
...~Happy Reading~...
.........
TAKKK-
Tunggu, bukankah pria itu... Cross!? Dengan cepat, aku terperangah kaget melihat pria bertubuh tinggi itu dengan mudahnya menahan serangan tiba-tiba yang entah darimana datangnya, hanya mengunakan tangan kanannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini." Tekannya sambil memasang wajah tak senang.
"Ti...tidak mungkin, apakah anda ksatria mengerikan itu!?" teriak ksatria itu kaget. "Kenapa kau masih belum menjawab pertanyaan ku!" teriak Cross marah. Semua ksatria itu langsung terdiam mendengar teriakan pria di hadapan mereka itu.
"Cepat, beritahu aku, kenapa kalian bertingkah tanpa etika di sini."
"Ka...kami di perintahkan untuk membawa pria itu ke kepala pelayan untuk di interogasi"
"Hah, kepala pelayan mencari ku?" tanya Alex kebingungan. "Yah, kami hanya di perintahkan untuk membawanya ke-"
"Lalu, kenapa kalian menyerang orang-orang di sini."
Ternyata, tebakan ku benar. Pria ini bukan orang biasa yang dapat dilawan oleh para ksatria di sini. "Ma...maafkan kami..." sahut mereka sambil memasang wajah bersalah. "Aku tidak meminta kalian untuk memohon ampun padaku, sekarang cepat pergi!"
"Tapi, orang itu-"
"Cepat pergi."
"U...uh... baiklah, tuan..."
Drapp... drappp...
Perlahan, aku mulai melihat pria itu melirik kearah tangannya. Ah, tangannya terluka karena serangan tadi! pikir ku dalam hati sambil berlari ke arah mereka. "Hayyeh!" panggil ku dengan nada ceria. Halley yang masih berdiri dengan wajah kaget itu, mulai menoleh ke arahku. "Astaga, nona, apa anda baik-baik saja? Pasti, nona sangat ketakutan tadi..." ucap Halley sambil memasang wajah sedih ke arahku.
"Kau-"
Hum?
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Cross singkat sambil melirik ke arah kami. "Ah, yah, nona baik-baik saja, jadi anda tidak perl-"
"Maksudku, kau, pelayan pribadi, aku lihat kau nyaris akan terkena serangan itu, apa kau baik-baik saja."
Heeh... pria ini, wajahnya saja yang mengerikan, ternyata dia cukup perhatian pada orang-orang di sekitarnya. "Ah, saya... saya baik-baik saja dan terima kasih karena menyelamatkan saya tadi" ucap Halley sambil mendudukkan kepalanya.
"Tak perlu berterima kasih padaku, ini sudah tugas ku sebagai ksatria, lain kali jangan ikut campur ketika ada pertengkaran seperti ini"
"Kau akan terluka parah jika terkena serangan seperti itu di lain waktu"
"Ah, yah..."
__ADS_1
Perlahan, pria itu mulai mendatangi Alex yang sedang berusaha untuk berdiri dari dorongan kuat itu. "Kau, cepat ikut aku mendatangi kepala pelayan." sahut Cross dingin. Alex yang sadar, cepat atau lambat, ia tetap harus pergi, akhirnya setuju untuk menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.
"Tidak, jangan bawa Alex!" teriak Riana sambil memasang wajah tak senang. Tapi, jika Alex tidak dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik. Bisa-bisa, dia memang akan di tunjuk sebagai pelaku kejahatan dari kejadian ini. Riana, sebagai adik perempuan Alex, tentu tak akan tinggal diam melihat kakaknya di bawa paksa seperti ini terlebih lagi kakaknya baru saja terluka parah.
"Riana, berhentilah membuat kekacauan. Tugas mu hanyalah membuat hidangan untuk para tamu." tekan Cross dingin sambil melirik tajam kearahnya.
"Chk-"
Alex mulai menoleh ke arah Riana, "Tak apa-apa, aku akan baik-baik saja" Sahutnya sambil tertawa kecil. Perlahan, kedua pria itu mulai berjalan pergi dari tempat ini. Meninggalkan kekacauan tadi di ruangan tua ini. "Aku tak akan membiarkan mereka menuduh Alex tanpa alasan yang pasti."
"Hei, murid tabib, aku ingin kau mengecek bahan pangan di gudang persediaan, ikuti aku" ucap Riana sambil berjalan keluar dari ruang tabib ini dengan wajah serius. "Akan ku buktikan, mereka semua salah." tekannya lagi.
"He..heeh!?"
"Cepat, ikuti aku!" teriak Riana marah. "Ba..baiklah, tunggu aku!" sahut murid itu dengan wajah kaget. Halley mulai menghela nafas panjang. "Haah... apa dia masih terus mengingat kejadian hari itu?"
Dengan cepat, aku memasang wajah keheranan setelah mendengar ucapan Halley yang terdengar begitu ambigu bagiku. Hari.. itu? Apa maksudnya? pikir ku terdiam keheranan. Lalu, mengapa Riana menjadi sangat sensitif ketika bertemu pria tadi?
Apa kedua orang itu memang memiliki hubungan yang tak aku ketahui selama ini?
Aku mulai merasakan hembusan angin dari luar ruangan ini. Halley mulai melangkah, membawa ku ke dalam pangkuannya, mengikuti kedua orang itu dari belakang. Meskipun, angin kencang ini berhasil membuat perasaanku menjadi lebih baik, nyatanya pikiran ku terus memikirkan banyak hal.
Aku harus segera memecahkan semua teka-teki tak masuk akal ini pikirku terdiam.
Mungkin, kejadian ini tak akan mempengaruhi alur dari novel ini. Tapi, mungkin saja semua akan berubah setelah tahu kami bertiga, tidak- tak hanya kami, tapi juga karakter game lainpun ikut masuk kemari.
Felix...
"Ugh- iya*!!!"
.........
"Kau ada dimana?"
Sudah berapa tahun sejak hari itu, aku masih belum mendapatkan tanda-tanda dia akan muncul. Terlebih, ada tokoh tambahan dengan nama yang sama dengannya, membuat pikiranku semakin menjadi-jadi. Bagaimana terjadi sesuatu padanya selama berada di sini?
Aku merasa bersalah, tak dapat menolongnya di situasi buruk seperti ini.
BRUAKKKK-
"Cepat, kita tidak memiliki waktu yang banyak!" teriak Riana sambil membuka pintu gudang persediaan. "Lihat saja, setelah aku mendapatkan buktinya, aku akan membuat pria itu menderita hingga akhir hidupnya."
Gadis ini, apa dia memiliki dendam pada Cross? pikir ku terdiam. Sedari tadi, ia terus berkata akan membuat pria itu menderita, dari sini saja, aku sudah merasakan aura kebencian yang sangat besar. "Hei, apa yang sedang kalian lakukan, cepat bantu aku!" sahut Riana sambil mengambil beberapa bahan masakan sekitarnya. "Ah, yah, tunggu sejenak!" teriak pria di dekat ku ini sambil membuka kain dari tangan kanannya.
Kedua orang itu mulai mengecek satu persatu bahan makanan di tempat ini. Halley terlihat ingin membantu, tapi ia harus menjaga diriku. "Hayyeh..." panggil ku sambil melirik ke arahnya. "Ah, nona, maafkan Halley harus membawa nona di tempat seperti ini" sahutnya sambil memasang senyum kecil.
"Hehe, cachu mahyu bantu juga!" teriak ku ceria sambil menunjuk ke arah mereka. "Ah, nona tidak boleh melakukan pekerjaan berat seperti itu, apa nona ingin saya mengantikan nona?" tanya Halley sambil menoleh ke arahku. "Hum! Hum! Bhoyeh!" balas ku dengan wajah senang.
__ADS_1
"Haha, baiklah, nona tunggu sejenak yah, Halley akan pergi membantu mereka" balas perempuan itu lembut sambil mendudukkan ku di atas gerobak pengantar bahan makanan.
Hah, setidaknya, aku membantu sedikit dengan memintanya untuk pergi bersama mereka pikir ku dalam hati. Dari kejauhan, aku mulai melihat mereka bertiga mengecek satu persatu bahan pangan di sana. Sepertinya, mereka terlihat begitu antusias untuk mencari bukti. Hum, melihat ini membuat diriku teringat masa-masa ku ketika SMA dulu.
Aku dan anak-anak dengan julukan pengawal pribadi malaikat pencabut nyawa selalu berlomba-lomba untuk menghajar para murid nakal di sekolah. Haha, benar juga, aku selalu membuat aliansi dengan anak-anak lain untuk menangkap kelompok-kelompok anak brengs*k ketika jam istirahat. Hari-hari di saat itu sangatlah menyenangkan meskipun aku terluka parah karenanya.
Aku jadi teringat, kejadian dimana aku melawan satu geng motor di sekolah, hanya seorang diri. Wah, jika aku ingat-ingat, kepala ku jadi terluka parah karena pukulan tiba-tiba itu. Nasib baik, aku langsung menendang wajahnya, jadi aku masih dapat berdiri dengan baik saat itu.
Tapi, yang namanya luka parah, aku tetap harus di rawat di rumah sakit lebih dari satu Minggu. Ibu memarahi ku habis-habisan karenanya. Tapi, nasib baik, teman-teman ku yang lainnya datang menjenguk dan mengantikan ku untuk menangkap beberapa murid lain yang sempat kabut ketika aku bertarung.
"Hei, aku rasa bahan makanan ini sudah berjamur!!" teriak murid tabib itu sambil melambaikan tangannya. "Aku bilang, cari bahan makanan yang mencurigakan, bukan mengoceh mengenai bahan yang telah tak terpakai lagi!" teriak Riana marah. Haha, lihatlah orang-orang ini, kerja sama mereka terlalu kacau bagiku.
"Hum, hei, coba kalian lihat ini, bukankah, terigu juga air zaitun nya memiliki warna dan bau yang sedikit berbeda?" ucap Halley sambil memang wajah keheranan.
"Benarkah, coba aku periksa" ucap tabib muda itu sambil mencium bau minyak zaitun di dekatnya itu. "Hei, kau benar, baunya berbeda, minyak apa ini" tanyanya keheranan sambil melirik ke arah Riana. "Jangan lihat ke arah ku, aku bukanlah kepala koki di tempat ini" sahut Riana singkat.
Hah, lihatlah, kini mereka berdua kembali berdebat lagi pikir ku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Huh? Mengapa aku baru sadar ada beberapa bahan pangan di sini? Apa ini baru saja di bawa kemari? pikir ku terdiam. Atau jangan-jangan, bahan-bahan ini...
SRAHHHH-
Tunggu, bukankah ini... hanya air putih yang biasanya orang-orang minum? Kenapa ada di tempat seperti ini? Minuman biasa di gudang makanan? Apa itu tidak terlalu aneh? pikir ku terdiam sambil meraih guci tua itu.
Airnya bening sekali.
"Sudah aku katakan, mana aku tahu!"
"Tapi, minyak ini memiliki bau yang berbeda jauh dengan minyak zaitun pada umumnya, apa ini!" teriak tabib muda itu marah. "Sudah, aku katakan, aku tidak tahu, bukan aku yang memesan semua bahan pangan di sini!" teriak Riana marah. "Tapi, kau adalah koki di sini, bagaimana bisa kau tidak tahu minyak apa ini!" teriaknya marah.
Apa aku harus meminum air ini? pikirku terdiam sambil meraih gelas kecil di dekat ku. Perlahan, aku mulai mengambil satu penuh gelas air, mencium dalam bau dari air ini. Baunya sangat pekat, ini bukan air biasa. Tapi, aku tak akan tahu, jika tidak mencoba sendiri minuman ini.
"Kau ini, bagaimana bisa kau tidak ta-"
"Tunggu, nona, apa yang sedang kau minum itu!?" teriaknya kaget sambil memasang wajah khawatir. "Apa?" Halley mulai menoleh ke arahku.
GLUKK-
Huh, rasanya biasa saja, tak ada yang aneh. Riana mulai melirik ke arahku, "Ah, itu hanya air yang di pesan oleh kepala koki, tenanglah, itu hanyalah air bia-"
OHOOOK-
"Air biasa? Aku membuat air itu menjadi air yang sedikit berbeda, apa kau tidak tahu itu?"
"Huhu, dasar orang-orang rendahan, apa mereka tidak sadar, air itu adalah racun?"
"Nona!" teriak Halley kaget sambil berlari ke arah ku.
TAKK-
__ADS_1
Menyakitkan, ini sangat-sangat menyakitkan. Padahal, aku hanya meminumnya sangat sedikit. Apa yang baru saja aku minum ini, apa ini... racun?
...Bersambung......