan suami istri itu. Tampak Pak Renggo menemani Shanti, tetapi ia duduk di atas ban mobil bekas yang ditanam setengah.
Misno menghampiri Shanti, ia membawa tiga bungkusan. Dua diantaranya berisi paket donat. Sedangkan yang satu lagi adalah paket cokelat kesukaan Fatma. Sempat Shanti memberi tawaran untuk minum teh bersama. Tapi Misno menolak dengan alasan telah kemalaman.
"Pak Misno, ini yang satu dibawa aja buat Pak Misno. Kalau yang ini saya minta titip ke Fatma bisa pak? tanya Shanti.
"Bisa Bu, terima kasih," jawab Misno. "saya kan mulangin mobil ke rumah juragan."
Setelah memberi salam Misno segera berlalu. Sengaja Shanti titipkan paket cokelat itu agar Fatma bisa menikmati segera. Juga sebagai tanda bagi Siti Rukayah bahwa dirinya siap untuk mendatangnya.
Pembicaraan Shanti dan Pak Renggo tentang kaitan Mus Topan dan wisma terhenti. Terganggu oleh hadirnya Bu Renggo bersama Teh manis hangat buatannya. Sontak Shanti teringat snack kotak maskapai penerbangan yang jadi pasangan teh manis kala itu.
Dhuarr …, Shanti terkejut ketika suara ledakan terdengar dari arah depan jalan wisma. Suara itu sangat keras. Mirip sekali dengan suara yang membuat ia terbangun dua kali empat bulan lalu.
Melihat keterkejutan Shanti Pak Renggo pun berkata, "Itu cuma suara ban truk meledak Bu Shanti."
"Masa sih pak?" tanya Shanti dengan penuh keseriusan.
"Iya Bu Shanti. Biasanya truk yang kelebihan muatan. Bannya juga sudah vulkanisir!" kata Pak Renggo coba menjelaskan.
"Itu lho pak karena tanjakan juga soalnya kata Misno!". Bu Renggo menambahkan.
Shanti tertawa mendengar penjelasan kedua pasangan itu. Tidak ada yang lucu atau salah bahkan. Yang membuat tawa Shanti pecah adalah terkuaknya misteri bunyi ledakan yang pernah ia dengar empat bulan lalu.
Pembahasan ban pecah menjadi akhir obrolan Shanti dan pasangan suami istri itu. Shanti izin ke kamar untuk beristirahat. Ia ingin dalam kondisi fit ketika bertemu Siti Rukayah esok. Sempat Bu Renggo bertanya menu sarapan pagi besok. Dijawab Shanti apa sajalah yang penting enak.
__ADS_1
...***...