One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Mengulang Kesalahan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Wilia benar-benar tak bisa menahan emosi nya dengan kelakuan Davio yang memperlakukan nya seenak jidat saja.


"Diam," Sahut Davio yang mulai kewalahan saat Wilia terus memberontak. "jika kau terus memberontak, jangan salahkan aku kalau bokong mu mencium lantai." Sahut nya lagi. Memang benar Davio sangat kewalahan untuk menyeimbangkan tubuh agar Wilia tak terjatuh saat dirinya terus-terusan memberontak.


Dan akhirnya berhasil, Wilia tak lagi memberontak. Bahkan tangan nya semakin erat memeluk leher Davio karena takut terjatuh.


"Good, girl." Davio sedikit menarik sudut bibir nya melihat tingkah lucu Wilia saa ketakutan.


Davio mendudukkan tubuh Wilia di atas wastafel dengan hati-hati. "Duduk di sini, aku akan menyiapkan air.


Davio menyalakan keran bathtub lalu mengatur temperatur agar airnya tidak kepanasan dan juga tak kedinginan. Dia juga menuangkan sabun mandi miliknya dan sedikit aromaterapi. Dan semua kegiatan itu tak luput dari pandangan Wilia.


"Kali ini kau terpaksa mandi menggunakan sabun ku, lain kali aku akan membeli sabun yang biasa kau pakai."


"Tidak ada lain kali, karena setelah ini aku tak akan kesini lagi. Dan untuk nilai, aku sudah memikirkan dengan matang. Aku bersedia mengulang mata kuliah di tahun berikutnya." Sahut Wilia dengan tatapan datar.


Sontak saja Davio menghentikan gerakan nya. "Apa maksud mu?" Tanya Davio bukan karena tak faham dengan perkataan Wilia melainkan agar Wilia mengulang perkataan tadi memastikan Davio benar-benar tak salah dengar.


"Aku mengatakan aku akan mengulang mata kuliah mu, dan hari ini adalah hari terakhir aku berada di sini. Selebihnya aku hanya akan bertemu dengan mu di kampus saat mata kuliah mu." Meski dengan nada kesal Wilia terpaksa mengulang perkataan nya.


"Tidak bisa! Mulai saat ini kau akan tetap tinggal di sini. Aku harus memastikan kau tak akan mengandung benih ku." Sahut Davio dengan rahang sedikit mengeras. Entah kenapa dia marah dan kesal mendengar Wilia tak akan ke sini lagi.

__ADS_1


"Tidak perlu memastikan karena itu tidak akan pernah terjadi." Sahut Wilia mantap.


"Apa maksud mu?" Tanya Davio mengerutkan dahi.


"Aku akan memakai alat kontraasepsi agar tak hamil."


"Kau gila, ya? Apa kau tahu? memakai alat kontraasepsi bagi wanita yang belum memiliki anak itu akan sangat membahayakan untuk kedepannya!" Sahut Davio asal-asalan. Entah benar atau tidak yang dikatakan Davio tadi, yang jelas dia tak ingin Wilia menggunakan obat pencegah kehamilan. Tidak tahu kenapa dia sangat tidak setuju Wilia ingin menggunakan alat pencegah kehamilan yang jelas-jelas ingin membunuh benih super nya.


"Apakah benar begitu? Kenapa aku tidak pernah tahu?" Tanya Wilia sedikit terkejut karena sebelumnya dia tak pernah tahu dampak menggunakan obat pencegah kehamilan karena sebelumnya memang dia belum pernah menggunakan nya. Dia hanya tahu dari beberapa teman nya yang sering melakukan free sekks dengan banyak laki-laki.


"Itu karena kau bodoh, makanya tidak tahu." Sahut Davio seraya menjentikkan jari nya di kening Wilia saat tubuh laki-laki itu sudah berada di hadapan Wilia.


"Issh ... Sakit..," Wilia mengusap kening nya yang terasa sakit akibat jentikan keras Davio. Jahat sekali Davio ini, sudah di perawanin masih ditambah penyiksaan, benar-benar jahat Davio memang.


"Aaaaaa...!" Wilia memekik saat selimut yang sedari tadi melindungi tubuh nya sudah teronggok ke lantai.


"Ck, tidak usah pura-pura malu. Aku sudah melihat semua bagian tubuh mu. Lagian kau juga melihat ku polos malah sangat menikmati." Sahut Davio enteng dengan tangan nya kembali membawa Wilia ke dalam gendongan.


Wajah Willia memerah seperti kepiting rebus mendengar perkataan frontal Davio yang sialnya memang benar. Ternyata pikiran kotor Willia begitu mudah ditebak Davio. Memang sejak tadi keadaan polos Davio sangat dimanfaatkan Wilia. Sejak tadi dia menikmati pemandangan indah itu, mulai dari perut kotak-kotak Davio yang seperti roti sobek, lalu jika tatapan nya semakin ke bawah dia akan melihat benda perkasa yang membuat pipi nya semakin merona. Astaga, wajah Wilia memerah membayangkan kejadian semalam saat benda yabg sekarang berdiri tegak itu telah memasuki intinya dan berhasil membuat nya menjerit nikmat meksi sebelum nya dibuat kesakitan dengan benda itu.


"Ck, messum!" Kening Wilia kembali disentil saat melihat Wilia sedang melamun yang pastinya sedang berpikiran jorok.

__ADS_1


"Apaan sih! Sakit!" Wilia kembali mengusap kening yang sebenarnya tak sakit karena sentilan tadi sebenarnya tadi keras seperti sebelumnya.


"Apa kau tak merasakan ada sesuatu mengeras menusuk tubuh mu?" Tanya Davio dengan suara serak ny.


Siall, dengan kulit nya yang bersentuhan langsung dengan kulit Wilia membuat nya kembali dihinggapi hawa nafsu. Apalagi saat dua bongkahan daging kenyal itu bersentuhan langsung dengan dada bidang nya membuat sesuatu di bawah sana mengeras dan menusuk tepat di tengah-tengah pangkal paha Wilia karena posisi nya yang sangat menguntungkan.


"Aaaa ...! Dasar messum!" Teriak nya seraya menggoyangkan tubuh hingga membuat benda yang keras itu semakin berdiri tegak namun bukan keadilan. Wilia baru merasakan ada sesuatu memasuki inti nya. Pantas saja dari tadi dia merasa tidak nyaman dan merasa ada yang mengganjal.


"Diam lah, atau aku benar-benar akan mengulang kejadian semalam." Ancam nya yang sudah diliputi kabut gairah. Meski begitu dua harus bisa mengontrol agar tak membuat nya tak terkendali.


"Sama-sama messum tidak perlu saling menghina," Kata Davio lagi seraya menarik sedikit sudut bibir nya.


Wilia membelalakkan matanya lebar-lebar saat merasakan benda itu benar-benar sudah menusuk di area intinya. "Aaa... Lepaskan aku..!" Teriak Wilia seraya menggoyang-goyang kan tubuh nya agar bisa lepas, namun pada kenyataannya apa yang dilakukan nya itu justru semakin membuat benda tumpul itu semakin tenggelam ke dalam.


"Wilia..," Geram Davio dengan mata yang sudah menggelap.


Wilia yang menyadari akan kesalahannya hanya bisa menelan saliva nya susah payah. Apalagi dia tak memungkiri jika tubuh nya ingin lebih setelah benda tumpul itu benar-benar masuk dan tak rela jika membiarkan nya kembali keluar.


"Aku sudah memperingatkan mu sejak tadi, jadi jangan salahkan aku jika harus mengulang kejadian semalam."


"Ti-mmpphh.." Perkataan Wilia tenggelam bersamaan dengan Davio menenggelamkan bibir nya. Akhirnya dua bibir itu saling beradu hingga keadaan semakin memanas. Davio menggerakkan tubuh nya dengan posisi Wilia masih berada dalam gendongan. Satu tangan nya dia gunakan untuk menumpu tubuh Wilia sedangkan satu tangan lagi digunakan untuk menyentuh apapun yang diinginkan Davio.

__ADS_1


Akhirnya mereka mengulang kesalahan semalam. Ini tidak bisa dikatakan kesalahan, jika semalam memang kesalahan dan atas dasar ketidaksengajaan. Tapi sepertinya kali ini mereka melakukan nya benar-benar atas kemauan.


__ADS_2