Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 3 Di kap mobil akhirnya


__ADS_3

Seorang pria di area parkir melambaikan tangannya ke arah Mus Topan. Kemudian masuk kedalam mobil Toyota Fortuner warna hitam. Tak berselang lama mobil itu berhenti di dekat Mus Topan dan membukakan pintu dari dalam seperti gaya supir angkot.


"Tepat waktu kan gan?" tanya pria itu


"Sip mas," jawab Mus Topan sambil mengacungkan jempolnya. " Ayo Shan," ajak Mus Topan.


Ketika Shanti naik mobil dan menyusun barang bawaannya. Ia mendengar pertanyaan tentang dirinya diajukan pria yang dipanggil mas oleh Mus Topan itu.


"Siapa gan?" tanya pria itu coba mencari tahu tentang diri Shanti.


"Sekretaris klien dari pusat," jawab Mus Topan dengan enteng.


Disebut sebagai sekretaris, senang sekali hati Shanti. Artinya dirinya telah memiliki gaya dan tingkah laku bak sekretaris asli.


Tidak seperti biasanya, Shanti tidak ingin pindah ke bagian kanan mobil agar mudah berkomunikasi dengan Mus Topan. Shanti merasa lebih nyaman jika ia berada di dekat Mus Topan. Shanti memilih kenyamanan dibanding kemudahan komunikasi.


Shanti ragu terhadap orang yang memanggil Mus Topan dengan kata gan itu. Shanti yakin sekali itu singkatan dari juragan. Tapi kenapa Mus Topan memanggilnya mas?


Ah, sudahlah. Si Abang mendadak diam saja sudah aneh, tambah lagi dengan hadirnya orang ini. Sudahlah, nggak usah dipikirin, batin Shanti.


Setelah keluar dari area bandara Shanti bertanya,"Bang jadikan kerumah Shan-shan dulu?"


"Eh, iya nanti bilang aja ke Pak Misno arahnya ya Shan," jawab Mus Topan dingin.


Hmmm, ternyata namanya Misno, batin Shanti


Walaupun sudah lima tahun tidak pulang. Namun, Shanti masih ingat semua jalan masuk komplek perumahannya. Dengan mudah ia mengenali rumah para tetangganya. Kecuali satu, rumah Kak Opik. Rumah yang berada di hook itu telah berubah menjadi rumah berlantai dua yang sangat megah.


Apa kabarnya Kak Opik sekarang ya, tanya Shanti dalam hati.


Setelah melewati lima rumah dari rumah besar itu Shanti meminta Pak Misno untuk menghentikan kendaraan. Lalu Shanti turun dengan segera dengan membawa tas dan bingkisan cokelat untuk adiknya. Rumah Shanti berada disebelah kanan jalan. Shanti pun menyeberang di jalan komplek perumahan yang teramat sepi itu.


Shanti masuk ke rumahnya, dan tak lama kemudian ia keluar lagi dan terlihat tangannya melambai memanggil Mus Topan. 


"Ayo bang masuk!" teriak Shanti. 


Sikap Shanti ini tidaklah dibuat-buat. Shanti hanya memiliki satu adik perempuan. Pastinya ia ingin memiliki kakak atau saudara laki-laki yang melindunginya. Sosok yang tidak Shanti rasakan dari papanya, yang cenderung kalah pada mamanya.


Dengan malas Mus Topan turun dari mobil dan berjalan memasuki pekarangan rumah Shanti. Sedangkan Misno tidak terlihat ada keinginan untuk turun dan sepertinya sibuk menelepon.


Mus Topan masuk dan menyadari betapa sepi kondisi rumah Shanti. Shanti mengatakan bahwa adiknya belum pulang sekolah, sedangkan papanya mengojek, mungkin saja sedang menjemput adiknya sekolah.


Wanita dihadapan Mus Topan adalah Rosa, mama Shanti. Usianya sama dengan Siti Rukayah, istri Mus Topan. Setelah berkenalan Mus Topan dipersilahkan duduk. Lalu Shanti dan mamanya masuk ke dalam. Tak lupa Shanti membawa bingkisan itu bersamanya.


Shanti keluar dari ruang tengah dan berkata," bang, tunggu dulu ya Shanti mau bantu mama bikin minum dulu".


Mus Topan mengangguk antara pasrah atau setuju. 


Dikarenakan tak ada teman di ruangan itu Mus Topan memutuskan untuk menunggu di luar. Di halaman itu ia melihat meja yang diikat pada pagar. Menurut pemikiran Mus Topan meja itu pastinya digunakan untuk berjualan makanan. 


Baru beberapa hisapan, Mus Topan melihat Shanti berjalan sambil menunduk terlihat ia seperti menangis. Mus Topan segera membuang rokoknya dan bertanya,"kamu kenapa Shan?


Shanti tidak menjawab, wajahnya yang putih terlihat pucat dan matanya memerah. Shanti terus berjalan, bahkan melewati Mus Topan menuju ke arah mobil. 


"Ayolah bang kita pergi dari sini!" teriak Shanti walaupun pun tidak begitu keras.


Dengan cepat Shanti telah berada di depan pintu mobil, Mus Topan pun segera menoleh ke arah pintu rumah Shanti. Mus Topan melihat mama Shanti hanya berdiri melihat ke arahnya tanpa mengucapkan sesuatu. Mus Topan segera menganggukkan kepala sebagai tanda menghormat lalu berjalan menuju mobil.


Kali ini Mus Topan memilih tempat duduk dibelakang Misno. Dari posisi ini Mus Topan dapat melihat wajah Shanti serta menduga apa yang dirasakan Shanti. Dengan tepukan ke bahu Misno, Mus Topan meminta Misno untuk menjalankan mobilnya.


...**...


Jam tangan Shanti menunjukkan 18.47 setelah mereka selesai beristirahat dan mengisi bensin. Mus Topan menawarkan untuk makan malam. Namun, ditolak Shanti. Dengan alasan bahwa ia masih memiliki  2 kotak snack dari maskapai penerbangan tadi.


Mus Topan dan Misno akhirnya minum kopi sambil istirahat di minimarket, Shanti meminta izin ke toserba di sekitar pom bensin untuk membeli pakaian ganti. Shanti membeli celana pendek, kaos oblong, dan pakaian dalam. Shanti berencana pakaian ini akan ia gunakan untuk tidur. Dan akan muat disimpan dalam tas ransel kecilnya untuk dibawa pulang.


Mobil berjalan kembali sekitar sepuluh menit, kali ini berhenti di depan sebuah wisma. Kemudian Mus Topan turun dari mobil dan disambut seorang pria dan wanita. Terlihat Mus Topan pun berbicara pada dua orang itu.


Mus Topan mengajak Shanti turun. Shanti yang masih bersedih segera turun mematuhi permintaan Mus Topan. Terdengar oleh Shanti arahan Mus Topan agar mereka melayani dirinya.


Mus Topan berpamitan untuk meninggalkan Shanti. Mus Topan berkata," Shan, kamu malam ini nginap di sini, abang lanjut pulang ke rumah dulu. Besok pagi jam 7 abang jemput untuk lihat lokasi, oke."


"Iya bang," jawab Shanti.


"Nanti kalau perlu apa-apa kamu bisa hubungi bapak atau ibu Renggo," kata Mus Topan. "Pak Renggo saya titip ya."


Lelaki yang dipanggil dengan nama Pak Renggo itu mengangguk, dan ia berkata pada Shanti bahwa ia dan istrinya selalu ada di paviliun dekat kamar Shanti jika mereka dibutuhkan.


...**...

__ADS_1


Shanti masuk kedalam kamar yang telah disiapkan sebelumnya oleh pasangan suami istri itu. Sederhana memang tetapi cukup representatif. Setelah menghidupkan AC, Shanti melihat kamar mandi timbul keinginannya untuk membersihkan diri. 


Shanti mengambil handuk putih tebal dari atas kasur. Lalu digulungkan handuk itu pada sisi kanan tangannya. Kemudian Shanti duduk di atas kasur. Bunyi air kran mengisi bak serta aliran udara dingin dari AC seperti tidak dirasakan Shanti. Perasaan sedih dan kecewa menjadi teman setianya saat ini.


Shanti terngiang ucapan mamanya tadi, masih saja kamu mengganggu suami orang, kamu kok nggak kapok kapok ya, kapan kamu mau sadarnya.


Dengan ucapan mamanya tadi siang, berarti telah tiga kali ia dituduh sebagai pelakor. Pertama kali Shanti dituduh pelakor oleh istri muda Pak Mansyur, seorang anggota pengajian pasar, rekan mamanya. Shanti dituding hanya karena Pak Mansyur memberi satu lusin buku tulis untuk dirinya dan Shinta, adiknya. Istri muda Pak Mansyur itu kemudian mengadu pada mamanya, Ketika itu Shanti baru saja tamat dari SMK dan mamanya masih berjualan bumbu dapur di pasar kecamatan.


Yang kedua oleh bibinya, yang merupakan adik mamanya yang cemburu pada Shanti ketika Shanti diberi uang Rp. 500.000,- oleh Mang Uci untuk membeli sepatu ber-hak dan blazer sebagai syarat mengikuti kursus pengembangan profesi sekretaris.


Tadi siang yang lebih tragis, hanya karena bersama lelaki yang lebih tua. Kembali Shanti dituding sebagai pelakor, yang mamanya sendiri tidak tahu siapa Mus Topan, asal usulnya dari mana dan apa hubungan dengan dirinya sehingga dengan mudah tuduhan itu terlontar kembali.


Dhuar, terdengar bunyi keras dari luar kamar Shanti. Shanti tidak tahu bunyi apa itu. Namun, bunyi seperti ledakan itu berhasil membuat rasa sedih dalam hatinya mendadak hilang. Shanti pun teringat keinginannya untuk mandi. Dengan mandi ia berharap akan dapat mendinginkan hatinya. 


Setelah mandi Shanti mengganti pakaiannya Kini ia memakai celana pendek jenis mambo dan kaos oblong putih yang dibelinya tadi. Adapun pakaian dalam bekas pakainya dimasukkan kedalam plastik bekas belanja pakaian. Sedangkan untuk pakaian luar Shanti gantung dalam lemari setelah shanti pasangkan hanger terlebih dahulu.


Walaupun saat ini Shanti tidak memiliki nafsu makan. Namun, tetap Shanti paksakan untuk makan sesuatu agar kesehatannya tak terganggu. Shanti mengeluarkan dua kotak snack dari maskapai yang dibawanya. Dibukanya satu kotak snack yang ternyata berisi dua buah kue, satu roti dan segelas air mineral. Shanti merasa bahwa ia harus makan, maka dihabiskannya seluruh isi kotak itu. Dan sebagai minum air mineral dalam kemasan gelas. 


Setelah ia merasa kenyang dan lebih merasa tenang direbahkan tubuhnya pada ranjang yang berisikan kasur busa. Biasanya Shanti agak susah tidur tanpa teman. Terlebih ditempat yang baru atau dianggap asing. Namun, kali ini karena letih dan keinginannya untuk dapat segera melupakan ucapan mamanya Shanti paksakan memejamkan matanya.


Dhuar, kali ini terdengar bunyi sangat keras, Shanti pun terbangun. Ia mengambil ponselnya dilihatnya jam menunjukkan pukul 5.35. Kali ini Shanti putuskan untuk tidak tidur lagi. Setelah membersihkan diri dan melakukan aktifitas rutin Shanti kembali rebah di atas kasur.


Karena bosan Shanti memutuskan untuk melakukan stretching. Ia bermaksud untuk menghilangkan kekakuan dan sedikit pegal akibat perjalanan jauh. Shanti melakukan peregangan secara perlahan dan penuh konsentrasi dikarenakan akhir-akhir ini ia memang jarang berolahraga.


Sehabis melakukan olah tubuh selama lima belas menit Shanti mulai merasakan lapar. Segera ia teringat snack dari maskapai yang merupakan jatah Mus Topan. Segera ia buka roti dan kue kering itu dan memakannya. Kemudian Shanti minum air mineral gelas dengan menggunakan pipet.


Tok tok pintu kamar berbunyi, rupanya Bu Renggo mengantarkan teh manis panas dan juga menanyakan sarapan apa yang Shanti inginkan. Shanti menerimanya dengan senang hati dan tak lupa ia ucapkan terima kasih atas teh manisnya. Namun Shanti menolak tawaran sarapan dari Bu Renggo, karena ia telah merasa cukup untuk sarapan ala kadarnya.


Untuk mengusir sepi, Shanti mengambil ponselnya dan charger-nya pun ia lepaskan dari stop kontak. Biasanya Shanti membuka situs berita maupun aplikasi yang banyak debatnya. Seru jika membaca komen-komen dari pihak-pihak yang berseberangan.


Terdengar suara laki-laki berbicara dengan seorang perempuan. Ya, Shanti kenal betul suara itu. Suara yang dinantikan oleh dirinya. Maklum lah Mus Topan telah telat lebih dari 2 jam. Senang bercampur kesal Shanti membuka pintu dengan cepat. 


Shanti terheran dengan reaksi Mus Topan dan Bu Renggo. Mereka terkejut melihat Shanti yang memakai celana pendek, Shanti lupa orang setempat sangat tidak biasa melihat perempuan menggunakan celana pendek.


Shanti yang merasa salah, langsung menutup pintu kembali sambil berkata,"tunggu ya bang."


Shanti dengan cepat mengganti celana pendek dengan celana kulot. Sedangkan untuk baju ia tidak ganti dikarenakan baju kemarin sudah tidak cocok untuk berjalan-jalan di kebun sawit. 


Shanti hanya menggunakan menggunakan lip gloss untuk lebih terlihat segar. Dan ia ikat rambut panjang sepunggung. Untuk riasan Shanti memilih lebih alami. Sebab Shanti memiliki wajah yang putih dan alis mata yang sudah indah walaupun tanpa pensil alis. Tak lupa Shanti menyemprotkan parfum aroma fresh di tempat titik-titik nadi.


"Shan-shan langsung pulang hari ini bang?" tanya Shanti sambil membuka pintu.


Shanti segera mengambil baju dari dalam lemari, melipatnya, serta memasukkan dalam tas. Begitu juga dengan bungkusan pakaian dalamnya, Shanti masukkan ke dalam laci tasnya. Tak lupa Shanti menutup setelah keluar kamar.


Ketika tiba di lokasi tempat perbincangan Mus Topan dan Bu Renggo Shanti langsung mencium pipi Bu Renggo sebagai tanda terima kasih, meminta maaf sekaligus berpamitan. 


"Salam buat bapak ya bu," kata Shanti. "Ayo bang kita cus"


Tidak jelas apa kata-kata Bu Renggo. Namun, sekilas Shanti melihat gelengan kepala Bu Renggo sambil melihat ke arah Mus Topan. Namun, Shanti tidak mengerti apa maksud dari gelengan itu.


Shanti terkejut ketika melihat mobil yang digunakan Mus Topan sebuah mobil off-road berwarna kuning gading. Shanti tahu bahwa jenis mobil ini bernama "Hardtop". Namun, Shanti belum pernah menaikinya. Untuk naik ke atasnya cukup tinggi, terlebih bagi perempuan. Namun, dengan tinggi badannya dengan mudah ia dapat menaikinya.


"Mobil siapa ini bang?" tanya Shanti ketika ia telah duduk disamping Mus Topan.


"Mobil mertua, almarhum," jawab Mus Topan enteng.


O … hanya itu kata yang terucap oleh Shanti bersamaan dengan mesin mobil mulai dinyalakan oleh Mus Topan.


Aih, tidak sesuai dengan perkiraan Shanti suara yang ditimbulkan mobil ini tidak begitu terasa. Malah dapat dibilang nyaman apabila jika dibandingkan dengan tampilan dari luar.


Setelah berjalan sekitar 100 meter mobil yang dikendarai Mus Topan berbelok ke kiri setelah melewati beberapa rumah mulailah pemandangan kebun karet yang banyak terlihat.


"Kita lihat lapak sawit dulu ya, kira-kira setengah jam lah kesana," usul Mus Topan


Shanti tidak menjawab, ia hanya tersenyum ke arah Mus Topan. Terlihat jelas Shanti sangat menikmati laju mobil di atas jalan aspal  bercampur tanah dan batu. Shanti sesekali melihat ke arah spion untuk melihat debu beterbangan yang disebabkan mobil off-road itu.


Mus Topan mencoba cari tahu apa penyebab Shanti begitu ceria pagi ini padahal dirinya terlambat dua jam lebih dari janjinya. Terlebih ada kejadian di rumah Shanti kemarin. 


"Kok ceria banget padahal abang telat lho?" tanya Mus Topan dengan niat menggoda Shanti.


Shanti menjawab dengan tanpa beban. Ia katakan bahwa hari ini merupakan hari kedua ia menerima upah 10 juta. Jawaban Shanti ini membuat Mus Topan memegang kepala Shanti dan mendorongnya dengan pelan.


Tiba di tempat yang agak ramai Mus Topan pun memperlambat laju kendaraan dan ia berkata,"ini lapak sawit yang abang punya. Ada juga yang bilang di sini terima TBS dari petani, tempat timbang sekaligus sortir. Hasil timbangan dicatat, dibuatkan tanda terima dan dibayar sesuai maunya mereka, harian atau mingguan."


Shanti tidak begitu mendengar perkataan Mus Topan, ia lebih fokus dengan pertanyaan dalam dirinya. Mengapa Mus Topan tidak singgah dan orang-orang di lapak itu banyak yang memperhatikan mobil mereka ketika melaju pelan.


Kali ini mobil berbelok ke kanan setelah penglihatan Shanti ke arah lapak melalui spion sudah mulai menjauh. Shanti tersadar bahwa kali ini ia telah berada di lahan kosong siap bangun dengan ukuran cukup luas.  


Sinar matahari yang masuk melalui kaca depan mobil membuat suhu udara meninggi. Mus Topan menurunkan suhu AC dan menambah kencang fan. Suasana dalam mobil pun kembali sejuk.

__ADS_1


Mus Topan mengatakan hamparan ini lokasi pabrik dan lapak baru yang akan dibangun. Ia telah menyiapkannya sejak tiga bulan lalu. Pabrik dan lapak ini akan menggantikan PKS mini milik koperasi petani kelapa sawit yang abang bina.


Shanti yang sudah mengetahui tujuan Mus Topan melalui percakapan dan pujian dari Harris dan Abdi tentang Mus Topan tempo hari. Shanti pun langsung berkata,"kalau abang punya pengalaman sebelumnya dan udah siap. Terus apa yang menghambat abang sampai butuh pendapat pribadi Shan-shan?"


Rasa kagum Mus Topan semakin menjadi, bagaimana Shanti mengingat perkataan dirinya secara kata per kata. Ya, memang ia pernah mengatakan itu.


"Jadi menurut kamu gimana Shan?" tanya Mus Topan.


"Kalau secara prospek dan niat abang yang Shan-shan tahu dari omongan mereka berdua ya … tinggal dijadiin aja bang," jawab Shanti.


"Dah bang tenang aja, jangan khawatir, ntar Shan-shan jadi karyawannya deh," sambung Shanti dengan penuh kelakar.


Mus Topan tertawa dengan keras, dan ia katakan bahwa ia menandatangani nota kesepakatan itu. Kemudian ia ajak Shanti keluar dari mobil. Shanti pun keluar dari mobil, setelah ia mengambil tiba buah map folder dan bolpoin. Penandatanganan yang tertunda selama dua hari itu akhirnya dilakukan di atas kap mobil.


Mereka pun kembali naik mobil. Mus Topan sangat terkesan dengan dukungan yang Shanti berikan. Ia teringat masa lalunya di mana ketika masa-masa Siti Rukayah, istrinya selalu mendukung dan memberikan masukan bisnis yang sesuai dengan naluri bisnis seorang wanita.


Semangat serta dukungan Shanti membuat dirinya kembali bersemangat dan penuh keyakinan akan keberhasilan pabrik barunya. Mus Topan sangat percaya dengan idiom Dibalik pria sukses, ada wanita hebat.


Dengan tenang Mus Topan memacu mobilnya pulang ke rumah bersama Shanti.


...**...


Shanti turun dari mobil hardtop itu, kali ini ia turun di depan kediaman Mus Topan. Di depan garasi mobil ia melihat Pak Misno sedang mencuci mobil yang ia tumpangi kemarin. Dari ruang pintu depan Shanti melihat gadis manis. Dengan cepat ia menduga pastilah ini yang bernama Fatma.


Mus Topan memperkenalkan anak bungsunya. Fatma menyapa Shanti dengan ramah, dan ia ucapkan terima kasih untuk paket cokelatnya. Shanti berfirasat agaknya Mus Topan melebih-lebihkan jasanya dalam menentukan paket cokelat itu. 


Siti Rukayah begitulah namanya ketika Shanti berkenalan dengan istri Mus Topan. Shanti melihat Siti Rukayah lebih matang dibandingkan dengan Mus Topan, bahkan jika dibandingkan dengan usianya sendiri.


Hanya Rizki putra sulung Mus Topan yang belum hadir. Sesuai dengan keinginan Mus Topan siang hari ini Mus Topan bersama ingin menjamu Shanti makan siang bersama keluarganya 


Berdasarkan cerita Siti Rukayah, Rizki berumur 22 tahun dan telah bekerja layaknya anak-anak seusianya di daerah ini. Rizki memiliki usaha toko pupuk terlengkap disini. Rizki pernah ditawari kuliah oleh Mus Topan.


Namun, Rizki menolak karena ia amat terkesan dengan cerita Mus Topan di kala muda. Mus Topan pernah diberi wejangan oleh bos pemilik truk ekspedisi tempat kerja Mus Topan. 


Wejangan itu berbunyi : Kalau mau kaya merampok, kalau takut merampok ya menipu, kalau takut menipu ya berjudi, kalau tidak pandai berjudi sebaiknya berdagang. 


Wejangan inilah yang membuat Rizki memilih berdagang sebagai profesi. Jam tangan Shanti menunjukkan pukul 11.47 ketika Rizki tiba dan bergabung di ruang tengah. Saat itu Siti Rukayah ingin beranjak untuk segera menyiapkan makanan. 


Namun Mus Topan mencegah Siti Rukayah beranjak. Lalu Mus Topan mengumumkan bahwa ia akan membangun pabrik CPO dan telah menandatangani nota kesepakatan. Mendengar itu Siti Rukayah langsung mengamuk.


"Saya tidak setuju! Dari dulu juga saya tak pernah setuju bang! Saya lebih setuju kalau kita bikin hotel, bukan lapak, bukan pabrik!


Biar orang tahu kita ngembangin daerah kita," teriak Siti Rukayah.


"Kita ini petani! Banyak yang butuh pabrik biar teman-teman, saudara-saudara kita yang petani nggak ditekan lagi sama pabrik, sama orang PT," ujar Mus Topan. 


"Tapi semua modal dari kita, uang dari kita! Mana koperasi? Mana Gapoktan? Mereka nggak mau bantu. Ntar kalau udah jadi baru ngaku-ngaku. Baru mau ikut! Mau terima enaknya aja. Ini pasti gara gara perempuan ini, Abang dijanjiin apa sama dia?" teriak Siti Rukayah sambil menunjuk-nunjuk muka Shanti.


"Siti! Ini nggak ada kaitannya sama Shanti!" balas Mus Topan.


"Nggak ada kaitan gimana? Saya udah tahu dari kemari! Misno udah telpon saya ke mana kalian pergi kemarin. Apa niat kalian hari ini saya udah tahu!" teriak Siti Rukayah.


"Oh… karena itu tho makanya mobil hilang dari pagi, begitu!" ujar Mus Topan. "Misno! Misno! Fatma panggil pakde!" perintah Mus Topan.


Siti mulai takut akan ketahuan bahwa dia  memerintahkan Misno untuk memata-matai Mus Topan. Juga niatnya menyuruh Misno menghilang membawa mobil Mus Topan. Siti Rukayah pun coba menekan dengan masalah penggunaan mobil almarhum ayahnya.


"Kamu udah berani ya pakai mobil ayah untuk wanita mesum ini," ujar Siti Rukayah.


Siti memakai kata kamu karena emosinya sudah memuncak. Belum pernah dia memanggil Mus Topan dengan kata-kata kamu sebelumnya. Walaupun Siti memang lebih tua usianya tiga tahun dari Mus Topan.


"Heh Siti! Mobil saya itu nggak ada dari pagi. Siapa yang suruh Misno menghilang bawa mobil saya? Kamu kan?" tanya Mus Topan.


Siti Rukayah yang semakin takut ketahuan.  Ia pun mencoba menekan lagi melalui mobil warisan ayahnya.


"Saya nggak rela ya! Mobil ayah saya, kamu pakai buat pacaran sama perempuan sundal ini!" jerit Siti Rukayah.


"Kamu lupa ya? Mobil itu sudah dijual sama bapakmu! Saya yang nebus, saya yang perbaiki. Ngaco kamu!" seru Mus Topan.


Siti Rukayah menangis, dan bergerak maju untuk menyerang Shanti. Namun, dapat dihalangi Mus Topan. Shanti pasrah saat lengannya ditarik Rizki untuk dipaksa pindah ke ruang tamu atas perintah Mus Topan


Shanti melihat bagaimana Fatma menangis, sedangkan Mus Topan tampak memegangi Siti Rukayah dengan dibantu seorang pembantu 


Misno! … Misno! Kembali terdengar teriakan Mus Topan memanggil. Kali ini barulah Misno datang dengan tergopoh-gopoh.


"Mas kamu antarkan Bu Shanti ke bandara," teriak Mus Topan pada Misno. "Rizki kamu bawa Bu Shanti ke mobil."


Shanti yang saat itu masih belum hilang rasa kagetnya menurut saja ketika Rizki mengarahkannya untuk naik mobil pada kursi bagian tengah. Dan disusul oleh Mus Topan yang membawakan tasnya. Sambil menutup pintu mobil Mus Topan berkata bahwa ia akan menghubungi Shanti.


^^^bersambung ...^^^

__ADS_1


 


__ADS_2