Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 5 Keluarga harmonis?


__ADS_3

Shanti masuk kembali ke dalam kamar, setelah ia memberikan paket pakaian adat pada pegawai wedding organizer di koridor hotel. Dilihatnya Mus Topan lelap tertidur. Shanti dapat memakluminya bahwa Mus Topan memang sangat membutuhkan istirahat.


Dua hari yang lalu Mus Topan bersama kedua anaknya melakukan perjalanan darat. Walau bergantian mengendarai mobil dengan Misno tetap saja perjalanan lebih dari enam belas jam membuatnya letih. Ditambah pagi tadi baru saja mereka melangsungkan akad dan pesta pernikahan.


Shanti memilih duduk di sofa untuk melihat beberapa pesan yang masuk di ponselnya. Jam pada ponselnya menunjukkan pukul 16.43. Kebanyakan pesan yang masuk sejak tadi pagi merupakan ucapan ada. Namun, terdapat tiga pesan yang menarik menurut Shanti. Ketiganya merupakan kontak tidak dikenal. Akan tetapi Shanti dapat dengan mudah mengira-ngira siapa pengirimnya.


Yang pertama dan kedua sangat mudah bagi Shanti mengira-ngira siapa pengirimnya. Yaitu Fatma dan Rizki, Inti dari tulisan mereka adalah tidak akan memanggil mama atau ibu terhadap dirinya. Namun, mereka akan selalu menganggap dirinya sebagai istri dari ayah mereka.


Shanti sengaja tidak membalas pesan itu. Shanti paham menjawab saat ini bukan solusi, Malah dapat dibilang blunder, jika mereka tidak begitu paham atas jawaban darinya. Shanti juga berusia muda. Tapi Shanti jauh Lebih matang  dalam berpikir dan bersikap dibandingkan dengan usianya. Shanti pun mengambil keputusan untuk membiarkan saja, karena semuanya masih berproses.


Adapun pesan ketiga lebih mudah lagi bagi Shanti untuk tahu siapa pengirimnya. Ya, Siti Rukayah. Ia mengirim sebuah pesan singkat untuk Shanti yang terkirim pukul 13.11 tadi.


"Kemarin suamiku! Hari ini anak-anakku! Besok hartaku!" Demikian tulisan Siti Rukayah yang tertera pada ponsel Shanti.


Shanti membalas melalui ponselnya," ada apa mbak?"


Di luar dugaan Shanti pesan yang dibalas olehnya cepat mendapatkan tanggapan. Hingga terjadilah percakapan antara mereka melalui pesan teks


Siti R. : "Nah, tikus betina ngebales!" 


Shanti : "Tikus? Maksudnya mbak?"


Siti R.  : "Iya kamu, kamu tikusnya kan!"


Shanti : "Kok Shan-shan dibilang tikus?"


Siti R.  : "Shan-shan! Shan-shan! Mau curi  harta bang haji kamu ya! Udah niat ya kan?


Shanti : "Ha ha, jadi mbak serius nuduh nih!"


Siti R.  : "Iya lah, tapi pasti saya jaga, kamu nggak akan bisa ambil!


Shanti : "Siap mbak! Nanti Shan-shan carikan investor bonafit yang mau borong semua aset Bang Topan! Nanti Bang Topan inves disini aja dari hasil jual aset!"


Ancaman Shanti ternyata berhasil. Siti Rukayah tidak lagi menjawab pesan Shanti terakhir.


Hmmm, agaknya takut juga dia. O … ternyata cuma segitu nyalinya, batin Shanti.


Dari arah sofa Shanti melihat Mus Topan menggeliat. Sontak Shanti berjalan menuju ranjang menghampirinya. Dilihatnya suaminya yang berambut panjang itu tengah mengejap-ngejapkan mata.


"Bang, dah sore abang!" ujar Shanti


"Jam berapa ini?" tanya Mus Topan sambil menyibakkan selimut.


"Sudah jam lima lewat bang. Shan-shan hidupin lampu ya bang," jawab Shanti sambil ia bergerak menuju saklar lampu utama.


Mus Topan tidak menjawab pertanyaan Shanti.  Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Shanti akhirnya menaikkan suhu ruangan menggunakan remote AC. Sebenarnya sejak tadi ia merasa kedinginan. Namun, khawatir kenyamanan tidur suaminya terganggu maka ia urungkan niatnya untuk merubah suhu ruangan.

__ADS_1


Selesai membersihkan badan dan berpakaian lengkap, Mus Topan melakukan rutinitas sore yang selalu ia lakukan. Walaupun kali ini agak terlambat. Pada saat yang bersamaan ponsel Shanti berbunyi, yang menandakan satu pesan telah masuk.


Nah balik lagi nih nenek sihir, batin Shanti ketika melihat pesan yang baru saja masuk.


Siti R. : "Uang saya kok belum dikembalikan?" 


Shanti : "Mbak nitipnya ke siapa? Udah mana rekeningnya ntar mama saya balikin ke rekening aja! Apa mbak nggak ngerti, Bang Topan bilang apa!"


Sengaja Shanti membawa nama Mus Topan. Karena tempo hari ketika diberi tahu Shanti masalah ini, Mus Topan ingin memastikan dari mama Shanti tentang status uang itu. Apakah diberikan pada mama Shanti atau dititipkan untuk diberikan pada Shanti. 


Begitulah Mus Topan, selalu menuntut kejelasan suatu perkara. Bagi Mus Topan ini masalah penting, karena terkait hukum agama dan hukum negara. Mama Shanti telah bicara pada Mus Topan, bahwa benar adanya bahwa itu merupakan titipan untuk Shanti. Namun, Mus Topan ingin agar Siti Rukayah meminta maaf dulu pada mama Shanti sebelum meminta uang itu dikembalikan.


"Shan, mau nggak kita makan malam di tempat yang kemarin, kita makan mie?" tanya Mus Topan dengan setengah bercanda.


"Shan-shan sih oke-oke aja, tapi bagusnya sama anak-anak. Biar mereka tahu seperti apa makanan kontinental," jawab Shanti. "Tanyakan juga mau hidangan negara mana!"


Mus Topan memahami Shanti menolak ajakannya makan malam berdua saja. Ia merasa bahwa kesempatan baik Shanti untuk mendekati kedua anaknya. Momen ini mungkin tidak akan tercipta lagi jika mereka telah kembali ke daerah asal mereka.


Mus Topan menelepon Fatma untuk bertanya hal yang telah ia dan Shanti rencanakan. Fatma setuju, dan memilih menu western dibanding dengan tawaran Mus Topan. Begitu juga dengan Rizki. Sayangnya Shinta, adik Shanti saat ini masih ada keperluan di tempat bibi bersama kedua orang tuanya.


Shanti banyak mengetahui tempat makan yang sesuai keinginan Fatma dan kemungkinan besar Rizki akan suka. Menurut pandangan Shanti, Rizki adalah seorang lelaki muda pendiam dan pekerja keras. Dari pengalaman Shanti, maka masakan yang sesuai dengan Rizki dan Fatma adalah masakan Itali.


Segera Shanti menetapkan pilihannya pada sebuah restoran dengan menu masakan Itali dan memiliki nuansa anak muda. Shanti pun tahu secara pasti tempat makan yang tidak perlu untuk pesan tempat terlebih dahulu. Ya, yang sesuai selera anak muda.


"Bang, Shan-shan dah dapat restorannya. Masakan Itali. Anak-anak abang pasti suka!" seru Shanti pada Mus Topan dengan penuh semangat. 


"Begitu ya, Hmmm kalau udah pasti biar abang kasih tahu Mas Misno biar siap-siap," ujar Mus Topan.


"Kasihan Mas Misno-nya, bang. Nanti di sana dia kesusahan cari tempat parkir. Shan-shan yakin kalau Mas Misno belum terbiasa parkir di tempat yang ramai, mana malam lagi. Sebaiknya kita naik taksi aja bang," kata Shanti menanggapi pernyataan Mus Topan.


Sebenarnya Shanti memang tidak ingin Misno ikut bersama mereka. Shanti belum dapat melupakan pengkhianatan Misno pada Mus Topan dan dirinya. Misno adalah mata-mata Siti Rukayah. Adapun alasan utama Shanti adalah menyingkirkan segala sesuatu yang dapat menghambat proses pendekatan dirinya pada anak-anak Mus Topan.


...**...


Mereka berempat telah berkumpul di lobi hotel. Tampak Fatma mengenakan pakaian terbaiknya. Ia telah bersiap untuk misi makan malam pertamanya. Sedangkan Rizki tampil lebih simpel. 


Rizki diminta Mus Topan untuk duduk di depan, sedangkan Fatma langsung ngeloyor masuk melalui pintu belakang ketika petugas hotel membukakan pintu taksi. Setelah naik pertama, Fatma meminta agar Mus Topan segera menyusulnya. Agaknya Fatma masih merasa risih jika harus duduk bersebelahan langsung dengan ibu tirinya.


Ketika posisi duduk mereka telah dirasa mantap, Shanti memberi alamat pada supir taksi. Taksi pun melaju dengan kecepatan sedang. Dengan posisi Mus Topan duduk di tengah Shanti pun sempat berseloroh, bahwa Mus Topan adalah lelaki yang beruntung. Punya kesempatan duduk diapit oleh dua orang wanita cantik. Selorohan Shanti ini ditanggapi positif oleh Fatma dan Rizki.


"Pak, di sini tempatnya ya pak," tanya Rizki pada supir taksi.


"Iya pak. Sebentar saya cari tempat supaya dekat dengan pintu masuknya," ujar supir taksi itu yang terlihat menoleh arah kiri mencari tempat yang tepat untuk memberhentikan mobilnya. "Iyak pas, sudah sampai pak."


Mus Topan memberikan uang pada Rizki, dan memintanya agar membayarkan pada supir taksi. Fatma tampak senang sekali melihat keramaian yang ada. Dengan spontan ia menggandeng tangan kiri ayahnya untuk berjalan menuju pusat kuliner itu.


Sambil menoleh ke belakang ke arah shanti yang berjalan sejajar dengan Rizki Mus Topan berkata," susah juga kalau Mas Misno harus cari tempat parkir di sini ya!"

__ADS_1


"Iya bang, bisa-bisa mutar dua kali dia. Kasihan Mas Misno-nya!" jawab Shanti sambil tersenyum penuh arti. "Bang, belok kiri bang!"


Sengaja Shanti memberi arahan pada Mus Topan. Ia khawatir Mus Topan mengikuti arah Fatma yang mengarah pada keramaian yang ada  di sisi kanan mereka. Sedangkan restoran yang mereka tuju bukanlah tempat biasa bagi semua anak muda kunjungi.


Ketika masuk dalam restoran Fatma sempat terperangah. Ia merasa beruntung telah memakai gaun terbaiknya, gadis lain banyak juga yang memakai gaun. Ia pun mendekat pada Shanti dan berkata," untung Fatma pakai gaun ini ya tante."


Shanti tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai balasan, Shanti hanya tersenyum. Senyuman yang tulus pada putri tirinya. 


Seorang pelayan pria tampak menghampiri mereka. Shanti meminta pada pelayan itu agar memberikan meja yang sesuai untuk mereka. Lalu mempersilahkan mereka duduk dan memilih menu.


Kepala pelayan pergi dengan membawa buku menu yang diberikan oleh Shanti. Buku menu itu telah selesai Shanti tandai. Shanti telah memesan makanan dengan menandai 2 menu appetizer, 1 main course dan 2 desert.


Mata Mus Topan membesar ketika pelayan membuka botol berwarna hitam. Kemudian pelayan itu menuangkan minuman berwarna merah itu pada gelas mereka. Shanti yang memesan minuman itu menekan paha Mus Topan agar tenang. 


"Shan, minuman apa ini?" tanya Mus Topan ketika pelayan telah meninggalkan mereka.


"Oh, ini bang anggur non alkohol, biar Fatma dan Rizki coba," kata Shanti. "Cobalah bang, kalau abang nggak mau nanti kita ganti saja dengan yang lain."


Fatma setelah mencicipi minuman berwarna merah seperti perasan anggur itu berkata,"Aih, rasa jus anggur ini mah tante, tapi keren banget," kata Fatma yang terlihat senang. "Fatma juga udah download tutorial belajar penggunaan alat makannya tante."


Kemudian Shanti menjelaskan pada Fatma dan Rizki tentang cook serve method. Namun, kali ini lebih cepat dikarenakan setiap bahan masakan dan bumbu telah disiapkan. Jadi hanya tinggal proses memasaknya saja. Terlihat Mus Topan pun mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Shanti.


Benar saja tak selang beberapa lama menu pembuka mereka pun tiba. Begitu seterusnya sajian demi datang bergantian silih berganti  Tampak sekali wajah keingintahuan dari Fatma terhadap apa yang akan disajikan pada setiap pergantian menu. Adapun Rizki berusaha agar terlihat lebih dewasa.


Salad, cheesecake, ayam panggang, lava coklat dan gelato menjadi santapan mereka malam itu. Semuanya tampak senang. Mus Topan pun akhirnya memberi pengakuan pada Shanti, bahwa ia belum pernah makan malam begitu meriah bersama anak-anak.


Dengan gerakan tangan Shanti memanggil kepala pelayan. Ia meletakkan kartu kreditnya pada baki pelayan tersebut. Terlihat pelayan seperti berbisik padanya. Shanti mengangguk tanda setuju lalu menandatangani secarik kertas yang disodorkan padanya. 


Shanti sengaja membayar makan malam itu. Ia bertujuan memberi tahu pada anak-anak Mus Topan. Bahwa memang ia tidak sekaya orang tua mereka. Akan tetapi ia merupakan seseorang yang mandiri.


Fatma sedang meminum anggurnya, ketika pelayan datang membawakan kartu kredit dan bukti pembayaran pada Shanti. Ya, hanya Fatma dan Shanti yang sempat diisi anggur kembali oleh pelayan itu. Sedangkan Mus Topan dan Rizki lebih memilih banyak minum air putih.


Mereka tiba di lobi hotel pukul 21.48. Fatma telah menerima pesan singkat dari Shinta ketika masih berada di atas taksi. Bahwa Shinta telah menunggunya di kamar hotel. Ia senang karena terhindar dari tidur sendirian.


...**...


Shanti teringat janjinya pada Widi. Ia pernah berjanji akan hadir memberikan dukungan pada pertandingan turnamen terbuka sebuah rumah biliar untuk kategori wanita. Namun, telah dua kali dirinya tidak dapat hadir. 


Shanti tidak hadir pertama kalinya sebab ia harus menggantikan posisi Liske. Akibatnya ia bertemu dengan orang yang menjadi suaminya. Yang kedua minggu kemarin dikarenakan harus membantu Tante Risna mempersiapkan pernikahannya.


Widi dan geng siap glamor memang tidak meminta Shanti hadir. Sebab mereka sadar hari ini merupakan hari pernikahannya. Namun, bagi Shanti persahabatan dan kebersamaan mereka lebih utama. Empat tahun berteman merupakan hal yang sangat berarti. Sama berartinya dengan kehidupannya saat ini yang telah bersuami.


Bagi Shanti persahabatan merupakan suatu hal yang lain sedangkan pernikahan adalah hal yang lainnya. Sebab itu Shanti bermaksud untuk mengajak Mus Topan. Siapa tahu Mus Topan tidak keberatan untuk menemaninya menonton pertandingan Widi.


Pintu lift terbuka, Shanti mengatakan pada Fatma dan Rizki bahwa ia dan ayah mereka ingin duduk-duduk di lobi hotel terlebih dahulu. Fatma dan Rizki mengangguk tanda setuju. Terlebih Fatma yang tak sabar untuk bertemu Shinta. Tampaknya ada banyak hal yang akan Fatma ceritakan pada Shinta.


"Terima kasih tante untuk makan malam dan pengetahuannya," ujar Fatma sambil mencium pipi Shanti.

__ADS_1


Begitu pula dengan Rizki, walaupun tak keluar sepatah kata pun dari bibirnya. Namun, bagi Shanti dan atau bagi semua orang di sana yang turut menyaksikan pastilah setuju bahwa rasa terima kasih Rizki tidaklah lebih kecil dibanding Fatma. Rizki memberi senyum pada Shanti dan bergegas masuk lift menyusul Fatma.


...***...


__ADS_2