
"Wilia, dimana kamu?" Davio begitu terpukul saat terbangun sudah tak ada sang istri disampingnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika melihat pesan masuk yang menunjukkan sebuah bukti kehamilan serta foto dirinya bersama seorang wanita beberapa bulan lalu, dia langsung mencari sang istri ke seluruh penjuru ruangan. Namun terlambat, semua nya sudah terlambat! Wilia benar-benar sudah pergi.
Seluruh pakaian dan barang-barang nya tidak tersisa, tubuh bergetar Davio luruh ke lantai. "Wilia, kenapa kau langsung pergi? Kenapa tidak meminta penjelasan dari ku?" Gumam nya sembari menangis tersedu-sedu, menyesali kecerobohannya yang tak bangun meski istrinya pergi dari rumah.
Beberapa detik kemudian, dia kembali tersadar dari tindakan bodoh nya. Menangis tidak lah memecahkan masalah, yang harus dia lakukan saat ini adalah mencari keberadaan Wilia. Dia yakin, wanita nya belum pergi jauh.
Davio mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Dia meminta bantuan teman nya yang memiliki kekuasaan tinggi di kota ini untuk menutup semua akses transportasi.
Setelah semuanya beres, Davio kembali bangkit untuk mencari pakaian karena saat ini masih mengenakan bokser tanpa atasan.
Setelah berpakaian rapi tanpa mandi, Davio meraih kunci mobil untuk pergi mencari Wilia.
"Please, Wilia. Jangan pergi. Ini tidak seperti yang kamu kira, aku dijebak." Gumamnya dengan tangan nya sibuk mengemudi dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dia akan membalas perbuatan wanita yang berani menjebak nya. Davio sangat yakin jika malam itu dia tak melakukan apapun pada wanita itu, dan hasil USG itu bukanlah bayi milik nya.
Ting
Bunyi ponsel berbunyi, Davio meminggirkan mobilnya ke dekat trotoar lalu membuka pesan masuk. Ternyata dari seorang IT yang bertugas melacak keberadaan Wilia, dia mengatakan terakhir kali titik keberadaan Wilia berada pada jalanan menuju arah bandara.
Davio segera memutar balik ke sana. Pikiran nya berkecamuk hebat, mengingat bandara, dia sangat yakin Wilia berniat ingin pergi sejauh mungkin dari nya. "Tidak, Wilia. Kamu tidak boleh pergi dari ku. Kau harus selalu bersama ku," Gumamnya seraya meneteskan air mata.
Davio kembali mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan tanpa memikirkan keselamatan nya. Untung saja jalanan disini tidak macet, tidak seperti di negaranya. Alhasil dia bebas mengemudi sekencang mungkin tanpa takut menabrak orang di depan nya.
.
.
__ADS_1
.
Di tempat yang berbeda, seorang wanita berperut besar, dengan seluruh tubuhnya yang ditutupi pakaian serba hitam longgar beserta kerudung dan cadarnya sedang kesusahan menggeret koper yang semakin lama terasa semakin berat.
Sudah puluhan kilometer dia tempuh dengan jalan kaki demi mengantisipasi hal-hal yang bisa saja terjadi. Dia bahkan rela menutupi seluruh tubuh indah nya yang biasa dipamerkan pada semua laki-laki demi keselamatan identitas nya.
"Permisi, nona. Boleh buka penutup wajah Anda?" Seseorang penjaga saat memasuki bandara menghentikan langkah Wilia. Wanita itu tampak membeku dengan seluruh persendian nya yang sudah menegang namun tak nampak siapapun karena tertutup rapat.
"Mohon maaf, agama saya tidak memperbolehkan saya membuka penutup wajah pada laki-laki selain suami saya." Sahutnya dengan nada lembut tanpa ketakutan diiringi seulas senyum, kentara pada kelopak matanya yang menyipit.
Pria itu tampak meniti tubuh Wilia dari atas hingga bawah, kemudian menganggukkan kepala, memperbolehkan Wilia memasuki bandara.
Huh, akhirnya Wilia bernafas lega. Dia bisa keluar dari kota ini dengan pasport serta identitas berbeda.
__ADS_1