Olympic Participants

Olympic Participants
Kebenaran yang belum terpecahkan.


__ADS_3

...~Happy Reading~...


.........


OHOOK-


"Nona!" Teriakan Halley mulai terasa bergema di telinga ku. Ugh, ini sangat menyakitkan, kenapa hanya dengan seteguk air itu sudah cukup membuat diriku kesakitan seperti ini!? Tunggu, apa itu... racun?


Tepat pada saat itu juga, aku mulai merasakan rasa sakit, api panas terasa sedang memakan habis tubuhku. Ini bukan racun biasa, kalau aku tidak berhenti meminum air itu secepat mungkin, bisa-bisa saja sekarang aku-


Drapp... drapp...


"Nona! hei, tabib, cepat periksa nona sekarang juga!" teriak Halley sambil meraih tanganku yang terasa begitu dingin. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang begitu cepat, keringat dinginnya mulai membuat ku merasa akan segera tertidur, tertidur sangat lama.


PLAKKKKK-


"OHOOOK-!!" belum sempat, aku memejamkan mataku, pria itu langsung menampar pipiku sangat kuat. "Apa yang sedang kau lakukan!?" teriak Riana kaget. "Jangan biarkan, nona tidur, kita bisa-bisa kehilangan dirinya sekarang" ucapnya singkat sambil membuka kain dari tangan kanannya. Mulai menatap tajam ke arahku. Ah, apa dia akan menggunakan Manna miliknya? pikir ku terdiam.


SRINGGGG-


"Hah, aku tak boleh kehilangan anak itu. Kalau kehilangan dirinya secepat ini, bisa-bisa rencana ku akan gagal untuk kedepannya"


Suara dingin itu mulai mengerakkan pion catur miliknya. Melirik tajam ke arah papan dengan warna dominan hitam dan putih itu. Sesekali, ia mulai tersenyum kecil.


"Yah, tentu saja, permata berharga ku tak boleh mati secepat ini."


OHOOOK-


Tepat pada saat itu juga, aku mulai merasakan rasa sakit yang perlahan mulai menusuk dalam tubuhku. Dan tak main-main, aku langsung memuntahkan banyak ketika akan diobati oleh tabib. "Hei, anak kecil kuatkan dirimu."


Huh? Suara ini... dari mana datangnya? pikirku sambil menekan tubuhku. Berusaha untuk menahan rasa sakit. "Nona!!" aku mendengar suara Halley yang terus memanggil namaku. Tabib itu mulai menggunakan sihirnya padaku. Tapi, rasa panas itu semakin menjadi-jadi. Membuat pandangan ku terasa begitu berat, semua suara terdengar begitu bergema pada telingaku.


"Kau masih memiliki banyak pekerjaan untuk di kerjakan setelah ini."


SRAHHHH-


Angin kencang mulai tertiup kencang masuk ke dalam gudang makanan ini. Perlahan, mulai meniup rambutku ke arah belakang. "Ohok- Ohook!"


Tanpa basa-basi, aku langsung terbatuk-batuk, mengeluarkan banyak darah yang bahkan tak tahu berapa banyak jumlahnya. Tapi, rasa sakit yang memuncak itu sudah cukup membuat ku teringat sesuatu. Rasanya, aku akan mati.


"Aku akan pergi mencari tabib!" teriak Riana sambil berlari ke arah luar. Halley terus memasang wajah khawatir, dia terus memohon kepada pelindung kerajaan barat, berharap aku akan lolos dari masa-masa krisis ini. "Nona, bertahanlah..." ucap pria itu sambil mengeluarkan sihirnya berusaha untuk menetralkan kondisiku yang kacau ini.


Hok... Ohok...

__ADS_1


Setelah beberapa saat, aku mulai berhenti memuntahkan darah yang bercampur dengan racun itu. Tapi, rasa sakit itu masih belum hilang sepenuhnya. Meskipun demikian, aku bisa bernafas lega, aku rasa aku sudah mengeluarkan semua racun itu, aku berhasil bertahan. Meskipun, ini menyakitkan, kejadian seperti ini tidak ada apa-apanya dibandingkan hari dimana aku mati.


Aku tak akan mati dua kali hanya karena hal seperti ini.


"Halley, bawakan aku kain bersih dan hentikan Riana untuk membawa tabib kemari" ucapnya singkat sambil menepuk pelan punggung. "Jika, orang-orang tahu kepala koki membiarkan racun ada pada masakan di sini, bisa-bisa, keluarga Marquez akan terlihat buruk di mata para bangsawan"


Halley mulai menganggukkan kepalanya, berjalan pergi meninggalkan kami. Pria ini pergi sejenak, membawa segelas air untuk ku. Apa kau gila? Aku baru saja keracunan, karena meminum segelas air. "Minuman lah air ini, nona. Hamba tak ingin kondisi nona semakin memburuk" ucapnya pelan sambil menyerahkan air itu padaku.


"Ngomong-ngomong, perkenalkan, nama ku Ellios, aku murid tabib di sini"


"Dulu, aku juga pernah keracunan. Tapi, aku baik-baik saja saat itu berkata tabib kerajaan"


Tabib kerajaan? Dia pergi ke istana, hanya untuk di obati karena keracunan!? pikir ku tak percaya. "Jadi, jangan takut, minumlah ini, nona akan baik-baik saja" lanjutnya lagi sambil berusaha untuk menenangkan diriku. Tanganku masih begitu gemetaran karena rasa sakit tadi.


Pria itu mulai menepuk pelan pundak ku lagi, membantu diriku untuk meminum air pada gelas itu. "Haha, hari itu, aku juga tak dapat memegang gelas ku dengan baik karena sakit, nasib baik, kakak perempuan ku membantu ku saat itu"


Aku mulai melirik ke arahnya, kenapa ia menceritakan hal ini padaku? Apa dia berusaha untuk menenangkan diriku? pikir ku terdiam. "Lalu, kakak ku berkata, jika kau tidak dapat melewati ini, bagaimana caranya kau akan menjadi seorang tabib?"


Aku terdiam, apa dia sudah sejak kecil ingin menjadi seorang tabib? tanyaku dalam hati. Apa itu karena ucapan kakaknya, juga bantuan para tabib kerajaan yang berhasil menolongnya dari masa-masa krisis. "Tapi, jika dibandingkan dirimu, aku yakin, kau pasti telah melewati banyak hal, jadi berjuanglah!" ucapnya ceria sambil memberikan dukungan kecil padaku.


Ah, kata-kata ini. Sudah berapa lama yah aku tak mendengarnya pikir ku terdiam. Apa kata-kata ini dari ibu atau Felix? Ah, benar juga, itu dari diriku sendiri. Ketika, aku bercermin, aku sering berkata, "Kau telah melewati banyak hal, jadi, kau pasti bisa melewati hal ini! Berjuanglah Park Eun Jin!"


Haha, aku tak mempercayai ini. Mendengar kata-kata seperti ini dari orang lain. Bukankah ini pertama kalinya bagiku. "Ma'acih!" ucap ku sambil tertawa kecil. Pria itu mulai tersenyum ramah padaku. Sepertinya, pria ini memang seorang bangsawan. Jika, ia sampai-sampai di rawat di istana, artinya dia putra seorang bangsawan penting di kerajaan.


"Selain, menjadi pusat pembelajaran bagi para ksatria muda, kediaman Marquez sering di jadikan tempat pembelajaran untuk tabib kerajaan"


Ah, benar, keluarga Marquez terkenal dengan orang-orang berbakat di dalamnya. Bahkan, kepala pelayan di tempat ini bukanlah sembarang orang yang dapati di temui oleh orang lain. Kini, aku paham mengapa dia datang kemari.


Ia hendak belajar dari tabib kediaman Marquez yang terkenal dengan kemampuan menyembuhkan mereka yang sangat besar. Dia memiliki tujuan yang jelas. Mungkin, kami berdua akan sering bertemu untuk ke depannya. Yah, jikapun aku berhasil keluar dari kamar mengerikan ku itu.


"Aku harus, membersihkan darah ini terlebih dahulu, apa nona keberatan?" tanya Ellios singkat sambil mengangkat tubuhku sejenak. Aku menggelengkan kepalaku, perlahan, ia mulai mendudukkan ku di atas karung beras. Membawa kain bersih pada tangannya, lalu, menggelap habis darah bercampur racun itu.


"Sesungguhnya, ketika hamba bertemu dengan nona, hamba sedikit kaget. Rupa, nona sangat mirip dengan tuan besar Marquez.


Aku terdiam, yah, ini memang bukanlah pertama kalinya aku mendengar ucapan seperti itu. Banyak yang berkata wajahku cukup mirip dengan pria keji itu. Wajah cantik dengan safir kebiruan bagaikan permata. Keluarga Marquez memiliki ciri khasnya tersendiri, yang terkadang membuat beberapa warga mengira kami hanyalah legenda lama yang terkubur bersama perang besar antar kerajaan.


Bagaimana tidak, kulit putih pucat dengan safir kebiruan. Itu merupakan hal yang sangat langkah di kerajaan barat. Ah, tidak juga, jika di bandingkan dengan keluar Duke. Mereka memiliki rambut hitam, itu jadi lebih langkah dibandingkan kami. Yah, yah, keluarga Duke, mereka juga bangsawan penting di sini.


Setara, dengan keluarga Marquez yang memiliki julukan sebagai harimau putih di kerajaan. Mereka memiliki julukan burung gagak bermata ungu, itu karena keluarga Duke kebanyakan memiliki mata berwarna ungu kehitaman. Sesuai, dengan julukan mereka.


Keluarga bangsawan itu tak segan-segan menyerang lawannya hingga akhir nafas mereka. Dendam keluarga harus terus terbalaskan. Terbukti, dari kakak perempuan Duke yang sekarang, ia kehilangan nyawanya karena tekadnya untuk membunuh adiknya.


Perebutan kekuasaan.

__ADS_1


Dan yang lebih buruknya lagi, putra Duke yang sekarang, akan... menjadi kekasih ku.


Ini semua karena tindakan bodoh tuan Marquez. Ia membuat putrinya menjadi pion catur miliknya.


Pernikahan politik ini memang sudah ia rencanakan dari awal.


"Nona, apa nona pernah dengar kata-kata ini?"


"Jika, kau mengetukkan sepatu perak sebanyak 3 kali, anda akan sampai di tempat yang ingin anda tuju"


Hah, apa yang sedang ia bicarakan ini?


"Sesungguhnya, aku tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, tapi- setelah aku menemui anda, saya jadi sadar sesuatu"


"Sebesar apapun, bantuan yang kau dapatkan, jika tekad mu tak ada, sama saja kau sedang berlari tanpa tujuan"


Aku terdiam, aku memang pernah mendengar kata-kata itu. Tapi, kenapa ia memberitahu hal ini? Apa ia tertarik padaku, karena aku membuatnya teringat akan masa-masanya dulu?


"Kau membuatku teringat pada kakak perempuan ku" ucapnya lagi.


Hum, pria ini, ia terus menceritakan hal yang tidak ada kaitannya denganku. Apa yang sedang ingin ia katakan padaku? Pria itu mendiamkan ku, seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi sedang ia tahan. "Haha, maafkan hamba, terus menceritakan hal tak penting, tapi, yang jauh pasti-"


"Kau orang paling tangguh yang pernah aku temui di kerajaan ini!" balasnya ceria.


Hum, walaupun dia banyak bicara, setidaknya ia tidak berisik seperti Felix ataupun Alex. "Haha, ma'acih!" balasku singkat sambil tertawa kecil. Tapi, aku tidak asing dengan pujiannya itu. Karena, tangguh dalam kamus ku itu sudah bagaikan makanan sehari-hari ku.


SRAHHHH-


Terasa, tiupan angin kencang mulai meniup pelan rambut panjang kehitaman itu, meninggalkan tatapan murung pada wajahnya. "Anak laki-laki itu, apa dia membuat kekacauan lagi?" ucapnya sambil menarik tinggi kain jubahnya, gurun pasir yang terasa panas itu hanya dapat mendiamkan ucapannya.


"Dia seorang penjelajah sekaligus salah satu ksatria terbaik di kerajaan."


"Saya sudah mencari tahu sendiri mengenainya dan dapat saya pastikan, orang ini mampu untuk melawan para pemberontak, tuan" ucap pria itu sambil memberikan hormat kepada orang di hadapannya ini.


"Hum, baiklah..."


"Bawa perempuan itu padaku, jadikan dia perisai kerajaan barat, ia tak akan berani melawan perintah langsung dariku."


"Jika, ia tak ingin. Bunuh adiknya."


.........


"Kau harus menemui kakak ku, dia ksatria terbaik yang pernah aku kenali!" ucap Ellios ceria.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2