Olympic Participants

Olympic Participants
Tokoh utama pria.


__ADS_3

...~Happy Reading~...


.........


Baiklah, jadi namanya Felix. Usianya tidak jauh berbeda dengan ku, memiliki rambut merah dengan mata gelapnya itu. Ku rasa, dia akan segera menjadi anak populer di sekolah. Jika, di kehidupan asli ku.


"Bagaimana, apa tuan muda Felix menyukai coklat nya?" Tanya Halley sambil membawakan ku camilan lainnya. "Hum, lumayan" Sahutnya singkat. Tadi, ku kiranya, dia bakal menangis. Rupanya, tidak. Dia hanya meneriaki nama Halley dengan wajah setengah kaget. "Halley, apa ini buatan koki di sini?" Tanya Felix sambil menatap ke arah ku.


"Haha, iya, nona muda Charlotte, sangat menyukainya"


Hah? Kapan aku menyukai cokelat itu!? pikir ku kesal. "Heh, ini cokelat kesukaan Charlotte-!?" Teriaknya kaget. "Yah, Tuan bisa berkata seperti itu" Balas Halley senang. "Ka..kalau begitu-! Untuk mu saja!" Teriaknya gagap sambil mendatangi ku. Hum? Apa katanya?


"Kau suka cokelat bukan! Nanti aku akan meminta koki di kediaman ku, buatan juga untuk mu, cokelat di sana tidak jauh kalah manisnya dengan cokelat ini!"


Bukan itu maksud ku. Kenapa kau jadi sok kenal dan baik dengan ku. Nampak, Halley hanya dapat tertawa lucu melihat tingkah kami berdua.


"Felix, ayah mencari mu..."


KREKKKT-!!


Hum? Nampak, sesosok pria bertubuh tinggi mendekati kami, sepertinya dia seusia dengan Halley pikir ku lagi. "Ah, tuan muda Wethleys, Selamat datang" Sahut Halley kaget. Wethleys? Apa dia anak lain? Tunggu, Tuan muda? Nampak, wajah ku penuh dengan pertanyaan, tak dapat memahami isi kepala ku ini.


"Hehe, sebelum pergi, perkenalan, calon istri-"


PLAKKKKK-!!


Dengan cepat, aku langsung memukuli kepalanya. Tarik kata-kata mu, sial*n!! pikir ku kesal. "Hehe, Charlotte pasti malu, iya kan, Haha!!" Chk, apanya yang lucu, padahal dia sendiri yang tertawa aneh. Nampak, pria berambut merah padam yang tak jauh berbeda dengan Felix ini mulai mendekati kami.


"Cepat, jangan buat alasan. Ayah menunggumu-"


Perlahan, tubuh Felix mulai di seret paksa olehnya. "Tidak, aku tidak mau! Tidak mau! Jangan paksa aku!! Huwahh!" Teriak Felix sambil memasang wajah cengeng nya. "Jangan banyak alasan" Tekan Wethleys. Seketika, tangan putih milik Felix itu langsung menarik gaun cantik milik ku.


KHUKKKK-!


Aku nyaris akan terkecik, jika saja tangan ku tidak segera menahannya. "Nona!" Teriak Halley kaget. "Aku tidak mau pergi!! Huwehh! Aku hanya ingin bersama Charlotte!" Teriak Felix sambil memasang wajah sedih. Dasar anak kecil, dengan cepat aku langsung menarik paksa tangannya itu dari ujung pakaian ku. "Kalau begitu, kau ikut juga" Ucap Wethleys


sambil mengangkat tubuh ku. Hah? Sekejap tubuh ku terdiam kaget. "Ah, maaf Tuan, biarkan hamba saja yang membawa nona mu-"


Belum selesai Halley bicara, pria itu sudah memasang wajah dingin, "Jangan membuang-buang waktu ku." Tekannya kesal sambil menarik Felix. Wuah, apa dia sedang bad mood? pikir ku heran. Perlahan, kami bertiga mulai melangkah keluar, di ikuti Halley yang hanya berjalan canggung di belakang kami.


Sepanjang perjalanan ini, untuk pertama kalinya aku melihat cahaya matahari yang teramat terik, mulai mengenai tubuh ku. Wah, aku tak pernah menyangka, akan tinggal di tempat megah dan mewah seperti ini. Aku hanya dapat terkagum-kagum menatapi rumah ini.


Tiap ujung ruangan, penuh dengan ukiran-ukiran cantik. Aku tak pernah melihat ini sebelumnya pikir ku terdiam. "Felix, kau masih ingin ku seret?" Tanya Wethleys sambil menatap ke arah belakang. "Huhu, aku tidak mau pergi, paman itu sangat mengerikan, aku takut, huhu"


Paman? Apakah orang yang ia maksud itu ayah Charlotte? pikir ku terdiam. "Tuan Marquez sering mengirimkan hadiah untuk mu, kenapa kau masih takut" Tanya Wethleys. "Paman itu selalu mengeluarkan aura gelap, dia seperti iblis penghisap darah yang suka menculik anak-anak" Balas Felix sambil memasang wajah takut.


Pembicaraan apa lagi ini pikir ku sambil memasang wajah tak senang. Jadi, anak itu sering dikirimkan hadiah oleh Tuan Marquez? Sedangkan, aku yang putrinya tidak pernah sekalipun ia datangi? Keparat sial*n, aku harus menghajar pria tua itu pikir ku marah.


Sejenak, kami mulai turun dari tangga, ketika turun dari sana, perlahan, ku lihat ruang besar yang penuh dengan hiasan mewah dengan ukiran cantik di tiap ujung ruangan. Nampak, ada sekumpulan orang di sana. "Felix!" Teriak seseorang dari jauh.


"Ah, Tamara! Kau juga datang kemari?" Ucap Felix kaget. "Hei, hei, hei. Tentu saja, aku datang" Balas gadis berkulit gelap itu. Sepertinya, dia dari tempat yang sangat jauh benak ku hati. "Ah, benar juga, aku nyaris lupa, ini, surat dari ayah, tolong sepulang nanti, berikan pada tuan besar Gartreny" ucap Tamara sambil memberikan surat kepada Wethleys.


"Baiklah." Balas Wethleys singkat. "Hei, kenapa tempat ini menjadi sangat ramai?" Tanya Felix terheran-heran. "Hum, aku juga kurang tahu" Balas Tamara singkat.


Kami berempat pun mulai menepi ke ujung ruangan. Di sana, penuh dengan orang dewasa dengan pakaian rapi sedang berbincang-bincang. Ku rasa, ada yang telah terjadi di sini pikir ku terdiam. "Hei, siapa gadis di pangkuan mu itu Wethleys? Apa dia adik perempuan mu?" Tanya Tamara singkat. "Tidak, dia hanya teman Felix" Balas Wethleys singkat. "Teman? Wah, aku bahkan tak pernah di perlakukan dengan sopan oleh mu!"


Nampak, Tamara mengamuk dan mengejar Felix yang berlarian di ujung ruangan. "Hum, jadi, gadis ini, Tamara?" Pikir ku heran. Dia terlihat tidak asing bagiku, tapi-


Dia siapa? Tanya ku terdiam.

__ADS_1


Nampak, Tamara mulai menangkap dan memarahi Felix habis-habisan. Gadis yang menyenangkan dengan kulit gelap.


"Hei, apa yang sedang kau lihat?"


"Oh, hei Eun Jin! Haha, ini Tamara, dia Hero baru di game. Banyak player yang sangat menyukainya!!"


Hero. Baru.


Tunggu, apa dia sungguh-sungguh Tamara-!? Gadis dari batas gurun? Tapi, bagaimana bisa teriak ku dalam hati. "Haha! Tertangkap juga kau!" Teriak gadis itu sambil mengangkat tubuh Felix dengan mudahnya. Bagaimana bisa, karakter game muncul di dalam novel ini?


Bukankah itu tidak masuk akal? pikir ku terheran-heran.


Tunggu, bukankah yang lebih tidak masuk akal itu, bagaimana bisa gadis yang berasal dari negeri jauh, tiba-tiba muncul di kerajaan yang penuh fantasi tak masuk akal ini? pikir ku terdiam. Apa itu karena mereka berasal dari developer game yang sama? Meskipun, ini novel.


Itu tidak mengecualikan, mereka satu tempat, bukan?


Kalau begitu, ceritanya bakal berubah. Sosok Tamara ini, cukup mencurigakan. Apa ada bagian plot twist yang tidak aku ketahui? Sejauh ini, aku masih belum berada di awal cerita. Hanya bagian prolog lah yang telah ku lewati. Dan.


Sebagian karakter tambahan lainnya, belum aku temui sama sekali.


Mungkinkah, Tamara hanya akan berada di sini, sebelum alur ceritanya di mulai? pikir ku terdiam. Sejenak, aku menyadari fakta jika Tamara adalah gadis yang tempat asalnya tak jauh berbeda dengan seseorang. Bleszynski, apa dia pesuruh Bleszynski? pikir ku terdiam.


Nyaris saja, aku akan melupakan karakter penting satu itu. Bleszynski adalah pangeran terhormat yang datang dari negeri jauh. Meskipun, aku tak tahu pasti darimana asalnya. Aku cukup yakin, Tamara adalah pesuruh Bleszynski. Kalau begitu, aku harus menjaga jarak dengan anak ini ke depannya. Bleszynski adalah alasan lain, mengapa Charlotte mendapatkan akhir buruk.


Meski demikian, hubungan di antara mereka tidak seburuk itu.


"Tamara, berikan ini pada ayah mu." potong Wethleys sambil mengeluarkan sebuah surat dari jubah mahalnya itu. "Ah, tuan Gartreny mengirimkan surat yah?" Balas Tamara sambil mengambil surat itu dengan penuh semangat. Hum, tuan Gartreny mengirimkan surat pada Wethleys, mengejutkan. Aku tak akan mengira melihat langsung hubungan di antara kedua keluarga besar ini.


"Wethleys!"


Tak lama, setelah Tamara mengambil surat itu. Muncul, seorang gadis cantik mengenakan gaun indah melangkah ke arah kami. Hum, dia terlihat tidak asing? pikir ku terheran-heran. "Haish- Lihat saja kau!" Teriak Felix sambil melepaskan genggaman tangan Tamara, lalu berlari ke arah gadis cantik itu. "Hallen, perempuan aneh itu menganggu ku!"


Dengan cepat, aku langsung menatap ke arah wajah gadis itu. Melihat dari paras cantiknya, aki yakin, perempuan ini pasti Hallen, salah seorang dari tokoh antagonis di sini pikir ku terdiam. "Hoho, siapa yang berani-beraninya menganggu adik imut ku ini~!!" Ucapannya sambil memasang tawa kecil.


Hum, Hallen di masa ini terlihat seperti gadis pada umumnya. Karena, beberapa tahun kemudian, dia terlihat begitu elegan dan berkelas. Sampai-sampai, hanya para bangsawan penting yang dapat berteman dengannya. Kemungkinan kecil, untuk orang-orang seperti Charlotte dapat bertemu dan berbincang langsung dengannya.


"Gadis itu, dia yang menganggu ku!" Teriak Felix marah sambil menunjuk ke arah Tamara. "Ah, kau dari negeri yang jauh itu yah? Aku sudah mendengar kabar mengenai mu, senang bertemu langsung dengan mu" Ucap Hallen sambil membungkukkan badannya.


"Ah, yah, nama ku Tamara, senang bertemu dengan anda, lady..."


"Haha, bagaimana bisa kau memanggil ku seperti itu, haha!" tawa Hallen dengan wajah tersipu malu. Wah, aku tak tahu di masa ini, Hallen gadis yang suka di puji. Yah, walau pada akhirnya ia memang terbiasa dengan hal itu nantinya. Terlebih lagi, banyak orang berusaha untuk mendekatinya untuk mendapatkan posisi bagus di kerajaan. Meskipun demikian, setelah aku pikir-pikir lagi, Hallen tidak seburuk yang ku kira selama ini.


Aku kira, ia akan marah besar karena di sapa oleh kerajaan lain. Dia terbilang cukup pemilih untuk mencari teman seusianya. Ia terlihat seperti anak perempuannya pada umumnya.


Senang di puji juga cukup sensitif. Dia jadi mirip dengan salah seorang temanku.


"Hei, Wethleys, siapa gadis di pangkuan mu itu? Dia adik sepupu mu yah?" Tanya Hallen tiba-tiba.


"Ah, dia kenalanku." Balas Wethleys singkat.


"Hehe, dia calon istri k-"


...PLAKKKKK-!!...


"Berbicara mengenai itu, kenapa kau tidak meminta maaf padaku sebelumnya, hah?" Tekan Tamara sambil memasang wajah penuh kekesalan. "Hueh- Ada monster!!" Teriaknya ketakutan sambil berlari ke ujung ruangan. "Teman Felix? Wah, senang bertemu dengan mu gadis kecil, kau cantik sekali!"


Huh, aku sempat terkecoh dengan pujian manisnya itu. Yang benar saja, gadis penuh perhatian ini adalah Hallen. Yah, kelihatan jelas juga dia punya sisi yang menyebalkan untuk beberapa saat sebelumnya. Tapi, dia terlihat seburuk itu.


"Hei, apa kalian sudah makan siang?" potong Hallen. "Belum!!" Teriak Felix sambil berlari ke arah kami. "Huahaha, mau lari kemana lagi kau anak kecil" sahut Tamara sambil memasang wajah iblis. "Berhentilah, bermain-main, orang-orang akan membicarakan kita nantinya" Tegur Hallen sambil memasang wajah tegas.

__ADS_1


Hum? Untuk sejenak, dia terlihat seperti karakter aslinya. Nada tak suka dengan wajah kesal atau lebih tepatnya cerewet.


"Aku tak akan sarapan, ajak Tamara dan Felix bersama mu" Balas Wethleys tiba-tiba. Sejenak, aku tersadar, jika sedari tadi aku berada di dalam pangkuannya. "Ah, kalau begitu sampai jumpa Wethleys!" Ucap Hallen sambil melambaikan tangannya. Huh... padahal, aku ingi berkumpul bersama mereka.


Pasti akan menyenangkan pikir ku dalam hati. Nampak, kami berdua bersama Halley yang mengikuti kami dari belakang, mulai menaiki tangga satu persatu. Melangkah menuju sebuah ruangan yang terlihat lebih puas dan penuh dengan hiasan bunga pada dindingnya.


Ini kamar siapa? pikir ku terdiam.


"Jessy, aku sudah datang" sahut Wethleys tiba-tiba sambil memberikan ku kepada Hallen. "Hum? Kau sudah datang? Hoam~ Kau lama sekali, dasar kepar*t" Ucapnya sambil berdiri dari kasur empuknya itu. "Kau tak tahu, aku sudah tiba sedari tadi pagi, ini, minum teh mu" Tegur Wethleys sambil menyerahkan secangkir penuh teh hangat.


"Haish- kau kira aku ada waktu meminum semua itu, haha?"


Huh.


Tunggu, anak laki-laki ini.


Sejenak kedua mata kami bertemu. "Astaga, darimana datangnya gadis cantik seperti ini, hehe..." Ucapannya senang sambil mencubit pipi ku yang jaraknya tak jauh darinya.


PLAKKKKK-


Belum sampai, dia mencapai ujung pipi ku, Wethleys sudah menghempaskan tangannya dari ku. "Sebaiknya, pangeran memiliki sedikit etika ketika berkunjung kemari diam-diam" ucap Wethleys datar. Pangeran, dugaan ku benar pria ini-!!


Bleszynski!!


"Hei, bicara apa kau? Gadis seperti ini pasti sudah di takdir kan untuk bersama diriku, haha!!" Ucapannya senang. "Apa kehadiran tak terduga ini, aku sampaikan kepada para bangsawan di sini?" Tegur Wethleys singkat. "Huh, baik-baik, ini salah ku..."


Tunggu, apa yang sedang terjadi di sini.


"Ngomong-ngomong, apa kau melihat gadis itu?" Tanya pria berkulit gelap itu. "Tidak, apa kau sedang mencarinya lagi?" tanya Wethleys sambil merapikan tempat tidur. "Ah, tuan biarkan hamba saja yang-"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Tekan Wethleys singkat. Hallen dan aku hanya menatap canggung ke arah mereka berdua. "Yah, aku ingin berterima kasih padanya berkat dirinya aku bisa diam-diam datang kemari~"


Diam. Diam...


Tunggu, apa jangan-jangan pria licik ini diam-diam datang kemari tanpa sepengetahuan siapapun!? teriak ku dalam hati. Astaga, memangnya ada bagian ini di dalam cerita!? Aku tak pernah mendengarnya sekalipun tekan ku dalam hati. Nampak, kedua pria muda itu terus berbincang-bincang banyak hal. Aku tidak paham, apa yang sesungguhnya telah terjadi?? pikir ku terheran-heran.


KREKKKT-


"Hei, aku bawakan cokelat, apa kau ingin mencoba-"


Huh!? Dengan cepat, kami berempat menatap ke arah pintu. Terlihat jelas, sesosok gadis yang mengenakan gaun dengan warna oranye kemudahan itu terdiam menatap ke arah kami. "Ka..kalian siapa!?" Teriaknya kaget sambil menjatuhkan piring camilannya itu.


Tunggu, apa itu Kelly-!? teriak ku kaget dalam hati. Kenapa aku sudah menemuinya di usia balita ku ini!? Bukankah kami berdua akan bertemu ketika Charlotte menginjak usia 9 tahun!? teriak ku dalam hati. Apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan cerita ini! Sejenak, aku terdiam setengah kaget karena melihat kenyataan bahwa kami berdua bertemu terlalu cepat.


SHUTTTHHH-


"Diam, jika tidak. Akan ku pastikan kepala mu akan terpenggal besok pagi." Tekan Wethleys sambil menutup paksa pintu. He... hei, apa-apaan ini. Dia gegabah sekali pikir ku kesal. "Haha, lihat ini, ada perempuan cantik lainnya!" Sahut Bleszynski dengan nada senang. "Kau masih belum puas bercandanya?" Tegur Wethleys sambil membawa kursi kayu ke arah Kelly. Hah, ada apa dengan anak ini pikir ku heran.


Apa kepalanya sudah gila karena Bleszynski? Mau bagaimana juga Kelly tetaplah seorang putri bangsawan. Mencari masalah dengannya sama saja mencari masalah dengan seorang bangsawan penting di kerajaan. "He..hei, apa yang sedang kau lakukan.." Ucap Kelly sambil melangkah mundur.


"Seperti yang orang dewasa selalu katakan.."


"Hancurkan yang menggangu."


BRAKKK-!!


HUHHHHH-!? Dengan cepat, kedua mataku terbelalak melihat tingkah anak kecil di hadapan ku ini. Di..dia hanya anak yang usianya saja belum menginjak usia remaja. Kenapa tingkahnya gila semua!? teriak ku dalam hati.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2