Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 6 Kak Widi Kami Datang


__ADS_3

Sepeninggal Rizki dan Fatma, Mus Topan mengajak Shanti untuk duduk di lobi. Mereka memilih bangku lingkar yang berada di tengah lobi hotel. Shanti paham Mus Topan tentu kecewa karena dirinya menolak diajak ke kamar.


"Kamu kenapa Shan, kok belum mau naik ke atas?" tanya Mus Topan.


Shanti sadar bahwa ia tak dapat berkelit lagi. Akhirnya ia berkata jujur," Bang, sebenarnya Shan-shan ada janji lihat Widi bertanding, dan udah dua kali Shan-shan nggak datang."


"Pertandingan apa Shan?" tanya Mus Topan.


Shanti lalu cerita tentang pertandingan yang dijalani oleh Widi. Bagaimana ia tidak bisa hadir pada pertandingan pertama Widi. Ya, gara-gara ia harus menggantikan Liske dalam temu bisnis Mus Topan. Selain itu Shanti khawatir Mus Topan dapat tersesat jika tidak ditemani pulang ke hotel olehnya.


Terdengar tawa Mus Topan setelah mendengar penjelasan Shanti. Terlebih Shanti memiliki hutang rendang. Hanya karena Shanti memilih menuruti Tante Risna sebagai pengganti Liske pada pertemuan itu.


"Ayolah kita ke sana, lagian masih pagi untuk tidur," ujar Mus Topan sambil berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana Corduroy-nya. "Emang kamu pintar masak rendang?"


"Bener nih bang?" tanya Shanti agak sedikit tidak percaya. "Nggak pinter sih bang, tapi jago."


"Iyalah, eh bentar Shan. Pakai pakaian ini tak apa kan?" tanya Mus Topan sambil menunjuk jasnya yang berbahan wol warna abu-abu muda dengan motif kotak-kotak.


"Pas banget bang, banyak kok yang pakai jas di sana," jawab Shanti


"Apa iya, kalau di tempat abang mana ada yang pake jas di tempat bola sodok," sahut Mus Topan sambil keheranan.


"Ayolah bang", ajak Shanti sambil menarik lengan jas Mus Topan. "Ntar keburu habis pertandingannya!"


"Sebentar abang mau telpon Mas Misno dulu, mau minta kunci!" pinta Mus Topan.


"Sudahlah bang, kita naik taksi saja, sebentar juga kok ke sana," ujar Shanti.


Mus Topan mengikuti keinginan Shanti yang lebih memilih naik taksi. Ketika mereka keluar melewati pintu lobi hotel, telah ada taksi yang bersiap untuk para tamu hotel. Petugas hotel dengan sigap membukakan pintu belakang taksi untuk mereka.


Dengan cepat Shanti masuk ke dalam taksi. Lalu beringsut ke sisi jok kanan memberi ruang bagi suami yang baru menikahinya tadi pagi. Mus Topan segera menyusul Shanti melalui pintu yang sama. Kemudian Shanti memberitahu lokasi rumah biliar yang mereka tuju pada supir taksi.


Selama perjalanan Mus Topan memegang punggung telapak tangan kiri Shanti tempat cincin kawin bersarang. Dalam diam, Mus Topan memikirkan sebab Shanti lebih memilih melihat pertandingan Widi, dibanding dengan melakukan malam pertamanya. Namun, ketika mencoba mencari jawaban, ia mendapatkan kemungkinan jawaban yang lebih banyak lagi.


Sedangkan Shanti coba mengingat peristiwa makan malam tadi. Ia memikirkan orang-orang yang melihat mereka makan malam tadi akan mudah menyimpulkan bahwa ia istri muda dari Mus Topan. Semua sangat jelas, selisih umur, kulit mereka yang lebih gelap dibandingkan dirinya. Pikiran Shanti berhenti pada betapa beruntung dirinya memiliki suami yang penuh pengertian pada pribadi dan pertemanannya.


Tak sampai lima belas menit, mereka tiba di pelataran rumah biliar. Mus Topan membayar ongkos taksi, adapun Shanti coba menelpon Wynne melalui ponselnya. Namun, Wynne tidak dapat mendengar dengan jelas suara Shanti, panggilan pun gagal.


Mus Topan kagum pada bangunan rumah biliar yang bagi dirinya luar biasa besar. Selama ini Mus Topan hanya lihat rumah biliar berukuran 1 ruko atau 2 ruko. Mus Topan melihat banyak pengunjung memakai kemeja dan jas seperti dirinya.

__ADS_1


Tak selang lama ponsel Shanti berbunyi. Ada pesan masuk. Ternyata dari Wynne mengirim pesan akibat gagalnya sambungan telepon tadi.


Wynne : "Ada apa Shan nelpon!"


Shanti : "Gue dah di lokasi"


Wynne : "Gila lu, lu kemanain laki lu, Ali sopan anak jahanam, ha hay!"


Shanti : "Udah jangan ikut-ikut Tante Risna ngomongin laki gue!"


Shanti : "Bang Topan ada di sebelah gue!"


Wynne : "Busyet, dah cepat kemari kami di pojokan meja nomer 35."


Shanti : "Ok otw!"


"Ayo bang, jangan bengong aja," ujar Shanti


Mus Topan yang belum selesai rasa terperangahnya pun menjawab," oke Shan."


Pada bagian pojok ruangan Shanti melihat Widi sedang bermain dengan Gendis. Adapun Wynne terlihat tengah memberikan instruksi pada Gendis. Wynne ingin Gendis membuat susunan bola biliar itu menjadi sulit. Namun, tetap saja Widi dengan mudah memecahkan persoalan yang diberikan Gendis.


"Kak Widi kapan tandingnya?" tanya Shanti berbasa basi pada Wynne


"Kak Widi dah selesai mainnya, tinggal nunggu pengumuman aja. Kak Widi dah lolos ke babak enam belas besar," papar Wynne.


Di antara mereka Shanti memang lebih dekat pada Wynne. Mereka cuma memiliki selisih usia enam bulan. Mereka juga merupakan teman sekamar.


"Selamat ya kak!" teriak Shanti pada Widi


"Eh, iya terima kasih Shan," balas Widi penuh senyum sambil mencari solusi persoalan yang disusun Gendis.


"Terus tetap di sini ngapain Wyn," tanya Shanti pada Wynne.


"Nunggu pengumuman, kan yang lain belum selesai tanding," jawab Wynne "Eh, Shan mana laki lu?"


Ditanya suaminya sontak Shanti terlihat kaget. Ia pikir Mus Topan akan selalu mengikutinya. Shanti pun memutuskan mencari Mus Topan.


"Wyn, gue cari Bang Topan dulu ya," ujar Shanti.

__ADS_1


"Oke Shan," potong Wynne


Mus Topan kedapatan tengah menyaksikan salah satu pertandingan. Tidak susah mencari Mus Topan di antara kerumunan, selain warna jas yang berbeda dari umumnya, rambut ikal dan panjang Mus Topan juga sangat menonjol.


Mus Topan tampak serius memperhatikan seorang peserta pertandingan. Pebiliar wanita itu terlihat menggunakan rok pendek, baju putih, serta dibalut dengan rompi kulit warna hitam. Pebiliar itu diketahui merupakan salah satu favorit juara pada turnamen itu.


"Bang, cantik ya," goda Shanti yang tiba-tiba telah merapatkan badannya ke sisi kiri badan Mus Topan.


"Iya Shan, pinter bener mainnya yang satu ini," jawab Mus Topan polos.


"Emang abang ngerti peraturan mainnya?" lanjut Shanti bertanya.


"Kalau tujuannya ngerti, nggak tahu kalau peraturan detilnya," jawab Mus Topan. "Ini kan main bola sembilan."


"Iyak bener ... bang kita gabung teman-teman yok!" pinta Shanti.


"Sebentar lagi Shan, habis ini pasti selesai," ujar Mus Topan merasa tanggung.


Sesuai perkiraan Mus Topan. Pebiliar wanita itu secara berurut berhasil memasukkan lima bola terakhir. Shanti menduga bahwa Mus Topan cukup handal, dan dapat mengimbangi Widi dalam olahraga ini.


Tepat dugaan Shanti. Ketika mereka tiba di area mereka Widi dan Wynne telah bersiap menantang mereka. Lima belas bola biliar itu telah tersusun. Beruntung baginya, Mus Topan tidak begitu asing dengan olahraga ini. Kini ia bisa berharap, minimal suaminya dapat memukul bola dengan tepat.


"Ayo, Shan kita main!" ujar Widi menantang. "Biasa bola delapan pasangan!"


"Bang, abang bisa main kan?" tanya Shanti sambil mengambil dua buah stik.


"Kalau dulu sih bisa!" jawab Mus Topan. "Nggak tahu kalau dengan ukuran meja sebesar ini!"


Kemudian Shanti mendekati Mus Topan. Ia memberikan salah satu stik itu pada Mus Topan. Tak lupa ia membantu suaminya melepas jas serta menggantungnya pada tempat yang telah disediakan.


Dengan bergurau Wynne berkata,"wah mantap nih Bang Ali. Pake dilepasin jas sama waiters."


"Udah deh Wyn, jangan kayak Tante Risna lah. Pegel kali ngedengernya!" protes Shanti akibat suaminya dipanggil Bang Ali yang terdengar seperti ejekan dari Wynne.


"Udah deh Shan, Wyn. Masih aja hobi ribut kalian bedua nih ya!" potong Widi.


"Silahkan Bang Ali pukul duluan!" kata Widi dengan menirukan gaya bicara Wynne.


"Ish Kak Widi ini," ujar Shanti kesal karena Widi turut melakukan hal yang tidak disenanginya.

__ADS_1


Suasana sontak menjadi sangat hening. Namun, Widi yakin bahwa Shanti tidak akan terlalu mengambil hati atas kejadian ini. Gendis terlihat menasehati Wynne agar tak mengulangi perkataannya. Benar saja tak butuh waktu lama keadaan menjadi normal kembali.


__ADS_2