Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 4 D-Day


__ADS_3

"Kesini kamu! Dasar murahan, berani kamu rebut suami saya ya! Sini, kalau berani hadapi saya. Heh pelakor murahan, tukang rebut suami orang," teriak Siti Rukayah sambil memegang sapu lidi.


"Tidak! Shan-shan bukan penggoda suami orang. Kami saling cinta. Mbak yang nggak bisa hargai suami. Mbak udah nggak dukung suami mbak sendiri. Mbak egois mau menang sendiri, nggak mau dukung abang lagi!" seru Shanti.


"Misno! Misno! Tangkap perempuan murahan itu!" teriak Siti Rukayah, telunjuknya jelas menunjuk ke arah Shanti.


Shanti mendengar teriakan dari Siti Rukayah yang memanggil namanya hingga berkali-kali. Teriakan yang berubah menjadi gema, yang semakin lama semakin dekat hingga membuat Shanti lemas dan membuat susah bernapas.


Shanti tidak dapat bergerak. Misno dengan wajah bengis telah berdiri tepat dihadapannya. Misno memegang sebuah pengki. Shanti meronta dan semakin ia meronta semakin Shanti tak bisa bergerak.


Ya, ia telah terikat sekarang. Terikat dan tak berdaya. Shanti berteriak minta tolong sejadi-jadinya. Tapi semua tidak ada.


"Abang, Kak Widi, Wynne, Tante Risna … Tolong! Tolong!" teriak Shanti.


Namun, tak ada yang mendengar. Akhirnya Shanti hanya bisa menangis dengan tersedu-sedu. Pandangan mata Shanti semakin suram. Di sekelilingnya pun berubah menjadi hitam.


...**...


Shanti membuka mata secara perlahan. Yang terlihat cahaya lampu dan langit-langit.  Ketika matanya melihat ke sekeliling, barulah ia yakin bahwa ia sedang berada di hotel. 


Oh syukurlah cuma mimpi, batin Shanti.


Tetapi Shanti heran mengapa dalam mimpinya, dirinya sangat takut pada Siti Rukayah. Padahal kalau hanya satu lawan satu Shanti yakin benar bahwa ia akan mampu mengatasi Siti Rukayah. Sepertinya Shanti kecewa pada mimpinya kali ini.


Mimpi apaan ini, nggak seru, batin Shanti memrotes mimpinya lantaran ia kalah dalam mimpi itu.


Dengan cara berguling Shanti mencoba menjangkau lampu meja di pojokan ranjang. Dari dalam laci meja itu Shanti mengambil ponsel. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 14.07, yang berarti sudah lima jam ia telah resmi menjadi istri sah Mus Topan. 


Masih terekam dengan jelas segala kejadian berikut urutannya. Keributan di rumah Mus Topan pada hari Senin, dua minggu yang lalu. Dengan menggunakan pesawat terakhir Shanti berhasil pulang, dan paginya Shanti mengantarkan dokumen kesepakatan itu pada Pak Harris dan menerima pembayaran. 


Masih teringat oleh Shanti ketika itu ia sedang beristirahat. Memulihkan kondisi fisik akibat jauhnya perjalanan. Dan juga mencoba tabah menerima segala caci maki yang dikeluarkan oleh Siti Rukayah. 


Dan ternyata pada sore harinya ia menerima kabar dari mamanya. Siti Rukayah datang ke rumah dan menitipkan uang sebesar seratus juta rupiah berikut tanda terima dari ibunya. Kemudian ia meminta mamanya agar dapat membujuk Shanti agar menjauhi dan menghilang dari kehidupan Mus Topan. 


Bagi Shanti, sungguh sangat memalukan, Siti Rukayah berlagak percaya cinta. Namun, ingin menyelesaikan permasalahan cinta dengan uang. Tega mengadu domba antara ibu dan anak dengan memakai uang. 


Teringat pula oleh Shanti bagaimana ketakutan mamanya yang amat sangat karena dirinya menolak tawaran uang yang telah diterimanya. Ketakutan sebagai orang yang tidak mengerti hukum. Ketakutan orang yang hidup berkekurangan harus berhadapan dengan orang yang berpunya.

__ADS_1


Shanti sangat berterima kasih pada Liske. Sebagai mantan supervisor front office sebuah bank nasional, Liske memberikan saran agar uang itu disetor pada rekening bank, ketika Shanti meminta pendapat. Liske juga menambahkan saran pada bukti tanda setor dibuatkan pesan berupa tulisan "titipan dari Ibu Siti Rukayah". 


Dengan cara ini setidaknya bukti tanda terima ibunya dapat ditangkal. Hal ini akan membantu membuktikan bahwa mama Shanti berniat untuk menyimpan uang itu tanpa ada keinginan menguasai ataupun memilikinya. Menurut Liske, cara ini setidaknya dapat mengurangi risiko hukum apabila Siti Rukayah melakukan upaya hukum untuk menekan keluarganya.


Sebenarnya bukan itu saja perlakuan jahat Siti Rukayah. Shanti ingat benar ketika ia diminta Mus Topan naik ke mobil untuk diantar ke bandara oleh Misno. Ia sempat diancam oleh Misno dan ditakut-takuti dengan cara membawa mobil dengan ugal-ugalan. Sempat juga ia meminta Shanti turun di jalan. Karena Shanti sempat protes terhadap cara Misno mengendarai mobil.


Beruntung Mus Topan menepati janjinya saat ia mengantarkan tas milik Shanti kedalam mobil. Mus Topan menelepon Shanti dan meminta agar telepon itu disambungkan pada Misno. Shanti tidak mengetahui apa isi perbincangan Mus Topan dan Misno saat itu. Yang terdengar hanya kata-kata baik gan, maaf gan, terima kasih gan. Tapi Shanti bersyukur setelah percakapan itu Misno meminta maaf dan bersedia mengantar Shanti ke bandara. 


Di hari yang sama, foto bukti setor itu Shanti kirimkan pada Mus Topan. Dan Shanti ceritakan hal ihwal kejadian itu. Mus Topan marah besar dan sempat mengancam akan mentalak Siti Rukayah. Serta berjanji akan menikahi Shanti, jika ia bersedia diperistri oleh Mus Topan.


Saat itu Shanti berniat membalas segala perlakuan Siti Rukayah terhadap dirinya dan keluarganya. Maka Shanti menyatakan bersedia. Ia meminta agar Mus Topan menikahinya dalam waktu dua minggu. Dan Mus Topan menyanggupinya. Mus Topan mengakui sejak awal memiliki ketertarikan pada diri Shanti.


Siti Rukayah memohon-mohon pada Shanti siang malam melalui sambungan telepon ataupun melalui pesan percakapan agar membujuk Mus Topan untuk tidak menceraikan dirinya dengan alasan anak-anak. Siti Rukayah pun membuat pernyataan bersedia dimadu oleh Mus Topan.


...**...


Net … net … bel pintu kamar hotel berbunyi. Dengan segera Shanti membuka pintu, Kemudian masuklah Mus Topan.


"Abang nggak bawa kartu? Abang dari mana?" tanya Shanti sambil ia berjalan menuju kursi tamu yang ada di kamar hotel.


"Iya, lupa. Habisnya mendadak Fatma minta izin mau jalan-jalan, bosan di kamar katanya," jawab Mus Topan. "Shan, kamu lagi ngapain?"


"Bang, coba pegang ini," pinta Shanti sambil menyerahkan mahkota adat pengantin wanita.


"Ada apa dengan mahkota ini?" tanya Mus Topan sambil menerimanya. "Wuih, berat juga ya. dua kilo lebih ada kali ini," ujar Mus Topan tampak kaget karena tidak menyangka benda yang dia angkat akan seberat itu.


"Beratnya hampir empat kilo tuh bang. Abang tahu nggak? Ada mitos kalau perempuan nggak perawan pakai mahkota ini ada yang nyampe pingsan lho bang. Shanti sengaja pakai yang asli biar mama Shanti tahu," jelas Shanti. 


Mus Topan terkejut mendengar berat mahkota wanita itu. Namun, ia kurang begitu menangkap tentang penjelasan Shanti berikutnya. Dan dia pun meminta agar Shanti mengulangi penjelasannya.


Namun, Shanti tidak bersedia mengulangi penjelasannya, sementara ini ia ingin fokus untuk membereskan pakaian adat. Dan untuk menghindari pertanyaan Mus Topan lebih lanjut, Shanti berupaya mengalihkan percakapan. Shanti mencoba menanyakan pada Mus Topan perihal dengan siapa Fatma pergi berjalan-jalan.


Mus Topan mengatakan bahwa Fatma pergi bersama Rizki dan Shinta, adik Shanti. Rencana mereka berkeliling kota, sekaligus wisata kuliner. Misno menjadi supir mereka. 


Teringat dengan Misno maka Shanti pun bertanya,"bang waktu Misno antar Shanti ke bandara abang ngomong apa ke dia pakai ponsel Shan-shan?"


"O, itu. Abang bilang ke dia kalau dia macam-macam sama kamu, abang akan jual kebun dia. Ya ketakutan lah dia kehilangan pendapatan," papar Mus Topan menjelaskan. "Kan sertifikatnya abang yang pegang."

__ADS_1


Misno sebagai supir memang tidak digaji. Mus Topan berkomitmen membantu Misno setelah ia diselamatkan oleh Misno. Sejak aksi penyelamatan itu, Mus Topan selalu berupaya membantu Misno sebagai balas budi. Saat ini Mus Topan membantu dengan cara mengelola kebun milik Misno, adapun hasil panennya akan diberikan pada Misno sebagai gaji. Dan itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan gaji supir di kampung.


Selain itu Misno sejak kecil merupakan teman bermain Siti Rukayah. Mereka sebaya. Belasan tahun kedua orang tua mereka berteman baik. Ayah Siti Rukayah menjabat sebagai kepala dusun diangkat oleh camat, dan ayah Misno dipilih ayah Siti Rukayah sebagai bendahara.


...**...


Shanti selesai merapikan baju adat berikut aksesoris milik event organizer. Sengaja Shanti tidak masukkan kedalam kotak karena pastinya akan dicek petugas wardrobe terlebih dahulu. Sedangkan Mus Topan baru saja memanaskan air dengan menggunakan coffee maker yang disediakan oleh hotel. 


"Shan kamu mau kopi atau teh?" tanya Mus Topan.


"Udah bang, abang duduk aja di sini, biar Shan-shan aja yang bikin buat abang" jawab Shanti 


Ketika mereka berjalan berpapasan, Mus Topan berbisik di telinga Shanti dengan lembut," jangan pake lama ya."


...**...


Sambil berjalan membawa kopi ke arah sofa tempat Mus Topan berada,  Shanti berkata, "Bang, Shan-shan senang banget Rizki dan Fatma mau datang. Dan mau duduk di kursi pelaminan menggantikan orang tua abang." 


"Waktu mau berangkat, Rizki sempat bilang, mereka datang karena mereka ingin menjaga perasaan abang. Dan minta abang bisa begitu juga ke ibu mereka," ujar Mus Topan menjelaskan. "Shan itu nggak apa-apa orang tua kamu nginap di tempat bibi kamu?" 


"Nggak apalah bang, dah memang maunya begitu. Tapi Shinta kan nginap di sini sekalian ngawanin Fatma," jawab Shanti. "Gimana kopinya bang?"


"Biasa, kopi sachet ya sama semua Shan, " jawab Mus Topan setelah meminum kopi yang dibikin Shanti. "Kawan-kawan kamu hebat ya Shan, terutama yang agak tua itu," lanjut Mus Topan sekaligus memberi pujian pada Tante Risna.


"O, itu Tante Risna bang, mentor Shanti. Kalau sama dia mah yakin aja beres. Ngurusin KUA, kendaraan, restoran, hotel, dia semua bang," kata Shanti penuh pujian pada Tante Risna.


"Termasuk yang pesan paket cokelat buat Fatma ya Tante Risna juga," ujar Shanti menjelaskan peran Tante Risna pada Mus Topan. 


"Ntar, Shan-shan kenalin abang sama Kak Widi, Mbak Gendis, Wynne yang ikut bantu," lanjut Shanti yang berusaha memberi tahu nama dari teman-temannya yang sudah dianggapnya sebagai saudara pada Mus Topan.


Sikap jujur, gamblang, tulus dalam berbuat dan merupakan salah satu penyebab Shanti sangat suka pada Mus Topan. Wajah Mus Topan yang gagah mencerminkan bagaimana ia bersikap. Selain itu rambut ikal dan panjang ala band rock hair metal era 80-an menambah unik pribadi Mus Topan di mata Shanti.


Mus Topan tidak tahu bahwa di antara orang dekat Shanti, Tante Risna lah yang paling berkeberatan Shanti cepat menikah. Terlebih mendadak. Berkali-kali Tante Risna meminta Shanti mempertimbangkan ulang. Tante Risna belum punya calon pengganti dengan kapasitas yang sama dengan Shanti.


Lady escort yang baik memiliki kemampuan menyelaraskan perbedaan calon rekanan bisnis terhadap klien. Intuisi membaca karakter dan suasana hati calon target dari klien sangat penting. Penguasaan materi dan pengetahuan situasi bisnis berikut perkembangannya juga harus mumpuni.


Bagi Tante Risna kemampuan seperti ini amat jarang dimiliki oleh anak didiknya. Saat ini hanya Shanti dan Liske yang memiliki kemampuan itu. Widi selain sudah sangat senior, juga terlalu sibuk mengurusi bisnis oli milik pasangannya. Sedangkan Wynne tidak begitu berbakat. 

__ADS_1


Cemas kehilangan aset lainnya membuat Tante Risna sedikit risau. Namun sikap profesional tidak mempengaruhi dirinya dalam mengurus pernikahan Shanti. Hingga ia patut diacungi jempol oleh Mus Topan. Semua yang dilakukan Tante Risna melebihi kelaziman cinta seorang mentor terhadap anak didiknya.


...***...


__ADS_2