One Heart

One Heart
10. Ujian


__ADS_3

...Sebelum membaca tekan tombol suka dulu yuk! Jangan lupa kasih komentar juga:D ...


...Terima kasih:)...


...❝ Happy Reading❞ ...


...✄✄✄✄✄✄ 💌 ✄✄✄✄✄✄...


Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya, tetapi dua remaja ini sudah bersiap-siap bersekolah. Tidak biasanya mereka berangkat sepagi ini. Bahkan jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Hal ini terjadi karena Cyra menginginkan sarapannya di suatu warung yang letaknya lumayan jauh dari kompleks rumah mereka.


"Aduhhh, Earth. Cepetan dikit dong dandannya!"


"Sabar dikit kek, Ra," jawab Earth sambil memakai anting di telinga nya.


"Ribet banget!"


"Sirik aja!"


Cyra mendengus mendengarnya, "Eh piercing-an lo nambah, ya?" Cyra bertanya setelah memperhatikan Earth.


"Hmm. Kemarin sih gue nambahnya."


"Semuanya aja lo piercing. Biar bolong, tuh, kuping!" sarkas Cyra.


"Sadis amat lo, Ra." kata Earth yang membuat Cyra tertawa.


"Oke. I'm done!" Earth sudah selesai dengan berbagai macam aksesorisnya. "Yok berangkat!" ajaknya.


"Gitu kek dari tadi."


"Gue ikut mobil lo ya? Males nyetir gue," ucap Cyra.


"Serah lo, deh."


...💌💌💌...


"Tumben amat lo pengen sarapan disini. Kenapa?" tanya Earth yang penasaran karena Cyra ngotot ingin sarapan di warung makanan seperti ini.


"Disini menunya enak-enak," jawab Cyra sekenanya.


Earth membulatkan mulutnya, "Gue kira lo ngidam—AW! Sakit ******!"


"Emang pantes lo gue tampol!" sinis Cyra.


"Iye-iye. Maaf!"


"Yaudah cepetan habisin, nanti telat ujian lagi."


Cyra mengangguk mengiyakan.


...💌💌💌...


"Yahh," desah El kecewa.


"Kenapa?" tanya Earth.


"Gue beda ruangan sama lo berdua," jawab El menunjuk Earth dan Cyra.


"Ya, terus?"


"Ya, gue nggak bisa nyontek dong!" kesal El.


"Udah tau bego malah nggak belajar!" semprot Krist .


"Heh! Lo kira lo pinter?" balas El tidak terima.


"Setidaknya Krist lebih pinter dibandingin lo, El," ujar Galen.


El semakin kesal karena tidak bisa menjawab perkataan Galen, ditambah ia melihat ekspresi Krist yang seakan meledek dirinya.


Kring...Kring...


"Masuk-masuk ke ruangan kalian sana! Ngga denger apa bell udah bunyi?! Teriak Zee.


"Anjir! Sabar dikit kali kak," balas Galen.


"Nggak ada! Nggak ada! Cepet sana keruangan lo masing-masing!" teriaknya lagi.


"Santai dong! Ini juga mau pergi," sinis Cyra.


"Apa lo!" Bentak Zee. "Nggak inget gue sama Malvin bilang apa kemarin?" tanyanya.


"Udah, Ra." Earth menenangkan Cyra sebelum terjadi peperangan. "Kita masuk aja, yuk! Ntar lagi pengawasnya dateng," bujuk Earth.


Cyra langsung saja masuk kedalam ruangannya, mengabaikan tatapan berang Zee. Disusul oleh Earth. Dan tersisa lah Krist, El, dan Galen.


"Lo bertiga dimana ruangannya?"


"Di lantai 2, Kak," jawab Galen.


"Trus?"


"Trus apanya, Kak?" tanya El heran.


"Trus kalian ngapain juga masih diem disini?! Cepet sana ke atas!"


"I-iya, Kak!" balas mereka sambil berlari. Takut terkena amukan kakak kelasnya itu.


Zee menggelengkan kepalanya, "Cepet tua gue yang ada kalau kelakuan mereka gini mulu," gumamnya.


...💌💌💌...


Satu mata pelajaran telah terlewati, kini para remaja itu sedang berkumpul di taman belakang sekolah.


"Ngapain lo ngajak kita kesini, El?" tanya Cyra heran.


"Iya. Ngapain, sih? Gue laper, nih, mau makan," ujar Galen.


"Tenang-tenang," kata El dengan gaya sok menenangkan nya. "Kita selama ujian disini dulu aja, ya?" lanjutnya.


"Iya... Tapi ngapain?" tanya Cyra yang masih heran.


"Belajar dong!"

__ADS_1


"Ha?! Lo ngajak belajar?!" kaget teman-temannya.


El berdecak, "Kalian apaan, sih?! Tadi pagi nyuruh gue belajar, lah sekarang tiba gue ngajak, lo pada kaget. Mau kalian itu apa, sih?! Adek salah mulu. Capek aku tuh!" El cemberut.


"Yaudah-yaudah. Ayo kita belajar!" ajak Cyra.


Earth mengangguk setuju, "Kuy! Masih banyak waktu juga kan."


"Ta-tapi," kata Galen terbata-bata.


"Tapi apaan?" tanya Krist.


"Gue laper..." lirihnya.


Krist memijat kepalanya, pusing melihat berbagai macam sifat para sahabat nya itu.


"Kalau masalah makanan gampang! Ntar lagi juga dateng," ucap El.


"Maksudnya?" tanya Cyra tak paham.


Tak lama setelah El berucap, Andrew dan Kenzo datang membawa banyak bungkusan makanan. Dan itu membuat mata mereka semua berbinar.


"Wih banyak banget lo bawa makanan, Bang," kata Cyra senang.


"Iya, dong! Kan kemarin gue udah janji kalau menang balapan bakal traktir kalian semua," balas Andrew yang sontak mendapatkan ucapan terimakasih.


"Wahh thankyou, Bang!"


"Sama-sama."


Mereka makan dengan tenang, sesekali melempar candaan. Setelah makan, sesuai perkataan El, para remaja itu kini belajar.


"Ujian selanjutnya matematika kan?"


"Iya."


"Ajarin kita-kita dong, Ra." pinta El yang diangguki Krist dan Galen.


"Males. Tuh minta Earth ajarin!" tolak Cyra kemudian berdiri meninggalkan sahabatnya.


"Kok gue?" Earth tak terima.


Andrew yang sedari tadi sibuk belajar dengan Kenzo menatap Cyra, "Mau kemana, Ra?"


"Gue mau ke toilet dulu, bang."


"Mau gue temenin nggak?" Kenzo memainkan alisnya.


Andrew menarik kepala sahabat gilanya itu menghadap buku, "Hafalin dulu noh rumus!"


"Sakit, anjing!" ringis Kenzo.


"Syukurin!" ejek Earth.


...💌💌💌...


Selesai dengan tujuannya, Cyra segera keluar dari toilet, ingin menemui sahabat-sahabatnya. Namun langkahnya terhenti di depan gudang ketika mendengar suara seseorang memohon.


"Buset! Suara siapa, tuh?"


"Siapa disana?" teriak Cyra.


"Kok nggak ada suara, sih," gumamnya.


Tiba-tiba teriakan terdengar lagi dan itu menyebabkan Cyra tersentak kaget, matanya menatap kesebuah ruangan penyimpanan barang. Teriakan itu berasal dari sana. Dibukanya pintu tersebut tapi terkunci.


"Shit! pintunya dikunci," kesalnya.


Akibat penasaran dengan teriakan itu, mau tidak mau Cyra terpaksa mendobrak pintu usang tersebut.


Brakk


"Lumayan," gumam Cyra.


Di penglihatannya, seorang cewek yang sudah tidak berdaya terduduk. Dan disekelilingnya juga ada segerombolan kakak kelas. Sepertinya mereka bukan berasal dari jurusan teknik. Tapi kenapa ada di gedung jurusan teknik?


"Kalian ngapain?" Selidik Cyra.


"Bukan urusan, lo!" ucap salah satu dari mereka.


Cyra mengangguk, "Iya, sih, bukan urusan gue. Tapi kalian udah buat gue penasaran," kata Cyra. "Dan kalian juga udah buat gue buang tenaga untuk ngedobrak pintu," Lanjutnya.


Salah satu kakak kelas nya itu maju kemudian mendorong Cyra.


Cyra tersenyum miring, "Nah, lo udah berani ngedorong gue. Dan sekarang ini urusan gue!" desisnya.


"Lepasin cewek itu dong!" perintah Cyra seenaknya.


"Heh! Lo siapa seenak jidat nyuruh gue lepasin anak ini!"


"Gue?" Cyra menunjukkan dirinya sendiri. "Serius lo nggak kenal gue? Baru keluar dari goa lu yak?" ejek nya.


"Apaan, sih, lo! Nggak punya sopan santun, ya!"


Cyra membaca nametag kakak kelasnya itu, "Aluna Cantika."


"Ngapain lo sebut nama gue?!" tanya Aluna.


Cyra mengedikkan bahunya, "Kepo aja gue."


"Luna. Mending lo jangan cari gara-gara, deh, sama Cyra," bisik salah satu teman Luna. Tapi sayang, Cyra juga mendengarnya.


"Nah temen lo aja tau gue, kak. Masa lo nggak tau gue sih," sombong Cyra.


"Kurang ajar—"


"CYRA!" seseorang memanggil Cyra.


"Gue di gudang," balas Cyra teriak.


Tak lama kemudian sahabat-sahabat nya datang menghampiri, "Lo ngapain disini, sayang?" tanya Kenzo.


"Ayok pergi! Ntar lagi ujian di mulai," ajak Earth.

__ADS_1


"Tunggu dulu. Kalian nggak liat apa," kata Cyra menunjuk cewek yang sudah lemas itu. "Tolongin dia dulu, ya," pinta Cyra.


Seketika sekelompok cowok itu membulatkan mata nya. Kaget melihat kondisi cewek yang tidak mereka kenal itu. Sangking khawatirnya dengan Cyra mereka jadi tidak fokus memperhatikan sekitarnya.


"Dia siapa?" tanya El.


"Gue juga nggak tau, yang pasti dia korban pembullyan," jelas Cyra yang kemudian menatap Aluna dkk, "Dan mereka pelakunya!"


"Kalian anak ADP kan?" tanya Andrew memastikan.


"Iya! Kenapa?! Mau laporin gue ke kepala jurusan?! Coba aja kalo kalian bisa!" tantang Luna. "Cabut guys!" perintah cewek itu ke teman-temannya.


"Urusan kita belum selesai woi!" teriak Cyra.


"Udah, Ra. Mending kita urusin ini cewek." Earth menenangkan Cyra.


"Nama lo siapa? Masih bisa bicarakan" tanya Cyra.


Cewek itu hanya mengangguk lemah, "Alisha," lirihnya kemudian tak sadarkan diri.


Melihat Alisha pingsan membuat mereka semua panik. "Eh kok pingsan, sih?! Aduh... Angkatin dia dong, bawa ke UKS!" seru Cyra. Kemudian dengan cepat mereka mengangkat Alisha.


Setelah mengantarkan Alisha mereka segera masuk keruangan ujian masing-masing. Tapi setelah ujian selesai mereka diminta untuk datang ke ruangan kepala sekolah. Untuk dimintai keterangan tentang apa yang terjadi terhadap Alisha.


...💌💌💌...


Setelah menceritakan kejadian pembullyan itu mereka diperbolehkan pulang.


"Gila! Baru juga ujian hari pertama, udah ada aja masalah." El mulai mengomel karena pihak sekolah sempat mencurigai mereka sebagai pelaku pembullyan.


"Kan udah gue bilang, kalau kalian itu biangnya masalah." Zee datang menyeletuk.


"Lo lagi lo lagi! Bosen gue!" sinis Cyra dan dibalas tak kalah sinis oleh Zee.


"Jangan berantem terus bisa nggak? Kita disini nggak ngajak ribut kok," kata Malvin.


"Terus?" tanya Krist.


"Kita cuma mau nanya siapa yang ngebully Alisha,"


"Lo kenal Alisha?" Kenzo kepo.


Malvin mengangguk, "Siapa yang nemuin dia di gudang?"


"Gue," jawab Cyra.


"Lo tau siapa pelakunya?"


"Tadi gue sempet baca, sih, nametag nya, kalau nggak salah Aluna Cantika."


"Luna anak ADP maksud lo?" Zee bertanya.


"Iyee," jawab Cyra malas.


"Sekarang Alisha dimana?" tanya Malvin.


"Tadi kami anter ke UKS," jawab Andrew.


"Oke. Kalian mau ikut gue?" tawar Malvin.


Mereka mengangguk, "Boleh. Kuy!"


...💌💌💌...


"Lah anaknya mana?"


Setibanya mereka di UKS Alisha sudah tidak ada diruangan itu.


"Udah pulang kali." Zee menjawab sekenanya.


"Mungkin." Malvin mengiyakan.


"Ya udah kalo gitu gue sama Cyra balik duluan, ya!" pamit Earth.


"Eh, tungguin! Gue nginep dirumah lo boleh, ya, Earth?" tanya El.


"Eh ikutan dong!" timpal Krist dan Galen.


Cyra mengangkat sebelah alisnya, "Ngapain kalian? Earth tidur dirumah gue kali."


"Yaelah, Ra. Pinjem dulu Earthnya ngapa. Pelit amat lo," kata El.


Cyra melotot mendengar perkataan El, "Gue tampol lo, ya!"


El nyengir, "Damai-damai."


"Lo ikutan aja, Ra." Krist memberi usulan.


"Nah, bener! Keknya seru, tuh!" Galen menyetujui.


"Oke!" putus Cyra.


"Kita nggak diajak nih?" tanya Kenzo.


"Boleh banget, Bang. Kebetulan besok ujian kejuruan kan? Bisa dong gue nanya-nanya sama lo berdua," balas El yang emang berniat belajar. Sedangkan yang lainnya mengangguk menyetujui.


"Yaudah ayok pulang! Gue mau tidur." Cyra pergi meninggalkan mereka semua.


"Kita semua pulang, ya, Bang. Kak," pamit El mewakili teman nya.


"Pulang, Bro," pamit Andrew.


"Hati-hati bawa nenek lampir." Tambah Kenzo yang segera kabur menyusul Cyra.


"Kenzo! Nyebelin banget lo, ya, ******!" teriak Zee.


"Ngapain kamu ketawa?!" tanya Zee melihat Malvin sedang tertawa.


"Nggak ada."


"Semuanya nyebelin banget, sih!" Zee menghentak-hentakan kakinya, lalu meninggalkan Malvin sendirian.


"Kok gue ditinggal, sih," gumam Malvin segera menyusul Zee.

__ADS_1


..._______________________...


Tbc,


__ADS_2