
Di suatu kamar, terlihat dua insan yang saling memeluk memberi kehangatan tanpa mengenal waktu.
Dering ponsel yang semakin lama terdengar semakin nyaring seakan memanggil jiwa kesadaran Wilia untuk membuka mata. Wanita itu dengan setengah sadar mengambil ponsel yang sejak tadi berdering, namun saat tangan nya mampu menggapai ponsel yang berada di atas nakas itu bunyi mendadak berhenti. Seakan telah diprogram untuk berhenti pada waktunya.
Wilia mengerjap-ngerjap beberapa kali menyesuaikan kilauan matahari yang menerobos ke sela-sela celah jendela tak sempurna tertutup gorden.
"Davio," Wilia memanggil Davio sembari mengguncang pelan tangan nya yang sedang membelit erat perutnya. Bukannya mengendur, pelukannya justru semakin mengeratkan membuat Wilia hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah sang suami. Sebenarnya dia juga sangat nyaman di posisi seperti ini, oleh karena itu lebih memilih membiarkan suaminya memeluknya erat.
Padahal niatnya dia ingin memberitahu ponselnya berdering, takut seseorang memanggil nya dalam situasi urgent. Mau tak mau akhirnya Wilia berinisiatif membuka ponsel nya, untung saja semalam dia sudah meminta ponsel nya agar tak di password lagi. Davio menyetujui dengan janji Wilia tak akan berbuat ulah seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
"Davio, ada pesan masuk. Bangun..," Sekali lagi, Wilia mengguncang-guncang lengan Davio. Namun rupanya tak ada pergerakan sama sekali. Akhirnya Wilia memutuskan untuk membuka pesan masuk itu.
Deg.
Jantung nya berpacu hebat melihat pesan dari nomor tak memiliki nama. Disana terdapat dua buah foto yang memperlihatkan foto usg serta foto sepasang pria dan wanita yang sedang tertidur dalam keadaan tak memakai apapun.
Bola mata Wilia melebar sembari membekap mulutnya menatap tak percaya dia buah foto. Dia tak sanggup berlama-lama melihat nya, bahkan segelintir pesan yang tertulis itu terlihat memburam akibat air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk nya.
Tak ingin membuang waktu lama, dia segera meraih baju untuk dipakai tanpa membersihkan diri dan mengemasi barang-barang nya.
__ADS_1
Ternyata semua laki-laki itu sama, hanya pandai mengobral janji namun tak bisa menepati. Baru semalam dia merasa di ratu kan dan pagi ini kembali dihempaskan ke dasar sungai paling bawah. Membuat hati nya seperti diacak-acak dan berkecamuk hebat.
Aku tak akan memaafkan mu lagi, Davio. Kali ini perbuatan mu benar-benar sudah sangat keterlaluan. Batin nya seraya mengemasi barang-barangnya ke koper. Dia ingin pergi sejauh mungkin dari hadapan Davio tanpa diketahui pria itu.
Sebenarnya rencana tentang Davio yang ingin mengambil anaknya sudah diketahui Wilia. Namun wanita itu lebih memilih diam karena tak ingin mempermasalahkan lagi, terlebih ketika melihat ketulusan Davio. Namun setelah mengetahui kenyataan ini, sepertinya memang dirinya harus pergi sejauh mungkin dari pria itu.
Biarlah dia pergi membawa cinta nya yang begitu besar. Wilia tak ingin terus-terusan hidup dalam bayang-bayang cinta nya yang terasa maya.
Aku pergi, Davio. Aku harap kau bisa bertanggung jawab atas perbuatan mu pada wanita-wanita itu. Kau harus membuat nya bahagia, jangan sampai kau memperlakukan nya seperti saat memperlakukan ku. Gumam nya dalam hati setelah berhasil mengemasi seluruh barang-barang nya menjadi satu koper besar. Dia menatap wajah pulas Davio dari tempat nya, ingin sekali rasanya menghadiahkan kecupan terakhir untuk nya, namun rasa sakit hatinya menghentikan keinginan itu.
__ADS_1
Dia melangkahkan kaki, meninggalkan semua kenangan yang ada pada setiap sudut ruangan ini. Meski dengan berat hati, tapi Wilia mencoba tegar agar bisa pergi darinya.