
...~Happy Reading~...
.........
"Apa anda baik-baik saja, nona muda?" tanyanya pelan sembari memasang wajah khawatir.
Tepat pada saat itu juga, Halley langsung memasang wajah kaget, sembari mendudukkan kepalanya, ia mulai memberi salam kepada pria berpakaian rapi itu.
"Se... selamat siang, tuan... ha...hamba baik-baik saja..." ucapnya tergagap.
Hum, karena aku sedang berada di dalam pangkuannya, ia jadi tak dapat memberikan salam dengan baik. Melihat hal itu, pria itu langsung meminta Halley untuk mengangkat kepalanya.
"Haha, kau tidak perlu memberikan ku salam, lagipula kau yang telah membantu nona Zenith sebelumnya..."
Saat itu, Cecilia hanya memasang wajah keheranan. Ku rasa, itu karena pria ini mengunakan bahasa formal yang terbilang cukup sulit untuk di pelajari oleh kerajaan lain.
"Apa yang pria ini sedang bicara?" ucapnya kebingungan.
Heh? Dengan cepat, aku langsung menatap heran ke arah Cecilia. Sepertinya, ia kebingungan sekali untuk menerjemahkan kata-katanya.
"Jijah biyang tak peyuh membeyi hoymat!"
Sembari menjawab pertanyaan, pria itu melihat ke arahku karena aku tiba-tiba berteriak di tengah ucapannya.
E..eh, kelepasan! pikirku kaget dalam hati.
Pria itu mulai melangkah maju, laku berdiri di hadapan ku. Tangan putih bersihnya itu mulai mengarah ke arahku. Ti... tidak, apa ia berniat untuk melukai ku sama seperti para bangsawan tadi?! teriak ku ketakutan dalam hati.,
Heh? Aku yang salah lihat atau pria itu baru saja mengelus-elus rambutku? pikirku dalam hati sembari memasang wajah keheranan.
"Astaga, kau imut sekali, usianya sudah berapa?" sembari memasang wajah ceria, pria itu mulai menatap ramah ke arah Halley. "Ah, no..nona muda berusia 5 tahun..."
Apa? Jadi, aku baru berusia 5 tahun? Aku kira, usiaku jauh lebih muda dibandingkan itu. Karena, aku belum bisa berbicara juga berjalan dengan benar sebelumnya. Kalau begitu, beberapa tahun lagi, aku akan bertemu dengan anak laki-laki menyebalkan itu.
Chk, padahal aku belum menemui Felix juga anak SMA menyebalkan itu. Sepertinya, aku harus bertindak lebih cepat setelah ini.
"Astaga, ternyata gadis kecil ini sudah berusia 5 tahun? Jelas-jelas sekali, hari itu ia terus-menerus menangis tanpa hentinya di pangkuanku"
Apa? Dengan cepat, aku langsung menatap heran ke arahnya. Apa yang baru saja ia katakan? Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya? Sejauh ini, hanya Felix juga Wethleys yang selalu datang ke kamar ku. Aku tak pernah sekalipun di datangi oleh tamu lain selain mereka berdua.
"Haha, ternyata kau sudah banyak berubah yah, aku sangat senang karenanya"
Apa ia baru saja mengejek ku? pikirku kesal dalam hati.
PIKK-
__ADS_1
Sembari memasang senyum ramah, ia mulai mencubit pelan pipi kananku. "Kalau begitu, saya permisi dari sini, tolong jaga Charlotte, ia perempuan yang berbakat dan mungkin saja, suatu hari nanti ia akan berperan penting di kerajaan barat..."
"Ah, baiklah, tuan Vermillion..." sahut Halley sembari memasang wajah kaget.
Tap... tapp...
Chk, aku tidak suka dia.
"Astaga, saya tak mengira tuan Vermillion masih mengenali nona muda..."
"Padahal, tuan sendiri tak pernah sekalipun terlihat tertarik dengan nona muda. Tapi, tuan sempat merawat nona untuk beberapa saat karena tuan Marquez memiliki kendala dengan urusan kerajaan"
Heh? Jadi, aku sempat dipindahkan dulu? Aku baru tahu, aku masuk ke dalam tubuh Charlotte ketika ia masih balita. Aku tak tahu jelas, berapa usianya saat itu. Tapi, ku rasa, sepertinya aku pernah di tempatkan di kediaman orang lain. Woah, aku baru tahu mengenai hal itu.
Setahuku, Charlotte memang sering di bawa pergi oleh ayahnya, karena penyakit leukimia miliknya.
Apa ada hal yang sempat ku lewatkan yah?
Awalnya, aku tak tertarik dengan novel ini, tapi siapa yang akan mengira, alur cerita yang selalu ku pikirkan tak penting itu, mulai merubah kehidupan ku sendiri. Dan hal ini tak hanya berlaku padaku, tapi juga mereka berdua.
Aku tak tahu, peran seperti apa yang di dapatkan oleh Felix, teman SMA ku, juga anak laki-laki berjaket itu. Tapi, yang pasti, posisi ku di sini terbilang cukup bagus. Karena, aku adalah putri seorang bangsawan penting di sebuah kerajaan. Meskipun demikian, tubuh ku ini sangat lemah, aku belum bisa mengunakan sihir ku. Lalu, aku akan dijadikan batu pijakan tokoh utama cerita.
Yah, tokoh utama dalam cerita ini adalah Margareth. Meskipun, novel ini pernah di klarifikasi oleh pihak Hanmai yang sempat berkata jika tokoh utama di sini bukan hanya Margareth tapi juga beberapa tokoh penting lainnya. Tapi, tetap saja. Perempuan itu yang mendapatkan akhir yang indah. Berbeda dengan Charlotte.
Ini terasa seperti dua kehidupan yang bertolak belakang.
Rasanya, ini tidak adil. Bahkan, ia bukanlah tokoh antagonis di dalam cerita. Tapi, tetap saja, ia yang mendapatkan akhir yang buruk di sini. Jikapun, menjadi orang yang baik di sini adalah pilihan yang salah. Maka, aku tak segan-segan untuk memilih cara yang buruk.
Heh?
"Astaga, anak perempuan ini, mengapa tatapan sangat tidak biasa. Aku jadi terganggu karena nya..." Terlihat jelas, Cecilia sedang berdiri di hadapan ku, menatap diam dengan kedua tangannya yang sudah menyentuh pelan pipiku.
"Kyaa, dia imut sekali!!"
Dengan cepat, ku rasakan rasa sakit dari tarikan tangannya yang sedang mencubit pelan pipi ku itu.
Entah bagaimana caranya, aku langsung meninju wajahnya karena marah.
Tu..tunggu, dia berhasil menahan serangan ku?
Padahal, tak ada seorangpun pekerja di sini yang berhasil menahan serangan tiba-tiba ku itu. "Wah, wah~ Astaga, perempuan ini kuat sekali!" ucapnya ceria, seakan-akan sedang menemukan sebuah permata di antara tumpukan batu.
Hah? Reaksi seperti apa lagi itu? pikirku kesal dalam hati.
"Aku rasa, anak ini akan menjadi seorang pejuang seperti diriku!" lanjutnya lagi. Pejuang? Maksudmu, ksatria?
__ADS_1
"Haha, yah, tenaga nona muda sangat besar, saya pun sempat kaget karenanya..."
Mendengar ucapan Halley, perempuan itu mulai menatap senang ke arahku. Tapi, ia mulai tersenyum kecil seakan-akan sedang memikirkan sesuatu yang buruk, yang mungkin saja akan membuat semua badanku kesakitan.
"Bagaimana, jika aku membawanya pulang bersamaku? Aku ingin melatihnya ketika usianya sudah cu-"
Dengan cepat Halley langsung memukul kepala Cecilia dengan wajah marah. "Astaga, apa yang sedang kau pikirkan? Seorang nona bangsawan? Berlatih untuk menjadi seorang pejuang? Apa kau ingin membuat nona terluka di medan perang?"
"He..hei, justru akan lebih baik jika aku melatihnya! Aku ini jenderal besar, seharusnya kau mendengarkan perintah ku!"
"Tidak akan, nona akan jauh lebih bahagia jika ia menjadi dirinya sendiri. Terserah nona ingin menjadi apa, aku, Halley akan terus mendukungnya!" gerutu Halley marah.
"Jadi, berhentilah meminta hal yang tidak masuk akal!"
Hum, sesungguhnya menjadi seorang ksatria tidaklah seburuk yang orang-orang pikirkan selama ini.
Terlebih lagi, beberapa tahun lagi, akan terjadi perang besar di sini. Mungkinkah menjadi seorang ksatria adalah pilihan terbaik untuk ku pilih saat ini?
"Hugh, baiklah, jika kau memang bersikeras seperti itu. Tapi, setidaknya, biarkan aku membicarakan hal ini dengan kepala pelayan di kediaman ini"
"Hei, kau masih belum ingin berhenti yah?! Nona muda akan terluka jika kau memaksanya untuk berlatih nanti?!"
"Yah, bukankah akan semakin lebih baik jika seperti itu. Jadi, nona akan terbiasa dengan luka ringan seperti itu, bukan?"
"He..heii, mau kemana kau!" teriak Halley marah.
"Sudah ku putuskan, anak ini harus menjadi murid ku, meskipun itu mustahil!"
"Hei, jangan kabur dariku!!"
He..hei, ada apa lagi ini, mengapa dua perempuan dewasa ini bertengkar hanya untuk memikirkan masa depan seorang anak kecil seperti diriku ini. Aku saja masih belum bisa berjalan dengan baiknya. Bagaimana caranya, aku menjadi seorang ksatria mengerikan seperti kalian. Bisa-bisa, badanku akan remuk kesakitan sebelum mendapatkan gelar ksatria ku.
"Cecilia, mau kemana kau, berhentilah meminta hal tak masuk akal padaku!!"
"Heii!!"
Hah, ini sungguh-sungguh menyebalkan. Biarkan saja, aku untuk duduk manis di sofa nyaman ku dengan camilan manis di meja makan. Ku rasa, hal itu, akan membuatku lebih bahagia dibandingkan berlatih menjadi ksatria ataupun nona bangsawan yang ramah.
Tapi, jika aku pikir-pikir lagi, mungkin tidak ada salahnya, aku menjadi seorang ksatria? Ku rasa?
Sembari, menatap diam ke arah depan, terlihat jelas pria bertubuh tinggi itu mulai menoleh ke arah kami, sembari memegangi ujung cangkir tehnya.
"Pfft- dasar anak perempuan, mereka senang sekali berteriak-teriak di tengah keramaian..."
"Terlebih lagi, anak kecil itu, wajahnya terlihat tak berbeda jauh dengan kakak..."
__ADS_1
...Bersambung......