
Hari demi hari, Davio semakin memperlakukan Wilia dengan begitu baik. Bahkan Wilia sampai merasa heran dengan perubahan Davio yang berubah seratus delapan puluh derajat. Kini pria itu tak pernah lagi menampilkan sikap dingin serta ucapan ketusnya. Wilia merasa diperlakukan seperti seorang ratu. Apapun yang menjadi keinginan wanita itu selalu berusaha di wujudkan Davio.
Sebenarnya Davio melakukan semua itu karena rasa bersalah nya, akibat kesalahan satu malam nya bersama seorang wanita, membuat Davio benar-benar berubah.
Dan semua sikapnya itu tentu membuat hati Wilia menghangat, perlahan-lahan rasa cinta mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Hingga usia kandungan nya saat ini sudah mencapai tujuh bulan, Davio yang selalu membuat Wilia senang, berhasil meruntuhkan semua ego wanita itu. Dan kini, Wilia telah seratus persen jatuh cinta pada Davio.
Begitu pula dengan Davio, pria itu semakin ingin terus berdekatan dengan Wilia. Dia merasa hari-hari nya semakin berwarna bila menghabiskan waktu dengan nya.
Apalagi sekarang Wilia sudah pernah berulah yang membuat nya jengkel. Sebaliknya, wanita itu justru sering melakukan tugas-tugasnya sebagai istri. Belajar membuat aneka masakan yang dia suka, menyiapkan keperluan nya, dan terkadang membantu memijat nya saat kelelahan.
Hal itu semakin membuat hati Davio campur aduk, antara senang dan sedih muncul diwaktu bersamaan. Dia senang karena akhirnya dia merasakan kembali apa yang dinamakan cinta sesungguhnya. Bukan hanya itu, dia juga merasakan betapa bahagianya diperhatikan orang yang dicintai.
Namun disisi lain dia juga merasa sedih, lebih tepatnya kecewa. Dia kecewa pada diri sendiri yang tak bisa menjaga kesucian tubuhnya dari wanita lain. Hal itu membuat belenggu tersendiri pada dirinya.
Meski begitu, Davio tetap berusaha untuk menjadi manusia lebih baik lagi.
Seperti malam ini, malam yang menurut Davio merasa spesial. Karena malam ini, dia akan mengungkapkan rasa cinta nya pada sang istri.
"Wilia," Panggil Davio setelah terlalu lama mereka dalam keheningan.
Davio meraih satu tangan Wilia, membuat wanita itu menghentikan kegiatan nya yang sedang menyentuh sendok makanan. Ya, mereka sedang makan malam romantis di apartemen sendiri yang sudah dihias sedemikian indah oleh para pekerja yang di sewa Davio. Membuat ruangan yang tadinya nampak sederhana menjadi sangat indah.
Davio memang sengaja dinner romantis di apartemen karena tak ingin membuat Wilia kelelahan. Wanita itu memang sering mengeluh kelelahan, mungkin karena efek kandungan yang semakin besar. Dan Davio sangat memaklumi nya.
"Y-ya," Ditatap sedemikian intens membuat nya tergagap. Pipinya bahkan memanas.
Meskipun dulu mereka sering bertatapan seperti itu, tapi suasana nya sangat berbeda dengan sekarang. Dulu diantara mereka belum ada yang memiliki rasa, tapi sekarang keduanya sudah saling mencintai.
Bahkan tangan nya bersentuhan dengan tangan Davio saja membuat hati Wilia berdesir, mungkin inilah yang dinamakan nikmat nya cinta.
__ADS_1
"Wilia, ada sesuatu yang ingin ku katakan pada mu," Perkataan Davio sedikit bergetar. Entah dimana kata-kata yang sudah dirangkai dengan sangat baik itu kenapa mendadak hilang.
"Ingin bicara apa?" Tanya Wilia pura-pura tidak mengerti. Padahal sebenarnya wanita itu sudah sedikit mencium bau-bau sesuatu yang membuat nya merasa tak enak. Bahkan Wilia juga merasa perutnya seperti diaduk-aduk tak enak, dengan pipi sudah memanas sejak tadi.
"Wilia, aku memang bukan laki-laki baik. Aku juga bukan laki-laki sempurna juga dengan masa lalu yang buruk. Aku ingin, dengan segala kekurangan yang ku punya, kau bisa menjadi pelengkap untuk ku. Aku memang tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku bisa berjanji satu hal, aku akan selalu mencurahkan seluruh perasaanku hanya untuk mu. Wilia, maukah kau hidup menua bersama ku?" Dan di detik itu pula, Davio menyodorkan sebuah cincin yang masih bertengger dalam wadah berwarna merah, namun karena saking gemetar nya hingga membuat cincin yang sedang dipegang tidak seimbang dan..,
Kling..,
Cincin itu terjatuh ke lantai dan menggelinding ke kolong meja.
Suasana yang seharusnya romantis menjadi tak karuan. Wilia yang tadinya ikut tegang mendadak berubah ingin sekali tertawa keras namun berusaha dia tahan.
Shitt..! Sedangkan Davio, pria itu sedang mengumpat habis-habisan dalam hati.
Dia berjongkok mengamati kolong meja, mencari benda keramat yang membuat nya kesal sekaligus malu yang tak berkesudahan.
Tangan nya tanpa sadar masih menggenggam wadah cincin itu segera dia hempaskan asal-asalan.
Niat hati ingin bersikap romantis, ujung-ujungnya justru dibuat siall dengan ide konyol itu.
"Apa ketemu?" Tanya Wilia dengan suara kecilnya. Dia tahu saat ini Davio sedang kesal dan juga malu, dan sebagai istri yang baik, dia tak akan menertawakan nya.
"Belum, coba buka sedikit kaki mu, sepertinya ada dibawah kursi yang kau duduki."
Refleks Wilia mengangkat kakinya.
Dug.
"Ssshhh.." Entah kesialan dari mana, kaki wilia justru mengenai hidung Davio yang sudah berjongkok di depan wanita itu.
__ADS_1
"Eh!" Wilia segera membuka taplak meja dan melihat ke bawah.
Betapa terkejutnya ternyata Davio berjongkok di depannya dengan tangan yang sibuk mengusap-usap hidung yang tampak memerah.
Wilia meringis membayangkan betapa bersemangat nya tadi saat mengangkat kaki, pasti tenaga yang dikeluarkan juga tidak sedikit.
"K-kenapa kau berada di situ?" Bodoh! Pertanyaan macam apa itu? Wilia membatin. Jelas-jelas tahu bahwa Davio sedang mencari cincin, masih saja bertanya konyol.
Hap.
Huh, akhirnya Davio menemukan kembali cincin nya.
Dia segera bergeser posisi keluar kolong dan berdiri.
Tanpa berkata-kata, dia segera memakaikan cincin itu pada jari manis Wilia, membuat wanita itu tersentak.
"Eh!" Wilia menoleh kearah Davio dengan sedikit terkejut.
"Aku tidak memerlukan jawaban mu karena aku tahu kau juga mencintai ku,"
"Cih, pede sekali!" Gumam Wilia. Namun dalam hati mengiyakan perkataan Davio.
Davio memang sudah tak ingin romantis-romantisan lagi. Kapok dengan kejadian naas tadi hingga membuat nya tersadar, tidak perlu melakukan hal semacam itu lagi karena Davio pun sebenarnya sangat tahu dengan perasaan Wilia. Jika tidak, mana mungkin pria itu berani melamar, eh! Lebih tepatnya mengutarakan rasa cinta.
"Sekarang tak ada lagi kontrak pernikahan. Karena mulai saat ini juga, kau adalah istri ku selamanya. Begitu pula dengan ku, aku akan menjadi satu-satunya lelaki yang menjadi suami mu."
Sreeek ... Sreeeek ...,
Kertas itu berhasil disobek menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
Wilia yang masih sedikit terkejut hanya bisa diam, namun dalam hati tetap mengiyakan perkataan Davio.