
...~Happy Reading~...
.........
"Kau harus menemui kakak ku, dia ksatria terbaik yang pernah aku kenali!" ucap Ellios ceria.
Aku mulai menjawabnya dengan wajah murung, "Tiydak..." Aku sama sekali tak tertarik untuk menemui seorang ksatria, terlebih lagi dia adalah kakak perempuan mu. Kenapa juga, aku harus bersusah-payah sejauh ini hanya untuk menemui kakak mu.
Bisa saja, pada suatu saat nanti aku akan menemui seorang ksatria pribadi milik pangeran mahkota atau mungkin ahli sihir yang bersembunyi dibalik menara tinggi. Lagipula, mengapa kau terus menceritakan hal yang tidak ada hubungannya denganku.
"Ah, nona tak ingin yah... hum, benar juga, kakak ku memiliki wajah mengerikan yang membuat semua anak kecil di sekitar menangis ketakutan..."
Huh!? Apa kau sedang mengejek ku? Berkata, jika aku takut untuk menemui kakakmu? Kau kira, siapa orang yang sedang kau ajak bicara ini, hah!? tekan ku kesal dalam hati sambil melirik tajam kearah nya. "Kakak ku, tidak menyukai anak kecil, tapi dia cukup perhatian ketika kalian sudah dekat, jadi jangan takut..." ucapnya sambil tersenyum ramah padaku.
"Aku yakin, dia akan menyukaimu pada suatu saat nanti"
Berhenti membela kakak mu, aku tahu dia perempuan yang sangat keras kepala juga kasar. Mana mungkin, orang keras kepala seperti itu akan menyukai ku yang hanyalah anak kecil. Terlebih lagi, aku seorang putri bangsawan. Justru, kami berdua akan berdebat hebat karenanya. Sifat ku, yang sangat pemikiran panjang, tak akan suka dengan orang-orang yang suka membuat kekacauan. Meskipun, aku yang selalu menjadi penyebab masalah ketika SMA dulu.
Tapi, aku lebih yakin. Kakakmu lebih keras kepala dibandingkan aku! teriak ku dalam hati marah. Pria itu menatap heran wajahnya. Perlahan, mulai tertawa kecil. "Apa nona tertarik pada kakak perempuan ku?" tanyanya ceria
Hei!! teriak ku marah dalam hati. Apa kau tak dapat melihat rasa tak suka dari wajah ku? Aku sama sekali tak tertarik dengan kakak perempuan mu itu. Memangnya sehebat apa dia, sampai-sampai kau menceritakan hal ini padaku.
Ngomong-ngomong, jika aku tak salah, ia meminta Halley untuk membawakan nya kain. Tapi, pada tangannya itu, ia sudah memiliki kain bersih. Lalu, untuk apa ia meminta Halley membawa kain bersih lainnya? pikirku terdiam.
BRAKKK-
Huh? Aku mulai melirik kearah belakang. Terlihat, Riana memasang wajah kesal, tapi ia kembali berjalan ke arah kami. Melempar kain bersih lainnya pada Ellios. "Apa maksudmu jangan memberitahu hal ini kepada para tamu?" tanya Riana sambil menekan kuat giginya. "Riana, tahan amarah mu!" teriak Halley sambil berlari ke arah kami.
"Aku telah memberitahu hal ini kepada kepala pelayan, tapi, aku belum menemui kepala koki. Apa kau tahu sesuatu?" tanya Riana lagi.
Ellios terdiam mendengar ucapan Riana yang terdengar sedang mencurigai dirinya. "Tidak, aku tidak tahu apapun-"
"Apa kau bersungguh-sungguh, bisa saja kau ini hanyalah penyusup yang datang entah darimana asalnya."
Tak ada yang berani membuka suara. Suasana perempuan ini sangat buruk. Jika, salah bicara, bisa-bisa akan muncul kesalahpahaman lainnya. "Baiklah, akan aku akui"
Huh? Dengan cepat, aku menoleh tak percaya ke arah pria di dekat ini. Tunggu, apa? Apa maksud dari ucapannya itu? Mengakui? Mengakui mengenai apa? tanya ku terdiam. "Jika, kau memang ingin kepastian, akan aku berikan"
"Aku memang seorang bangsawan, cara berpikir ku memang berbeda denganmu, tapi, nama keluarga Marquez akan tercoreng jika kau sembarang memberikan bukti itu pada mereka"
"Kau saja, belum tahu pasti, apakah racun ini ada kaitannya dengan kejadian ini, bukan?" tanya Ellios singkat.
Niat Ellios memang baik, tapi ia sangat-sangat memperhatikan sekitarnya. Ia tahu, jika Riana bisa saja di tuduh membawa barang bukti yang palsu. "Satu-satunya cara untuk menyelamatkan mu adalah daftar yang ada pada kepala koki"
"Jika, ia memang memesan air ini. Kita hanya perlu membawa kertas bukti pembelian air air. Setelah itu, semua masalah ini tak akan ada kaitannya dengan kakak mu"
"Kau kira, aku akan percaya?" tanya Riana sambil melirik tajam pada Ellios. "Jika, saat itu tiba, kau kira Alex masih akan bernafas?"
"Riana, bagaimana bisa kau berkata seperti itu!" teriak Halley kaget. "Aku sudah pernah melakukan apa yang kau katakan sebelumnya. Tapi, semua itu hanyalah omong kosong."
__ADS_1
Tunggu, apa kejadian ini pernah terjadi padanya? "Apa maksudmu, kau pernah melakukan hal ini sebelumnya?"
"Ellios, hentikan-" ucap Halley singkat. "Jika, kau memang sangat ingin membantu Alex, bawa kertas bukti itu padaku, aku akan pergi mencari Alex."
"Akan aku buktikan, cara siapa yang lebih benar." tekan Riana singkat sambil berjalan pergi dari sana. "Antara caramu yang lebih memandang keluarga Marquez secara keseluruhan atau aku yang secara langsung membuktikan hal itu kepada semua orang."
BRAKKK-
"Apa dia sedang mengujiku?" tanya Ellios kebingungan. Halley mulai mengangkat tubuh ku, kemudian, membuka suara. "Cepat, kita bisa terlambat jika terus berdiri diam di sini!" teriak Halley sambil menarik tangan Ellios. Sejenak, aku mulai merasakan sesuatu.
Perasaan apa ini, mengapa aku terus merasakan rasa sakit yang tiada akhirnya. Seperti, akan terjadi sesuatu yang buruk. Tapi, kapan dan... siapa? Bahkan, rasa sakit dari racun itu belum sepenuhnya hilang dariku. Aku masih dapat merasakan panas api yang terus membara.
Sepertinya, memang akan terjadi sesuatu. Melihat kedua orang yang memiliki pendapat yang berbeda ini sudah cukup membuat ku tahu sesuatu. Novel ini tak hanya memiliki konflik pada karakter penting mereka, tapi juga karakter lainnya. Ini seperti kehidupan nyata pada umumnya, dimana setiap orang memiliki cara berpikir juga masalah mereka masing-masing.
Hum, sudah cukup jelas. Novel buatan Hanmai menceritakan banyak hal di dalamnya. Meskipun demikian, tentu mereka tak akan menceritakan kisah dari semua karakter milik mereka. Baiklah, bisa aku katakan, kejadian kali ini adalah masa di mana Charlotte masih kanak-kanak.
Ia memang dekat dengan Halley, tapi tak ada catatan yang berkata ia mengenal orang lain. Mungkin saja, gadis kecil ini memang mengenali Alex dan Riana hanya sebatas seorang koki pada umumnya saja. Lagipula, kini posisi Charlotte telah menjadi posisiku.
Lalu, bagaimana caranya aku keluar dari posisi ini?
Apa aku sungguh-sungguh telah mati?
Tik.. tik...
.........
TAKK-
"Lihat lah ini, pion ku ini jadi sangat-sangat berbeda dibandingkan dugaan ku"
"Aku jadi sedikit penasaran, apa perlu ku uji lagi?"
.........
"Ellios, ini ruangan kepala koki, seharusnya ia berada disini"
Kreet-
Baru saja, memasuki ruangan ini terlihat seorang pria sedang melempar barang-barangnya ke arah lantai. Kondisinya terlihat sangat kacau. "Siapa kalian... siapa yang mengizinkan kalian untuk masuk kemari!" teriaknya marah sambil melempar vas bunga ke arah kami. Tapi, Ellios langsung menangkap vas bunga hanya dengan tangan kanannya. "Aku yang seharusnya bertanya, apa yang sedang kau lakukan?"
TRAKKKKKKKKKKKKK-
Tanpa basa-basi, Ellios langsung melempar vas bunga itu ke ujung lantai. Nampak, pria paruh baya itu memasang wajah ketakutan melihat Ellios yang terlihat tak senang itu. "Kepala koki, sebaiknya kau menjelaskan apa yang telah terjadi di sini" ucap Halley sambil masuk ke dalam ruangan ini. Kepala koki itu langsung memasang wajah kaget.
"Ka..kau, apa kau pelayan pribadi nona..."
DEG-
Baru saja, ia bicara. Pria itu menatap ketakutan ke arahku. "No.. nona muda, ma..maafkan hamba atas kekacauan ini!" teriaknya kaget sambil membukukan badannya di atas lantai. Ternyata, dugaan ku benar. Semua pelayan di sini sangat takut pada keluarga Marquez.
__ADS_1
"Ta..tapi, mengapa kalian semua datang kemari...?" tanya kepala koki itu canggung.
"Apa kau memesan air dari tempat asing?" tanya Halley singkat. Kepala koki itu terdiam, "Apa maksud dari perkataan anda?" tanyanya sambil mengangkat kepala sedikit. "Cepat, serahkan bukti pembayarannya sekarang juga, kau telah melakukan kesalahan, kepala koki" ucap Halley singkat sambil melirik datar ke arah kepala koki itu.
Wajah kepala koki terlihat sangat kaget setelah mendengar ucapan Halley. Sepertinya, benar, kepala koki ini membeli air di tempat asing tanpa sepengetahuan lebih jauh. Karena, hal inilah, para tamu undangan jadi keracunan, dan Alex, yang kebetulan memiliki masakan yang paling banyak di cicipi oleh para tamu, menjadi tersangka utama dari kejadian ini.
"Sa..saya tidak paham maksud dari ucapan anda, itu.. itu hanyalah air biasa yang dibawa khusus oleh pengantar bahan pangan"
"Apa wajar seorang pengantar mengenakan jubah ketika mendatangi kediaman seorang bangsawan?"
"Katakan saja, apa niat buruk mu itu."
SRESHHHHH-
Suara ini, bukankah suara ini milik-
"Tuan muda Wethleys!?" teriak Halley kaget. Terlihat, Wethleys menghampiri kami dengan sebilah pedang pada tangannya. "Ayahku bilang, aku boleh membunuh siapapun yang aku inginkan saat ini. Jadi, sebaiknya kau jelaskan, apa yang telah terjadi sini..." ucap Wethleys dengan nada malas.
Mati sudah nasib mu kepala koki, Wethleys bukan anak yang bisa di ajak bercanda. "Ha..hamba bersungguh-sungguh, hamba tidak melakukan kesalahan apapun!" teriak kepala koki itu sambil berdiri memohon belas kasihan kepada Wethleys.
"Kalau begitu, berikan kertas bukti pembayaran itu" ucap Ellios lagi. "Ah... ke..kertas itu... dia hilang..."
SRAKKK-
Dinding pada ruangan ini langsung hancur berkeping-keping karena serangan tiba-tiba Wethleys. "Oh, sungguh?" tanya Wethleys singkat. "Maaf, tanganku sedikit tergelincir" lanjutnya lagi santai sambil merapikan merapikan ujung pakaiannya.
"Kau tak keberatan dengan hal ini, bukan?" tanyanya singkat sambil menatap lesu ke arah kepala koki itu. Pria paruh baya itu terlihat mulai berkeringat dingin melihat kejadian tadi. Jika, saja serangan tadi mengenai tubuhnya, mungkin saja ia telah kehilangan nyawanya.
Ia mulai, mengigit pelan bibirnya. Ia sudah tersudut. "Sudah, akui saja kesalahan mu kepada para bangsawan, aku akan menolong mu jika memang bukan kau pelakunya" ucap Wethleys singkat sambil mengayun-ayunkan ujung pedang miliknya.
"Aku-"
"Sudah aku katakan, ini bukan salahku!" teriaknya sambil berlari kearah kami.
DUAKKKK-
Dengan cepat, dia mendorong tubuh Halley ke arah dinding. Nasib baik, Ellios langsung menahan tubuh Halley yang nyaris saja akan terjatuh. "Hei, kau-!" teriak Ellios kaget sambil menoleh ke arah belakang.
"Dasar rakyat jelata, jelas-jelas, sudah ku berikan kesempatan langkah." tekan Wethleys singkat. Sembari, merapikan kancing pakaiannya, ia mulai tersenyum kecil. "Haha, tapi, akan jauh lebih menyenangkan jika seperti ini, bukan?" lanjutnya sambil tertawa kecil.
DRUAKKKK-
Dengan cepat, anak laki-laki itu langsung berlari ke arah koridor. Sembari, membawa pedang tajam pada tangan kanannya.
"Mati kau, kepar*t!!"
SRAKKKKK-
...Bersambung......
__ADS_1