
Seperti biasa Shanti telah tiba di rumah sakit pagi hari. Shanti tidak langsung ke kamar Mus Topan. Melainkan ia sarapan pagi dulu di "Amigos". Referensi bubur ayam Kak Opik sudah jadi langganan Shanti selama ia menjaga Mus Topan.
Shanti menabur merica bubuk, kecap manis dan kerupuk sebagai pelengkap. Lalu ia mengaduk bubur ayam hingga tercampur rata seluruh isian dan bumbu. Baru tiga suap, terdengar suara Kak Opik dihadapannya.
"Mang satu lagi mang, yang kayak gini!" ujar Kak Opik.
"Lho kok Kak Opik ada disini. Emang ada jadwal hari ini?" tanya Shanti.
"Nggak ada, cuma ingin jenguk Bang Topan," ujarnya.
"Segitu rajinnya?" sindir Shanti tanda ia tak percaya alasan Kak Opik.
"Sorry.. Sebenarnya mau tanya cara kamu bisa kenal suami kamu?" tanya Kak Opik penuh keingintahuan.
"Kenapa kakak tiba-tiba nanya," tanya Shanti.
"Semalam ada.. kamu kenal Pak Harris kan?" tanya Kak Opik "Yang kerjanya sebagai konsultan."
"Ya kenal gitu gitu aja. Ada 3 atau 4 kali Shan-shan jadi fasilitator business meeting dia." jawab Shanti. "Pak Harris datang ya kak?
"Iya datang dia," ujar Kak Opik. ""Kalau begitu benar,"
"Apa yang bener," tanya Shanti.
"Ini bubur ayam enaknya dimakan ketika hangat," jawab Kak Opik sambil menerima semangkuk bubur ayam. "Terima kasih pak."
Shanti tertawa mendengar omongan Kak Opik. Sejenak ia perhatikan lelaki pujaan masa lalunya itu. Kak Opik melepas jaket kulit hitam. Lalu ia letakkan di sisi kirinya pada bangku panjang. Terakhir ia lipat lengan bajunya sampai ke siku. Tampak arloji warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih Kak Opik.
Teh tawar hangat menjadi menu penutup sarapan pagi. Setelah membayar pada tukang bubur, Kak Opik mengajak Shanti segera pergi. Tujuan Kak Opik adalah sebuah taman rakyat di sisi kiri komplek bangunan rumah sakit.
Jaket kulit, Kak Opik sandang pada bahu kanannya. Sedangkan Shanti berjalan di belakang mengikuti Kak Opik. Suasana pagi membuat taman itu masih sepi ketika mereka tiba di sana. Mereka pun memilih kursi panjang yang terletak di balik dinding rumah sakit. Sehingga matahari pagi tidak langsung membakar kulit mereka.
"Emang hari ini Kak Opik nggak kerja," tanya Shanti.
"Hari ini jadwal di RS permai, perusahaan mertua indah. Tapi tak apalah sudah banyak yang ngatur juga," ujar Kak Opik seolah pandang remeh tempat kerjanya.
"Ish kakak ini. Bukannya enak punya mertua kuaya buanget." ejek Shanti.
Perkataan Shanti disangkal oleh Kak Opik. Ia mengaku bahwa dirinya tidak seperti itu. Posisinya sebagai direktur bisnis rumah sakit sekaligus suami drg. Anggi dianggap tidak menyenangkan bagi Kak Opik.
"Kok bisa gitu, dokter Anggi dari pertama ketemu kelihatan baik dan ngehargai kakak?" tanya Shanti.
"Kalau sekarang dia lebih cenderung berpihak ke keluarganya." jawab Kak Opik.
"Emang cerita Kak Opik sama drg. Anggi pertamanya gimana sih," tanya Shanti untuk bandingkan dengan kisah pertemuannya dengan Mus Topan.
"Shan.. Shan.. jangan pura-pura nggak tahu lah," jawab Kak Opik.
"Sumpah nggak tahu, kalau denger-denger sih pernah." jawab Shanti sambil tertawa.
"Kesimpulan ceritanya negatif apa positif?" tanya Kak Opik.
"Nggak tahu, kan sepotong sepotong. Lagian nggak lama dari cerita itu Shan-shan kan pergi." ujar Shanti coba jelaskan keberadaan dirinya.
dr. Taufiqurrahman atau biasa dipanggil Kak Opik oleh Shanti sebenarnya tahu sebab Shanti pergi. Sering ia mendapat cerita dari mama dan adik bungsunya, Mala. Begitu juga dengan cerita Shanti ada hati padanya. Mala sebagai teman sebaya Shanti sejak kecil kerap utarakan hal itu.
Namun, Kak Opik putuskan untuk tetap cerita sebab awal ia menikah dengan drg. Anggi. Dengan niat mendapat simpati dari Shanti. Sehingga ketika ia utarakan tujuan utama maka akan mudah Shanti terima alasan darinya.
Sibuk koas dan melatih bela diri membuat Kak Opik kecapean. Ia divonis menderita demam tifoid. Paman drg. Anggi selaku dokter pembimbing sangat iba pada Kak Opik.
Akhirnya drg. Anggi yang juga mengikuti koas dirumah sakit yang sama diminta pamannya untuk merawat Kak Opik di kos-kosan. Opsi rawat inap hal yang tidak mungkin saat itu.
Sejak itu hubungan mereka jadi spesial. Tampan serta miliki potensi besar dasar dokter Anggi jatuh hati. Kebaikan hati drg. Anggi serta dukungan materi keluarganya membuat cinta drg. Anggi berbalas.
"Sudah ceritanya kak? Cerita kok nggak seru banget!" Ejek Shanti.
__ADS_1
Cerita model dongeng HC Andersen aja dipamerin gerutu Shanti dalam hati.
"Belum selesai kakak cerita Shan!" ujar Kak Opik.
"Sudah jelas endingnya, sekarang dokter Anggi berubah, keluarganya juga berubah. Terus hubungannya dengan Pak Harris apa?" tanya Shanti.
Kak Opik kagum kecepatan mengambil inti masalah pembicaraan oleh Shanti. Tak ia sangka Shanti dapat menebak arah bicara sesuai yang ia inginkan. Tidak salah Harris cerita tentang profesionalitas Shanti tadi malam. Bahkan Harris berani klaim Shanti adalah lady escort terbaik yang pernah kantornya sewa.
Kak Opik tersadar, tak mungkin bercerita dalam satu waktu. Hanya akan timbulkan kesan buruk bagi Shanti tentang dirinya. Dengan cepat Kak Opik putuskan bahwa ia akan cari waktu lain untuk ungkapkan keinginannya.
"Oke deh Shan, udah agak siang baiknya kamu lihat Bang Topan," ujar Kak Opik coba alihkan topik.
"Benar juga, hampir sejam kita ngobrol nggak kerasa. Ntar ditanya sama nenek sihir bisa berabe," kata Shanti sembari bergurau.
"Eh iya Shan, sepertinya kamu agak tertekan ya sama Bu Siti." tanya Kak Opik.
"Nggak lah Kak, Bang Topan adil kok, kalau mbak itu ya.. posesif. tapi masih taraf wajar kok." kata Shanti lagi-lagi dicampur bercanda.
"Kamu jalan lurus aja ntar masuk dari gerbang samping," demikian arahan Kak Opik.
"Serius Kak Opik nggak mampir," tanya Shanti. Ia berharap dapat masukkan dari Kak Opik jika menjenguk suaminya.
"Lain kali, besok ada jadwal disini," jawab Kak Opik.
"Oke sampai besok," ujar Shanti.
...**...
Menyusuri jalan seperti ditunjukkan Kak Opik Shanti tiba didepan gerbang. Lalu ia menoleh ke belakang, terlihat Kak Opik melambai padanya. Entah mengapa hati shanti kembali terjangkit lagi perasaan senang yang berlebihan.
...**...
Hari ini merupakan hari ketiga Mus Topan dirawat. Telah banyak tes lanjutan yang dilakukan CT-SCAN, MRI, tes saraf mata, dan lainnya. Beruntung Mus Topan memiliki plafon asuransi umum dan khusus yang dapat mengcover biaya berobat.
Untuk kembali normal masih diperlukan waktu. Sesuai diagnosa awal dr. Gunadi Mus Topan akan mengalami lumpuh akibat trauma kapitis Beruntung hanya bersifat sementara, tidak permanen.
Shanti terkejut. Ternyata drg. Anggi ada di dalam ruangan. Tengah bicara dengan Siti Rukayah.
"Shan, tadi lihat dokter Taufiq nggak? tanya Anggi.
"Ya, tadi ketemu pas makan bubur ayam," jawab Shanti.polos.
"Kok bisa sama tempat makannya," tanya Siti Rukayah.
"Ya iyalah mbak, orang Shan-shan tahu makan disana enak dikasih tahu dokter Taufiq." jawab Shanti.
"Ya Bu Siti, suami saya itu memang suka makan bubur disana. Nanti kalau senggang kita coba kesana." ujar Anggi memberi tawaran pada Siti Rukayah.
"Wah boleh itu, sekali sekali makan di pinggiran," jawab Siti Rukayah dengan antusias yang dibuat-buat.
Shanti merasa jawaban jujur darinya telah bawa dirinya aman. Tapi perkiraan Shanti salah. Karena ketika berada di taman drg. Anggi telah melihat mereka berdua.
Bahkan tanpa sepengetahuan Shanti, Siti Rukayah juga telah cerita tentang Shanti. Bagaimana dirinya dianggap Siti Rukayah berhasil menggoda Mus Topan hingga jadi madunya. Siti Rukayah juga beri sinyal peringatan pada drg. Anggi akan ancaman diri Shanti pada keutuhan perkawinannya.
Seorang perawat laki-laki masuk kedalam ruangan. Ia mengatakan bahwa diberi perintah oleh dr. Taufiq untuk membawa Mus Topan ke bagian fisioterapi. Shanti ingat bahwa ini adalah salah satu program penyembuhan suaminya. Perawat tersebut membantu perpindahan Mus Topan dari ranjang ke kursi roda.
"Shan, kamu ya yang temani bang haji kesana!" Perintah Siti Rukayah.
"Ya mbak," jawab Shanti.
Shanti hendak mendorong Mus Topan, tapi dicegah oleh perawat. Shanti diperkenankan jika sudah di lantai dasar. Shanti mengiyakan sebab jalur yang akan mereka lalui salah satunya akan gunakan lift.
"Bang habis fisio Shanti bantu keramas mau?" tanya Shanti.
"Terima kasih," jawab Mus Topan.
__ADS_1
Bukan main senang hati Shanti. Suara yang keluar mulut Mus Topan telah hampir pulih. Artinya dengan mudah ia akan tahu sebab suaminya terluka secara langsung. Shanti benar-benar merasa bersalah telah biarkan Mus Topan pergi sore itu.
"Nanti sehabis fisio saya tunjukkan tempat beli shampo kering kalau ibu mau?" ujar perawat itu.
"Shampo kering?" tanya Shanti terheran.
"Iya Bu, shampo yang nggak perlu dibilas," jawabnya.
...**...
Shanti menemani Mus Topan latihan dan fisioterapi hampir enam jam. Kebanyakan melatih anggota tubuh atas. Untuk bagian bawah, pelatih bilang sebaiknya dilakukan sendiri. Misalnya dengan cara belajar berdiri dan berjalan.
Awalnya terasa susah, tapi setelah disinar maka kekakuan pada sendi Mus Topan mulai hilang. Begitu seterusnya. Begitu banyak peluh yang keluar dari Mus Topan. Akibat menahan sakit gerakan otot serta panas dari alat fisioterapi.
...**...
Shanti mencuci rambut Mus Topan pakai shampo kering seperti yang dianjurkan. Selain itu Shanti ingin mencoba hal yang menurutnya baru pada suaminya. Walau berbeda dengan keramas basah. Namun, wangi yang dihasilkan cukup memuaskan.
Sambil disisir rambutnya, Mus Topan cerita pada Shanti secara runut kejadian malam itu. Bahwa ia dipukul dari belakang pakai helm. Setelah ia melerai laki-laki itu memukul pasangannya.
Shanti bertanya mengapa ia ikut campur urusan orang lain. Jawaban ringkas Mus Topan bahwa ia tidak suka laki-laki pukul perempuan. Selain itu malam itu kesalnya jadi ganda akibat dituduh bocorkan alamat tinggal Gendis pada Sarjono.
"Abang mau laporan ke polisi nggak? tanya Shanti. "Kalau mau nanti minta tolong Tante Risna."
"Nggak usah lah Shan. Umurnya masih muda sekali. Kasihan," jawab Mus Topan.
**
Kini Mus Topan telah lebih rapi. Rambut panjangnya diikat kebelakang. Shanti yang melakukannya. Setelah bersih serta ganti baju. Mus Topan kembali lakukan rutinitas menjelang malam. Namun, kali ini sambil rebah di atas kasur.
Shanti sangat letih, walau hanya sebagai tenaga bantu. Tak terasa Shanti tertidur di samping ranjang Mus Topan. Hingga suara Siti Rukayah membuat dirinya terjaga.
"Shan kamu pulang nggak malam ini!" teriak Siti Rukayah.
"Eh iya mbak, sudah jam berapa sekarang," tanya Shanti.
"Ini sudah hampir malam ini, mbak juga tadi ketiduran di hotel." ujar Siti Rukayah.
"Bagaimana kalau kita pindah ke rumah sakit dokter Anggi." tanya Siti Rukayah lebih lanjut.
Ini yang ketiga kalinya Siti Rukayah bicara seperti itu. Shanti sebenarnya ingin, tapi Mus Topan tidak pernah setuju. Shanti tahu itu sejak hari pertama Mus Topan bertemu dengan Kak Opik. Agaknya Mus Topan mampu mencium gelagat dirinya dan Kak Opik.
Siti Rukayah sangat bersemangat pindah karena dijanjikan kemudahan oleh dokter Anggi Sedangkan Shanti sejak kejadian tadi pagi. Ia berubah jadi turut menolak khawatir ada maksud tertentu dari Kak Opik.
...**...
"Woi neng malam bener pulangnya!" sapa Wynne.
"Kak Widi ada apa ke rumah. Mendadak lagi," tanya Shanti polos. "Kenapa nggak bilang bilang dulu." tanya Shanti pada Widi.
Wynne kembali nyeletuk, "kami semua diusir dari apartemen, tanya aja langsung sama Kak Widi kalau nggak percaya."
"Ya ampun kenapa ya?" tanya Shanti.
"Gara gara foto ini!" jawab Widi sambil perlihatkan foto dirinya dan Gendis sedang berpelukan seolah olah sebagai pasangan penyuka sesama jenis.
"Kakak Widi dapat dari Kak Tony. Tapi foto itu hasil kiriman Sarjono pertama nya," ujar Gendis.
"Kok mbak yakin banget," tanya Shanti pada Gendis.
Ya dia memang pintar bikin edit edit foto seperti itu. Tapi biar yakin tunggu hasil penyelidikan Pak Silo aja.
Pak Silo, lengkapnya adalah Susilo. Ia merupakan mantan penyidik polisi yang telah pensiun. Sempat bekerja di tempat yang sama dengan Tante Risna, sebagai pendukung tim audit internal. Keahliannya dalam interogasi sangat mumpuni.
"Bagus kalau begitu, sekarang kita masuk dulu ya Kak." ujar Shanti coba membujuk Widi yang memang saat itu sangat terguncang.
__ADS_1
...**...