Obsesi Lady Escort

Obsesi Lady Escort
Ole 17 Sepasang Dokter


__ADS_3

Shanti baru selesai membayar ongkos taksi. Lalu ia berjalan menuju ruang ICU  tempat Mus Topan dirawat. Shanti dapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa Mus Topan tengah dirawat intensif. 


Menjelang pintu masuk rumah sakit ada panggilan masuk. Shanti tahu bahwa yang menghubungi adalah Rizki. Telah tiga kali Rizki menghubungi sejak ia tinggalkan hotel. 


"Iya Ki, tante baru nyampe. Sekarang menuju ICU, nanti tante kabarin ya!" ujar Shanti pada Rizki sebelum menutup sambungan telepon.


Shanti selesai isi data pada petugas medis ICU.  Lalu dokter jaga beri Shanti waktu lima menit untuk berada melihat kondisi Mus Topan di ruang gawat darurat. Shanti melihat suaminya tidur dengan selang oksigen terpasang pada hidungnya. Wajah Mus Topan terlihat amat pucat.


Shanti diberi detail kondisi Mus Topan oleh dokter jaga. Hasil keterangan dari dokter jaga ia kirim melalui pesan singkat pada Rizki, berikut foto kondisi Mus Topan. Tak lupa ia sampaikan bahwa agar Rizki dan Fatma untuk selalu doakan ayah mereka. Shanti coba tenangkan keduanya dengan menyatakan bahwa kondisi Mus Topan telah stabil.


Rizki sempat bertanya sebab ayahnya masuk rumah sakit. Namun Shanti tidak tahu penyebabnya. Yang ada pada benak Shanti hanya kesembuhan Mus Topan. Shanti terus berdoa di ruang tunggu ICU itu. Karena itu yang bisa ia lakukan untuk kesembuhan suaminya.


Jam tangan Shanti telah menunjukkan pukul delapan pagi. Berarti sudah hampir sepuluh jam ia ada di area rumah sakit. Belum ada tanda-tanda rencana tindak lanjut terhadap Mus Topan. Shanti telah berulang kali bertanya pada tenaga medis ICU atau dokter jaga. 


Jawaban yang Shanti dapat tetap sama. Mus Topan dalam keadaan stabil. Masa kritis telah lewat. Untuk selanjutnya kita tunggu hasil konsul dokter ahli syaraf. Shanti sangat tidak suka Mus Topan masih di ruang perawatan intensif itu. Ia ingin agar Mus Topan segera dipindah ke kamar rawat inap.


Setiap perkembangan Shanti laporkan ke Rizki. Mengamati perkembangan Mus Topan terus menerus membuat Shanti letih. Lalu Shanti putuskan untuk duduk di selasar dekat dengan pintu ICU. Dari posisi ini ia masih dapat melihat posisi ranjang Mus Topan dari kejauhan.


"Siapa yang sakit Shan?" tanya Kak Opik.


"Bang Topan, kak! ujar Shanti terkejut dan seketika hilang rasa kantuknya. "suami Shan-shan." 


Shanti tak menyangka bahwa ia akan bertemu Kak Opik di rumah sakit ini. Rupanya rumah sakit ini satu diantara tiga tempat Kak Opik miliki izin praktik. Tanpa ragu Kak Opik masuk ke dalam instalasi gawat darurat itu.


Shanti berdiri dan coba melihat melalui kaca pembatas. Ia lihat kak Opik bicara pada dokter jaga untuk beberapa saat. Lalu Kak Opik seperti melakukan panggilan melalui ponselnya.


...**...


"Ayo Shan, kita cari sarapan dulu. Kamu belum makan kan?" ajak Kak Opik setelah keluar dari ruang ICU.


"Tapi kak?" ujar Shanti agak ragu.


"Ayo! Dokternya baru visit nanti jam sepuluh, sambil makan nanti kakak kasih info kondisi suami kamu," bujuk Kak Opik pada Shanti.


Shanti menuruti ajakan kak Opik. Ia telah merasa lapar sejak tadi. Selesai makan malam di hotel, praktis Shanti hanya minum air kemasan saja sampai pagi.


Mereka berjalan keluar area rumah sakit. Dalam perjalanan Kak Opik cerita kondisi Mus Topan. Hampir sama persis dengan dokter jaga ceritanya. Namun Shanti lebih percaya pada Kak Opik. Keterangan Kak Opik membuat Shanti jadi lebih tenang.


"Mang, bubur ayam 1 sate telur puyuh 2," ujar Kak Opik ke tukang bubur.


"Kak Opik nggak ikut makan?"  tanya Shanti. "Nggak biasa makan di Amigos?"


"Amigos?" tanya Kak Opik. 


"Agak minggir got sedikit," jawab Shanti sambil tertawa.


Kak Opik tertawa."Tadi sudah sarapan di rumah. Nanti jam sepuluh ada servis dari rumkit. Sayang kalau nggak dimakan."


Dekat dengan Kak Opik membuat segala sesuatu berubah drastis. Shanti mendadak lupa suaminya sedang terbaring di rumah sakit. Seperti saat ini, ia bergurau dengan pujaan hatinya di masa lalu.


Shanti sadar apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Ia tidak boleh terlarut dalam situasi ini. Namun, lain hal dengan Kak Opik. Sejenak ia teringat Shanti kecil yang manis, yang ia anggap sebagai adik.


Kak Opik menghampiri tukang bubur. Bicara sebentar dan memberi selembar uang lima puluh ribuan. Agaknya Kak Opik telah mentraktir Shanti.


"Shan, kakak masuk dulu mau visit pasien. Kamu makan yang banyak biar nggak sakit." ujar Kak Opik.

__ADS_1


"Iya kak," jawab Shanti sambil mengangguk.


"Nanti kira kira jam sepuluh kita ketemu dr. Gun. Dia kawan dekat kakak," kata Kak Opik.


Sepeninggal Kak Opik, tukang bubur ayam kembali dan membawa dua kaleng susu. Lalu ia berikan pada Shanti susu itu. Lalu ia menanyakan keberadaan Kak Opik.


"Orangnya udah masuk mang. Emang masih ada kembaliannya," tanya Shanti.


"Masih neng,". jawab tukang bubur ayam.


"Cukup nggak tambah sate usus dua mang," pinta Shanti


...**...


Shanti ditemani Kak Opik menemui dokter Gunadi, seorang ahli syaraf. Diagnosa dr. Gun, suaminya alami cedera traumatis pada otak. Yang diakibatkan trauma di kepala pada masa lalu, ditambah dengan luka yang dideritanya akibat hantaman benda tumpul tadi malam.


Dr. Gun juga menyampaikan bahwa Mus Topan sempat tak sadarkan diri untuk beberapa saat.  Kemungkinan mengalami kelumpuhan sementara atau permanen untuk kemungkinan yang terburuk. Semua amat bergantung pada fisik dan perilaku Mus Topan ke depan.


Hasil diagnosa dokter Shanti sampaikan pada Rizki. Sikap positif selalu ditampakkan oleh Rizki. Namun, tidak demikian dengan Fatma. Ia sangat terpukul dengan kejadian itu. Dari sikap yang timbul, Fatma sangat menyalahkan Shanti. Ia anggap tak ada perhatian Shanti pada ayahnya.


"Tante, tadi Kiki dapat pesan dari Pak Abdi pimpinan PT Jaya Abdi Machinery. Dia berusaha ingatkan ayah untuk bertemu Pak Harry Kelana." Demikian bunyi pesan yang diterima Shanti dari Rizki.


"Memang Pak Abdi-nya ada dimana?" tanya Shanti.


"Pak Abdi ada di lokasi pabrik. Apa tante nggak tahu jadwal ayah disana? tanya Rizki.


"Tahu, tapi kan Tante nggak diajak ayah kamu." jawab Shanti.


"Kalau begitu nanti Kiki tanya Pak Abdi lagi. Hasilnya segera dikabarin ke tante lagi." jawab Rizki. "Gimana kabar ayah?"


"Maaf tante, gimana kalau nomor ponsel tante Kiki kasih ke Pak Abdi. Biar dia bisa langsung telpon tante." tanya Rizki.


"Boleh deh, biar bisa jelas semua." jawab Shanti.


Shanti memang mengenal Abdi, tapi sama sekali mereka tidak pernah bertukar nomor ponsel. Perkenalan antara mereka hanya sebatas hubungan profesional. Memang,  Abdi hadir pada pesta pernikahan Shanti. Tapi ia datang sebagai tamu undangan dari Tante Risna.


"Oke tante..  Eh ya tante, ibu otw kesana. Berdua sama Pakde Misno pakai mobil," ujar Rizki


"Kapan mereka berangkatnya?" tanya Shanti.


"Sebelum subuh Tante," jawab Rizki singkat


...***...


Menjelang sore Shanti dihubungi Abdi. Yang disampaikan Abdi pernah Shanti dengar sebelumnya. Terkait pabrik dan kebun sawit di Sulawesi.


Abdi kirimkan alamat pertemuan yang merupakan kantor Harry Kelana. Nama ini juga pernah disebut suaminya. Shanti sadar bahwa ini adalah amanah dari Mus Topan maka Shanti bersedia hadir. 


Shanti utarakan pada Mus Topan bahwa Ia akan pergi ke kantor Harry Kelana. Mus Topan memberi anggukan. Shanti senang suaminya dapat merespon perkataannya, Walaupun Mus Topan belum dapat bicara, Shanti sangat bersyukur. Tambah mantap hati Shanti untuk lakukan tugas sebagai utusan suaminya.  


...**...


Shanti berjalan cepat menuju kamar Mus Topan dirawat. Ia baru pulang menghadiri pertemuan di kantor Harry Kelana sebagai pengganti Mus Topan. Shanti mendapati Kak Opik dan drg. Anggi duduk disamping ranjang Mus Topan.


Shanti melihat suaminya masih terbaring lemah. Namun, wajah Mus Topan tampak lebih berwarna dibanding ketika ia tinggal tadi sore. Terlebih ketika masih berada di ICU, sangat pucat.

__ADS_1


"Darimana kamu Shan?" tanya Kak Opik 


Shanti tidak menjawab pertanyaan Kak Opik. Shanti lebih memilih menyapa Mus Topan dan berkata, "Bang, Shan-shan udah temui kawan abang itu di kantornya."


Perkataan Shanti direspon Mus Topan dengan senyum lebar. Seolah-olah ingin berkata bagus. Kak Opik dan dr. Anggi terlihat saling pandang. Tak percaya ada orang sakit yang masih mampu berpikir tentang bisnis. 


Siti Rukayah masuk dalam kamar rawat inap Mus Topan. Agaknya ia baru selesai bicara dengan anak-anaknya melalui ponsel. Tapi Shanti tak melihat Misno. Kemungkinan besar Misno tengah istirahat di mobil setelah perjalanan jauh.


Beruntung kedua tamunya merupakan dokter yang juga bertugas di rumah sakit itu. Jika tidak, tentulah tiga dari mereka sudah diminta keluar oleh petugas jaga. Terlebih telah lewati waktu kunjungan.


Tak ada basa-basi dari Siti Rukayah ingin perkenalkan Shanti, pada kedua tamunya. Kesimpulan cepat Shanti adalah, Siti Rukayah cukup lama berada di kamar VIP 404 itu. Besar kemungkinan mereka telah lama bicara bahkan bisa jadi sudah saling cerita banyak.


"Baiklah Bu Siti, Shanti kami permisi dulu," ujar Kak Opik. "Besok kalau ada kesempatan kami mampir lagi."


"Oh ya kak dan dokter Anggi, terima kasih atas kunjungannya." jawab Shanti.


Lalu pasangan itu berdiri. Kemudian menjura pada Mus Topan yang terbaring. Kemudian Shanti dan Siti Rukayah mengantarkan kedua tamunya sampai depan pintu.


"Bu Siti tolong dipertimbangkan tawaran kami ya bu," ujar dokter Anggi ketika berpisah dengan Siti Rukayah.


Kepulangan mereka secara tiba-tiba jelas ingin berikan privasi lebih pada keluarga Mus Topan. Hal ini sangat dimengerti oleh Shanti. Ia pun bersyukur bahwa Kak Opik selalu berupaya untuk mengerti dirinya.


"Jadi apa sebab bang haji bisa begini Shan?" tanya Siti Rukayah.


"Kalau kata orang-orang Bang Topan kena hantam helm," jawab Shanti. "Itu yang dikatakan suster tadi siang."


"Terus kamu percaya?" tanya Siti Rukayah kembali.


"Ya percaya mbak, suster itu dapat info dari petugas ambulan yang bawa bang Topan," jawab Shanti lebih lanjut.


"Terus kenapa bang haji dipukul pakai helm," tanya Siti Rukayah.


"Kalau itu Shan-shan nggak tahu mbak," jawab Shanti.


"Kok kamu nggak tanya sekalian," tanya Siti Rukayah bertubi-tubi. 


Gruk gruk.. terdengar bunyi batuk Mus Topan. Tak jelas apakah disengaja atau benar-benar batuk. Kedua istrinya pun berhamburan mendekat. 


Shanti segera ambil segelas air hangat dari dispenser. Sedangkan Siti Rukayah sibuk mengelus-elus dada Mus Topan. Secara otomatis mereka kerja sama dalam melayani Mus Topan.


"Shan, kamu pulang saja biar mbak yang jaga disini," pinta Siti Rukayah


"Kalau begitu Shan-shan besok pagi kesini lagi," tanya Shanti penuh harap. "Jatah Shan-shan artinya siang ya mbak?"


"Nggak ada jatah-jatahan kalau mau kesini ya datang aja. Yang penting mbak malam jaga disini.


"Ya sudah mbak," jawab Shanti sambil memegang tangan Mus Topan.


"Kamu kalau mau ajak pulang Misno boleh. Tanyakan saja sama dia." ujar Siti Rukayah.


"Ya mbak," jawab Shanti patuh, dan perlahan ia tarik tangannya dari punggung tangan Mus Topan.


...**...


 

__ADS_1


__ADS_2