One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Pregnant


__ADS_3

Kehidupan Wilia setelah pernikahannya dengan Davio ternyata tak merasakan perbedaan apapun. Dia bahkan terkadang lupa kalau status nya sudah menikah, karena Davio sering pulang larut malam atau bahkan sama sekali tidak pulang selama seharian penuh, itu pula yang membuat Wilia tak takut Davio akan meminta mengulang kejadian satu bulan lalu. Ya, pernikahan Davio dan Wilia sudah berjalan selama satu bulan.


Pagi ini, entah kenapa tiba-tiba Wilia mual-mual hingga membuat nya sangat lemas. Ingin sekali menghubungi Davio karena malam ini dia tak pulang ke apartemen, namun Wilia merasa sungkan, karena merasa Davio sudah tak seperti dulu. Pria itu mendadak berubah menjadi pria yang sangat dingin setelah satu hari pernikahan nya. Dan Wilia tak tahu apa yang menyebabkan Davio berubah.


Siang nya, setelah pukul 10 pagi, Wilia baru mendengar suara pintu terbuka yang artinya Davio sudah pulang. Seperti biasa, pria itu langsung mencari makanan, kebetulan Wilia tak memasak hari ini karena merasa tubuhnya tak bertenaga.


Tak lama setelahnya terdengar suara pintu terbuka, rupanya Davio yang masuk ke kamar. Pria itu melepaskan baju dan juga celananya hingga menyisakan bokser saja. Wilia memang sudah terbiasa dengan pemandangan Davio yang hanya memakai celana bokser tanpa pakaian atasan, membuat nya tak terkejut dengan tingkah nya.


"Hari ini kau tidak memasak?" Tanya Davio menatap dingin Wilia setelah menemukan Wilia sedang berbaring di kamar.


Wilia hanya menggeleng lemah, rasanya hanya untuk menjawab pertanyaan saja Wilia sudah tak mampu.


"Ck, Apa pekerjaan mu hanya tidur-tiduran dan main ponsel? Dasar tak berguna!"


Brakk.


Davio menutup pintu kamar secara kasar hingga membuat Wilia sangat terlonjak, dan sikap Davio kali ini benar-benar membuat Wilia merasa sakit hati.


Bukan hanya suara pintu yang membuat Wilia sakit hati, namun perkataan Davio barusan benar-benar membuat Hati Wilia mencelos, sebelumnya dia tak pernah meminta Davio menikahi meski sebenarnya orang yang memang harus bertanggung jawab atas kesalahan mereka adalah Davio. Namun setelah keduanya menikah, Davio justru memasang duri di setiap langkah Wilia, membuat Wilia merasa tak betah dengan pernikahannya.


Karena tak ingin membuat Davio semakin marah, Wilia mengejar Davio keluar kamar.


"Mau sarapan apa? Biar ku buatkan." Wilia mendekati Davio yang sedang membuka kulkas mengambil air minum.


"Tidak perlu! Aku sudah tidak berselera!" Sahutnya ketus dengan tatapan mata tak bersahabat dan hanya menatap Wilia sekilas.

__ADS_1


Hah, Wilia menghela nafasnya berat. Entah cobaan apa yang membuat nya sampai terjerat dengan pria arogan sepertinya. Namun dia harus sabar menunggu sebelas bulan lagi agar bisa terlepas dari pria ini.


"Kau sebenernya kenapa? Aku tadi tidak membuat sarapan karena tubuh ku sangat lemas." Sahut Wilia dengan suara rendah, berusaha untuk tidak terpancing emosi. Bahkan tenaga saja sudah tak punya banyak, jadi tak mungkin dia berkata menggunakan intonasi tinggi.


Wilia juga tidak ingin membahas perihal dirinya tadi pagi yang terus mual-mual karena pastinya Davio tak akan menganggap penting hal itu.


"Heh! Itu hanya alasan mu! Aku tahu kebiasaan mu yang suka menghabiskan waktu untuk membalas pesan dari para pria mu!"


Wilia tertegun mendengar nya, sejak kapan dirinya bermain ponsel untuk membalas chat para laki-laki? Bahkan sampai saat ini dia belum dekat dengan satu pria pun setelah kejadian salah mengirim foto tak senonoh pada Davio. Dan dengan entengnya Davio menuduh Wilia seperti itu, membuat Wilia benar-benar marah.


"Kapan aku menghabiskan waktu untuk membalas pesan laki-laki?" Tanya Wilia seraya menatap tajam Davio, dia sangat tidak suka jika dituduh hal-hal yang tidak pernah dia lakukan.


Andai dirinya tidak sedang lemah seperti ini mungkin dia sudah berbicara keras, untung saja dia sedang tak bertenaga membuat nya harus berbicara dengan intonasi rendah.


"Cih, masih pura-pura tidak pernah melakukan nya?" Davio menatap sinis seraya mendekati Wilia hingga membuat wanita itu perlahan mundur hingga tubuh nya membentur meja.


"Cukup!" Andai tangan nya tidak terhimpit tubuh Davio, mungkin tangan kanan Wilia sudah mendarat di pipi Davio dengan kasar saat ini.


"Kenapa? Kau tidak terima?" Davio mundur satu langkah dengan menatap sinis tubuh Wilia. "bukankah apa yang ku katakan benar? Kenapa kau harus pura-pura tidak terima? Kau tidak perlu khawatir, pernikahan kita hanya satu tahun, dan setelah pernikahan kita usai, kau bebas menjerat laki-laki mana pun dengan tubuh mu.


"Kau!- kau keterlaluan, Davio." Teriak Wilia mengerahkan seluruh tenaga nya karena merasa Davio sudah sangat keterlaluan menuduh nya seperti itu. Dan di detik berikutnya tubuh Wilia terkapar ke lantai. Davio masih terpaku melihat nya, seakan tak percaya bahwa Wilia memang pingsan.


"Wilia? Jangan pura-pura pingsan. Aku tidak akan berempati dengan mu." Meskipun hatinya merasa takut kalau Wilia benar-benar pingsan, tapi Davio tetap memuntahkan kata-kata pedasnya.


"Wilia? Bangun. Jangan menakut-nakuti ku." Kini perkataan Davio terdengar bergetar, pria itu berjongkok memastikan keadaan Wilia.

__ADS_1


"Wilia, kau kenapa?!" Davio langsung dilanda kepanikan saat menyadari wanita nya benar-benar pingsan.


"Wilia, kau kenapa? Jangan membuat ku takut!" Karena terlalu panik, Davio langsung mengangkat tubuh Wilia dan mengangkat nya untuk dibawa ke dokter tanpa menyadari mengingat saat ini hanya memakai celana bokser tanpa atasan.


Setelah keluar apartemen, Davio langsung menuju ke arah lift. Namun baru beberapa langkah, dia melupakan sesuatu.


"Shitt!" Davio mengumpat saat mengingat tidak membawa kunci mobil. Dia kembali ke dalam untuk mengambil kunci dengan Wilia yang masih berada di gendongan.


.


.


Davio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, untung saja keadaan jalanan sedang tidak macet, dia bisa menerobos lampu merah karena menurut nya aman.


Tak membutuhkan waktu 20 menit, Davio sudah berada di rumah sakit center di kota ini.


"Dokter...! Tolong istri saya!" Davio berteriak kencang hingga membuat perawat yang berjaga di ruang itu ikut panik.


Tak lama setelahnya beberapa perawat membawa brangkar, Davio meletakkan tubuh istri nya dengan sangat hati-hati dan ikut mendorong istrinya menuju ruang pemeriksaan.


Davio mondar-mandir di depan ruangan yang masih tertutup, dia merasa pemeriksaan Wilia sangat lama padahal baru saja satu menit menunggu. Beberapa orang melihat kearah Davio dengan tatapan aneh, namun Davio tak membalas nya karena sedang khusyuk berdoa untuk istrinya.


Pintu ruangan terbuka, seorang dokter dan dua perawat keluar dari ruangan. "Apakah Anda suami dari pasien?" Tanya dokter berjenis kelamin laki-laki.


"Ya, saya suaminya, dok. Apa yang terjadi dengan istri saya? Apa dia memiliki riwayat penyakit serius? Dia tidak mengidap penyakit mematikan, dok?" Davio bertanya secara beruntun hingga membuat dokter itu geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pak. Pingsan seperti ini seringkali terjadi pada wanita yang baru saja hamil."


"Tapi sebelumnya dia tidak pern-What?! HAMIL??"


__ADS_2