One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Menerima


__ADS_3

"Wilia, mungkin aku memang tidak bisa bersikap apalagi berkata-kata romantis. Tapi sungguh, apa yang kukatakan bukanlah suatu bualan. Aku serius ingin menjalani pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya seperti yang lain"


"Kenapa?" Tanya Wilia. Dia menatap intens wajah Davio yang sedang menatap nya penuh kesungguhan. "kenapa kau merubah sendiri keputusan mu?" Padahal sebelumnya, Davio lah yang membuat surat kontak pernikahan. Lalu kini, dia pula yang ingin menghentikan. Itu membuat pertanyaan besar dalam benak Wilia dengan ketidaktegasan Davio dalam mengambil suatu tindakan.


"Karena aku sudah mencintai mu." Katanya lirih. "entah sejak kapan perasaan ini muncul, yang jelas aku sudah mulai jatuh cinta pada mu, Wilia. Aku mencintai semua yang ada pada dirimu, dan aku ingin selalu berada didekat mu."


Mendengar penjelasan Davio, Wilia tak bisa lagi berkata-kata kare diapun merasakan hal yang sama.


"Apakah kau mau menerima ku sebagai suami mu seutuhnya?" Davio menatap penuh harap. Dia sungguh serius dengan perkataan nya.


Sedangkan Wilia sedang meneliti bola sang suami, mencari kebenaran di sana.

__ADS_1


Tak langsung mengambil keputusan, wanita memikirkan matang-matang permintaan Davio. Bagaimana pun dia tak ingin mengambil keputusan salah, dia harus menimang nya karena ini menyangkut masa depan dirinya.


"Ayolah, Wilia. Apa kau tak kasihan pada baby kita setelah lahir bila kita harus hidup terpisah?


Benar juga yang dikatakan Davio, jika pernikahan nya harus kandas seiring kontrak itu selesai maka tak tahu lagi bagaimana nasib anak nya kelak jika tidak tumbuh diantara keluarga yang utuh.


Huft. Wilia menghela nafasnya panjang. Dia menyakinkan hati bila keputusan yang akan diambil nya adalah yang terbaik untuk semuanya.


Sontak Davio menatap wajah istrinya dengan pandangan berbinar-binar. "Terimakasih, terimakasih, sayang." Davio tak memperdulikan perkataan Wilia yang belum selesai. Dia segera meraih kedua tangan Wilia dan mengecup nya berulangkali. Bukan hanya itu, dia juga mendaratkan banyak kecupan di perut buncit Wilia.


"Terimakasih, Wilia. Aku sangat bahagia, aku janji tidak akan mengecewakan mu. Dan aku bisa pegang semua janji ku yang telah ku ikrar kan." Sahutnya lagi penuh keyakinan.

__ADS_1


"Tentu saja kau harus menepati semua janji mu, atau ... aku akan menghukum mulut manis mu ini." Satu telunjuk Wilia mendarat di bibir Davio. Dan tindakan itu sontak memancing hasrat Davio yang telah berdomansi selama tujuh bulan lamanya.


"Benarkah?" Tantang Davio.


Belum sempat Wilia, bibirnya sudah lebih dulu disumpal oleh bibir Davio hingga kedua benda kenyal itu saling beradu. Semakin lama, keadaan semakin memanas. Ruangan yang tadinya sejuk karena pendingin mendadak panas melihat betapa ganasnya pertempuran dua manusia itu.


Davio yang sudah tak tahan lagi segera mengangkat tubuh wanita nya untuk dibawa menuju ranjang.


Saling melucuti pakaian dengan tak sabaran, seakan-akan ini adalah momen krusial yang tak bisa ditunda lagi. Baik Davio maupun Wilia, keduanya memiliki keinginan yang begitu menggebu-gebu. Hingga pada kegiatan inti, Davio kembali membenamkan miliknya seutuhnya pada sarangnya dengan penuh kelembutan disertai cinta. Membuat sesi percintaan kali ini sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya yang hanya menuruti hawa nafsu tanpa tanpa ada rasa cinta.


"Terimakasih, sayang. I love you." David mencium kening Wilia seraya membisikkan kata cinta. Membuat Wilia semakin bahagia.

__ADS_1


__ADS_2