
...Sebelum membaca tekan tombol suka dulu yuk! Jangan lupa kasih komentar juga:D ...
...Terima kasih:)...
...❝ Happy Reading❞ ...
...✄✄✄✄✄✄ 💌 ✄✄✄✄✄✄...
Pagi ini cuaca sangat mendung. Cukup sesuai dengan suasana hati Earth. Sesuai perkataan Cyra kemarin, kini mereka berdua sudah berada di dalam sebuah salon di salah satu mall di kota mereka.
"Harus banget gue ikutan, Ra?" tanya Earth dengan wajah memelasnya.
Cyra menganggukkan kepalanya semangat, "Harus dong! Biar lo makin cakep. Kan nggak lucu lo selalu di samping gue, tapi style kita beda kasta. Ewh, gue nggak mau ya, Earth!" Cyra bergidik ngeri membayangkannya.
"Lo mau muji atau mau ngehina gue, sih, Ra?!" kesal Earth.
"Yang kedua," balas Cyra santai. Tepatnya menghina kalau Earth itu jelek.
Earth menunjukkan jari tengahnya ke Cyra, "Bangsat lo!" umpatnya tanpa suara.
Cyra menganggap umpatan Earth angin lalu, kemudian menarik tangan Earth untuk memilih warna rambut yang cocok untuk mereka berdua. Ya, mereka berencana untuk mewarnai rambut mereka. Lebih tepatnya Cyra yang memaksa Earth untuk ikutan mewarnai rambut. Kata Cyra, sih, untuk menyambut sekolah baru mereka.
...💌💌💌...
Cyra dan Earth berdebat dengan waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, yang mana hal itu membuat para pegawai yang ada disana pusing melihat tingkah laku mereka. Mau menyuruh mereka berhenti, tapi tidak ada yang berani, bahkan manager pun tidak berani menghentikan perdebatan mereka. Jika ada yang bertanya jawaban cuma satu, takut di pecat. Anak sultan mah bebas.
"Sekarang terserah lo, deh, mau warna apa terserah! Gue nggak peduli lagi!" rajuk Cyra.
"Yaudah, gue ngikut lo aja, Ra. Capek debat sama lo, nggak pernah menang gue!" pasrah Earth.
"Nah, gitu dong dari tadi, ganteng!" ujar Cyra tersenyum sumring.
Earth yang melihat kelakuan Cyra hanya bisa tersenyum sambil mengelus dada.
Sabar, Earth… sabar…, batinnya.
...💌💌💌...
__ADS_1
"Sumpah lo ganteng banget, Bumi. Gue pangling!" kata Cyra berbinar.
Sejak keluarnya dari salon, tidak hentinya Cyra memberi pujian terhadap Earth. Cyra memberikan pujian juga karena Earth mau mengikuti kemauan Cyra. Jika tidak, jangan harap mendapat pujian, yang ada penghinaan sadis yang dituturkan mulut gadis itu.
"Diem, Ra. Gue mau makan dengan tenang," ucap Earth datar.
"Oke. Makan yang banyak, biar lo tetep hidup," balas Cyra yang juga memfokuskan dirinya ke makanan yang tersaji.
"Kemana lagi?" tanya Earth setelah makanannya habis.
"Store aksesoris." Earth mengangguk menyetujui.
Setelahnya mereka pergi ke toko yang di tuju, kemudian pulang ke rumah masing-masing.
...💌💌💌...
Pada malam hari, Cyra baru saja membersihkan tubuhnya. Ia cukup lelah karena seharian penuh berkeliling mall bersama Earth. Namun, tiba-tiba saja Cyra menegakkan tubuhnya kemudian mengambil handphone yang terletak di nakas.
Setelah terhubung ke sebrang sana, Cyra langsung berbicara, "Ke rumah gue sekarang!" tanpa menungggu jawaban segera ia matikan sambungan secara sepihak. Kemudian turun kelantai dua untuk menemui seseorang. Siapa lagi kalau bukan Earth.
Sementara di kamar Earth, pemuda itu sedang sibuk memakai bajunya. Jika bukan karena Cyra mana mau dia beranjak dari kasurnya itu.
Tidak butuh waktu lama, Earth sudah ada di depan Cyra. Rumah mereka berhadapan jadi tidak ada alasan terlambat.
"Ngapain nyuruh gue kesini? Kangen? Yaampun sayang, kita udah seharian bareng, lho, masa kamu masih kangen—" ucapan Earth terhenti karena Cyra menodongkan sebuah pisau buah ke leher Earth.
"Bacot banget, sih, kampret!"
"Oke-oke gue serius, jadi lo mau ngomongin apa? Cepet, gue ngantuk, nih!" kata Earth yang mulai merebahkan diri.
"Lo masih belum bilang apa rencana untuk besok."
Earth yang sedang rebahan itu hanya berdehem.
"Terus, besok kita masih dianter? Lo nggak bosen apa di anterin mulu."
"Siapa bilang besok kita dianter? Gue udah ngomong sama Rey—asisten pribadi Earth dan Cyra— besok mobil kita udah ada di halaman depan," jelas Earth yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Cyra yang mendengarnya histeris, "AAAA lo serius kan? Mobil yang kita mau besok udah ada di depan?"
"Iya. Alay lo, ah!"
"Oke, lo pulang sana! Gue mau tidur," usir Cyra.
"Nggak mau!" Earth masih betah berbaring di sofa Cyra.
"Terus lo mau nginep di rumah gue gitu?!" tanya Cyra galak.
Earth mengangguk cepat, "Lebih tepatnya di kamar lo. Boleh nggak, beb?"
Cyra yang mendengarnya tersenyum manis, sangat-sangat manis.
"E-eh nggak jadi, deh, Ra. Mending gue pulang aja, lebih nyaman di kamar gue. Hehehe...." Earth berubah pikiran setelah melihat ekspresi aneh Cyra.
"Nggak! Lo nggak boleh pulang."
Earth cengo mendengar perkataan Cyra. "Tumben lo baik."
Cyra mengedikkan bahunya, "Udah... tidur aja di kamar gue. Tapi inget, ya, Bumi! Lo tidur di sofa. S-o-f-a!" perintahnya.
"Oke!" kata Earth semangat.
Setelah membuat kesepakatan tempat tidur, Cyra segera mengajak Earth ke kamarnya yang berada di lantai 3.
Tak masalah bagi Earth jika dirinya tidur di sofa. Toh, sofa Cyra cukup luas, bukan sofa kecil yang biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sekali lagi, anak sultan mah beda.
"Lo kok suka banget nginep dikamar gue? Heran, deh, gue, Earth. Kamar lo juga nggak jauh beda sama gue, cuma beda warna sama perabotan doang paling." Cyra heran, sahabatnya itu suka sekali berada dikamarnya. Tak mempermasalahkan tidur dimana pun, yang penting berada di kamar Cyra.
"Berapa kali sih gue bilangin, kamar lo selalu buat gue nyaman, Ra." Earth menjawab sambil mencari posisi yang nyaman untuk tidur. "Kalau perlu gue pacarin juga ni kamar," lanjutnya yang mulai ngelantur.
"Lo gila!"
Earth mengabaikan perkataan Cyra, sebab dirinya sudah mulai berjalan ke alam mimpi.
..._______________________...
__ADS_1
Tbc,