Olympic Participants

Olympic Participants
Prolog


__ADS_3

...~Happy Reading~...


.........


"Park Eun Jin?"


...


"Park Eun Jin?"


"Hadir!" teriak ku sambil mengangkat tangan dari ujung taman sekolah. Nampak, pak guru menatapi ku dengan wajah datar, "mengapa kau mengenakan seragam olahraga, di mana seragam resmi mu?" tanyanya heran.


"Hehe, maaf pak. Aku tak sempat mengenakannya tadi... tapi, seragamnya ada kok di dalam tas ku."


"Baiklah, cepat masuk ke dalam bus. Nanti, bapak akan minta ibu Ha Raa untuk membantu bapak bawakan barang-barang mu" ucapnya singkat.


"Baik pak!" balas ku ceria sembari meninggalkan tas besar ku di atas kursi.


Drapp... Drapp...


"Kalau, ada barang yang penting di sana, bawa saja langsung, takut hilang."


Ah, suara ini...


"Astaga, Felix, kau ikut juga?" teriak ku kaget.


"Haha, kau kira hanya karena aku anak yang pemalas, aku tak akan ikut yah." balasnya sambil memukul kepala ku. "Felix berhenti memukuli kepalaku, sakit tahu!" bentak ku kesal.


"Haha, maaf-maaf."


"Ngomong-ngomong kau bareng siapa nanti?" tanyaku lagi sembari masuk kedalam bus dengan wajah penasaran.


"Aku? hum, aku kurang tahu sih... tapi, kata Pak Youn, aku bareng anak kelas sebelah"


"Wah, berarti seumuran dong!"


"Yah, pasti lah... nanti kalau sudah kenal akan aku kenalin deh." sahut nya ceria.


"Ketemu aja belum udah main mau kenalin aja, gimana sih, haha"


Felix, teman ku sejak sekolah dasar, kami pertama kali bertemu di klub Judo. Ayahnya juga lah pemilik dari tempat ku berlatih. Jadi, kami berdua sudah sering bertemu sedari masih kecil.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar ibumu?" tanyanya pelan sambil membuka tempat makannya itu.


"Ah, baik kok... bahkan, sudah jauh lebih baik!" balas ku ceria.


Pada saat itu juga, aku terdiam menatapi isi bekal makanannya itu.


Wa...Wah... bekal makanannya keren sekali sahut ku kaget dalam hati.


Apa masakan buatan ibunya?


Kalau, aku tidak salah ibunya berasal dari China kan? Astaga, lihatlah potongan sushi itu! pikir ku terkagum-kagum sambil mengangkat tanganku dengan wajah kaget.


"Hum, kau mau?" tanyanya pelan.


"Ah, tidak-tidak! Aku tidak lapar kok-"


Kryuuukkkk...


E..eh...


"Pftt, bunyi apa itu, haha." ujarnya cepat sambil tertawa terbahak-bahak.


"He..hei, aku tidak lapar kok, serius!"


"Tapi, perut mu itu sudah... hahaha!"


"Chk, dasar menyebalkan!" teriakku marah.


"Iya-iya, nih... ku bagi jadi 2 yah, ini masakan buatan ku ini loh!"


................


"Kelihatan sekali bohong nya." balas ku datar, memasang wajah tidak percaya.


"Serius, ini buatan ku, coba aja sendiri!" potongnya cepat sembari memberikan sushi buatannya itu secara paksa ke arah bibirku.


"He..hei-" ucap ku kaget. Dengan perlahan, akupun mulai mencoba masakan sushi itu.


Hum, tidak buruk? pikir ku kaget.


"Bagaimana, bagaimana... rasanya tidak buruk kan."


"Haha, sudah ku bilang ini masakan ku!" lanjutnya lagi. Akupun menatap sinis kearahnya, "Chk, sudah pasti ini masakan ibu mu."


"Hei, ayolah, jangan sinis seperti itu!" teriaknya kesal, memasang wajah tidak terima.


Aku hanya dapat membuang muka. Dasar menyebalkan, enak saja kau berkata ini adalah masakan buatan mu kelihatan sekali ini adalah masakan milik ibumu pikirku kesal.


"Ngomong-ngomong, mana yang lain, kenapa bus-nya jadi sepi begini sih?" teriakku kesal.


"Hum, iya juga yah, bukankah tadi anak-anak di taman ramai sekali yah?" sahutnya terdiam.


"Iya, apa kita salah masuk bus?" canda ku blak-blakan, sembari memasang wajah yakin.


"Haha, gak mungkin kan?" lanjut ku lagi sembari tertawa canggung.


Nampak, pria di samping ku ini sudah m membeku dan terdiam mendengar ucapanku tadi. "He..hei, Felix, kita tidak salah masuk bus kan?"


"Seharusnya sih, tidak." balas nya singkat sembari memasang wajah terdiam.


Hah- Apa lagi maksud dari ucapannya itu, kenapa juga ia terlihat ragu begitu?


"Felix, kita ini salah masuk bus!" teriak ku marah sembari memasang wajah yakin.


"Gak kok, aku yakin ini bus nya!" teriaknya cepat.


"Apa buktinya!" bentak ku lagi.


"Jaket logo Hanmai." balas nya sambil terdiam.


................


"Apa lagi itu!?" teriakku marah sembari memukul cepat pegangan bangku bus di hadapanku ini.


"Haha, maaf-maaf, ku rasa kita memang salah masuk bus deh." balasnya ceria sembari tertawa kecil.


"Kenapa kau malah masih tertawa, cepat, kita harus segera kembali ke taman, bisa-bisa kita ketinggalan!" teriakku marah sembari berjalan menuju pintu bus.


"Eun Jin, hati-hati, kau bisa jatuh!" ucap Felix cepat, sembari berusaha untuk meraih tanganku.


"Terserah, aku harus kembali sekarang juga!" tekan ku kesal.


"Eun Jin!"


Huh?


BLGARRR!

__ADS_1


Nampak, bebatuan dari atas gunung mulai berjatuhan ke bawah, mengenai ujung bus ini. Sontak, kedua mata ku langsung membulat dengan sempurna. Entah bagaimana rasanya, cahaya matahari yang seharusnya tertutupi oleh atap bus, kini mulai terlihat jelas olehku dari jendela besar ini. Aku dapat merasakan nya, bis ini baru saja akan terjatuh ke dalam jurang yang dalam.


"Eun Jin!" teriak Felix cepat.


Ah, nasib buruk apa lagi yang menimpaku.


BRAKKK!


Sontak, kami berdua pun langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke arah bawah secara bersamaan dengan cepat dan pemandangan kabur itulah yang dapat ku ingat sebelum akan kehilangan kesadaran ku.


Dingin... dapat ku rasakan darah mulai mengalir dari ujung kepalaku. Tangan dan kaki ku terasa mati rasa, aku tak dapat merasakannya. Nampak, Felix tersungkur di hadapanku, menahan rasa sakitnya itu.


"Eun... Jin... kau memang sangat bo...doh... yah..."


Hanya kata-kata ocehan itulah kata-kata yang dapat ku dengar saat ini, apa aku akan mati dalam situasi seperti ini?


Perlahan aku mendengar suara teriakan orang-orang dari atas. Tapi, mau bagaimana lagi, cahaya matahari yang bahkan tak dapat ku lihat dengan jelas itu... perlahan-lahan mulai sirna karena nafas berat ku. Tanpa aku sadari, aku pun mulai kehilangan kesadaran ku dan akhirnya merasakan kegelapan malam yang seharusnya tak ku temui secepat ini.


Apa aku... akan mati seperti ini?


................


"Haha, putri cantik ibu ini, kapan yah bisa bawakan ibu anak laki-laki yang tampan yah, haha."


Tidak, aku belum boleh mati!


Aku masih harus menunjukkan semua usaha ku, aku hampir akan berhasil, aku hampir akan bisa membuat ibu tersenyum kembali! Aku... aku-


"AKU BELUM BOLEH MATI!"


SRAAAAH...


Tepat pada saat itu juga, dapat kurasakan hembusan angin kuat mengenai seluruh tubuhku.


Huh, a..apa yang telah terjadi, apa aku sudah berada di surga... atau di neraka? A..ada di mana aku? gelap, tak ada apa-apa di sini.


"Hei. Apa kau sudah puas berteriak nya?"


Dengan wajah tak percaya aku menoleh kearah sekeliling, tidak ada siapapun di sini, "Si..siapa kau?"


"Siapapun aku, itu tidak ada urusan nya dengan mu, seharusnya kau bertanya apa yang sesungguhnya telah terjadi."


"Ah, a..apa, apa aku telah mati!?" tanya ku cepat.


"....Kau terlalu penurut. Dimana pendirian mu itu, Charlotte."


"Charlotte? Apa maksud mu?"


"Aku mendengar teriakanmu itu, kau tak ingin mati. Aku datang kepada mu, berusaha untuk memberikan kehidupan lebih baik padamu."


"Sudah ku katakan, aku harus kembali, aku tak mau memulai kehidupan baru!"


"Charlotte, ada banyak hal yang harus kau ketahui. Nyatanya, pria yang kau cintai itu, sama sekali tidak peduli akan sosok mu itu."


"Aku bukan Charlotte!" teriakku cepat.


"...Hum, ku rasa ada yang terjadi sini, apa kau berusaha untuk melupakan semua masa lalu mu itu?"


"Apa maksud mu!" bentakku lagi.


Tringgg...


"Seperti nya, kita memiliki pengunjung."


Huh, ada yang datang?


"Fe..Felix!?" teriakku kaget.


"Seharusnya, aku yang mengatakan itu. Kau yang kenapa justru berada di sini, akulah yang terluka paling parah sebelumnya!" bentaknya marah.


"Enak saja, justru kondisi ku jauh lebih parah di bandingkan kau!"


"Apa kau bilang. Sudah bersusah-payah aku menolong mu sebelumnya, kenapa juga kau justru ikut mati, hah."


Tringgg...


Huh, ada yang datang lagi? pikirku kaget sembari menoleh kearah belakang.


"Dasar sial*n, tahu begini seharusnya aku gak jadi ikut aja lah kalau tahu mati begini."


Hah, siapa lagi itu?


"Wah, bukankah itu anak yang barusan ku lihat tadi?" ucap Felix tiba-tiba.


"Anak barusan?" sahutnya datar.


Ah, benar, Felix ikut menaiki bus ini karena mengikuti anak yang mengenakan jaket yang berlogo Hanmai.


"Hei, kau- ini semua salah mu, kau tahu tidak... sudah berapa banyak orang yang mati gara-gara mu!" pekik ku marah sembari menarik paksa kerah seragam miliknya.


"Kau kira ini salah ku, memangnya apa hubungannya kalian dengan ku?" bentaknya sambil mendorong paksa tangan ku.


"Memang aku kenal kalian, tidak kan, kalian sendiri kenapa juga ikut datang kemari, hah?"


"Chk, semua ini salah mu. Kau menarik perhatian Felix karena jaket aneh mu itu, sudah tahu Felix ini sangat suka dengan maskot Hanmai." teriak ku lagi.


"Jaket aneh? Aku membelinya dengan uang ku sendiri, hoi!" teriaknya marah.


"Bagaimana bisa kau berkata ini adalah jaket aneh, Eun Jin. Jaket ini penuh dengan kisah melegendanya!" Teriak Felix kaget.


"Melegenda katamu... apa nya yang melegenda, HAH!?" teriak ku marah, sembari menarik paksa jaket bercorak naga itu, "Kita bertiga mati gara-gara jaket sial*n ini!"


"He...hei, hentikan!" teriak mereka berdua kaget.


"Hentikan."


"Charlotte kau sangat brutal di bandingkan perkiraan ku selama ini."


"Sudah ku bilang, namaku bukan Charlotte. Nama ku Park Eun Jin, kau tidak dengar apa!?" bentak ku marah.


"...*b**aiklah, Park Eun Jin*."


"Aku akan memanggil mu seperti itu mulai sekarang."


"Siapa dia?" potong anak berjaket dengan nada kebingungan.


"Hum, benar... Siapa dia?" tanya Felix.


"Aku juga tidak tahu, tadi sudah ku tanyakan. Tapi, dia menghindari pertanyaan ku" Balas ku singkat.


"Siapapun aku, itu tidak ada hubungannya dengan kalian bertiga."


"Lihat, dia menghindari pertanyaan ku lagi!"


"Hei, bukan hanya kau, tapi kami juga." sahut anak berjaket singkat.


"Ngomong-ngomong siapa nama mu, aku belum dengar?" tanyaku lagi sembari menatap anak berjaket itu dengan wajah penasaran.


"Ah, nama ku-"

__ADS_1


"Bukankah sudah ku katakan itu tidak ada urusannya dengan kalian bertiga."


"Ya-ya, kau benar... Lagipula ini memang bukan urusanmu." sahut ku singkat, sembari memasang wajah tidak peduli. (serangan pertama)


"Ya, kau benar Eun Jin, aku setuju dengan mu." ucap Felix sambil menganggukkan kepalanya. (serangan kedua)


"Haha, jelas-jelas dia sedang bertanya mengenai ku, dasar kepedean." (serangan ketiga)


"Hei, kalau ku lihat-lihat jaket mu itu lumayan keren juga." balas ku sambil tertawa kecil. "Haha, tentu saja, ini adalah jaket dengan logo Hanmai, tentu saja keren!" Balas anak berjaket ceria.


"Jake dengan logo Hanmai memang yang terbaik!" sahut Felix sambil memasang wajah bangga.


................


"Apa mereka bertiga baru saja mengejek ku?"


"Hei kalian bertiga... aku memang tidak tahu kalian siapa, kecuali KAU!"


"Hum... aku?" tanyaku heran.


"Aku tahu kau siapa Charlotte, lebih baik di pertemuan selanjutnya kau tidak perlu bertemu dengan ku lagi, kau sungguh-sungguh gadis yang menyebalkan."


"Menyebalkan, apa maksud mu?" bentakku tidak terima.


"Haha, yah, apa yang dia katakan itu ada benarnya juga sih, kau memang sedikit menyebalkan." Lanjut anak berjaket itu setuju sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa katamu!" bentak ku marah.


"He.. hei, aku hanya bercanda saja!"


Chk, dasar menyebalkan sahut ku kesal dalam hati.


................


"Hei, apa kalian bertiga sedang mendengarkan ku, aku sedari tadi sudah berada di sini. Masih baik, aku berniat membantu kalian semua!"


Mendengar itu, akupun memasang wajah kebingungan.


"Apa maksud dari ucapan... kau berniat membantu kami bertiga?" tanya ku serius.


Orang ini sedari tadi kerjaannya hanya mengomel, saja, bahkan aku tak tahu seperti apa sosok yang sedang ku ajak bicara ini.


"Charlotte, setiap hari kau selalu mendatangi tempat ku, memohon padaku untuk mengabulkan permintaan mu **itu**."


"Kau kira aku anak yang suka minta-minta apa, kau pikir kau itu siapa, hah?" Gerutuku marah.


"Bukankah sudah ku katakan aku ini bukan Charlotte dan sejak kapan aku memohon kepada mu, sial*n?" teriakku lagi.


"Aku ini Vosh, dasar keras kepala!"


HAH.


VOSH?


"Vosh, siapa lagi itu?" tanya anak berjaket heran.


"Namanya lumayan tidak asing di telinga ku." sahut Felix singkat. Tunggu, apa jangan-jangan kami bertiga sedang berada di-


"Aku tak mengenali kalian berdua, tapi yah, aku adalah Vosh."


BLGAAR!


Sontak, kami bertiga terdiam mendengar suara keributan yang datang entah dari mana asalnya.


"*Hah, sial*n. Mereka cepat sekali munculnya*."


Terdengar jelas suara dingin yang berbicara tadi mulai terasa pudar untuk telinga kami.


Tunggu, apa ini adalah bagian prolog dari cerita itu atau bagian apa? pikirku kaget dalam hati, memasang wajah tak percaya.


"Aku harus pergi, sampai juga."


"Tidak, Vosh apakah itu dirimu?" teriakku sambil berlari ke arah depan.


"Vosh apa itu sungguh-sungguh kau, ada dimana kau sekarang?" teriak ku lagi.


Tepat sebelum angin yang berhembus kencang itu meniup pelan rambut ku, ku dengar suaranya yang penuh dengan nada lembut.


"Haha, ya, ini aku... Vosh, Sang pelindung matahari..."


Kedua mata ku membulat sempurna karena ucapannya itu.


Kedua kaki ku terdiam membeku di atas lantai gelap ini, ku dengar langkah kaki seseorang mendekati tubuh ku. "Eun Jin, apa yang terjadi, apa kau kenal dengan orang itu?" tanya Felix khawatir sembari mencoba untuk membantuku berdiri.


Bukan hanya kenal, Felix, orang yang baru kita temui itu!


"Dengarkan aku, kau juga!"


Terlihat jelas, kedua anak laki-laki itu menatap heran ke arahku. "Apapun yang terjadi, ikuti alur ceritanya, kita pasti akan bertemu kembali!" teriak ku sambil melempar secangkir kertas ke atas lantai.


Dre...drek...drekk!!


Terdengar jelas suara berisik dari bawah tanah, goncangan keras itu mulai membuat tubuh kami bertiga menjadi tidak seimbang dan perlahan terasa retakan-retakan dari bawah kaki kami.


"A..apa yang sedang terjadi!?" teriak anak berjaket kaget. Ternyata benar kami telah masuk ke dalam cerita tak masuk akal itu.


"Dengarkan aku, temui aku, ketika hari debutnya pangeran mahkota, temui aku di dermaga tua!"


"Apa yang sedang kau bicarakan ini?" Teriak anak berjaket dengan wajah penuh tanda tanya.


"Namaku Charlotte, Charlotte Ell Marquez. Aku akan menikahi tuan muda Duke ketika aku berusia 9 tahun!" teriakku lagi.


"Hah, apa lagi maksudnya itu?"


"Kau akan menikah, jangan bercanda Eun Jin?" bentak Felix marah, memasang wajah tidak senang.


"Kalian masih tak paham?" tanyaku heran, sembari memasang wajah aku senang.


Krekk... Krakk...


Perlahan lantai gelap itu mulai tak terasa lagi di ujung kaki ku, hanya ada satu kata yang dapat ku teriakan saat ini. Entah mereka akan mendengarkan teriakanku ini atau tidak.


"KITA MASUK KE DALAM CERITA NOVEL BUATAN GAME HANMAI!"


................


Hanya kata-kata itu yang dapat ku katakan saat ini. Perlahan aku merasakan tiupan angin lembut mengenai pipi kanan ku. Akupun membuka kedua mata ku.


Atap, atap rumah. Ku rasa aku benar, bagian dimana aku menemui sosok bayangan itu, dia adalah Vosh, sang pelindung matahari.


"Wah, lihat, tuan putri telah bangun!" ucap seorang perempuan muda dengan wajah senang, bersamaan dengan kedatangan perempuan muda lainnya.


Tangan kecil dan lembut... bagaikan bayi. Hah, apa lagi ini, apa aku sungguh-sungguh masuk ke dalam novel keluaran baru itu? pikirku kesal.


"Wah, imut nya, lihatlah siapa putri yang cantik ini!"


Ibu, apa aku bisa pulang. Kalau tahu situasi nya akan jadi begini? pikir ku sambil tersenyum kecil, memasang wajah pasrah.


Aku juga lelah menerima kenyataan ini, bagaimana bisa aku masuk ke dalam novel dengan cerita tak masuk akal seperti ini setelah mati? lanjutku sambil tertawa kecil di dalam hati.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2