One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)

One Night Stand with Dosen Panas (Mr. Dave, I Love You! 2)
Perceraian


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dari pertemuan nya dengan Wilia. Pria itu masih terus berjuang menaklukan hati Wilia yang sudah mengeras. Terlebih setelah dirinya tahu, bahwa anak di kandungan Wilia 4 tahun yang lalu kini sudah tumbuh menjadi putra yang sangat tampan, bahkan lebih tampan darinya.


"P-putra ku," Gumam Davio sembari menyentuh pipi putra nya yang sangat menggemaskan namun tak terjangkau karena tiba-tiba putra nya menjauh dan memilih bersembunyi dibalik tubuh Wilia. Tak mampu menahan air matanya yang sudah di bendung sejak tadi kala melihat buah hati nya sudah sebesar ini.


"Sudah ku katakan, dia tak ingin bertemu dengan mu." Kata Wilia dingin. Dia sangat jenuh dengan sikap Davio yang terus-terusan mengejar nya.


"Wilia, tak ada kah kesempatan untuk ku memperbaiki semuanya?" Tanya Davio lelah. Selama seminggu ini sudah berusaha mengejar Wilia. Meskipun bukan hanya penolakan yang dia dapat, tapi juga hinaan, Davio masih belum ingin menyerah begitu saja.


"Sudah ku katakan! Aku tidak pernah membutuhkan mu, cukup hidup dengan putra ku, aku sudah bahagia." Bohong, setiap hari bahkan Wilia tak mampu mengusir bayang-bayang Davio. Terlebih saat dia mengandung, Davio lah yang selalu ada di benaknya.


Namun kini Wilia memang sudah sedikit terbiasa akan ketiadaan Davio, hanya saja kenapa pria itu kembali muncul disaat-saat dia mulai mengikhlaskan nya?


Lalu, kenapa hatinya masih saja merasa sakit meskipun Davio sudah menjelaskan semuanya? Bahkan penjelasan Davio disertai bukti rekaman cctv 4 tahun silam yang menjadi penyebab retaknya hubungan mereka.

__ADS_1


Tapi kenapa hati ini masih saja belum menerima? Apakah ego-nya terlalu tinggi?


"Apa sebesar itu rasa sakit mu sampai-sampai kau benar-benar tak bisa memberi ku kesempatan?" Davio benar-benar lelah. Terdengar dari suaranya yang lemah dan pasrah disertai air mata yang sudah meng-anak sungai di pelupuk nya.


"Ya, Davio. Memang sebesar itu luka yang kau torehkan. Hingga rasa sakit ini menutup seluruh besarnya rasa cinta ku padamu," Air mata Wilia mulai mengalir. Dia menyentuh dada nya yang masih saja terasa sesak.


Mengingat semuanya, mengingat Beta jahatnya rencana Davio yang menikahi nya hanya sebagai pencetak keturunan membuat nya tertampar hingga terlempar sangat jauh. Sakit, itu sudah pasti. Butuh banyak waktu untuk menyembuhkan nya.


Jangankan berbalikan, meminta baikan lalu diterima itu saja sudah termasuk anugerah yang luar biasa. Mengingat betapa jahatnya Davio pada nya.


"Maafkan aku Wilia. Maaf ... jangan menangis lagi." Davio tak tahan melihat Wilia menangis. Dia ingin mengusap air mata itu, namun lagi-lagi Wilia lebih dulu mencegah nya.


Pria itu menghempaskan kepalan tangan itu ke udara seraya memalingkan wajah karena tak sanggup melihat istrinya mengeluarkan air mata dengan pilu.

__ADS_1


"Wilia, Aku sudah melihat kejujuran di mata mu. Ternyata kau memang terlalu sulit untuk menerima ku kembali." Hampir suara Davio tak sanggup untuk Dikeluarkan. "aku menyerah, Wilia. Aku menyerah. Aku tak akan meminta mu untuk menerima ku kembali karena aku sadar, terlalu besar luka yang ku torehkan. Sekali lagi, maafkan aku, Wilia." Tiba-tiba Davio bersujud di kaki Wilia sembari menangis tergugu.


"Apa yang kamu lakukan?! Bangun, Davio!" Wilia panik dengan sikap Davio. Meskipun dia mengatakan belum bisa memaafkan, tapi tidak juga menginginkan Davio bersujud di kaki nya.


"Terserah kau mau mendengarkan ku atau tidak, tapi jika kau masih terus berada di posisi seperti ini, itu artinya kau benar-benar memilih tak akan menemui putra mu lagi. Tapi jika kau bangun, maka aku akan memberimu izin menemui putra mu dilain waktu.


Davio terkesiap, dia langsung bangkit dari tempat nya dengan mata sembab. "Apa kau tak bohong?"


Wilia berdecih sinis. "Cih, apa aku seperti mu yang sangat mahir berbohong?" Tanya nya menyindir.


"Baiklah, maafkan aku. Dan terimakasih karena telah memberi ku kesempatan bisa menemui putra ku kembali. Aku pergi, Wilia. Mungkin kali ini aku benar-benar akan pergi untuk jarak yang jauh. Aku akan berusaha melupakan mu. Semoga misi ku berhasil. Aku doakan kau bisa hidup bahagia dengan laki-laki yang benar-benar bisa membuat mu bahagia, bukan laki-laki yang selalu menyakiti." Davio menghela nafas panjang.


"Secepatnya aku akan mengurus surat pernikahan kita. Aku pergi,"

__ADS_1


Wilia menatap nanar punggung kokoh Davio yang semakin menjauh dari jangka penglihatan nya. Hatinya cukup sakit mendengar kata percetakan. Tapi, mungkin ini memang lebih baik untuk kita.


__ADS_2