One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Bab 21. Rasa Bersalah


__ADS_3

Tubuh Wilia terasa begitu berat, sekujur persendian nya terasa pegal, otot-otot nya sangat lemas dan jika tak dipaksa rasanya tak mampu meski hanya sekedar menggerakkan tubuh.


Dia menggeliat, mencoba mengembalikan kesadaran. Saat diri nya hampir sepenuhnya terbangun, dia merasa ada sesuatu yang menimpa di perut hingga semakin sulit bergerak. Dan di detik berikutnya dia menjerit keras sampai orang yang ada di samping nya ikut terbangun.


"Aaaaaa..!!" Jeritan Wilia yang mungkin jika diukur bisa mencapai lima ratus oktaf itu bukan hanya berhasil membuat Davio bangun, tapi juga berhasil membuat Davio kaget dengan ekspresi seperti orang bodoh dengan posisi terduduk di atas tempat tidur menatap ke sekeliling ruangan seraya mengingat-ingat kejadian yang sama sekali belum terlintas di kepala.


"Hiks hiks hiks..,"


Davio yang terkejut mendengar suara tangisan perempuan di sebelah nya seketika menatap ke sana, jantung nya berpacu hebat saat mendapati wanita tak memakai atasan di sebelah nya. Dan yang semakin membuat nya terkejut adalah ketika melihat banyak nya tanda kissmark di sana yang sangat yakin bahwa itu adalah perbuatan nya.


Dia mencoba mengingat kepingan demi kepingan memori yang hampir dia lupakan kejadian semalam.


"Damn!" Davio meraup wajah nya kasar. Dia ingat kejadian semalam di mana dirinya memaksa Wilia melakukan hubungan karena menganggap bahwa Wilia adalah wanita lain.


Dia tak tahu harus melakukan apa dan mengatakan apa pada wanita di samping nya yang sampai sekarang masih menundukkan wajah dengan air mata mengalir ke pipi.


"Bajingan!" Kau telah merusak masa depan ku!" Teriak Wilia seraya mendorong dada Davio yang juga belum mengenakan pakaian sampai terguling. Untung saja ranjang milik nya berukuran king size, jika ukuran nya kecil besar kemungkinan dia akan terjungkal ke lantai karena saking kuat nya dorongan Wilia.

__ADS_1


"Shitt!" Lagi-lagi Davio kembali mengumpat, tapi kali ini mengumpat bukan karena kesalahan yang di perbuat nya, melainkan karena akibat dari dorongan Wilia yang terlalu kencang sehingga menyebabkan tubuh yang tadinya tertutup selimut itu tersingkap, sehingga tubuh polos nya terekspos sempurna.


"Aaaaaa..!" Wilia kembali menjerit setelah beberapa saat setelah Davio membuat nya sadar akan kekhilafan nya. Andai tadi Davio tak mengumpat, pasti Wilia masih menatap benda kokoh tegak berdiri itu tanpa berkedip. Ini adalah kali pertama dia melihat nya, wajar saja dia sangat menikmati karena semalam dia tak berani membuka mata saat Davio memaksa dirinya karena wajah nya terlalu mengerikan untuk dilihat.


Tapi sekarang berbeda, dia merasa penasaran sehingga membuat nya tak sadar menatap benda itu sampai beberapa detik.


"Bastardd! Davio kembali mengumpat dalam hati.Dia segera menarik kembali selimut yang tersingkap itu untuk menutupi sebagian tubuhnya tanpa memperhatikan wajah Wilia yang memerah.


Sedangkan wanita itu, setelah sadar akan kesalahannya, wajah nya kembali memerah, dia bahkan tak berani menatap Davio padahal jelas-jelas tadi dia sedang menatap nyalang wajah laki-laki itu. Air mata nya pun mendadak berhenti akibat malu.


Setelah pekikan Wilia yang teramat keras tadi, suasana di kamar ini mendadak senyap dan begitu canggung. Tak ada yang berani membuka suara. Wilia yang tadinya ingin memaki Davio saja mendadak berhenti karena kejadian tadi. Dia masih menunggu Davio ingin mengatakan apa, tetapi nyatanya meski sudah menunggu beberapa menit laki-laki itu tetap diam dalam kebisuan.


"Hah, sudahlah. Laki-laki brengsek seperti mu tak akan mungkin merasa bersalah. Jadi mana mungkin mengatakan maaf." Wilia berdecih sinis menatap Davio yang masih saja terpaku di tempat nya.


Sudah lah, bodo amat dia mau meminta maaf atau tidak. Mau memberi penjelasan atau tidak. Lagian meski Davio mengucapkan kata maaf sampai seribu kali pun tak akan kembali kesucian nya yang sudah terlanjur dia renggut.


Wilia berusaha beranjak dari sana setelah melilitkan sebagian selimut ke tubuhnya. Bodo amat Davio akan telanjang bulat setelah selimut nya di tarik, yang penting dia bisa menutupi tubuh nya yang sudah tak suci lagi.

__ADS_1


Impian untuk memberikan yang pertama pada suaminya kelak telah hancur, tak ada lagi yang bisa dia pertahankan kali ini. Tentu saja itu membuat nya sangat marah.


Sebenarnya Wilia ingin sekali meluapkan kemarahannya dengan mengatainya kata-kata najis agar sebanding dengan kelakuan Davio yang najis itu, tapi dia kembali berpikir tak ada gunanya pula dia berkata-kata kotor karena tak akan mampu mengembalikan keadaan.


"Shitt..," Lagi-lagi Davio kembali dibuat mengumpat dengan kelakuan Wilia. Bagaimana tidak? Tubuh polos nya yang berusaha dia tutupi itu kembali terekspos setelah Wilia menarik selimutnya dengan keras lalu melilit kan ke tubuh nya tanpa memperdulikan keadaan Davio yang seperti bayi.


Namun kali ini Davio tak akan merasa malu dengan tubuh polos nya karena Wilia sendiri yang membuat nya seperti ini. Dia menatap Wilia yang sedang berusaha berjalan kearah kamar mandi namun tampak sangat kesulitan. Davio merasa ada yang tidak beres, apakah dirinya main terlalu keras dan membuat Wilia sampai tak bisa berjalan?


Tidak mungkin kan wanita yang suka menggoda banyak laki-laki itu masih perawan? Apalagi dia hidup di negara bebas, mana mungkin ada wanita yang masih bisa menjaga kesucian nya. Konyol sekali pemikiran nya ini.


Dia menggeleng-gelengkan kepala nya beberapa kali, namun saat tatapan itu tak sengaja melihat sprei yang terdapat bercak merah disana membuat nya seketika melotot.


Deg.


Jantung nya kembali berpacu dengan sangat cepat. Jika tadi biasa saja, meksi merasa bersalah tetapi tak sebegitu besar karena berpikir dia memperkosa wanita yang bukan perawan. Tapi kali ini beda, dia tahu bahwa Wilia adalah seorang gadis dan dia lah yang merenggut nya, hati Davio bergemuruh hebat mengingat kesalahan nya uang sangat besar.


Dia kembali menatap Wilia yang belum sampai juga ke kamar mandi akibat jalannya yang terpincang-pincang membuat hati nya tergerak untuk mengikuti.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang lagi Davio bangkit dengan tubuh nya yang masih polos dan mengangkat tubuh Wilia membawa nya ke kamar mandi.


"Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Wilia benar-benar tak bisa menahan emosi nya dengan kelakuan Davio yang memperlakukan nya seenak jidat saja.


__ADS_2